Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Back To Campus



Setibanya di kampus  ia mulai melangkah satu persatu menaiki anak tangga bergegas ke perpustakaan karena sudah tenggang waktu untuk mengembalikan buku yang ia pinjam “Selamat pagi bu, ini saya akan mengembalikan buku”  sapa Meira sebari menyodorkan buku yang ia bawa “Selamat pagi Meira, simpan saja diatas meja”


“Baik bu, terimakasih” setelah itu ia keluar dan bergegas menuju kelas. Sembari jalan menuju kelas ia mendengar seseorang yang tak asing ditelinga memanggil namanya.


“Raaa....Meira, aku mencarimu” tak kala suara Revi Alamsyah yang ia dengar.


“Untuk apa kamu mencari ku? Jangan bilang kamu berkeliling kampus untuk mencariku ” tanya Meira dengan senyum khasnya


“Hehehe...sudah hampir seminggu ini aku tidak melihatmu dikampus” ucap Revi sambil tertawa kecil


“Revi, reviii entah kenapa kamu selalu berbuat hal yang bodoh, dengan mencariku berkeliling kampus” tak heran jika Revi selalu mencari Meira karena semua orang dikampus tau bahwa Revi suka terhadap Meira, meski Meira selalu menolaknya tak lantas membuat Revi menyerah begitu saja. Baginya ia hanya menganggap Revi sebagai teman saja tak lebih dari itu.


Meski mereka tidak satu fakultas, hanya saja mereka sama-sama berada dibidang kedokteran. Revi merupakan mahasiswa kedokteran gigi yang sedang menjalani koas sama halnya dengan kegiatan yang ia sedang kerjakan sekarang.


“Revi maaf ya, aku masuk dulu ke kelas”. Kelas state radioterapi telah usai sebagai perbekalan untuk minggu depan menjalani koas kembali, seperti biasa setelah kelas usai Revi sudah menunggu di luar kelas Meira pemandagan ini memang sudah tak asing lagi bagi teman-teman satu kelas Meira.


“Ra, ada agenda penting gak hari ini?” tanya Revi


“Sepertinya tidak, tapi aku hanya ingin pulang saja” Revi tidak tahu sama sekali bahwa Meira telah menikah 1 minggu yang lalu.


“Assalamualaikum Meira, udah selesai belum kelas hari ini?” tanya Reihan sambil menyetir mobil. Kebetulan sekali Reihan telpon sehingga ada alasan untuk menolak ajakan Revi sua batin Meira.


“Waalaikumsalam Mas, sepertinya kegiatan hari ini telah selesai”


“Baiklah kalau gitu aku jemput ya!!” eeh sampai lupa ia mengabaikan Revi yang dari tadi berada di sampingnya.


“Revi maaf ya, kaka ku akan menjemput aku pulang”


“Okey Ra tak apa, next time ya”


“InsyaAllah next time Revi” balasan Meira sambil memberikan senyum yang nampak begitu ramah. 


Sebari menunggu Reihan datang ia menyiapakan semua dokumen yang akan diperlukan untuk koas state radioterapi yang diminta oleh dr. Richad Ardiansyah, Sp. Rad hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 tapi Reihan tak kunjung datang dan Meira mencoba menelpon tapi sayang yang ada hanya suara operator “Nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah sesaat lagi terimkasih” wajah bete nampak jelas dimuka Meira, tapi ia mencoba berpikir positif mungkin hp Reihan mati sehingga sulit dihubungi. Lagi-lagi ia mencoba menunggu Reihan untuk menjemput hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 kalau begitu aku shalat terlebih dahulu setelah itu baru pulang mengunakan taksi dan sebelum pulang ke rumah ia harus menjemput Mecca terlebih dahulu.


Setibanya di sekolah Mecca ternyata hanya ada suasana sepi yang terlihat dan memang sudah sedari tadi jam pulang sekolah Mecca jadi tidak heran jika jam 13.00 sekolah sudah sepi dan yang jelas Mecca telah dijemput oleh Reihan baginya itu yang terpenting. Cuaca siang ini memang begitu terik sesuai dengan hati Meira ketika ia sampai di rumah, merasa panas tak kala ia mendengar suara yang sedang asik berbincang di ruang kerja Reihan dan sudah pasti dapat ditebak itu suaranya Aleesha.