Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Sumpah Dokter



Hampir setelah satu bulan menunggu hasil UKDI akhirnya pengumuman itu tiba juga, Meira harap-harap cemas untuk melihat hasilnya. Ketika ia ujian merasa tidak bisa mengerjakan secara maskimal, jika UKDI ini gagal maka ia tidak akan menjadi dokter umum dan harus mengulang kembali ujian tersebut. Hari ini para dokter muda harus berkumpul ke Aula untuk melihat hasil UKDI yang akan di umumkan oleh dr. Zaheed.


Sedari tadi Meira tak melihat sosok sahabatnya itu “Tumben baget si Olivia belum keliatan batang hidungnya” monolog Meira. Tak lama kemudian ada yang memanggilnya, disana terlihat ada 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang sudah tak asing lagi bagi Meira. Kelompok saat mereka koas di state radioterapi, kalau dipikir-pikir Ayla, Zidan dan Rendra orangnya sangat menyenangkan, tidak terlalu kaku dan asik saat bekerja sama


“Meira, Ra..”


“Ehh ada Kak Ayla, Zidan dan Rendra juga” ucapku.


“Kebetulan tadi kita ketemu di parkiran Ra, jadi ya sudah kita bareng saja menuju Aula” saut Zidan


“Perutmu makin besar ya Ra, gemes deh liatnya” tangan Ayla sambil mengelus perut buncitnya Meira


“Iya nih Kak Ay, hiperaktiv nih anak” jawabku.


“Anakmu hiperaktiv ya kaya emaknya lah hahaha” ledek Rendra.


“Aku setuju dengan Kak Rendra, Meira memang gak bisa diem orangnya. Jadi nurun deh sifatnya hahaha” tutur Olivia.


“Ngomong-ngomong ini ponakan pertama kita yang dipersatukan karena koas kemarin, malah semkin seperti keluarga ya” ucap Zidan.


“Mudah-mudah kita tetap kompak menjaga tali silaturahmi” tutur Meira.


“Aamiin” balas mereka dengan serempak.


Dokter Zaheed sudah memasuki Aula. Sebelum mengumumkan hasil UKDI, beilau memberikan sambutan terlebih dahulu “Assalamaualaikum wr.wb. selama pagi semua calon dokter umum kebanggan kampus tercinta. Sebelum kita ke acara inti, saya akan memberikan sepatah dua patah kata untuk kalian. Alhamdulillah kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya kita bisa berkumpul kembali disini. Tak lupa shalawat serta salam pada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa cahaya yang terang menderang. Alhamdulillah saya ucapkan syukur karena kalian telah sampai tahap akhir dari studi profesi kedokteran. Saya harap kalian menjadi dokter yang berkopetensi sesuai dengan keilmuan yang telah dipelajari dan dapat menjalankan profesi kalian sesuai etika yang berlaku. Dari 30 calon dokter umum di kampus ini, tak bisa dipungkuri kalian telah berhasil menyelesaikan dengan baik. Sekali lagi saya ucapakan selamat atas kelulusan kalian semua dan saya bangga karena telah bisa mengantarkan kalian sampai tahap ini. Ada kabar baik juga, ada 3 orang dengan nilai hasil UKDI yang masuk 10 besar nasional. Sudah dapat ditebak siapa orang tersebut?” Tanya dr. Zaheed.


“Meira dan Olivia jelas mereka yang mendapatkan nilai terbaik” saut Ayla.


“Tebakan Ayla bener. Meira, Olivia dan Rendra mereka mendapatkan hasil yang memuaskan dan membuat kampus kita bangga. Selamat untuk kalian bertiga dan sekali lagi selamat atas keberhasilan kalian semua. Untuk 3 orang tersebut siapakan diri kalian untuk esok mengucapkan sumpah dokter dan untuk yang lain juga siapkan untuk acara esok. Terimakasih atas perhatiannya, Wasalamualaikum wr.wb”


..................


Hari ini akan dilakukan prosesi sumpah dokter, Meira berias dengan sangat cantik. Acara ini akan disaksikan dan dihadiri oleh orang tua, suami serta anak tercinta. Meira tak bisa menjelaskan kebahagian yang ia dapatkan karena atas ramhat Allah SWT yang begitu baik kepada hambaNya “Ya Allah terimakasih atas nikmat yang telah diberikan kepadaku, tak banyak yang bisa diucapkan” monolog Meira dan ia segera memanggil suami dan anaknya untuk segera berangkat.


“Pa, Mecca ayo kita harus segera berangkat”


“Ya Ma” jawab Mecca.


“Ayo Ma” jawab Reihan


“MasyaAllah, Mama cantik baget sih” ujar Mecca.


“Mecca bisa aja deh muji Mama, kamu juga cantik sayang”


“Mama sama Mecca sama-sama cantik” celetus Reihan.


“Ya sayang, kakek nenek datang kok. Mereka juga sudah berangkat menuju kampus” jawabku


“Hore, Mecca senang deh” Mecca memang dekat sekali dengan orang tua Meira. Meski Mecca tidak lahir dari rahim putri mereka, tapi mereka menyayangi Mecca seperti cucu sendiri.


..................


Para dokter umum berserta keluarga mulai memasuki ruangan yang telah disediakan oleh kampus. Setelah sambutan berakhir sekarang gilirian Meira, Olivia dan Rendra maju ke depan mimbar sebagai perwakilan untuk dilakukan sumpah dokter dan diikuti juga oleh yang lainnya. Sebelum melakukan prosesi sumpah dokter, Meira diminta untuk memberikan sambutan sebagai dokter yang berprestasi.


“Assalamualaikum wr.wb. Alhamdulillah saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita semua diberikan kesehatan sehingga bisa berkumpul ditempat ini dan tak lupa shalawat serta salam kita curah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa cahaya kehidupan hingga bisa kita rasakan saat ini. Izinkan saya sebagai seorang anak, istri dan ibu untuk mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah mendukungku hingga sampai titik ini. Terimakasih untuk mama dan ayah yang selalu memberikan bantuan secara moral dan moril, serta untuk suami dan putriku tercinta terimakasih atas cinta yang begitu besar, tak lupa untuk sahabat dan rekan-rekan seperjuangan terimakasih sudah bekerja sama dengan baik. Semoga kita menjadi dokter yang amanah untuk seleruh umat manusia. Terimakasih, Wassalamualaikum wr.wb” Pembacaan sumpah dokter pun di mulai


Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.


Saya akan menjalakan tugas dengan cara yang terhormat dan beesusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.


Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi dokter.


Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.


Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusian. Sekalipun diancam.


Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.


Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.


Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh suapay saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukaan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.


Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.


Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.


Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.


Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan saya.


Mama dan Ayah Meira begitu terharu dan bangga atas apa yang putri bungsunya raih. Begitu dengan Reihan, ia sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya.


“Pa ma, kelak Mecca mau jadi dokter kaya Mama” kata-kata yang terucap dari muka polos Mecca


“Mau jadi apapun, papa mama akan selalu ada untuk kamu” jawab Meira.


“Mecca mau bisa menyelamatkan banyak orang ma” tutur Mecca.


“Tentu saja, mama akan selalu mendo’akan kamu sayang”