Evanescent

Evanescent
Awal Dari Semuanya



..."Di dunia ini kepercayaan orang selalu bergantung kepada bukti nyata yang ia miliki, bukan perkataan yang memiliki peluang besar untuk dimanipulasi. That's Right?" ...


...-Reynal Zayn Nugroho-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Empat tahun yang lalu. Tahun dimana dimulainya luka yang kehadirannya tak pernah mereka harapkan. Kehidupan seorang Reynal Zayn Nugroho berubah 360ยฐ sejak insiden tersebut. Semua itu bermula saat dirinya dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tak pernah ia lakukan.


Sebelumnya, Reynal merupakan murid kebanggaan sekolah serta orang tuanya. Prestasinya di bidang akademik sangat bagus belum lagi prestasinya di dunia perbasketan. Yap, Reynal merupakan leader tim basket sekolahnya, SMA TRIZAN.


Tapi karena malam itu, semua citra baik yang ia bangun sejak kelas 10 hancur. Malam dimana ia tepat telah melakukan pertandingan babak penyisihan, sebelum kelak melakukan pertandingan babak final melawan SMA XAVIER.


Alkohol adalah sesuatu yang seumur hidup tak pernah Reynal sentuh. Tapi entah kenapa saat itu ia berhasil tergoda oleh temannya.


Setelah pertandingan usai, Reynal dan teman se timnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di salah satu bar yang ada di kota mereka. Mungkin jika hari itu papa dan mama Reynal tidak ke luar kota, mungkin ia tak akan diizinkan untuk melakukan hal-hal seperti ini.


Awalnya memang Reynal hanya mencoba sedikit alkohol. Tapi semakin lama ia semakin ketagihan. Sehingga ia tak bisa lagi mengendalikan kesadarannya.


Malam yang mereka ingin gunakan untuk melepas penat, menjadi hancur sejak kehadiran seseorang yang tak mereka undang.


"Reynal..." Panggil seorang gadis yang sedang berjalan mendekati mereka.


Teman-teman Reynal sangat mengenal gadis ini. Ya, dia adalah pacar Reynal. Hubungan mereka telah berjalan kurang lebih dua bulan. Sehingga saat melihat kehadiran gadis itu, mereka otomatis langsung mengosongkan bangku di sebelah Reynal.


"Gin, kok kamu bisa kesini?" Tanya Reynal saat gadis itu sudah duduk tepat disampingnya.


"Aku khawatir sama kamu by... Dari tadi pesan sama telpon aku ga dapet balesan dari kamu. Jadi ya aku tanya temen kamu, eh ternyata kamu ada disini." Balas Gina, gadis yang berstatus sebagai pacar Reynal.


Reynal tertawa. "Ah iya sorry, baterai aku low jadi hp aku mati. Tapi seharusnya kamu ga perlu kesini sayang.."


Melihat Reynal yang seperti sudah mabuk membuat Gina memutuskan untuk mengajak lelaki itu pulang. Lalu, ia langsung membopong tubuh Reynal yang sedikit sempoyongan.


"By, aku ga bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Jadi bisa ga ditunda sampe aku sadar dulu?"


Gina menolak. "Enggak. Ini udah jam 12 lebih, aku tau kamu capek setelah seharian tanding. Kamu butuh istirahat Reynal sayang..."


"Yaudah oke, tapi cari alternatif lain."


"Gimana kalo apartemen aku? Setidaknya aku bisa jaga kamu sampe kamu sadar."


Dan akhirnya Reynal mengangguk menyetujui usulan Gina. Tak ada niatan lain selain numpang istirahat saat Reynal menyetujui hal itu.


Apartemen milik Gina ini cukup besar. Ada dua kamar terpisah di dalamnya. Reynal menyarankan Gina untuk tak tidur sekamar dengannya, menghindari hal-hal negatif yang bisa menimbulkan fitnah.


Dan beberapa menit setelah Reynal merebahkan tubuhnya di kasur, ia pun langsung terlelap. Sepertinya memang benar, bahwa tubuhnya secapek itu.


Namun, tanpa Reynal sadari semua ini adalah jebakan yang telah disiapkan oleh rivalnya. Eren Yoga Saputra. Ketua tim basket SMA XAVIER kala itu.


Tepat satu hari sebelum pertandingan final, tersebar berita miring tentang Reynal. Jujur, Reynal sendiri terkejut saat berita tersebut sudah mulai menyebar lewat mulut ke mulut di sekolahnya.


"Anj*ng!! Siapa yang berani nyebar berita kek gini hah?!!" Teriak Candika dengan emosi yang meluap. Siapa sih yang ga emosi lihat sahabatnya dituduh seperti ini.


"Can, udah lo marah-marah kayak gini ga bakal bikin semua selesai." Tutur Reynal yang berusaha menenangkan Candika.


"Lo seharusnya emosi melebihi gue Rey!! Apa lo mau diem aja disaat dituduh memperkosa Gina malam itu?"


"Lo secara ga langsung dituduh atas hal yang ga pernah lo lakuin Rey!!" Sambung Candika.


Reynal diam. Ia sebenarnya juga emosi. Meluapkan emosinya tak sepenting ia harus mengetahui dalang dibalik semua ini.


Hingga pada akhirnya ia mendapat pesan dari Eren.


Eren Yoga


Gimana? Lo suka hadiah dari gue?


Sial. Seharusnya Reynal sudah menduga hal ini. Tapi, bagaimana mungkin Eren tau kalau malam itu dia sedang bersama Gina? Tapi sumpah demi apapun, malam itu Reynal sedikitpun tak pernah menyentuh tubuh Gina. Meskipun sedang dibawah pengaruh alkohol, tapi ia 100% yakin akan hal itu.


Namun, rupanya berita menyebar lebih cepat daripada yang Reynal duga. Karena entah sejak kapan berita tersebut sudah sampai di telinga para guru serta kepala sekolah.


Kalian tau kan apa yang akan terjadi setelahnya? Ya, Reynal harus berhadapan dengan guru bk serta wali kelasnya.


Foto-foto yang tersebar itu sangat jelas dimata mereka. Dan seribu pembelaan yang Reynal utarakan pun tak akan pernah mereka percayai. Toh, siapa yang akan percaya ucapan seseorang yang tak memiliki bukti pembelaan? Karena memang, mereka semua hanya mempercayai bukti yang telah tersebar. Bukti palsu yang murni direkayasa oleh Eren.


Pihak sekolah yang tak ingin namanya tercemar, akhirnya memutuskan hukuman akhir kepada Reynal. Jujur, mereka sangat kecewa atas apa yang telah lelaki itu perbuat. Dan sebagai guru, mereka mau tak mau harus melakukan hal ini.


Hari berikutnya, orang tua Reynal datang ke sekolah atas undangan yang diberikan oleh pihak sekolah. Kepala sekolah menceritakan semuanya kepada mereka. Mama Reynal sangat terkejut saat mendengar hal itu.


"Maaf pak, bu, kami tak bisa menoleransi perbuatan yang telah Reynal lakukan. Mungkin, jika pihak perempuan menyanggah hal ini, kami bisa sedikit mempertimbangkan kebenaran atas berita yang telah tersebar. Tapi sayangnya, saat kami temui, gadis itu sendiri yang mengatakan bahwa Reynal telah menyetubuhinya dibawah kendali alkohol. Meskipun tak sampai hamil, tapi kami rasa perbuatan yang Reynal lakukan sudah diluar batas."


Reynal mengepalkan tangannya kuat. Ia yang berdiri di balik tembok ruang kepala sekolah sama terkejutnya dengan orangtuanya yang masih berada di dalam. Emosinya saat ini juga sudah mencapai limitnya.


Kenapa Gina mengucapkan hal seperti itu? Kenapa gadisnya itu harus berbohong untuk menjatuhkannya?


Tidak. Reynal yakin Eren telah memaksa gadisnya untuk mengucapkan kebohongan untuk bisa memperkuat alibinya.


Akhirnya, Reynal memutuskan untuk menghampiri Eren yang ia yakin sedang berada di gedung olahraga. Yap, karena hari ini adalah pertandingan final antara sekolah mereka.


Karena insiden ini, jabatan ketua tim basket dilepas paksa oleh pembina tim basket mereka. Dan efek terberatnya, Reynal tidak diperbolehkan mengikuti pertandingan final yang selama ini sudah ia nanti-nantikan.


Ke tiga teman dekat Reynal ikut merasakan apa yang sedang Reynal rasakan saat ini. Mereka sangat mempercayai bahwa Reynal tak akan melakukan hal diluar batas seperti itu. Tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa untuk membela lelaki itu. Karena mereka sama sekali tak perna bahwa Eren telah menyiapkan jebakan pada malam itu.


"Pengecut banget ya lo jadi cowok!! Takut kalah dari gue aja sampe repot-repot mempersiapkan sandiwara sebesar ini!!" Bentak Reynal kepada Eren disaat mereka berpapasan di parkiran GOR.


"Lo ngomong apa sih? Gue ga ngerti."


"Gausah pura-pura bego demi pencitraan di depan umum Ren!! Perbuatan lo diluar batas!! Oke kalo lo emang gamau kalah dari gue dalam tanding final kali ini, tapi kenapa loantu Reynal, tapi mereka rasa Reynal perlu memberi Eren pelajaran dengan tangannya sendiri.


Eren tertawa licik. "Gue ga melakukan apapun Rey!! Gue hanya mengungkap kebenaran. Kebenaran yang terjadi pada malam itu. Karena gue yakin orang-orang yang membanggakan lo harus tau sebej*t apa kelakuan lo. Bukankah begitu brother?"


"ANJI*G LO!!!" Karena tak bisa menahan emosinya lagi, akhirnya pukulan Reynal berhasil mendarat di pipi Eren.


Candika dan dua orang lainnya mencegah teman-teman Eren disaat mereka hendak membantu Eren. Mereka juga mengusir paksa beberapa orang yang berkerumun disana. Karena mereka tak ingin insiden tersebut diketahui oleh lebih banyak orang.


Pukulan demi pukulan menghantam tubuh Eren. Dan tepat saat lelaki itu hendak membalas Reynal, suara seseorang berhasil menghentikan pukulannya.


"Gue bilang berhentii!!!" Seru seorang gadis yang berhasil membuat mata Reynal membulat. Ya, dia Gina. Gadis yang terlibat kedalam insiden ini.


Gina mendorong tubuh Eren menjauhi Reynal. Lalu ia membisikkan sesuatu kepada lelaki itu.


"Aku mohon jangan sakiti Reynal lebih dari ini Ren... Kamu udah janji ga bakal nyakitin Reynal lagi. Apa insiden itu ga cukup buat kamu?"


Mendengar ucapan tersebut membuat Eren tersenyum miring. Ia langsung menarik Gina kedalam rangkulannya.


"Lepasin cewek gue!!" Seru Reynal.


"Cewek lo?" Eren tertawa. "Tapi sayangnya sampai kapanpun perasaan Gina tetap untuk gue. Karena dia ga mungkin jatuh cinta sama cowok yang hanya dia anggap sebagai pacar pura-pura."


Seketika dunia Reynal runtuh saat mendengar kebenaran itu. Jadi, sudah sejak dua bulan lalu ia masuk kedalam perangkap besar yang telah Eren buat? Bagaimana bisa ia tak menyadari hal itu?


Tapi, selama berpacaran dengan Gina, Reynal melihat ketulusan di dalam mata gadis itu. Apa mungkin semua ketulusan yang Gina berikan kepadanya selama ini juga hanya rekayasa?


"Selamat... Lo telah masuk kedalam perangkap mematikan yang gue buat Rey..."


Sedangkan, Reynal tak ikut dalam penyerangan itu. Ia terlalu sibuk mengontrol tubuhnya yang tiba-tiba saja oleng. Tenaga yang ia miliki beberapa saat yang lalu seperti menguap. Mengetahui kebenaran bahwa Gina berada di pihak Eren sangat menghancurkan mentalnya.


Pasalnya, ini adalah kanyataaan menyakitkan yang harus ia terima setelah kenyataan bahwa ia dikeluarkan dari tim basket, bahkan siang tadi ia telah resmi dikeluarkan dari sekolah.


Sejak saat itulah Reynal tak lagi memiliki masa depan. Masa depan yang telah ia bangun dengan hati-hati harus hancur karena kebodohannya. Kebodohan yang mengakibatkan dirinya jatuh di atas perangkap mematikan yang diberikan oleh seorang perempuan, perempuan yang sudah berhasil membuat hatinya jatuh terlalu dalam.


Sejak saat itu, Reynal berubah. Ia menjadi pribadi yang sangat pendiam, sering melamun, dan tak pernah lagi melawan pukulan yang papanya berikan.


Sudah dua bulan sejak Reynal dikeluarkan dari sekolah. Selama itu pula Revan harus melihat kakaknya itu diperlakukan kasar oleh Papanya.


Kekecewaan pria itu sangat besar. Dan ia tak bisa menahan untuk tak memberi pelajaran anak yang selama ini telah ia banggakan di depan semua orang.


Dan hanya Revan yang masih merawat serta memberi dukungan kepada Reynal. Revan yang masih duduk di bangku dua SMP itu percaya bahwa abangnya ini tak mungkin melakukan hal seperti itu.


Karena itulah, Reynal merasa tenang jika ada Revan di dekatnya. Selama dua bulan ini pula papanya melarang siapapun untuk menemui Reynal, terutama teman-teman dekat yang notabene juga teman setim basket lelaki itu.


"Revan.. Jangan benci papa ya? Papa ga jahat kok. Perlakuan yang papa berikan untuk abang itu juga akibat dari perbuatan yang telah abang lakukan."


"Tapi bang Rey ga melakukan hal itu, kenapa papa sama mama ga bisa percaya sama penjelasan bang Rey?"


"Van... Di dunia ini kepercayaan orang selalu bergantung kepada bukti nyata yang ia miliki, bukan perkataan yang memiliki peluang besar untuk dimanipulasi."


"Kamu harus tumbuh jadi anak hebat Van... Jangan berakhir seperti abang... Karena abang yakin kamu kelak bisa membuat papa sama mama bangga."


"Abang juga berharap suatu saat nanti kamu dipertemukan dengan seorang perempuan yang memiliki perasaan tulus ke kamu. Dan jika saat itu tiba, tolong jaga baik-baik perempuan itu, jangan pernah sakiti dia apalagi sampai menghancurkan dia. Tapi kamu tetap harus selektif dalam memilih. Karena tak semua cewek itu tulus, banyak juga yang bisa membuat kamu hancur, seperti abang."


"Inget ya Van, dimanapun dan kapanpun kamu, abang akan selalu disamping kamu, abang akan selalu menjadi orang pertama yang mendukung kamu. Oke?"


Tanpa Revan sadari bahwa percakapan panjang mereka malam itu adalah percakapan terakhir yang mereka lakukan.


Tiga hari setelahnya, Reynal meninggal dalam kecelakaan tunggal saat lelaki itu dalam perjalanan menuju bandara. Ya, atas perintah papanya, Reynal harus pindah ke amerika untuk memulai hidup baru. Namun sayangnya Tuhan memiliki skenario sendiri. Skenario yang tak pernah diduga oleh Revan maupun orangtuanya.


Tak ada lagi abang yang selalu menyemangatinya, tak ada lagi abang yang menjadi pelindungnya, dan tak ada lagi abang yang selalu menjadi panutan dalam hidup Revan.


Revan sekeluarga sangat terpukul atas meninggalnya Reynal. Terutama mama mereka. Wanita berusia 40 tahunan itu harus menerima kenyataan terpahit dihidupnya. Dan sejak saat itu kesehatannya menurun. Rasa kehilangan anak cukup memberi dampak besar dalam kesehatannya.


Sehingga, beberapa bulan kemudian, sekali lagi Revan dipaksa menelan kenyataan pahit. Ia harus kehilangan sosok mama. Jantung koroner berhasil merenggut hidup mama yang sangat Revan sayangi, sosok mama yang selalu bisa membuat Revan kuat dalam menjalani harinya.


Tapi sekarang? Semua orang yang ia cintai melebihi apapun meninggalkannya.


Sekarang hanya tinggal dirinya dan seorang papa yang tak seramah dulu. Kepribadian papa Revan juga berubah. Sejak meninggalnya mamanya dan juga Reynal, membuat papa Revan menjadi sosok yang lebih keras dari sebelumnya.


Dan hingga saat ini, Revan selalu hidup dibawah tekanan papanya. Tekanan yang selalu menuntut dirinya menjadi pribadi yang perfeksionis.


Namun, tanpa papanya sadari, perbuatannya inilah yang malah menjadikan Revan pribadi dengan tempramen jauh dari kata perfeksionis.


Selama ini Revan harus tumbuh diiringi luka yang tak ia ketahui obatnya. Ia butuh sosok yang dapat menariknya dari kegelapan, mendekapnya, dan senantiasa mendukung dirinya disaat berada di titik terendah.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Setelah kemarin seharian full menyibukkan diri dengan acara pensi sekolah, sekarang mereka ganti sibuk untuk membersihkan ruangan kelas seperti semula.


Ya, jumat pagi ini jadwal mereka adalah kerja bakti. Kerja bakti yang dilakukan secara serentak diseluruh kelas SMA Xavier.


"Gue tuh heran ya, kalo dikasih info ada kerja bakti malah banyak yang ga masuk. Padahal nih ya, kerja bakti kan sama aja kayak kita jamkos." Gumam Serinda disela-sela menyapu.


Gimana ga sebel, orang anak kelas mereka yang datang cuma 20 orang, yang lainnya? Gaada kabar. Wajar sih kalo mulut Serinda ga bisa diem nge bacotin mereka.


"Udah elah Ser. Kali aja mereka ga ikut gara-gara kemarin terlalu capek."


"Capek? Omg! Kemarin yang kerja keras ya itu-itu aja Ra!! Ish!! Sebel banget gue sama orang kayak mereka."


Drrt... Drrt... Drrt...


Ponsel disaku Naura sudah beberapa kali ini bergetar. Tandanya ada panggilan masuk di ponselnya.


Namun saat Naura melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia sedikit menyerngit.


Mama Reina? Ngapain beliau nelpon Naura?


"Ser bentar ya gue ngangkat telpon dulu."


"Dari siapa?"


"Mamanya Reina."


"Oke jangan lama-lama."


Kemudian, Naura langsung keluar dari kelas, untuk mengangkat telepon dari mama Reina.


"Assalamualaikum tante.."


"Waalaikumsalam Ra, maaf ya tante ganggu pagi-pagi."


Naura tertawa pelan. "Iya ga pa-pa tante."


"Itu, tante cuma mau mastiin, pagi ini Reinanya berangkat sama kamu kan ya? Soalnya kan tadi malem dia izin nginep rumah kamu, ya kan Ra?"


Seketika Naura terdiam. Pasalnya sejak siang kemarin dia tidak melihat kehadiran Reina. Tapi ini, mamanya bilang kalau Reina tidur dirumahnya. Lalu, dimana gadis itu berada?


"Ahh.. Iya tante, kemarin bazar baru selesai sore, trus Reina, Alissa, sama Serinda rencana nginep dirumah aku. Maaf aku kemarin engga ngabarin tante." Tentu saja ucapan Naura saat ini hanyalah alibi belaka.


Ya, dia tak mau membuat wanita itu khawatir. Soal keberadaan Reina yang sebenarnya, mau tak mau ia harus bisa menemukan gadis itu hari ini.


"Syukurlah... Ya sudah, terimakasih banyak ya Ra. Maaf kalo anak tante ngerepotin kamu."


"Engga tante.. Naura malah seneng kalo Reina mau nginep."


"Kalo gitu tante tutup ya telponnya. Salam buat temen-temen yang lain ya."


"Iya tante." Tepat setelah itu telepon diakhiri oleh wanita itu.


Saat ini pikiran Naura kacau. Saat mengetahui sahabatnya tak pulang kerumah semalam, berhasil membuat dirinya berpikiran yang tidak-tidak.


"Enggak. Lo ga boleh berpikiran negatif Ra. Lo harus yakin kalo Reina baik-baik aja."


"Kenapa Ra?" Tanya Alissa yang kebetulan tau wajah cemas Naura.


Naura menoleh kesrah Alissa dengan raut wajah yang semakin cemas. "Al, Reina semalem ga pulang kerumah."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Semoga dapet feelnya yaa kawan-kawan ๐Ÿฅฐ...


...Jan lupa dukung author yang banyakk โค๏ธโค๏ธ...


...See you next part ๐Ÿ˜š...


...TO BE CONTINUED...


...Follow ig @kata.author...