
Jam menunjukkan pukul 16.00 Reihan sudah sampai di rumah akan tetapi ia melihat rumahnya begitu sepi dan langsung meniki anak tangga untuk melihat putrinya dan rupanya sang anak tidak ada dikamarnya “Mecca kemana ya?” sejenak memikirkan kemana putrinya pergi, tak lama ia inget kalau Mecca pergi ke rumah nenek dan kakeknya “Perasaan tadi siang Mama bilang kalau ia akan menjemput Mecca dan Mecca ingin menginap di rumah Nenek dan Kakek” akhirnya ia bisa bernapas lega.
“Meira belum pulang?” pikir Reihan karena ia memang tak melihatnya di dapur, lebih baik aku ke kamar saja untuk mandi dan menghilangkan sedikit penat akibat pekerjaan yang begitu menumpuk. Setibanya di kamar ia kaget melihat Medira yang terbaring dengan wajah yang begitu pucat dan ia cek ternyata napasnya masih ada.
“Apa mungkin ia pingsan?” sambil berusha membangunkannya dan ternya Meira tak kunjung sadar, tak sadar ia mulai mengkhawatirkan kondisi Meira dan cekatan ia menggendongnya ke mobil kemudian berjalan ke rumah sakit.
“Susterrr tolong...” teriak Reihan dengan wajah yang panik
“Bukankan ini Meira putri dari dr.Holand, cepat panggil dr.Holand”
“Dok maaf, ada pasien darurat yang tak lain adalah putri dokter sendiri” suster tersebut menyampaikan dengan kondisi napas yang tak beraturan.
“Baiklah” terbesit dalam pikiran dr. Holand jangan-jangan penyakit jantung yang diderita putrinya kambuh kembali.
Sekarang tingga hanya menunggu putrinya sadar kembali dan ia segera bergegas menghampiri menantunya tersebut dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Reihan apa yang telah kau lakukan sehingga membuat putriku seperti ini?” kekhawatiran nampak jelas diraut muka pria paruh baya tersebut.
Reihan menghela napas sejenak sebelum menjawab pertnyaan ayah mertuanya itu “Maaf Yah, Reihan baru sampai rumah dan kaget melihat Meira sudah tergeletak dengan kondisi tersebut”
“Sini kamu ikut keruangan saya” Reihan hanya bisa pasrah dan mengikuti perkataan ayah mertuanya.
“Meira mempunya riwayat penyakit jantung, ketika kambuh memang akan terlihat seperti ini. Tapi sebenarnya jarang kambuh jika memang tak ada yang membuatnya sakit hati bahkan kecewa. Jangan pernah kau sakiti perasaan putriku” jelas dr. Holand pada menantunya itu. Reihan lagi-lagi hanya bisa terdiam.
“Mas Rei, kenapa aku ada disini?” Reihan kaget sekaligus senang Meira sudah sadar.
“Tadi aku menemukan mu pingsan di kamar, sebenarnya apa yang terjadi? Apa karena ulahku kamu menjadi begini?” perlakuan Reihan lebih hangat kepada Meira. Meira memutar kedua bola matanya sambil mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
“Tadi siang aku melihat Mas Rei dan Aleesha sedang makan disebuah restoran korea...?” belum selesai berbicara Reihan malah memotong begitu saja.
“Ssssttttt” Meira telah salah paham “Kamu telah salah paham karena diantara aku dan Aleesha tidak ada hubungan apa-apa, hanya saja tadi ia memberikan berkas untuk khasus yang sedang dihadapinya”
Meira hanya tersipu malu dan berusaha menutupi wajah dengan satu tangan. Reihan yang melihat tingkah begitu menggemaskan rasanya ingin mencubit pipi merahnya.
“Meira maaf ya kalau selama ini telah menyakiti hatimu, maaf juga jika aku bukan suami yang baik. bagaimana kalau kita mulai dari awal?” Reihan paham betul, ia memiliki andil besar sebagai seorang imam untuk mencairkan suasa dengan meningkatkan komunikasi dan saling mengenal satu sama lain. Perlahan namun pasti Reihan mencoba membuka hati untuk Meira.
“Ya baik Mas, kita mulai dari awal untuk memperbaiki kesalah pahaman yang sering terjadi diantara kita” lagi-lagi Meira engga menatap mata Reihan, tatapan mata Reihan selalu berhasil memporak-pora gandakan jantungnya. Entah sejak kapan itu terjadi, tapi memang itulah yang sedang ia rasakan sekarang.
“Sekarang kita saling mengenal dari hal yang terkecil dulu, apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka” sambil mengelus pipi Meira.
“Hal yang aku suka adalah belajar dan mengerjakan segala sesuatu yang sudah menjadi rutinitas ku, sedangkan untuk hal yang tidak aku suka adalah ketika belajar ku diganggu dan orang yang berbohong” kali ini Meira tak lagi merasakan kecanggungan dihadapan Reihan.
Reihan semakin mendekati wajah Meira, deburan suara napas Reihan bisa ia rasakan “Apa yang mau Mas Rei lakukan?” tanya polos Meira. “Muka kamu memera Ra” tak maksud menggoda tapi ga tahan melihat wajah istrinya begitu merah merona.
“Aku hanya ingin menemani tidur. Ayo cepat tidur” Reihan merangkul Meira hingga ia tidur dalam dekapan Reihan