
..."Soal hati tidak ada yang tau ya kan? Jadi aku memutuskan untuk tetap menjaga perasaanku untuk kamu, siapa tau suatu saat kamu akan memiliki perasaan yang sama kepadaku." ...
...-Aziel Candra-...
...🌼🌼🌼...
Selama perjalanan ke rumah, yang ada dipikiran Reina hanya Revan. Ia tak menyangka bahwa lelakinya itu menyembunyikan kenyataan sepahit itu. Karena memang, selama pacaran Revan sama sekali tak pernah menyinggung tentang keluarganya. Dan disaat ia ingin mulai menerima keadaan Revan, tetapi lelaki itu justru memutuskannya. Definisi sakit tapi tak berdarah.
Disisi lain tak terasa motor Aziel sudah terparkir di depan rumah Reina. Ya, Aziel lah yang mengantarkan gadis itu pulang kerumahnya. Sedangkan Naura, Gibran, Alissa, dan Serinda harus kembali ke sekolah, untuk mengikuti pelajaran jam terakhir.
"Zi, makasih ya." Kata Reina sembari memberikan helm kepada Aziel.
Aziel tersenyum. "Udah sepatutnya gue nganterin lo Rei, karena dengan ini gue bisa mastiin kalo lo baik-baik saja sampai rumah. Dan gue bisa ngasih alesan ke ortu lo soal ini."
Reina menggeleng pelan. "Gausah Zi, gue bisa jelasin sendiri. Gue ga mau bergantung terlalu banyak ke elo. Gue terima kebaikan lo, tapi gue ga ingin kebaikan lo melebihi yang seharusnya."
Lalu ia menatap dalam manik mata Aziel. "Gue ga mau lo tersakiti lebih dari ini Zi."
"Gue bisa nunggu lo Rei. Gue tau lo perlu waktu untuk semuanya. Jadi gue siap menjadi pengobat luka lo."
"Aziel....."
"Lo tau perasaan gue yang sebenernya kayak gimana...."
"Gue ga mau membuat cinta lo terbuang sia-sia untuk gue...."
"Gue ga bisa kontrol perasaan gue Zi... Karena sampai saat ini hati gue masih untuk Revan.... Gue ga mau lo terus-terusan sakit gara-gara itu."
"Gue hargai banget perasaan lo. Terimakasih karena udah menjaga hati untuk cewek penuh kekurangan seperti gue...."
"Tapi... Gue ga bisa membiarkan lo melanjutkan semua itu Zi... Lo berhak bahagia..."
"Lo berhak mendapatkan seorang cewek yang lebih baik dari gue....."
"Lo berhak mendapatkan hati yang juga selalu menjaga hati lo...."
"Waktu itu, gue nolak lo karena gue ga ingin lo jatuh terlalu dalam. Dan gue saat itu belum bisa yang sejujurnya soal hubungan gue sama Revan. Gue ga mau lo terluka Zi."
Mata Aziel menyelami manik mata Reina. Mata gadis itu selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Namun sayang, hatinya saat ini hancur. Setiap kata demi kata yang Reina ucapkan, berhasil menusuk, merobek hatinya.
"Zi, maafin gue ya.... Maaf untuk segalanya..."
Aziel akhinya menarik dalam nafasnya, sebelum akhirnya ia berkata. "Kalo memang itu keputusan lo, insyaallah akan gue terima Rei. Tapi tolong, jangan memaksakan hati gue untuk menghapus nama lo. Biarlah rasa ini menetap untuk sementara waktu. Sampai nanti Tuhan mempertemukan gue dengan seseorang yang bisa membantu gue untuk menghapus nama lo."
Reina tersenyum. "Makasih ya Zi.... Thank you for everything..."
Sebagai balasan, Aziel pun menarik bibirnya membentuk lekukan senyuman. Tentu saja senyuman yang harus ia paksakan.
"Diluar ini, lo masih menganggap gue sebagai temen kan Rei?"
"So pasti."
Mendengar ini Aziel tersenyum simpul, setelahnya ia memilih untuk segera pergi dari rumah Reina dengan membawa rasa sakit yang tak bisa ia jabarkan.
Tanpa Aziel sadari, hal ini rupanya juga merupakan keputusan berat bagi Reina. Sesampainya dikamar, gadis itu menangis tanpa suara di balik pintu.
Selama ini, Aziel telah berbuat banyak untuknya. Disaat ia tersakiti oleh Revan, tanpa sadar Aziel telah menghiburnya dengan lelucon receh yang kerap lelak itu berikan kepadanya.
Aziel baik, Reina akui itu. Tapi bagi Reina, Aziel terlalu baik untuk ia miliki.
Reina juga tak tau bagaimana bisa ia terjebak dalam kondisi seperti ini. Disaat Revan yang sudah memegang kendali penuh atas hatinya. Sedangkan Aziel, tiba-tiba datang dengan menawarkan sejuta kebahagiaan padanya.
Bohong jika Reina mengatakan bahwa ia sama sekali tak memiliki rasa kepada Aziel. Meskipun sedikit, tapi rasa itu ada di hatinya. Namun sayangnya, perasaannya untuk Revan jauh lebih besar. Setelah kejadian kemarin pun hati Reina masih tetap milik Revan. Gila memang, tapi Reina sendiri tak bisa mengendalikan perasaannya.
"Aziel... Andai Tuhan mempertemukan kita lebih cepat, apa semuanya akan menjadi serumit ini?"
...🌼🌼🌼...
Seperti yang direncanakan oleh Naura beserta temannya yang lain, akhirnya malam ini mereka memutuskan untuk menginap dirumah Reina. Setelah apa yang terjadi kemarin, mereka wajib menghibur Reina. Karena mereka sangat paham apa yang Reina rasakan saat ini.
Seperti biasa Gibran selalu mengantar Naura kemanapun gadis itu pergi. Walaupun Naura sudah sering menolak, Gibran akan tetap melaksanakan prinsipnya. Karena menurutnya, tak salah kan ia memberikan perhatian maksimal kepada pacar kesayangannya?
Definisi bucin akut ya seperti Gibran, benar bukan?
"By..." Panggil Gibran dengan tatapan yang masih fokus menatap jalanan.
"Ya?"
Gibran belum melanjutkan ucapannya, hingga mereka berhenti saat terjebak lampu merah. Lalu ia menoleh kearah Naura yang juga sedang menatapnya.
"Eee besok, aku diajak papa buat ikut ke perjalanan bisnisnya di Surabaya."
"Sampe kapan?"
"Seminggu. Sabtu depan pulangnya."
"Iya lah, selama disana pun aku akan tetap ngabarin kamu kok."
"Kalo itu mah harus by... Siapa tau mata kamu disana ga bisa diem ngeliatin cewek Surabaya."
Lagi-lagi Gibran tertawa pelan, namun kali ini dengan usapan yang ia berikan di puncak kepala gadis itu.
"Jangan gitu dong... Kan hati aku akan selalu buat kamu... Jadi ya secantik apapun cewek yang aku temui nantinya, dimata aku ga akan bisa mengalahkan cantiknya pacar aku yang satu ini."
"Ish... Gombal mulu!!" Sangat jelas terlihat jika Naura salah tingkah. Dan Naura yang bertingkah seperti ini akan selalu menggemaskan dimata Gibran.
"Jadi, maaf ya untuk seminggu kedepan kita ga bisa berangkat bareng ke sekolahnya."
"Iya Gibran... Gapapa.... Yang penting kamu harus pulang dengan selamat, oke?"
"Siap bu bos!!"
Seminggu tanpa Gibran akan jadi seperti apa hari Naura?
Ah, alay. Kan sebelum mereka pacaran pun ia juga sendiri. Jika dipikir-pikir Naura sepertinya sudah tertular virus bucin pacarnya. Sialan.
Setelah menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya mobil Gibran sampai di depan rumah Reina. Setelah berpamitan dengan Gibran, Naura langsung berjalan memasuki pekarangan rumah sahabatnya itu.
Seperti dugaannya, ternyata dirinyalah yang terakhir sampai disini. Buktinya saja Alissa dan Serinda sudah menunggu kehadirannya di depan pintu rumah Reina. Mereka melakukan itu dengan tujuan agar ketiganya bisa bersama-sama memasuki rumah sahabat mereka itu.
Dan setelah ketukan ketiga, akhirnya pintu hitam itu terbuka.
"Ah, kalian... Yuk langsung masuk aja. Atau mau langsung ke kamar Reina juga ga pa-pa." Ujar wanita berusia 40 an itu.
Ketiganya mengangguk, lalu berkata. "Baik tante terimakasih." Memang tidak berucap bebarengan, namun hanya selang beberapa detik saja.
"Ya sudah, tante tinggal ke dapur dulu ya? Anggap saja lagi di rumah sendiri."
"Ehe iya tante siapp.."
Seperti yang diperintahkan mama Reina tadi, akhirnya ketiganya pun langsung menuju kamar Reina yang terletak di lantai 2.
Saat memasuki kamar Reina, pandangan pertama yang mereka lihat adalah sosok Reina yang sedang duduk termenung di atas kasur yang terletak tepat di samping jendela, dengan tatapan kosong mengarah ke luar jendela.
Hal itu sontak menyentuh perasaan ketiga perempuan itu. Tanpa pikir panjang mereka langsung menghamburkan pelukan kearah Reina. Ya, mereka tau sehancur apa perasaan sahabatnya saat ini.
"Reii... Lo harus bangkit.... Ada kita disini yang selalu support lo..."
"Iya Rei, bener kata Naura. Lo ga boleh hancur seperti ini."
"Kita siap mendengarkan semua cerita lo Rei. Mungkin dengan bercerita hati lo bisa sedikit lega." Imbuh Alissa.
"Lo boleh hancur karena cinta, tapi jangan biarkan cinta menghancurkan masa depan lo Rei.." Timpal Serinda.
Pelukan hangat yang mereka berikan perlahan menghancurkan dinding pertahanan yang Reina bangun. Perlahan pula air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Maafin gue... Maafin karena selama ini gue belum bisa jujur sama kalian..... Maaf karena gue telah menghancurkan kepercayaan kaliann...." Lirih Reina di tengah tangisnya.
"Its okay Rei... Its okay...." Ucap Naura sembari menepuk-nepuk punggung Reina untuk menyalurkan sedikit ketenangan.
Selama beberapa menit mereka membiarkan Reina menumpahkan semua tangisannya. Mereka tak bisa berbuat banyak, karena jika berbicara soal hati, maka segalanya akan menjadi rumit. Namun, sahabat tetap lah sahabat, yang akan tetap disamping sahabatnya terutama disaat ia berada di titik terendah.
"Gue dan Revan dipertemukan disaat gue sedang berada di posisi yang cukup sulit, dan gue gatau harus cari perlindungan ke siapa. Gue hanya bisa meredam perasaan itu dengan menyendiri di taman komplek." Setelah tangisnya mereda, Reina memulai ceritanya.
"Selama ini gue ga pernah cerita ke kalian karena gue rasa ga ingin membebani kalian dengan masalah pribadi yang sedang gue alami. Gue hanya ingin menjadi pribadi yang berbeda disaat bersama kalian."
"Waktu itu untuk kesekian kalinya gue mendengar bokap sama nyokap ribut karena banyak hal. Sebagai anak, itu sangat menghancurkan mental gue. Gue ga kuat lihat mereka seperti itu. Gue ga tega lihat mama. Dan lebih parahnya, gue ga bisa berbuat apa-apa disaat melihat mereka seperti itu."
"Disaat berhadapan dengan mama, gue memasang wajah bahagia seolah-olah gue ga tau apapun tentang permasalahan mereka. Tapi di taman, gue berhasil menjadi diri sendiri. Pikiran gue selalu sibuk dan terkadang tangisan yang gue tahan tanpa sadar keluar dari mata gue. Ya, memang gue sebenarnya serapuh itu."
"Dan saat itulah Revan tiba-tiba hadir...."
...🌼🌼🌼...
...Gimana nih part ini??...
...Komen Perasaan kalian ya waktu baca ini🤭...
...Jan lupa dukung author dengan like share and komen🥰...
...Stay tuned for next part yang pastinya lebih seruuu😍...
...See you next part...
...To Be Continued...
...Follow ig: @kata.author...