
..."Entah ini bodoh atau karena terlalu cinta, yang pasti perasaan aku ga akan pernah berubah walau kamu menyakitiku beribu kali pun."...
...-Reina Zaynara-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Tanpa mereka sadari, waktu telah berjalan begitu cepatnya. Setelah mereka menghabiskan waktu di timezone, menonton bioskop, dan berkeliling di beberapa toko, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang.
Langit disekeliling mereka sudah menggelap. Dan benar saja, saat Reina melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, ternyata jarum sudah menunjukkan pukul 18.10.
Revan mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Ia tak berani mengendarai dengan kecepatannya yang biasanya saat bersama Reina, seperti saat ini.
Namun sialnya, ditengah perjalanan langit mulai meneteskan beribu air ke bumi tempat mereka berpijak. Tetesan keci lama kelamaan merapat menjadi guyuran yang cukup deras.
Revan sempat tak tega karena harus membiarkan Reinanya kehujanan. Tapi saat ditanya, Reina menjawab, "Terusin aja beb, aku gpp kok sekali-kali kehujanan kayak gini sama kamu. Nanti bisa neduh sambil ngeringin baju dirumah kamu. Gpp kan?"
Meskipun suara Reina kalah kencang dengan suara hujan, tapi Revan masih dapat mendengar apa yang gadis itu katakan. Awalnya ada sedikit keraguan untuk membawa Reina kerumahnya, namun apa boleh buat, toh ini juga Reina yang minta.
Dan ditengah hujan itu pula Revan menambah kecepatan motornya, dan Reina pun semakin memeluk erat pinggang Revan.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Tutt.. Tutt.. Tutt..
Entah sudah ke berapa ratus kali Raka mendial nomor sohibnya itu. Matanya menatap cemas kearah hujan yang mengguyur tempat tongkrongan mereka.
"Raka lo nelpon siapa sih?! Mata gue sepet tau ga liat lo mondar mandir dari tadi!!" Seru Dika sedang menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
"Ck! Gue nelpon si Revan njing!"
"Ah elah!! Revan udah gede kali Ka, lo ngapain ngawatirin dia kayak gini sih?!"
"Bener tuh kata Aldo, lo kira Revan gatau jalan pulang kerumah nya gitu? Kan enggak mungkin seorang Revan bisa kesasar di kotanya sendiri." Kata Dika disusul tawa.
'Bukan itu yang gue khawatirkan, ada hal lain yang belum bisa gue omongin ke kalian.' Ucapan yang hanya bisa tertahan di dalam hati Raka. Ini bukan waktu yang tepat untuk ia memberitahu apa yang selama ini ia ketahui kepada tiga orang lelaki itu.
Akhirnya, Raka kembali duduk di kursinya. Ia tak lagi mendial nomor Revan, dan membiarkan menyimpan semua ke khawatiran itu sendiri.
"Nih minum hot choco biar otak lo ga suram mulu." Ujar Bryan sembari menyodorkan secangkir cokelat panas kearah Raka. "Tadi siang hati lo udah hancur, masa sekarang lo ga bisa santai cuma gara-gara si Revan sih." Tawa keluar dari bibir Bryan tepat setelah melontarkan kalimat candaan itu.
"Sialan banget sih lo Yan!!"
Ditengah-tengah menyeruput coklat panas pemberian Bryan, Raka hanya bisa berharap pikiran negatifnya tak akan pernah terjadi.
Andaikan Revan bukan teman dekatnya, Raka yakin ia tak akan pernah ingin terlibat dengan semua ini. Tapi sayangnya semesta memiliki jalan tersendiri untuk hidup Raka.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Sudah sepuluh menit yang lalu, mereka sampai dirumah Revan. Dan dengan cepat pula Revan membawakan baju ganti untuk Reina. Berhubung dikamarnya hanya ada baju cowok miliknya dan milik kakaknya, jadi Reina terpaksa harus mengenakan kaos oblong yang sangat kebesaran di tubuhnya itu.
Tawa pecah saat Revan melihat Reina keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya itu. Reina yang hanya memakai hotpants dan kaos oblong semakin menbuat tubuh gadis itu tenggelam.
"Ish. Revan!! Kok malah diketawain sih!!" Kesal Reina dengan berjalan mendekat kearah Revan.
"Sorry, sorry, abisnya kamu cute banget pake itu.."
"Boong!!"
"Serius sayang!! Kalo kamu mah pake baju apa aja keliatan cute dimata aku."
"Dih. Udah gausah gombal terus. Mandi gih!!" Kesaltingan Reina tak bisa ia bendung lagi. Ah bodoamat, lagian Revan sudah biasa melihatnya salting.
"Iya-iya sayang, aku cuciin sekalian ya baju kamu. Mungkin agak lama sih, jadi kamu tunggu disini dulu ya, kalo capek bisa tidur dulu di kasur aku. Oke?"
Reina hanya mengangguk pelan. Wajah Reina yang seperti ini sangat menggemaskan bagi Revan. Dan tanpa sadar pula tangannya terulur mengelus pelan puncak kepala Reina.
"Bye cantik!!' Dan kehadiran Revan menghilang dibalik pintu coklat tersebut.
Jika dipikir-pikir lagi, bagi Reina besar kamar Revan itu sama dengan dua kali besar kamarnya. Mata Reina menelusuri setiap ujung di kamar bernuansa abu itu. Jujur, dia sama sekali tak menduga bahwa Revan yang sudah menjadi pacarnya sejak beberapa bulan lalu adalah seseorang yang setajir ini.
Namun, sejak pertama kali ia memasuki rumah pacarnya itu, Reina hanya bisa merasakan suasana dingin. Bukan karena udaranya. Tapi rasanya berbeda dengan suasana dirumahnya. Disini Reina merasakan kekosongan, serta kehampaan yang mungkin telah Revan rasakan setiap harinya. Tapi mengapa lelaki itu tak pernah sekalipun cerita mengenai keluarganya?
"Apa kamu memang se misterius ini Van?" Gumam Reina sembari menelusuri kamar itu.
Hingga Reina menemukan keganjalan lainnya saat ia berhenti di depan meja belajar milik lelaki itu. Satu bingkai foto yang menampakkan dua orang laki-laki sedang tersenyum lebar berhasil menyita perhatian Reina.
Sejak melihat foto itu, Reina langsung dapat mengenali bahwa lelaki kecil itu adalah Revan dimasa lalu. Namun, siapa lelaki di sebelahnya? Lelaki yang Reina tebak memiliki jarak umur 4 tahun lebih tua daripada Revan.
Kakak? Revan punya saudara? Tapi kenapa dia selalu mengaku anak tunggal? Sungguh, saat ini sudah terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otak Reina.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Reina sampai tak sadar bahwa Revan sudah berdiri diambang pintu dengan membawa nampan berisi minuman serta makanan.
Ehem!!
Hingga, deheman Revan menyadarkan seorang Reina.
Dengan tergesa Reina mengembalikkan bingkai foto ke tempat semula. Lalu ia segera berbalik dan mendekati Revan yang sedang berjalan menuju sofa dikamar itu. Berpura-pura bahwa semuanya tidak terjadi.
Tapi sayangnya, Revan sudah terlanjur melihat apa yang Reinanya lakukan dimeja belajarnya. Saat itu juga raut wajah lelaki itu menengang. Jujur, ia tak suka siapapun mengetahui tentang keluarganya atau mengusik kehidupan pribadinya. Tak terkecuali Reina.
Namun, ia langsung merubah kembali raut wajahnya menjadi seorang Revan yang mempunyai senyum ramah. Senyum yang selama ini hanya ia jadikan topeng untuk menutupi semuanya.
"Ini Rei, aku bawain sandwich sama jeruk anget buat kamu." Kata Revan sembari meletakkan gelas serta piring yang berisi sandwich di meja depan Reina. "Sorry ya di kulkas cuma ada bahan ini."
"Gapapa sayang... Aku udah makasih banget kamu mau repot-repot siapin ini buat aku."
Revan pun mengambil posisi di sebelah Reina, dengan senyum yang masih menempel di bibirnya. "Dimakan ya sandwich nya. Aku gamau kamu pulang dengan keadaan perut kosong."
Reina mengangguk. "Tentu by, aku pasti akan ngehabisin makanan yang kamu buat kok."
"Anak pintar." Puji Revan dengan mengelus puncak kepala Reina.
Setelah lama keduanya menikmati roti tersebut, dengan tiba-tiba Reina mengatakan hal yang mungkin tak seharusnya ia katakan.
"Revan."
"Hm?"
"Apa selamanya kita akan menjalin hubungan seperti ini? Ketemuan diam-diam, ngedate diam-diam, dan semua hal yang kita lakukan bersama tak boleh diketahui oleh orang lain terutama temen kita." Lalu, Reina memberanikan menatap Revan yang duduk di sebelahnya. "Mau sampai kapan kita seperti ini Van?"
Emosi yang sempat Revan redam beberapa saat lalu, seketika kembali membludak. Ia melempar kasar potongan sandwich kearah piring yang terletak dimeja.
Reina pun sempat terjengit karena kerasnya suara gebrakan itu. Saat ini, Reina kembali melihat sorot mata menusuk milik Revan. Ini adalah versi Revan yang selama ini Reina benci.
"Gausah ungkit itu bisa?! Kita udah bicarain berkali-kali tentang itu Rei!! Dan kenapa lo masih ga paham juga ha?! Apa penjelasan gue selama ini ga pernah lo masukin ke otak??"
"Ah, atau selama ini lo pengen mamerin kalo lo adalah pacar atlet basket SMA Trizan gitu? Atau lo pengen pamer karena bisa dapetin cowok yang selama ini jadi incaran banyak cewek? Apa itu tujuan lo pengen publish hubungan kita ha?!!"
Bentakan Revan seketika membuat nyali Reina menciut. Hatinya juga serasa disayat oleh ribuan pisau. Sakit, tapi tak berdarah.
"Kenapa kamu jawabnya gitu Van?" Lirih Reina dengan menatap sendu sosok lelaki yang saat ini masih duduk di sebelahnya.
"Apa kamu selama ini meragukan perasaan aku? Apa selama ini kamu menganggap perasaan aku hanya sebatas numpang pansos?"
"Enggak Van!! Perasaan aku lebih dari itu, bahkan lebih dari perasaan yang kamu miliki ke aku."
"Jujur, selama ini aku selalu tanya tentang mempublikasikan hubungan kita karena aku pikir itu juga demi kelancaran hubungan kita Van!!"
"Kalau mereka tau aku pacar kamu, pasti beberapa cowok yang saat ini deketin aku bakal mundur. Dan kamu ga perlu marah-marah dan cemburu lagi kalau ada cowok deket sama aku."
"Dimata umum, status itu penting Van!!" Reina menarik nafasnya sekali sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Kalo untuk saat ini lo gamau oke, aku bisa maklumin. Tapi tolong jangan marah, jangan overprotektif kalau sewaktu-waktu ada seseorang yang secara terang-terangan mendekati aku. Disini bukan berarti aku ingin selingkuh dari kamu atau gimana, tapi yang jelas aku ga ingin liat kamu semarah dulu."
"Aku ingin kamu cemburu sewajarnya, biar kamu bisa membedakan mana cowok yang menganggap aku hanya sebatas teman, dan mana cowok yang bener-bener nyimpen perasaan buat aku."
"Seharusnya kamu percaya sama perasaan aku Van!! Perasaan cinta yang sudah sepenuhnya hanya milik kamu. Gaada satupun cowok yang bisa menggeser posisi kamu."
Emosi Revan mereda. Entah mengapa setelah mendengar ucapan Reina, ia sedikit merasa bersalah atas perkataan kasar yang telah ia lontarkan beberapa saat lalu.
Revan menarik nafas dalam. "Sorry atas ucapan aku tadi. Aku khilaf." Lalu ia beranjak, "Aku rasa saat ini kita butuh waktu untuk sendiri. Jadi, aku mau kebawah dulu sekalian ngecek baju kamu." Setelah itu, kehadiran sosok Revan kembali menghilang dibalik pintu kamar itu.
Reina menghela nafasnya kasar. Seharusnya setelah berbulan-bulan pacaran dengan Revan, ia paham akan tempramen buruk lelaki itu. Soal seperti ini akan selalu menjadi topik sensitif bagi Revan. Oleh karena itu, selama berpacaran dengan Revan, Reina selalu menjaga mulutnya, ia tak akan bertanya tentang hal-hal sensitif termasuk keluarga.
Biarlah lelaki itu bercerita sendiri. Karena ia yakin, akan ada saat dimana Revan akan terbuka padanya. Tapi, untuk urusan publish hubungan, entah mengapa Reina selalu keceplosan, dan perdebatan mereka akan selalu berakhir seperti ini. Dan itu cukup melelahkan.
Sembari menunggu Revan kembali, Reina segera meneguk segelas jeruk hangat yang telah Revan siapkan untuknya. Dan hanya butuh beberapa detik, Reina dapat menghabiskan minuman tersebut. Maklum lah, dia sangat haus setelah memakan sandwich serta perdebatan singkat yang mereka lakukan.
Namun, beberapa menit kemudian, Reina merasakan suhu tubuhnya tiba-tiba saja meningkat.
"Kenapa gue kegerahan ya padahal ac kamar Revan nyala?!" Ucap Reina dengan berkali-kali mengibaskan kaos yang ia kenakan.
Tak hanya itu, Reina juga merasakan hal aneh pada tubuhnya. Ini sebenarnya dia kenapa? Sungguh, kali ini Reina tak bisa berpikir jernih atas apa yang telah terjadi padanya.
Tak lama setelah itu, Revan tiba dengan membawa lipatan baju kering milik Reina. Di ambang pintu lelaki itu tanpa sadar memperlihatkan senyum miringnya.
Karena mendengar suara pintu terbuka, Reina mengalihkan tatapannya kearah pintu. Dan ia mendapati Revan sedang berdiri disana.
"Van, ac kamu ga rusak kan? Ini kenapa aku kegerahan banget?! Plis aku ga tahan Van!! Tolong lakuin sesuatu."
Dengan cepat, Revan meletakkan lipatan baju yang ia bawa keatas meja. Lalu segera mendekati Reina.
Dan saat tangan Revan menyentuh permukaan kulit leher Reina, des*han seketika lolos dari bibir perempuan itu.
"Ahhhh.... Kenapa sentuhan lo bisa senikmat ini Van?!" Ujar Reina yang sudah dibawah pengaruh obat. Ya, obat perangs*ng. Obat yang sengaja Revan masukkan pada minumannya.
Revan mendekatkan wajahnya, lalu berbisik ditelinga gadis itu. "Butuh bantuan Rei? Aku akan dengan senang hati memuaskan kamu malam ini."
Nafas Revan menggelitik area telinga hingga leher Reina. Sebenarnya sensasi apa yang ia rasakan saat ini? Rasanya ia saat ini sedang berada di tengah-tengah kenikmatan yang tak bisa ia jabarkan.
Reina menatap wajah Revan. Tapi entah mengapa tatapannya tertuju kepada bibir lelaki itu. Tangannya pun tanpa sadar tergerak mengusap pelan bibir lembut Revan yang hanya berjarak lima jari dari wajahnya.
"Lembut.."
Sontak, tangan kanan Revan menahan tangan Reina. Matanya menatap lekat mata Reina yang sudah dipenuhi gairah itu.
"Tonight, you're mine Rei..." Lirih Revan sebelum akhirnya ******* bibir gadisnya itu. ******* lembut yang lama kelamaan berubah menjadi lum*tan yang diselimuti gair*h.
Selama beberapa menit hot kiss*ng itu berlangsung, Revan menjauhkan dirinya. Lalu menarik Reina dan membaringkan tubuh gadis itu diatas kasur miliknya.
Reina yang sudah masuk kedalam pengaruh obat pun hanya bisa menikmati apa yang Revan lakukan padanya. Lebih parahnya, ia ingin lebih dari apa yang saat ini Revan berikan padanya.
Gila memang. Tapi ini semua sudah diluar kendali kesadaran Reina.
Revan yang memang sudah merencanakan ini semua pun ikut terjebak kedalam gairah s*x yang tak sewajarnya ini. Dan karena nafsunya sudah memuncak, ia pun langsung menyerang tubuh gadis yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Semoga kalian dapet feelnya ya waktu baca part iniโบ๏ธ...
...Boleh dong spill perasaan kalian waktu baca ini, tulis di kolom komentar yaa xixi...
...Jangan lupa stay tuned part selanjutnya yaa pasti semakin menarik kok๐...
...See you next part โค๏ธ...
...To Be Continued...
...Follow ig @kata.author...