Evanescent

Evanescent
Ulang Tahun Terindah



..."Setiap kupu-kupu yang kamu lihat adalah pengingat bahwa selalu ada orang yang merindukan kamu, dan itu adalah aku." ...


...-Gibran Rahardian K-...


...🌼🌼🌼...


19.00 adalah waktu dimana party di rumah Gibran dilaksanakan. Undangan sudah disebar H-1 sebelum acara, lebih tepatnya kemarin.


Naura menatap pantulan dirinya di depan cermin sebadan di kamarnya itu. Dress maroon melekat apik di tubuhnya. Wajahnya yang terpoles make up flawless itu semakin mempercantik penampilan Naura malam ini.


Ting!


Suara itu membuat Naura langsung membuka aplikasi chatnya.


Gibran ❤️


Gimana by? Aku jemput ya?


^^^Nauraa^^^


^^^Enggak usah Gib. Aku biar dianter bang Kenzie aja ya^^^


Gibran ❤️


Oh yauda kalo gitu. Tapi ntar pulang aku yang anter ya?


^^^Nauraa^^^


^^^Iya sayang..^^^


Gibran ❤️


Oke sipp


Gibran ❤️


Sampai ketemu nanti sayang ❤️


^^^Nauraa^^^


^^^❤️^^^


Setelah mengirimkan balasan itu, Naura langsung menyahut dompet serta kado yang akan ia berikan ke Gibran nanti. Meskipun bukan barang mahal, tapi setidaknya ia memberikan itu tulus dari hatinya.


Tidak seperti biasanya, kali ini Kenzie sudah siap tanpa harus Naura omeli. Lelaki itu sudah menunggu adiknya di ruang keluarga.


"Dandan mau ke birthday party aja kek mau kondangan!" Celetuk Kenzie sembari berdiri dari sofa.


"Ish abang!! Coba deh rasain jadi cewek, ntar baru deh lo ga bisa ngomelin gue ke gitu." Kesal Naura.


"Dih! Gamau! Alhamdulillah ya gue diciptainnya cowok." Lalu, Kenzie berjalan meninggalkan Naura, menuju mobil bunda nya yang sudah terparkir di luar.


"Ck abang nyebelin!!" Seru Naura sembari mengejar Kenzie. Tentj saja setelah ia berpamitan kepada bunda kesayangannya.


Ada banyak alasan yang membuat Kenzie menyetujui permintaan adiknya itu. Salah satunya, karena ia memang berniat melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa kediaman orang itu saat ini.


Rumah besar dan luas, sudah cukup menjabarkan betapa kayanya keluarga itu setelah apa yang ia lakukan di masa lalu. Tanpa sadar, Kenzie mencengkeram setir mobil. Malam itu, emosinya kembali terpancing.


"Bang, nanti Naura gausah jemput ya? Soalnya Gibran yang mau nganter aku pulang."


"Oh gitu. Bagus deh, jadi abang bisa langsung tidur tanpa harus nunggu kamu!!"


"Ish. Yaudah Naura masuk dulu ya bang!"


"Take care!!" Setelahnya Naura pun langsung keluar dari mobil Kenzie.


Rumah yang sangat mewah dimata Naura itu sudah dipenuhi cukup banyak orang. Meskipun tak sampai 100 undangan yang lelaki itu sebar, tapi sudah bisa dibilang banyak. Ya, ditambah tak sedikit dari mereka yang membawa pasangannya masing-masing.


Di depan sana, Gibran yang melihat kedatangan Naura pun seketika langsung tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, lelaki itu berjalan menghampiri gadisnya.


"Duh, cantik banget! Pacar siapa sih ini??" Candaan itu langsung keluar dari bibir Gibran.


"Ish Gibran!"


Gibran terkekeh. Lalu, ia menarik tangan Naura agar gadis itu merangkul tangannya. "Ayo ikut aku, papa pengen ketemu kamu."


Papanya Gibran? Duh, Naura mulai nervous. Ia memang sebelumnya belum pernah seperti ini. Apa yang akan ia katakan nantinya di depan ayah dari pacarnya itu?


"Papa, ini Naura, pacar aku." Kata Gibran saat mereka sudah berada di depan pria yang duduk di kursi roda.


Naura menyerngit sekilas. Lalu ia ingat akan apa yang terjadi kepada papanya Gibran waktu itu. Kecelakaan yang harus membuat Gibran tidak masuk sekolah hanya untuk mmenggantikan posisinya di kantor. Ah, sepertinya saat ini pria itu masih dalam proses pemulihan.


"Salam kenal om, saya Naura Azkia." Ujar Naura dengan seramah mungkin


Vito mengangguk-angguk kan kepalanya. "Gibran tadi juga bilang kalo kamu hari ini ulang tahun. Happy Birthday ya!"


"Iya om, makasih."


"Om harap, kamu bisa menikmati party malam ini ya Naura!"


"Pasti om!"


Vito tertawa pelan. "Yaudah Gibran, kalo tamunya uda pada dateng, kamu bisa ajak Naura buat memulai acara ini."


"Baik pa." Lalu, Gibran kembali menggandeng Naura untuk ia ajak keatas podium kecil di depan sana. "Ayo Ra."


Menatap kepergian mereka, ada beberapa hal yang terlintas di pikiran Vito. Sebenarnya memang sudah sejak tadi dirinya seperti merasa familiar dengan seorang Naura.


Namanya, ulang tahunnya, entah kenapa sepertinya pernah ia ketahui sebelumnya. Karena memang, semasa hidupnya ia hanya mengetahui satu orang yang memiliki ulang tahun yang sama seperti anaknya.


Tapi, bagaimana mungkin?


Siapapun tolong bilang kepada Vito bahwa pria itu salah. Salah mengira bahwa Naura adalah gadis kecil yang pernah ia kenal dulu.


Toh, bukankah dunia luas? Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa Naura hanyalah gadis yang kebetulan mirip dengan gadis yang ia kenal dulu.


Dan semoga saja memang itu yang terjadi. Agar semuanya tak berjalan semakin rumit.


Sedangkan, Gibran yang sudah siap disana akhirnya memulai acara dengan Naura yang bediri di sampingnya.


Alissa, Reina, dan Serinda yang melihat dari kejauhan pun menjerit kegirangan. Dimata mereka, malam ini Naura sangat-sangat perfect. Kalo gini, mana bisa mereka tidak bangga dengan Naura? Benar bukan?


Akhirnya mereka sudah berada di acara inti. Dimana pemotongan serta tiup lilin di laksanakan.


Setelah Naura dan Gibran bersamaann meniup lilin dan membuat harapan, mereka langsung memotong cake yang cukup besar dengan dua tingkat itu bersama. Udah kek motong kue pernikahan tau ga. Candaa


Potongan pertama Gibran, diberikan untuk sang papa. Tentu saja. Mana boleh Gibran melupakan papanya sendiri, ya kan?


Lalu, potongan kedua tentu saja Gibdan berikan kepada Naura. Kekasih yang sangat ia cintai itu.


Yang semakin membuat para tamu undangan gempar, ialah saat dimana Gibran mengecup singkat kening Naura.


Padahal ini baru kening.


Lalu, bagaimana jika lebih?


Wah parah sih! Bisa-bisa besok berita utama di sekolahnya akan meliput aksi yang telah ia lakukan kepada Naura. Kan ga lucu. Bukankah begitu?


Setelah acara inti selesai, Naura langsung kembali mendekati dimana ketiga sahabatnya berada.


Tanpa diketahui oleh siapapun. Syahnaz yang sudah sangat kebakar cemburu, akhirnya memilih untuk meninggalkan acara. Ia tak peduli entah acara sudah selesai atau belum, yang terpenting, saat ini ia harus bisa mengamankan hatinya. Sebelum semuanya semakin memperparah kehancuran hatinya.


"Happy Birthday bestie akuu!!" Alissa langsung menyambut kedatangan Naura dengan pelukan. Lalu ia menyodorkan paper bag kearah gadis itu. "Ini kado dari gue Ra, sorry baru gue kasihin sekarang. Semoga lo suka ya."


"Happy seventeen cantik!!" Kini giliran Serinda yang memberi Naura pelukan. "Semoga lo suka ya Ra!" Katanya saat memberikan paper bag kepada Naura.


"Semoga panjang umur Nauraa!!" Dan terakhir, Reina lah yang memberikan pelukan hangan kepada sahabatnya itu. Lalu ia menyodorkan box berwarna pink kepada gadis itu. "Gue harap lo suka sama kado spesial ini."


Naura tertawa sembari melempar tatapan kearah tiga perempuan itu. "Gue pasti suka kok sama kado dari kalian. Thank you so much guys!!"


"Ehem!!" Deheman itu terdengar sangat familiar bagi mereka. Ya, siapa lagi jika bukan Gibran?


"Duh Gib, perasaan baru beberapa menit lo jauh dari Naura, kenapa udah nempel lagi sih?" Celetuk Alissa yang merasa cukup jengah dengan tingkah bucin si Gibran.


"Kayak gatau aja si Gibran sama Naura tu sekarang uda kayak perangko. Kemana-mana selalu nempel!!" Sahut Darel yang mendekat bersama kedua laki-laki lainnya.


"Kita yang bucin kenapa kalian yang pada sewot sih?!" Gibran angkat bicara.


"Udah Rel, lo jomblo mending diem aja kalo gamau dilahap sama buaya bucin kek Gibran!!" Mahesa ikut menimpali. "Kecuali lo punya doi yang bisa lo ajak bucin sih, kayak gue nih sama Serinda." Imbuh Mahesa dengan penuh percaya diri.


Sontak Serinda melempar tatapan tajam kearah Mahesa. "Eh si anjir!! Sejak kapan sih gue sama lo jadian? Gausa asal jeplak dong!!"


"Yee Serinda, gue bilang gitu mah siapa tau jadi beneran."


"In your dream!!"


Beberapa orang yang berada disana tertawa melihat interaksi kedua manusia itu. Yang satu mengejar dengan sepenuh hati. Tetapi yang satunya menghindar, dengan berusaha menolak perasaan yang sebenarnya mulai tumbuh.


Di tengah-tengah itu pula tatapan seorang Aziel tak pernah teralihkan dari sosok Reina. Perempuan dengan senyum menawan itu berhasil memikat hatinya. Meskipun ia telah mendapatkan penolakan mentah-mentah, tapi entah mengapa hatinya tak ingin pergi. Karena memang sebesar itulah perasaan yang saat ini Aziel miliki.


...🌼🌼🌼...


Seperti yang Gibran katakan tadi, seusai acara, ia langsung mengantarkan Naura pulang.


Jarak rumah mereka yang cukup jauh, harus menghabiskan waktu 40 menit untuk sampai di tujuan.


Dan tak terasa, akhirnya mobil Gibran sudah terparkir di depan rumah Naura.


"Ra!"


"Hm?" Naura menoleh kearah Gibran yang sedang merogohi saku setelan yang ia gunakan. Entah mencari apa, Naura tak tau.


Beberapa detik kemudian, Gibran telah menemukan benda itu. Lalu, ia segera menyodorkan box kecil itu kearah Naura.


"Ini kado utama buat kamu." Kata lelaki itu.


Mata Naura sontak berbinar saat melihat isi dari kotak tersebut. Bisa dibilang, ini adalah kado termewah yang pernah ia dapatkan selama ia hidup.


"Kamu ga salah Gib ngasih aku kado ini?"


Gibran menggeleng. "Enggak Ra, aku sengaja beliin kalung bandul kupu-kupu itu buat kamu. Simpel tapi bakalan cantik banget kalo kamu pake."


Naura menatap Gibran. "Sumpa aku ga bisa berkata apa-apa, kalung ini berhasil buat aku speechless Gib. Karena memang, ini terlalu mewah bagi aku."


Gibran tersenyum. Lalu ia mengambil alih kalung yang berada di tangan Naura. "Aku pakein ya? Biar aku yang menjadi orang pertama melihat kamu waktu pake kalung itu."


Naura tersenyum senang, saat Gibran memasangkan kalung silver itu ke lehernya. Ini benar-benar diluar ekspektasi nya.


"Gib, thank you so much yaa! Terimakasih karena telah menjadi sosok yang menyempurnakan hidup aku."


"Seharusnya aku yang harus berterimakasih Ra. Karena kamu telah membuat aku sadar atas kesalahanku dimasa laku. Dan juga membawa aku menjadi seorang yang lebih baik. Menjadi orang, yang akan selalu mencintai satu wanita. Yaitu kamu." Ujar Gibran.


Dan setelahnya, ia mengecup kilas kening gadis yang sangat ia cintai itu. "I love you so much Ra."


Karena sudah terlalu larut, akhirnya Naura memutuskan untuk keluar dari mobil Gibran. Membiarkan Gibran kembali ke kediamannya.


Lambaian tangan serta senyum yang merekah itu, mengiringi mobil Gibran yang melesat meninggalkan area rumah Naura.


...🌼🌼🌼...


...Hai hai!!...


...Semoga kalian suka ya sama part ini 🥰...


...Jangan bosen-bosen nunggu update yaa xixi...


...Karena setelah ini kalian akan memasuki konflik ceritaa...


...Aww penasaran ga?...


...Nantikan saja yaa😊...


...Salam cinta dari author ❤️...


...See you...


...To Be Continued...