
8 tahun kemudian
Sudah hampir 15 tahun Meira dan Reihan menjalani bahtera rumah tangga. Asam, pahit, asin dan manis telah mereka rasakan bersama. Meski masih banyak rintangan yang harus dilalui, mereka akan menghadapinya secara bersama. Semakin lama cinta mereka semakin bertambah, tak pernah padam bahkan berkurang, cinta karena Allah yang mereka rasakan sangat luar biasa dampaknya untuk kehidupan rumah tangga yang mereka bangun berharap sampai ke JannahNya.
Putri sulung mereka yang bernama Mecca, kini akan pulang ke Indonesia. Sudah hampir 3 tahun Mecca tinggal di Jerman untuk melanjutkan studinya, ia mengambil jurusan kedokteran seperti ibu sambungnya. Mecca berserta kedua adiknya memiliki kecerdasan yang luar biasa, diatas rata-rata orang normal. Mecca mendapatkan beasiswa ke jerman atas keinginan sendiri, tanpa bantuan orang tuanya. Bahkan ia sering menyingkat namanya agar tidak diketahui orang banyak bahwa ia merupakan putri dari Reihan Ismail, pengusaha yang sangat berpengaruh di Indonesia bahkan Asia.
Meira sangat bersyukur di anugerahkan putra-putri yang luar biasa, tapi justru hal ini membuatnya khawatir. Ia takut jika anak-anaknya di manfaatkan oleh orang jahat karena kecerdasannya. Seperti Rizmi yang jago terhadap teknologi, ia berhasil membuat Robet dengan teknologi canggih bahkan bisa menjadi pesawat. Syila pun menyukai dunia laboratorium, terkadang ia melakukan penelitian yang membuat orang tuanya merasa aneh. Laboratorium om Dewa menjadi sasaran Syila untuk mengembangkan ide-idenya. Maka dari itu Meira dan Reihan membuat ruangan dibawah tanah untuk mengembangkan ide dari anak-anaknya tersebut dengan fasilitas yang begitu lengkap.
Kecemasan mereka bukan tanpa alasan, sehingga untuk menghilangkan rasa khawatir Meira dan Reihan membekali ilmu agama yang memadai dengan memasukan anak-anaknya ke pondok pesantren. Rizmi sudah masuk pesantren tersebut sedangkan si bungsu Syila akan menyusul jika sudah lulus sekolah dasar. Anak-anak mereka sering sekali loncat kelas dan memberikan segudang prestasi untuk sekolah mereka.
Mecca sudah sampai dibandara juanda, ia dijemput oleh supir. Meira dan Reihan sangat menunggu kepulangan putri sulungnya tersebut, hampir 3 tahun Mecca tidak pulang. Perjalan dari bandara ke rumah hanya sekitar 30 menit “Alhamdulillah ya Allah, aku bisa menghirup kembali udara kota kelahirannku” batin Mecca sambil menghirup udara.
Selama 30 menit perjalan berlalu, ia sampai di rumah mewah dengan luas hampir 2 hektar “Assalamualaikum” sapa Mecca sambil membuka pintu rumah.
“Waalaikumsalam” balas Rizmi dan Syila secara kompak.
“Mama Papa cepet kesini, Mba Mecca sudah pulang” teriak Syila sambil menuju kamar orang tuanya.
Reihan dan Meira mendengar teriakan putri bungsunya itu dan segara berjalan menuju ruang keluarga “Alhamdulilah putri sulung Mama pulang juga” ucap Meira sambil memeluk putrinya dengan penuh kerinduan yang ia salurkan
Mecca mencium tangan Reihan dan Meira secara bergantian “Mba gimana kuliahnya?” tanya Reihan pada putri sulungnya tersebut.
“MasyaAllah Mba, aku bangga punya kaka seperi Mba Mecca” ucap jail Syila dengan mengangkat kedua bahunya.
Kepulangan Mecca menjadikan keluarga kecil mereka menjadi lengkap, hari ini bertepatan dengan anniversary pernikahan. Anak-anak tentu saja ingat hari bersejarah untuk orang tuanya, Mecca beserta kedua adiknya memberikan hadiah kecil untuk Meira dan Reihan.
“Happy Anniversary Pa Ma” ucap ketiga anaknya dengan kompak.
“Terimaksih sayang” balas kompak Meira dan Reihan.
“I love you Ra, your great mom and wife. Thank for all your sacrifice”
“I love you more Mas”
kebahagian kita yang menentukan bukan apa kata orang lain, Reihan dan Meira menerima semua takdir yang Allah berikan. Kini mereka saling membutuhkan sebagai sayap untuk terbang menuju JannahNya. Takdir yang memaksa Meira harus menikah dengan Reihan 15 tahun lalu nyatanya itulah jalan yang Allah berikan untuk kehidupan mereka. Takdir akan selalu misteri untuk hari ini, besok, lusa dan kedepannya, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya. Meira bersyukur memiliki pendamping seorang Reihan Ismail yang membawanya hijrah untuk mengenal Allah lebih jauh lagi “Semoga kami sentiasa istiqamah dijalanMu ya Rabb” batin Meira.
“Inni uhibbuki fillah, yaa zawjati” Ucap Reihan sambil memeluk dan mencium puncak kepala Meira untuk menyalurkan rasa cinta yang ada (Aku mencintaimu karena Allah, wahai istriku)
“Ahabbakalladzi ahbabtani lahu, Mas Reihan Ismail” balas Meira (Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karenaNya)