Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Suram (Kemarahan dan Kekecewaan Ayah Mertua)



Pagi ini Meira dan Reihan pergi ke rumah orang tua Meira. Meira dan Reihan merasa gugup, tapi Reihan berusaha untuk menenangkan istrinya tersebut. Reihan tak peduli dengan apa yang akan terjadi karena ia telah melanggar janjinya itu kepada ayah mertuanya. Mereka sudah tiba dan mengekut pintu “Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam, ehh kedatangan mantu sama anak” saut mama Meira.


“Ma, Ayah ada dirumah ga?” tanya Meira pada sang mama.


“Ada Ra, nanti mama panggilkan. Kebetulan ayah ada dikamar”


Sebelum Meira berbicara denga sang Ayah, kami semua makan malam terlebih dahulu untuk menetralkan suasan yang begitu tegang “Yah, Meira mau berbicara sama ayah boleh?” saut Meira


“Tentu saja boleh sayang” sambil mengelus rambut putri kesayangannya. “Kita bicara diruang tamu aja yah” mereka semua bergegas menju ruang tengah, sedangkan mama menyiapkan cemilan berubah buah-buah untuk dihidangkan di meja ruang tamu “Yah, aku hamil” tegas Meira pada sang ayah.


“Gimana dengan kuliahmu?” tanya ayah dengan raut wajah yang kecewa.


“Mungkin aku gak akan lanjut kuliah untuk sementara”


“Kamu telah membuat ayah kecawa Ra” sambil membuang muka dari hadapan sang putri bungsunya.


“Maafin aku yah” tangisan tak bisa ia bendung karena sang ayah begitu kecewa.


“Reihan sini kau, ikut saya ke taman” Reihan hanya bisa pasrah ketika ayah mertuanya memanggil


“Ya baik Yah” sambil menarik napas yang panjang.


“Plak, kurang ajar kamu Rei. Kamu udah janji tidak akan membuat anak saya hamil sampai ia selesai kuliah” dr. Holand memukul menantunya hingga babak belur dibagian pipi dan bibir .


Mereka bergegas masuk kembali ke rumah dan disana Meira masih menangis dipelukan sang mama “Ma, maafin Meira udah bikin kecewa..” sambil terbata-bata


“Sutt, tidak sayang. Ayah hanya perlu waktu untuk memahinya. Selamat ya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu” saut sang mama sambil menenangkan putrinya.


“Ma, tolong sampaikan maaf Meira sama ayah. Meira akan tetap menyelesaikan kuliah ini sampai disumpah menjadi dokter yang sesungguhnya, hanya saja untuk melanjutkan ke PPDS mungkin tidak sekarang”


“Kalau begitu Aku dan Mas Reihan pulang dulu. Assalamualaikum” Reihan dan Meira pamit.


“Waalaikumsalam” balas Sarah


..................


Flashback


Meira adalah putri bungsu dr. Holand yang sangat ia harapakan untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter spesialis dan kebetulan Meira memang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter, bagai Meira sang Ayah adalah inspirasi terbesarnya untuk menjadi dokter. Meira memiliki 2 kakak laki-laki, mereka tak begitu menyukai bidang kedokteran sehingga tak bisa diharapkan oleh sang ayah, kedua kakak Meira lebih tertarik dengan teknik sehingga Meiralah satu-satunya harapan dr. Holand agar bisa berkarir menjadi seorang dokter.


..................


"Mas, wajah kamu lembam gitu. Sini aku obati dulu” Meira kaget apa yang ayah ia lakukan terhadap suaminya, hari ini begitu suram untuk mereka berdua “Sudahlah Ra, besok juga hilang kok. Lagian ini salah aku yang sudah melanggar janji”


 


“Hah janji apaan Mas?” tanya Meira dengan penuh rasa penasaran.


“Ga kok, lupakan saja. Sebaiknya kita tidur saja” tangan Reihan mulai memarik pingga Meira dan terus berjalan menuju arah perutnya.


“Makasih ya Ra” Meira hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tak sadar air mataku jatuh karena terharu dan bahagia menjadi satu.


“Sekali lagi. Makasih ya Ra” air mata Reihan terjatuh dan baru kali ini Meira melihat suaminya menangis haru


“Ya sama-sama Mas, jangan di ulangi lagi ya. Kalau menginginkan sesuatu kita bicarakan dulu” sambil mengelus rambut suaminya.


“Iya, aku janji Ra dan terimakasih untuk semuanya” Reihan menangsi bahagia, Allah menitipkan kehidupan baru di dalam rahim istirnya.