Evanescent

Evanescent
Overprotektif Karena Cinta



..."Kita dipisahkan oleh jarak tak masalah. Yang penting hatimu selalu dekat denganku layaknya nadi."...


...-Gibran Rahardian K-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Hari ini adalah hari kedua Gibran di Surabaya. Dua hari ini pula Naura tak bisa menatap langsung wajah lelaki itu. Mereka hanya sesekali berhubungan lewat telepon ataupun chat. Karena Naura yakin disana Gibran sibuk dengan urusannya. Sehingga ia tak bisa memaksakan Gibran untuk mengabarinya setiap saat.


Pagi tadi Naura berangkat dengan Kenzie. Ya, abangnya itu kebetulan ada kelas pagi. Jika tidak, ya mau tak mau ia harus naik angkutan umum untuk menghemat biaya. Kalo dibandingkan dengan ojek online murah angkutan umum bukan?


Hari yang ia jalani sekarang, sama seperti apa yang ia jalani dulu sebelum adanya Gibran di hidupnya. Berjalan mengikuti arus tanpa tau ujung yang menantinya seperti apa. Hambar sih, tapi mau gimana lagi, ia harus tetap bertahan sampai pujaan hatinya itu kembali.


"Cie ada yang galau gara-gara ditinggal doi nya nih!!" Celetuk Alissa menggoda Naura yang sedang duduk di samping bangkunya.


Reina dan Serinda pun membalikkan tubuhnya, guna ikut Alissa dalam menggoda sahabatnya yang satu itu.


"Ya ampun Naura... Baru juga ditinggal sehari udah galau, gimana ditinggal ldr an beda negara kek gue coba?!" Sahut Serinda.


"Ha? Emang lo ldr an sama siapa Ser??" Tanya Alissa.


"Ldran sama my honey Kim Bum." Setelah mengucapkan kalimat itu Serinda sontak mengeluarkan tawanya. Dan tawanya itu mengundang Naura untuk ikut tertawa.


Sontak pula Reina menjitak pelan kepala Serinda. "Eh si anjir!! Itu mah bukan cuma ldr beda negara Ser!!"


"Trus apa tuh Rei??"


"Ldr beda negara iya, Ldr beda keyakinan iya, Ldr beda usia iya, dan yang paling parah tuh Ldr beda perasaann...."


"Ck! Reina cantikk plis kalo itu gausah diperjelass... Nanti guenya semakin sadar kalo dia tuh kayak langit yang ga akan mungkin gue capai......"


"Makanya cari cowok tuh yang pasti-pasti aja kayak Naura!" Tukas Alissa.


"Lagian nih Ra, dari tadi gue perhatiin lo waktu pelajaran bawaannya ga fokus mulu. Sebentar lo liat papan, habis itu lo ngalihin tatapan buat coret-coret ga jelas di buku lo." Kata Alissa.


Naura tertawa. "Itu mah ga gara-gara gue galau Lis, emang gue lagi males dengerin penjelasan pak Wira."


"Amasa??" Goda Reina.


"Udah ya mending ayo kita ke kantin, perut gue udah keroncongan banget nih." Ajak Naura sekaligus mengalihkan percakapan itu.


Dan ketiganya pun menyusul Naura yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sesampainya di kantin mereka langsung membeli beberapa makanan kesukaan mereka di kantin ini.


Tak lama setelah itu, Darel, Mahesa, dan Aziel menghampiri keempatnya. Namun saat semakin mendekati meja keempat gadis itu, Aziel memberhentikan langkahnya.


"Kenapa bro?" Tanya Darel.


"Eee gue baru inget kalo ternyata gue sebenarnya punya rencana ke perpus."


"Ha? Kita ga salah denger kan Zi?"


"Enggak kok. Kalian ke sana aja, jangan lupa sampein apa kata Gibran semalem. Udah ya, gue duluan bye!!" Kata Aziel dan langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


Perginya Aziel membuat Darel dan Mahesa saling tatap.


"Temen lo habis makan apa ya Hes?"


"Semalem mimpi makan buku kali."


"Apa jangan-jangan semalem dia dapet hidayah buat tobat?"


"Tobat tu ke masjid bukan perpus pea!!"


"Iya sih lo bener. Trus Aziel?"


"Dahlah biarin aja si Aziel, mending kita makan."


Darel menghela nafas. "Yaudah-yaudah yuk." Berhubung dia juga lapar, akhirnya dirinya langsung mengikuti langkah Mahesa.


"Hai girls!!" Sapa Mahesa saat mereka telah sampai di meja Naura dan teman-temannya.


"Kita boleh gabung ga nih?"


Mendengar pertanyaan Darel membuat keempatnya saling bertatapan.


"Eumm... Bolehh, tapi dengan syarat kalian traktir kita minuman, gimana?" Tukas Alissa dengan senyum liciknya.


"Ck! Lis, lo masa tega sih sama kita? Lagi tanggal tua ini pengertian dikit lah.." balas Darel dengan sedikit memelas.


Alissa tertawa. "Bercanda doang ih guenya. Yaudah sini gabung aja!!"


"Nah gitu dong Alissa cantik!!"


"Dih!"


"Btw, kenapa berdua? Satunya kemana?" Tanya Naura.


"Aziel? Tau tuh katanya sih mau ke perpus, tapi sebenernya gue ga yakin sih dia kesana beneran."


Mendengar nama Aziel disebut membuat Reina sejenak memberhentikan aksinya memakan seblak. Tapi beberapa detik kemudian ia kembali menyantap seblak level 4 itu seolah-olah tak mendengar apapun.


"Oh gitu.. Yaudah gih kalian pesen sesuatu, masa iya duduk doang disini sambil liat kita makan?"


"Lo bayarin Ra?"


"Iya gue bayarin tapi pake duit kalian."


"Anjirr.. itu namanya bukan bayarin nyet!!"


"Eh ngawur aja lo panggil Naura nyet, kalo Gibran denger bisa-bisa abis lo!!" Tegur mahesa dengan nada sedikit bercanda.


"Ya ampun Naura sorry gue keceplosan."


"Santai aja kali Rel..."


"Bicara soal Gibran, semalem kita dapet amanah dari dia Ra." Ujar Mahesa.


"Amanah apa emang?"


"What?" Naura tertawa. "Makin ngadi-ngadi deh tu orang. Emang gue masih kecil apa butuh dijagain segala."


"Its okay Ra, kita mau kok jagain lo. Soalnya nih, kalo lo aman saldo kita juga aman ya ga Hes?"


"Yap betul!"


"Wah parah nih, kalian jadinya ga ikhlas dong jagain Nauranya!" Sahut Serinda tak terima.


"Enggak-enggak Ra bercanda.... Kita ikhlas banget kok. Jadi gue harap sih kalo lo ada apa-apa langsung telfon kita aja, oke?"


Nura menghela nafasnya. Jika sudah menyangkut keposesifan Gibran, maka ia hanya bisa menuruti kemauan lelaki itu.


"Oke gapapa. Tapi kalo ada masalah sepele, gausah repot-repot sampein ke cowok gue ya!! Awas sampe kalian ngadu!!"


"Aman Ra aman... Tenang aja!!"


"Jadi pengen deh punya cowok se perhatian Gibran.. Udah ldr tapi masih juga ngehawatirin ceweknya." Celetuk Alissa.


"Gue siap mendaftar jadi cowok lo kok Lis, gue baik, ganteng, sopan, berbudi pekerti, taat agama, yang paling penting gue orangnya setia kok. Jadi gue memenuhi cowok idaman lo belum?" Dengan sangat percaya diri Darel mengucapkan kalimat itu.


"Ga sama sekali!! Kalo lo daftar, nama lo auto jadi orang yang gue tolak!!"


Jawaban Alissa sontak mengundang tawa beberapa orang disana. Kasian sekali Darel, belum juga berjuang udah di tolak. Queen of tega emang gaada obat.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Dilain tempat, Gibran hari ini memiliki jadwal yang cukup padat. Sehsrusnya ini urusan bisnis papanya, tapi pria itu terus membujuknya untuk ikut dengan alasan agar dirinya bisa mengenal dunia bisnis yang selama ini ia tekuni.


"Pa, habis ini udah kan?? Katanya tadi cuma sampe jam 2 tapi ternyata sekarang jam setengah 4 baru selesai." Gerutu Gibran saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya Gibran... Mamangnya kamu mau kemana sih nak??"


"Eee ga mau kemana-mana sih pa... Cuma Gibran butuh waktu istirahat di kamar sambil rebahan. Ya menyantai lah intinya."


Vito terkekeh. "Iya udah iya, nanti jangan lupa jam 7 ada makan malam di lantai 3."


"Iya pa, Gibran ga bakal lupa kok."


Sesampainya di kamar hotel miliknya, Gibran langsung bersih-bersih diri dan kemudian menelepon pacar kesayangannya.


"Hai sayang.."


"Hai by..." Disebrang sana Naura tampak tersenyum bahagia saat melihat wajah Gibran. Ya karena jarak mereka yang terpaut jauh, sehingga alat komunikasi video call adalah yang terpenting untuk saat ini.


"Disana kamu lagi ngapain by?"


"Udah santai sih, ini aku juga baru selesai mandi."


"Oh sama kalo gitu... Tadi aku habis keluar sama Alissa dkk dan baru pulang beberapa jam lalu. Eh kok habis mandi dapet vc dari kamu."


"Gimana? Seneng ya di vc sama pacar ganteng kaya aku."


"Dihh... Pd banget sih kamu by.."


"Hahaha iya canda sayang.."


"Btw baru dua hari kenapa rasanya udah berhari-hari ya ninggalin kamu.. bawaannya tuh pengen ketemu kamu terus..."


"Sama by, aku juga kangen sama kamu. Tapi fokus kamu jangan sampe goyah cuma gara-gara ninggalin aku disini. Inget, kamu disana juga sekaligus berjuang untuk masa depan kamu."


"Iya Naura sayang... Kalo gini mah kamu number one person yang paling membuat aku semangat menjalani semuanya disini."


"You too by... Kamu juga jadi satu-satunya orang yang menjadi mood booster aku disegala hal."


"Ah ya, aku mau nanya sama kamu boleh?"


"Boleh sayang.. tanya apa sih?"


"Ee kamu beneran nyuruh Darel, Mahesa, Aziel buat jagain aku?"


Gibran tertawa. "Iya sayang... Biar gaada yang beradi deketin atau bahkan nyakitin kamu selama aku disini."


"Tapi kan by, kasian mereka, mereka juga punya kesibukan masing-masing. Masa iya kamu nambahin beban mereka dengan nyuruh jagain aku?"


"Mereka tuh ikhlas banget kok bantuinnya. Jadi kamu gausa ngerasa bersalah ya?"


"Dan dengan itu aku bisa semakin fokus disini."


Naura tersenyum simpul. Lelakinya ini memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Dan semuanya berhasil membuat dirinya jatuh cinta semakin dalam.


"Makasih ya by..."


"Makasih udah jadi pacar pertama yang memperlakukan aku se perfect ini.


"Makasih juga karena udah mau jadi lelaki yang berhasil membuat aku jatuh cinta lagi dan lagi."


"Dan makasih karena kamu selalu ada di samping aku, dan selalu menjaga aku dimanapun kamu berada."


"I love you Gibran..."


Mendengar itu bibir Gibran ikut tertarik membentuk senyuman. "I love you more Naura...."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Happy reading ya bestiee...


...jan lupa dukung selalu athornya๐Ÿ˜...


...See you next part...


...To Be Continued...


...Follow ig:...


...@kata.author...