Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Ngidam



Kehamilan Meira membawa kebahagian untuk Reihan, Mecca, keluarga Reihan dan Meira. Rasa kekecewaan ayah mertuanya hilang dan malah dr. Holand sendiri yang meminta maaf padaku, karena sudah berbuat kasar. Meira senang karena ayah mendukung keputusannya, ia engga melanjutkan studinya ke PPDS terlebih dahulu “Mas, rasanya aku ingin makan buah matoa deh” pinta Meira dengan nada manja


“Kamu ngidam Ra? Ya udan nanti aku carikan ya” sambil mengelus perut Meira yang sebenarnya masih rata toh baru juga 6 minggu


“Janji ya Mas harus bawa buah matoanya” sejek hamil Meira begitu senstif dan menjadi lebih manja, tapi Reihan sangat menyukainya


“Iya janji aku akan mencarinya, dede papa berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal diperut Mama, Assalamualaikum” Reihan pamit dan tak lupa selalu mencium kening Meira


“Waalaikumsalam”


 


Hari ini Meira berangkat ke kampus karena ada ujian penanggu jawaban hasil laporan selama ia koas kurang lebih 1,5 tahun. Masa koas yang ia jalani memang tercukup singkat apalgi di usianya yang masih begitu muda. Sampai tahap ini sangatlah tidak mudah apa lagi ia sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu serta ia pun sedang mengandung saat ini, tiba-tiba ia teringat masa saat awal masuk kuliah. 5 tahun lalu saat ia lulus SMA dan umurnya baru akan menginjak 17 tahun ia mendaftrakan diri ke salah satu PTN yang ada di Surabaya.


Meira melukan tes melalu beasiswa pemerintah dan tak disangka ia lulus tes tersebut dan menjadi salah satu mahasiswi kedokteran di PTN tersebut dan ini menjadi kisah awal mulai Meira bertemu dengan sahabatnya yang berama Olivia. Meira dan Olivia hanya butuh 3 tahun untuk menyelesaikan studi S1 kedokteran dan hanya membutuhkan 1,5 untuk menyelesaikan masa koas yang pada umumnya sekitar 2 tahun.


Meira memasuki ruangan sidang dengan penuh semangat, ia telah mempersiapkan diri dengan baik sehingga tidak aka keraguan dalam hatinya. Setelah hampir 1 jam melalukan sidang, akhirnya ia keluar dengan senyum manis yang begitu khas diwajahanya


 


“Ra gimana sidangnya?” ia tak sadar bahwa sedari tadi Olivia memperhatikannya yang senyum-senyum sendiri setelah sidang.


“Eeh ya Liv, Alhamdulillah lancar”


“Alhamdulillah deh kalau gitu, pantesan lu senyum-senyum sendiri pas keluar dari ruang sidang. Sekarang giliran gue Ra, doain ya”


“Ya Liv, don’t panic and so relax. Good luck” ucapku pada sahabat terbaik. Sambil menunggu sahabatnya sidang, Meira bergegas ke kantin untuk membeli minuman dan makana. Semenjak hamil ia merasa mudah lapar, mungkin ini bawaan bayi kali ya. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan sahabatnya sudah keluar dari ruangan sidang.


“Raaaa, Alhamdulillah sidang gue lancar” sambil berjalan ke arah Meira.


“Alhamdulillah Liv, sidang ini telah kita lalui dengan baik” jawabku.


“Hai, ponakan onty. Hari ini onty dan Mama kamu bisa menyelesaikan sidang” sambil memegang perut sahabatnya.


“Rasanya gue pengen makan buah matoa deh Liv, di Surabaya dan sekitarnya bakalan ada ga sih?” tanyaku.


“Gue kurang tau sih Ra, bakalan susah sih. Itu buahkan khas papua, tapi bisa suruh suami lu cari ditempat Prima Buah or Hokky Buah Panglima Sudirman or Istana buah mungkin” jawab Olivia pada sahabatnya.


“Okey, nanti gue suruh Mas Rei cari disekitaran situ kali ya”


“Lagian lu ngidam aneh Ra, pengen buah matoa hahaha”


“Mana gue tau Liv hahaha, bawaan bayi kali ah” ujarku. Mereka bergegas pulang, hari ini cukup lelah karena sidang kali ini memang tak mudah.


Ponsel Reihan berdering dan ternyata itu dari Meira “Assalamualikum Mas” “Waalaikumsalam sayang, ada apa nih telpon?” tanya Reihan.


“Mas jangan lupa bawa buah matoa ya, kata sahabatku bisa dicari di toko Prima buah atau Istana Buah atau juga di Hokky Buah Panglima Sudirman”


“Ya Ra, nanti aku cariin kesana ya. Tunggu aku pulang, I Love you”


“Love you too...”


“Mamaaa..” suara manja Mecca “Apa sayang, Mecca udah makan belum? tanyaku.


“Udah dong Ma, tapi aku lagi ingin cemilan buah ma”


“Oke tuan putri” sambil bergegas ke dapur


“Tuan putri ini buah nya” sambil menyodorkan piring.


“Sama-sama sayang, ya Mba Mecca nanti main sama dede ya” balasku.


Tring-tring suara hp Meira dan ternyata ada WhatsApp dari Reihan “Raa, masih mau buah matoanya ga?” mudah-mudah ia sudah tak ingin buat tersebut, aku sudah keliling ke toko yang ia sebutkan tadi siang tapi tak ada hasil “Masih mau Mas, udah dapet belum?” tanya balik.


“Maaf Ra, Mas udah keliling toko yang kamu sebutkan tadi siang tapi tidak ada. Mas cape ingin pulang” bales Reihan “Baru nyari segitu aja sudah menyerah Mas, masa ga mau sedikit berkorban” balasku dengan sedikit kecewa. Melihat balesan WhatsApp dari Meira.


Ini jelas sih bahwa ia marah “Oke, Mas akan berusah mencarinya dan jangan marah dong Ra” Reihan menghela napas sejenak, ada pepatah yang menyatakan kalau istri sedang ngidam dan tidak dituruti kelar deh hidup lu.


Lebih baik aku WhatsApp si Irfan deh, siapa tau mau mau bantuin nyari buah matoa “Fan, lu ada dimana sekarang? Anterin gue nyari buah matoa dong, dari tadi belum dapet nih”


“Gue lagi di apartemen nih, ya udah lu jemput aja nanti gue temenin deh”


“Thanks Fan” Reihan bergegas menuju apartemen sahabatnya dan Irfan sudah menunggu di loby apartemen.


“Ayo Fan, kita berangkat sekarang sebelum ke maleman” ulasku sambil menuju ke luar


“Yappss, sini gue aja yang bawa mobilnya Rei”


..................


“Aduh, gue pusing dari tadi tuh buah kagak dapet Fan” dengan raut muka yang acak-acakan “Ya udah kita cari keluar kota deh, ke Lamongan atau Gresik mungkin Rei. Bini lu juga aneh ngidam buah matoa” mata Irfan tetap fokus nyetir kok guys


 


“Apa mesti gue terbang ke papua sekarang Fan?” tanyaku.


“Kagak usah Rei, kita usahakan disekitar sini. Tapi ya kalau kagak dapet juga, mungkin lu harus terbang ke papua” sambil ngeledek.


“Semenjak hamil, bini gue makin sensitif dan manja Fan. Jadi agak sulit ngerayu juga kalau ke inginannya gak terpenuhi” curhatku.


“Ya udah sih turuti aja napa Rei, kalau bini marahkan lu juga yang repot” jawabku.


“Bentar lagi nyampe nih Rei, mudah-mudahan ada ya. Turun gih ke toko” sautku pada Reihan.


“Gue turun dulu ya Fan, lu mau apa?”


“Terserah lu aja Rei, yang penting buah-buahan”


Tak lama Reihan keluar dari kios buah dan bisa bernapas dengan lega, apa yang ia cari sudah didapatkan.


“Rei, giman nih ada gak tuh buah?”


“Alhamdulillah ada Fan, ayo kita pulang”


“Alhamdulillah deh kalau gitu”


..................


“Assalamualaikum” saut Reihan sambil membuka pintu rumah “Waalaikumsalam Mas, mana buah matoanya” Meira langsung menagih pesanannya


“Ini Ra, Mecca udah tidur?” tanyaku.


“Sudah Mas, sekali lagi makasih ya Mas” raut wajah sumringah sang istri membuat Reihan merasa bahagia.


“Ya sama-sama sayang. Kalau gitu aku ganti pakaian dulu ya” tak lupa mengelus perut sang istri.