Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Kehangatan



Reihan tak bisa berhenti memandangi Meira yang tidur dalam dekapannya, entah sejak kapan Meira berhasil menarik perhatiannya. Mulai dari mengurus Mecca yang begitu letaten dan sabar atau bahkan melihat begitu cekatatan ketia ia sedang memasak, kini relung hatinya mulai bisa menerima Meira meski rasa cinta diantara mereka belum hadir, semua ada prosesnya tidak semerta-merta jadi begitu saja. Meira terbangung dari tidurnya ia merasakan dekapan yang begitu hangat dari Reihan, serasa mimpi saja hubungan kami mulai membaik.


Mas Rei maaf, bisa kah panggilakan Ayah kesini” pinta Meira dan seketika Reihan bangun dari posisi yang sedang berbaring itu.


“Baik Ra, aku panggil sekarang ya” ia tak meras canggung lagi untuk bertemu dengan ayah mertunya itu.


“Ayah maaf, Meira memanggil Ayah” ucap Reihan pada pria paruh baya tersebut.


“Baiklah Ayah akan kesana” sambil menutup pintu ruangan kerjanya.


“Ayaaaaaahhhhhh..” panggilan khas putrinya yang selalu dr. Holand rindukan. Dengan sadar diri Reihan keluar dari kamar dan menuju kantin, mungkin mereka ingin membicarakan hal yang lebih pribadi.


“Ayah, aku mau bertanya dong. Ayah kasih tau ga tentang penyakit ini ke mas Reihan?” dalam hatinya ia berharap ayahnya tak memberi tau Reihan tentang saki yang ia derita.


“Yahh gimana dong, Ayah kemarin baru saja menjelaskan semuanya” ucap dr. Holand dengan penuh sesal.


“Ya sudahlah yah tak apa, biar nanti aku jelaskan lagi sama Mas Reihan. Ayah hari ini aku boleh pulang kan?” tanyaku


“Boleh kok, kondisi mu sudah membaik”


Tak lama Reihan kembali dan sudah mengisi perutnya dengan sepotong roti dan segelas susu saat di kantin tadi. “Mas Rei, hari ini aku sudah diperbolehkan pulang” Reihan mendengar kabar ini hanya bisa memberikan seulas senyum dibibirnya


“Oke deh, sebelum pulang aku akan selesiakan urusan administrasinya” Meira hanya bisa mengangukan kepalanya. Selama perjalan menuju rumah suasana dalam mobil tak lagi sekaku dulu, sesekali Reihan mengelus rambut Meira yang tampak begitu berkilau di mata Reihan, bagi Meira sikap Reihan yang sekarang memberikan rasa hangat dan nyaman.


“Kok malu sih, dipandang suami sendiri juga” lagi-lagi Reihan malah menggodanya dan makin menjadi seluruh aliran darah Meira berkumpul dipipinya yang makin merona.


“Mas Rei, aku ingin menceritan tentang penyakit jantungku. Mas Rei sudah tau dari ayah kan ya?”


“Ya aku sudah tau kok, sekali lagi maaf aku ya telah membuat sakitmu kambuh” ucap Reihan penuh sesal.


“Penyakit ini memang sudah bawaan sejak aku lahir, ketika aku merasa kesal, gundah gulana, iri dan cemas akan terasa sesak di dada, telapak tangan dan kaki akan berkeringat dingin, sulit bernapas dan tak kala akhirnya aku pingsan”


“Okey aku mengerti, Ayah juga menjelaskan jika telat di tanganyi nyawa mu lah yang dipertaruhkan” Akan aku usahakan menjaga amanah yang telah Ayah mu berikan kepada ku.


“Hari ini kamu ga pergi ke kampus?” tanya Reihan karena memang ia tak tau mengenai jadwal kulaih Meira.


“Tidak, terkecuali untuk besok dan lusa mungkin akan sedikit sibuk di kampus untuk memperisiapkan koas state radioterapi” ia memang selalu menjelaskan secara detail.


“Baiklah Meira” rasa canggung masih sedikit ada diantara mereka.


Lama-lama hati Reihan mulai terketuk oleh Meira, bagi Reihan membuka hati untuk Meira tak begitu sulit. Ia harus mengakui kalau istrinya itu cantik, baik hati, pintar, tegas, disiplin dan tak kala sikap nya juga ke kanak-kanakan. Meski Meira jarang menggunakan makeup hanya bermodalkan skincare tapi kecantikan begitu terlihat natural dan anggun sehingga pria mana saja bisa tersihir olehnya apalagi Reihan sebagai suaminya.


-Kunci sukses dalam menjalani hubungaan adalah ada kominukasi yang baik dan saling terbuka satu sama lain, hingga meninghilangkan segala praha yang abu-abu di dalam hati (HR) –