Evanescent

Evanescent
Bunga Mawar Sore Itu



..."Perubahan sikapmu tak akan berarti jika namaku masih tersimpan baik dihatimu." ...


...-Naura Azkia Pradipta-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Hari ini adalah hari dimana jadwal pertama mereka melakukan belajar bersama di rumah Naura. Namun sayangnya seperti yang telah ia katakan kemarin, Gibran tidak bisa turut hadir di dalamnya.


Awalnya lelaki itu langsung mendapat serbuan protes dari teman-temannya. Masa iya seorang Gibran yang di gadang-gadang sebagai tentor tambahan mereka tidak mengikuti kelas pertama. .


Disamping itu bagaimana bisa Gibran melewatkan kesempatan bermain di rumah kekasihnya. Sungguh mereka tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu.


"Kamu beneran ga ikut By?" Tanya Naura sekali lagi saat sudah berada di dalam mobil Gibran.


"Iya Ra. Maaf ya." Balas Gibran singkat.


Meskipun dirinya tidak hadir dalam pertemuan itu, tapi setidaknya ia masih memiliki tanggung jawab untuk mengantar kekasihnya pulang dengan selamat.


"Ah iya kamu jadi minta antar ke toko bunga By?" Naura kembali bertanya, karena ia tidak suka dengan suasana seperti ini. Ia rasa Gibran lebih pendiam daripada biasanya.


Gibran mengangguk pelan, "Iya."


Kan apa Naura bilang. Ia jarang mendengar Gibran hanya membalas satu kata dan dengan nada sedingin itu.


"Oke."


Tak lama setelah itu, mobil Gibran berhenti di salah satu toko bunga disarankan oleh Naura.


"Aku ikut turun ya?"


"Iya." Jawab Gibran lalu turun dari mobilnya.


Naura menghela nafas, kali ini ia harus benar-benar sabar menghadapi sikap dingin pacarnya itu. Tanpa pikir panjang, Naura langsung menyusul Gibran yang sudah memilih beberapa bunga di sana.


Gibran menyebutkan beberapa bunga yang jenisnya tidak Naura ketahui. Sepertinya dirinya memang sangat awam dalam dunia per-bungaan. Karena setiap dia ke toko bunga ia hanya memilih bunga yang menurutnya bagus tanpa tau nama dari bunga tersebut. Kecuali mawar dan melati.


Setelah petugas disana selesai merangkai bunga pesanan Gibran, lelaki itu langsung membayar dengan jumlah yang disebutkan oleh petugas kasir.


"Ayo Ra." Seru Gibran saat melihat kekasihnya itu melamun.


"Eh? Udah belinya?"


"Iya udah. Ayo!" Gibran lagi-lagi berjalan mendahului Naura.


Sesampainya di mobil, Gibran menyimpan satu rangkaian bunga besar dan satu kresek hitam di jog belakang, sedangkan satu rangkaian buket sedang berisikan bunga mawar ia bawa.


"Ra, ini buat Kamu." Ucap Gibran sembari menyodorkan buket tersebut kearah Naura yang sudah duduk di sampingnya.


Naura menerima buket tersebut dengan hati yang sudah dibawa terbang oleh Gibran. Saat beberapa lalu ia dibuat kecewa oleh lelaki itu, tetapi sekarang ia kembali diterbangkan oleh sikap sederhana seorang Gibran Rahardian.


"Makasih banyak sayang.."


Gibran tersenyum simpul, melihat kekasihnya seperti itu sudah cukup menenangkan hatinya. Tangannya pun terulur mengusap puncak kepala Naura. Lalu setelah itu ia kembali menjalankan mobilnya.


Sedangkan Naura tak berhenti-berhenti menatap buket yang berisikan tiga jenis bunga itu. Ada bunga mawar merah, bunga mawar dark pink, dan bunga matahari. Sepertinya ada filosofi dibalik bunga-bunga ini yang tidak Naura ketahui.


Saat di tengah perjalanan, Gibran menyadari bahwa dirinya diikuti oleh mobil hitam sejak keluar dari toko bunga. Entah mobil itu sudah mengikutinya sejak di sekolah tadi Gibran pun tak tau. Yang, jelas sepertinya ia tau siapa dan apa motif mobil tersebut mengikutinya.


Dan benar saja setelah belokan lampu merah, mobil hitam tersebut menyalip mobil Gibran dan tiba-tiba berhenti dengan jarak yang membuat Gibran terpaksa memberhentikan mobil.


Naura kaget bukan main saat Gibran mengerem mendadak yang membuat tubuhnya sedikit memental.


"By, kamu gapapa?" Reflek Naura saat melihat Gibran sedikit merintih.


"Gapapa Ra."


Dari dalam mobil Gibran mengerti beberapa orang dengan setelan hitam itu keluar dari mobil yang menghadangnya. Dan seperti dugaannya, bahwa mereka adalah anak buah dari Papanya sendiri.


"Ra, bentar ya aku keluar dulu nyelesaiin ini. Kamu disini aja jangan keluar." Perintah Gibran yang langsung diangguki oleh Naura. Setelahnya lelaki itu langsung keluar mobil, untuk menemui empat orang bodyguard Papanya.


Terlihat Gibran sedang beradu argumen dengan mereka. Lalu lelaki itu tampak seperti menelpon seseorang. Entah siapa yang ia telpon. Yang pasti Naura sedikit lega karena sejauh ini tidak ada perkelahian seperti tempo hari.


Lima menit kemudian, Gibran berjalan menghampiri Naura. Melihat itu Naura langsung membuka pintu mobilnya memberikan akses untuk Gibran berbicara dengannya.


"Ra, sepertinya ada hal yang harus Aku urus. Jadi Aku minta maaf banget sama Kamu karena ga bisa nganterin Kamu pulang sampai rumah." Jelas Gibran to the point.


Meskipun sedikit kecewa, tetapi Naura tak bisa memaksakan Gibran harus tetap mengantarkannya. Akhirnya ia memilih mengangguk, tak lupa mengukir senyum tipis di bibirnya.


"Iya sayang... Aku gapapa kok kalo emang harus naik ojol dari sini."


"Eh jangan. Kamu ga boleh pulang sendiri. Aku uda minta tolong Raka buat nganter kamu, gapapa ya?"


Tak lama setelah itu terdengar deru motor milik Raka. Naura sangat hafal dengan motor lelaki itu. Meskipun tidak satu sekolahan tetapi mereka cukup sering bertemu bukan?


"Itu Raka uda sampe Ra." Ujar Gibran langsung menghampiri Raka yang memberhentikan motornya di belakang mobil.


Naura langsung beranjak dari sana. Dan mengikuti langkah Gibran yang sudah mendahuluinya.


"Hai Ra." Sapa Raka dengan senyuman manisnya.


"Hai Ka."


"Oiya nih helm nya." Raka menyodorkan helm putih kearah Naura dan langsung diterima oleh gadis itu.


"Gue titip Naura ya Ka. Pastiin dia aman sampe rumah." Pesan Gibran sembari menepuk bahu Raka.


"Tanpa lo suruh gue uda pasti menjaga dia dengan sepenuh hati gue Gib."


Gibran tersenyum simpul menanggapi ucapan Raka.


"Udah kan? Ayo Ra kita pulang." Ajak Raka. Saat itu pula Naura pun langsung naik di jog motor Raka.


"By aku pulang ya, kamu hati-hati disini." Pamit Naura.


"Iya Ra, kamu gausa khawatir." Balas Gibran dengan senyuman manisnya.


Tepat setelah itu, Raka menyalakan motornya dan segera pergi dari sana. Sedangkan Gibran hanya bisa menatap motor Raka yang semakin menjauh dengan tatapan sendu.


Jujur Gibran cemburu melihat Naura yang harus pergi bersama Raka. Tapi sebisa mungkin ia harus menahan semua rasa itu. Setidaknya ia bisa sedikit tenang jika Raka yang menjaga Naura.


"Tuan, sudah waktunya kita pulang menemui Pak Vito." Suara salah satu pria tersebut memecahkan lamunan Gibran.


Gibran menatap tajam ke empat pria tersebut. "Papa sekarang dimana?"


"Masih di kantor tuan. Tuan Gibran diperintahkan menemuinya di rumah."


"Cih! Setelah membuat keributan seperti ini Papa harus membuat Gue menunggu?"


Pria tersebut menunduk sopan. "Maaf tuan, Pak Vito memberikan perintah kepada kami seperti itu."


"Bilangin ke bos kalian kalo Gue ingin bertemu sekarang juga, di kantornya." Seru Gibran yang berhasil membuat kelimanya mendongak.


"Tapi tuan, Pak Vito sekarang masih ada meeting." Sahut pria di sebelah kanan pria tadi.


"Gue akan menunggu di ruangannya sampai Papa selesai."


"Gue harap kalian tidak menghalangi lagi. Atau akan ada korban diantara kita." Lanjut Gibran dengan nada sangat menusuk.


Rumor yang mengatakan bahwa anak dari bos mereka adalah seseorang yang ramah tapi menusuk dapat mereka buktikan saat ini.


Akhirnya ke empatnya tidak ada yang berani membantah. Membiarkan Gibran bertindak semaunya.


Sedangkan Gibran ia langsung mengegas mobilnya dengan kecepatan penuh. Emosinya kembali terpancing saat mengetahui Papanya sampai mencegat dirinya demi memisahkannya dengan Naura.


Kali ini Gibran benar-benar kalut dalam emosinya. Ia mengklakson semua kendaraan yang menghalangi jalannya. Bodo amat dengan umpatan para pengguna jalan lainnya, yang penting ia segera sampai di kantor Papanya untuk meluapkan segalanya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...