Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Ekstra Part 2



Waktu terus berjalan ke depan, hingga tak terasa sudah hampir 17 tahun Meira membina rumah tangga dengan Reihan, Seandainya dulu ia kabur mungkin Allah SWT akan sedikit marah karena mengelak takdirnya. Untung saja hati dan pikiran bisa berpikir jernih, maka aku terima nikah (terpaksa) dengan seorang Reihan Ismail hahaha walau diawal tak begitu sesuai harapan, pada akhirnya Allah SWT memberikan takdir yang baik untuk selanjutnya.


Tepat hari ini, ayahku Holand Alexssander memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan jabatan direktur rumah sakit padaku. Karena dari kami bertiga, hanya aku yang menjadi dokter. Mungkin suatu saat, aku juga akan memberikan amanah itu pada Mecca atau Rizmi atau mungkin sibungsu Syila. Jika sekarang Mecca masih enggan untuk pulang, mungkin suatu saat aku akan memberikan ia andil dalam rumah sakit ini.


"Ra, udah siap berangkat?" tanya Reihan pada istrinya. Untuk hari ini Reihan tidak akan berangkat ke kantor, ia akan menghadari pelantikan sang istri sekaligus pensiusnya ayah mertua.


"Sudah Mas, ayo kita berangkat sekarang" pinta Meira sambil membuka pintu rumah yang terhubung langsung dengan gerasi mobil.


"MasyaAllah Ra, istri siapa sih cantik begini" goda Reihan.


"Terus aja gombal sampe mabok Mas" kekeh Meira, membuat Reihan tak bisa menahan ketawa lagi.


"Astaga Ra, ini seriusan. Kenapa sih selalu disebut gombal terus" keluh Reihan. Seperti inilah mereka, jika sedang dalam berdua dalam mobil. Terkadang Meira ga terlalu menanggapi gombalan suaminya itu, padahal Reihan memang tidak sedang menggombalinya. Reihan berbicara sesuai dengan fakta yang dilihatnya, umur Meira memang terbilang muda. Tapi anehnya, kecantikannya masih seperti umur 17 tahun saja. Kebangetan awet mudanya emang, tapi Meira selalu berprinsip "Kalau bisa terlihat muda, kenapa harus berpenampilan tua"


"Iya deh serius, fokus Mas. Jangan sampe telat nih dateng ke rumah sakit. Nanti aku malu sama Ayah" ujar Meira.


"Siap nyonya Reihan, sebentar lagi kita akan sampai" memang tak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit saja sudah sampai.


"Mas kok aku gugup ya, ga yakin gitu" keluh Meira ketika akan masuk ke rumah sakit.


"Ga usah gugup, kamu itu luar biasa Ra. Siapa lagi kalau bukan kamu yang melanjutkan ya siapa lagi coba" ujar Reihan memberikan Meira ketengangan.


"Iya sih Mas, tapi aku tuh ga suka percaya diri Mas"


"Harus percaya diri dong Ra, kamu itu istimewa dan pasti bisa. Para pegawai juga senang jika kamu jadi pemimpin mereka"


"Aku berharap seperti itu, ayo Mas kita masuk sekarang. Ga enak sama Ayah, udah ada disana" ujar Meira. Kini mereka masuk ke dalam perkarangan rumah sakit, disana sudah ada pimpinan rumah sakit beserta jajarannya.


"Assalamualikum Ayah" ucap mereka kompak sambil mencium punggung tangan paruh baya tersebut.


"Waalaikunsalam Nak, sini duduk disamping Ayah" pinta Holand pada Meira dan Reihan.


Kini masuk dalam acara inti, dimana Holand akan mengumumkan siapa pengganti dirinya serta sekaligus perpisahan.


"Assalamualaikum wr.wb. Saya ucapkan terimkasih kenapa semua rekan jajaran rumah sakit atas kerjasamanya selama ini, jika ada kesalahan baik sengaja atau tidak sekali lagi saya minta maaf. Sudah saatnya saya pensius sebagai dokter dilapangan, sekaligus jabatan selanjutnya akan saya berikan kepada putri bungsu yakni dr. Meira Sabina Alexssander, M.Si., Sp. A. kepadanya diharapkan maju ke depan" ucap Holand Alexssnader.


"Assalamualikum wr.wb. Sekali lagi terimkasih atas kepercayaan Dr. dr. Holand Alexssander sekaligus Ayah kandung saya, saya harap bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi dan saya harapan rekan-rekan semua dapat membantu saya dalam menjalankan amanah ini. Jika saya salah arah tolong tegur jangan dibiarkan begitu saja" ucap Meira diakhirnya dengan ucapan selamat padaku, serta tepuk tangan yang tak kalah gemuruh.


Reihan POV


"Ra, pulang sekarang?" tanyaku padanya.


"Iya Mas" jawabnya.


"Ra, gimana soal perjodohan Mecca dengan Andre?" tanyaku, bukan kami yang menjodohkan tapi kakek mereka yang meminta.


"Aku tau betul putriku seperti apa, sebenarnya mereka saling mencintai. Hanya saja gengsi dan rasa benci begitu dominan pada keduanya, kita tunggu jawaban shalat istikharah Mecca ya Mas" jelas Meira.


"Mas juga tau Ra, ada cinta dalam diri mereka. Tatapan mereka mengisyaratkan semuanya dan aku juga percaya bahwa Andre bisa menjaga, membimbing serta membagaikan putri kita" ujar Reihan "Barakallah ya Ra, semoga selalu amanah dalam menjalankan tugas yang diemban mu sekarang" sambungku lagi.


"Iya Mas, aku juga percaya sama keponakannku kok. Makasih ya Mas, udah mau jadi tongkat penyematku dalam suka maupun duka. Aku ga akan seperti ini jika bukan atas ridhomu" ucap Meira sukses membuat Reihan terharu, teramat indah yang telah Allah berikan padanya.


Kini Reihan melajukan mobilnya menuju rumah, ia sudah janji akan makan siang bareng bersama kedua anaknya. Jika hari biasa, baik Reihan maupun Meira memang jarang makan siang bersama. Kemungkinan Rizmi dan Syila sudah sampai di rumah duluan, karena memang sudah jam 1 siang.


Meira POV


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan padaku. Semoga aku bisa menjalankan amanah ini sesuai dengan syari'at islam" batin Meira. Tak ada kebahagian yang lebih indah, selain bisa berkumpul bersama keluarga. Berhubung aku habis dilantik, maka Ayah dan Mama pun hadir, kini meraka juga ikut ke rumahku.


Walau anak-anakku tak hadir semua, karena sisulung sedang belajar di Jerman. seperti yang Mecca katakan, mungkin sekitar 2 tahun lagi ia akan pulang. Sikap keras kepalanya memang seperti Reihan ayahnya, begitupun dengan gengsinya. Anak sulungku memang unik, begitupun dengan kedua adiknya tak kalah uniknya.


Sesuai dengan janji yang telah aku dan suamiku sepakati, setelah acara pelantikan ini kita akan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Hanya makan siang bersama keluarga inti, bukan orangtuaku saja yang hadir. Orangtua dari suamiku juga hadir, inilah kebahagian sesungguhnya untukku.


"Assalamualikum" ucap mereka kompak.


"Waalaikumsalam, Mama Papa Oma Opa Eyang" balas Rizmi dan Syila. Syila ini selalu heboh jika ada nenek dan kakeknya bahkan kalau kalian bisa liat, Syila sedang berlari menuju mereka.


"Hati-hati nduk, jagan lari" ucap Sarah, Ibu dari Meira.


"Kangen aku tuh, Mama Papa sibuk terus ga sempet ke rumah Oma apalagi Eyang" keluh Syila.


"Mas Rizmi apa kabar?" tanya Holand


"Hm Alhamdulillah sehat" selalu saja singkat itulah anak laki-laki kami.


Kini kami semua menuju ruang makan, sudah ada beberapa makanan yang tersaji dimeja. Menu yang dibuatkan memang spesial, kali ini memang asisten rumah tanggaku yang menyiapkan semuanya. Entah kapan tahun kita kumpul seperti ini, bisa jadi hanya lebaran saja. Allah SWT selalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh HambaNya, ternyata takdir inilah yang terbaik untukku dan Reihan.