
..."Dia mantan kamu, berarti dia uda jadi bagian dari masa lalu kamu. Yang penting, sekarang ada aku, masa depan kamu." ...
...-Naura Azkia P-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Mungkin jika dihitung, sudah sekitar seminggu lebih Naura lost contact dengan Raka. Tak ada lagi Raka yang lewat di depan sekolahnya, tak ada lagi Raka yang tanpa sengaja bertemu dengannya di minimarket, dan terpenting tak ada lagi Raka yang mengiriminya pesan setiap hari hanya untuk sekedar bertanya kabar.
Ya, karena waktu itu Raka kalah taruhan dari Gibran, mau tak mau ia harus melakukan apa yang telah mereka taruhkan sebelumnya. Ini dia alasan Naura tidak suka jika berurusan dengan taruhan. Karena, taruhan akan selalu merugikan sebelah pihak, benar bukan?
Pagi ini, SMA Xavier mengadakan festival sekolah. Angkatan kelas 11dan 10 bertugas untuk menggelar bazar di setiap kelas, tentu saja dengan room decor yang semenarik mungkin. Lalu, kelas 12 lah yang bertugas untuk mementaskan aneka ragam seni di atas panggung utama.
Karena inilah festival sekolah mereka setiap tahunnya tak pernah sepi pengunjung. Dan kebetulan sejak tahun 2010 lalu festival ini sudah di buka secara umum, sehingga siapapun mereka bisa berkunjung untuk sekedar berkeliling bazar ataupun menonton pertunjukan seni.
Oleh karena itulah Naura sudah sejak tiga hari lalu disibukkan dengan persiapan pembukaan stand di kelasnya. Dan hari ini ia bertugas untuk menjaga kasir stand mereka.
Alasan teman-teman Naura simpel saat menunjuknya. Karena dimata mereka Naura pinter matematika, so pasti dia menjadi kandidat terbaik dong untuk menjadi penjaga kasir? Ahaha.
Sejak pukul 8 tadi stand 11 Ipa 2 di banjiri pelanggan. Hingga ada beberapa menu bisa sold out hanya dalam 1 jam saja.
Sedangkan Gibran, ia sudah cukup lelah menunggu Naura selesai tugas. Sudah sejak 30 menit lalu Gibran duduk di bangku di stand mereka.
Hanya ditemani satu gelas blue ocean lelaki itu betah duduk disana hingga hapir satu jam. Karena menurutnya, dengan ini ia bisa menculik Naura disaat keadaan sudah mulai sepi. Lagian, apa mereka ga punya seseorang untuk menggantikan Naura apa?
Gibran menghela nafas berat. Saat es di gelasnya sudah kosong, ia memutuskan untuk beranjak menghampiri Naura. Bodoamat jika ia ditegur oleh teman sekelas Naura. Yang terpenting ia bisa berkeliling dengan Naura saat ini juga. Masa iya sampai acara selesai dia hanya berdiam disana?
"By, ayo keluar... Udah jam 10 lebih nihh.." ucap Gibran yang hampir seperti rengekan itu.
Dimata Naura, Gibran yang saat ini di depannya terlihat menggemaskan. Oleh karena itu ia tak bisa lagi menahan tawanya.
"Kok malah ketawa sih? Ayo keluar!! Kamu ga pengen liat pensinya? Aku denger bagus-bagus loh penampilan tahun ini."
Naura akhirnya melepas topi yang ia kenakan. "Iya-iya Gibran sayang.. Tapi bentar ya," lalu ia berjalan menghampiri Reina yang sedang membungkus pesanan.
"Rei, tolong gantiin gue ya. Kasian tuh si Gibran udah lumutan."
Reina tertawa. Ada-ada saja tingkah dua sejoli itu. "Iya Ra siap."
"Thank ya Rei.."
"Urwell Nauraa.."
Setelah itu, Naura kembali menghampiri Gibran. Seketika senyum mengembang di bibir lelaki itu.
"Nah gitu dong!!"
"Iya udah, yuk katanya mau jalan-jalan?!"
Gibran mengangguk semangat dan tanpa aba-aba langsung menggandeng lengan Naura, membawa gadis itu meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu pengen beli apa?" Tanya Gibran kepada Naura.
"Emm....." Naura tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab. "Ttebokki, crepes, es krim goreng?"
"Ga kurang banyak tuh?" Gibran tertawa. "Lagian kenapa ga beli ttebokki di stand kamu sendiri sih?"
"Ck, ttebokkinya uda sold out dari jam 9 tadi by, yaudah deh kita gaada yang kebagian."
"Oh gitu, yaudah yuk aku temenin cari ttebokki."
"Aku tau stand yang jual ttebokki lagi by, katanya sih anak kelas 10 yang jual."
"Yaudah yuk!"
Saat memasuki stand yang Naura maksud, senyum Gibran sempat luntur sebelum akhirnya ia kembali mengontrol mimik wajahnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja perempuan yang melayani pesanan Naura adalah gadis itu. Gadis yang sempat masuk kedalam perangkapnya.
Ah Gibran rasa kata perangkap terlalu kejam untuk gadis polos itu. Karena memang dimata Gibran pun gadis itu sedikit tak pantas untuk disakiti.
Sebenarnya Gibran juga sempat kasihan dengan perempuan itu saat ia mengakhiri hubungan mereka, tapi ya mau gimana lagi? Hati emang ga bisa dipaksa bukan?
"Gimana Gib? Kamu mau pesen yang apa?" Tanya Naura untuk kedua kalinya saat ia mengetahui belum ada balasan dari lelaki di sebelahnya itu.
"Eh iya, eee... samain kayak kamu aja Ra."
"Oh oke," Naura kembali beralih menatap kearah perempuan yang sedang mencatat pesanannya. "Ttebokki mozarella nya dua ya,"
"Baik kak. Bisa duduk dulu sembari menunggu pesanannya jadi." Kata perempuan itu.
Gibran dan Naura memilih untuk duduk di salah satu bangku yang mereka sediakan. Meskipun stand ini tak seramai stand Naura, tapi mereka juga dikunjungi cukup banyak pelanggan. Mungkin karena tittle makanan korea membuat stand ini ramai.
Dan itu juga berlaku di stand milik Naura. Bedanya, menu makanan yang disajikan stand Naura lebih lengkap, dan harganya juga lumayan ramah di kantong pelajar.
Mata Naura tak lepas dari sosok perempuan yang tadi mencatat pesanannya. Bohong jika ia tak sadar saat mengetahui bahwa perempuan itu adalah mantan Gibran.
Ya, dia tau itu bukan dari Gibran, melainkan teman-temannya yang dulu sering menggosip Gibran beserta mantannya. Dan itu terjadi jauh sebelum dirinya dan Gibran menjadi sedekat sekarang.
Saat perempuan itu berjalan mendekati meja mereka, Naura pun segera mengalihkan pandangannya. Bisa gawat kalau dia ketahuan.
"Ini kak pesanannya." Kata gadis itu sembari menyajikan pesanan Naura dan Gibran.
"Thanks ya." Ucap Naura seramah mungkin.
Setelahnya, gadis itu langsung pergi meninggalkan mereka. Namun, lewat sudut matanya, Naura dapat menangkap bahwa perempuan tadi menatap sekilas seorang Gibran. Yah, mungkin saja ia masih gagal move on dari Gibran. Begitulah pikir Naura saat ini.
"Sayang, buruan dimakan ttebokkinya, nanti keburu dingin." Ujar Gibran sembari meniup-niup ttebokki yang berada di jepitan sumpitnya.
"Eh iya, ini aku mau makan. Btw, gimana? Enak ga?"
"Eemm, enak sih, tapi kayaknya lebih enakan punya kamu."
Tepat setelah kedua orang itu menghabiskan pesanan mereka, Gibran pun kembali menggandeng lengan Nuara. Dan itu semua tak lepas dari tatapan Viona. Gadis yang sudah berstatus menjadi mantan ke sekian Gibran.
"By, aku mau ngomong sesuatu boleh?"
"Ngomong ya ngomong aja sih by.. Gausah pake izin segala." Jika firasat Naura benar, pasti Gibran akan membicarakan hal itu.
"Tadi, adek kelas yang--"
"Aku tau." Sahut Naura tanpa menunggu Gibran menyelesaikan ucapannya. Tuh kan benar tebakan Naura.
Sontak Gibran menolehkan kepalanya kearah Naura, "Kamu tau?"
"Dia mantan kamu kan?"
Dan Gibran mengangguk pelan menjawab pertanyaan Naura. "Iya. Sorry ya aku belum cerita ke kamu."
Naura tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menyerongkan tubuhnya agar ia bisa sepenuhnya menatap Gibran. "Udahlah Gib, gausah dipikirin. Kalau dia udah jadi mantan kamu, berarti dia sudah menjadi bagian dari masa lalu kamu. Dan sekarang aku yang jadi masa depan kamu."
"Toh aku juga uda ga mempedulikan mantan-mantan kamu itu. Yang penting hanya aku yang ada di hati kamu, itu udah cukup buat aku."
Gibran tersenyum mendengar tuturan dari gadisnya itu. Inilah sisi dewasa yang membuat Gibran betah dengan Naura. Karena sisi ini, tak bisa ia temukan di beberapa cewek yang ia kenal, terutama mantan-mantannya.
"Thanks ya by!" Ucap Gibran sembari menarik tubuh Naura kedalam pelukannya.
Satu menit kemudian, Naura langsung menjauhkan tubuhnya dari Gibran. "Jangan peluk-peluk disini by, malu diliatin banyak orang lohh." Katanya.
Gibran tertawa. "Iya-iya. Yaudah yuk beli crepes, katanya kan kamu pengen crepes." Ia kembali menarik lengan Naura.
"Eh tapi tadi uda nurutin permintaan aku, sekarang gantian dong, kamu pengen apa by?"
"Eeemm..... Pengen crepes." Senyum manis itu lagi-lagi tercetak di bibir Gibran. "Yaudah yuk."
Dan lagi-lagi Naura dibuat tersipu malu oleh lelaki itu. Bertemu dengan sosok malaikat tanpa sayap seperti Gibran adalah anugerah yang tak pernah ia duga sebelumnya.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Karena festival di SMA Xavier ini selalu dibuka untuk umum, maka tak jarang bagi siswa-siswi sekolah lain juga berkunjung.
"Selamat siang kak, mampir yuk ke stand kami. Jika kakak beli satu menu di stand kami, kakak akan mendapatkan free foto bersama prince and princess kelas kami." Kata seorang gadis berpakaian maid yang sedang mempromosikan stand kelasnya.
Aldo menyenggol lengan Raka. "Ka, mampir yuk! Kayaknya princess di kelas mereka cakep. Itung-itung obat hati buat lo setelah dipatahin."
"Ga tertarik." Jawab Raka singkat.
"Dih, temen lo habis makan es batu ya Dik?" Tanya Aldo yang sedikit nyeleneh itu kepada Dika.
"Gak. Tapi dia habis hibernasi di kutub utara, jadi gitu uda kayak beruang kutub. Dingin." Jawaban Dika itu berhasil membuat Raka memutas bola matanya malas.
"Daripada lo maksa si Raka, mending pergi sama gue aja. Yok!" Ajak Dika dengan menarik lengan Aldo.
"Eh eh bentar." Aldo kembali berbalik kearah Raka dan Bryan yang berjalan membelakangi mereka. "Bryan, lo beneran ga tertarik liat bidadari dunia??!" Tanya Aldo dengan suara cukup keras. Sengaja, agar si Bryan itu mendengar ucapannya.
Bryan memberhentikan langkahnya dan berbalik sejenak untuk membalas pertanyaan Aldo. "Gak! Stok cewe Trizan masih banyak. Gue ga perlu cari cewek ke sekolah tetangga."
Dan sontak Aldo berdecak keras. "Iya-iya percaya gue. Yok Dik kesana sendiri!" Keduanya pun langsung berjalan meninggalkan Raka dan juga Bryan.
Bryan tertawa. "Temen lo tuh Ka."
"Temen lo juga nyet!!"
Saat mereka berdua berjalan di tengah keramaian koridor. Banyak tatap mata yang memperhatikan keduanya. Maklum karena nama Raka dan Bryan sudah tersebar di sepenjuru SMA Xavier. Lagian, siapa yang tidak mengenal ketua tim basket SMA Trizan dan wakilnya yang punya wajah super ganteng itu?
Tepat di anak tangga terkahir, mata Raka menangkap objek yang seharusnya tak ia liat. Hanya helaan nafas yang bisa ia lakukan. Semuanya sudah terlambat.
Bryan pun tak sengaja melihat objek yang sama. Pantas saja Raka tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lalu, ia menolehkan kepala kearah Raka.
"Gausa diliatin. Percuma lo ngeliat mereka yang selalu bikin lo sakit hati. Come on bro!! Lo harus move on!! Masih banyak cewek diluaran sana. Jadi jangan stuck pada satu cewek yang selalu bikin lo sakit."
Raka tertawa pelan. "Iya-iya bawel!! Lagian gue seneng karena ga sengaja liat mereka. Karena dengan itu gue bisa tau bahwa Naura baik-baik aja, dan yang terpenting dia bahagia. Itu udah cukup buat gue."
"Bego!!" Bryan menghela nafas. "Mending ngeliat temen gue yang ldr beda negara, daripada ldr beda perasaan kayak gini. Beratt." Tepat setelah mengucapkan itu ia langsung berjalan menjauhi Raka.
Dengan cepat Raka pun menyusul Bryan. "Lo mah gitu yan. Main ninggal aja."
"Ya elonya sih, terlalu betah liatin mereka."
"Iya-iya maap. Eh btw, kok gue dari tadi ga liat Revan ya? Dia kemana?"
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hai pembaca kesayangan akuu๐ค...
...Gimana nih part ini?...
...Komen dong perasaan kalian waktu baca ini xixi...
...Jangan lupa dukung author yaa โค๏ธ...
...Stay tuned buat part selanjutnya yaa ๐...
...Dijamin makin seruu ๐...
...Follow akun @kata.author yaa jan lupaa โค๏ธ...
...See you...
...To Be Continued...