
1 tahun kemudian
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan Rizmi putra mereka sudah berusia 1 tahun dan bertepatan dengan anniversary mereka. Meira dan Reihan sengaja ingin menitipkan anak-anaknya pada orang tua Meira, mereka ingin menikmati liburan hanya berdua saja cukup hanya 2 hari saja.
“Ra, kita jadi pergi ke Malang kan?” tanya Reihan untuk memastikan bahwa mereka jadi pergi.
“Jadi dong Mas, anak-anak kita bawa?” tanya Meira.
“Anak-anak kita titip di rumah mama ayah aja Ra”
“Kasian dong Mas, aku ga tega ninggalin mereka”
“Sekali-kali tak apa Ra, kita juga perlu waktu untuk berdua” jelas Reihan.
“Aku setuju Mas, kalau gitu ayo kita berangkat” mereka semua masuk ke dalam mobil.
Rasanya sudah lama mereka tak ada waktu untuk berdua tanpa ada gangguan pekerjaan apalagi anak-anak. Rencana ini sudah Reihan siapkan dari jauh hari dan ia menghabiskan waktu 2 hari ini untuk bersenang-senang.
“Mas sebenarnya mau ngapain sih?” tanya Meira.
“Rahasia dong, yang pasti kamu bakalan suka deh Ra” dengan wajah mengkerut ke atas.
“Idih si Mas ya, masa rahasia sih. Bikin penasaran aja” Meira penasaran apa yang dilakukan oleh suaminya
“Kalau dikasih tau dari sekarang, ga akan jadi kejuatan dong Ra”
“Iya deh terserah Mas aja”
Karena sudah ada akses jalan tol, perjalanan ke Malang hanya memerlukan waktu yang tak begitu lama. Panorama kota apel ini memang tak ada habisnya, sehingga selalu banyak wisatawan baik lokal maupun dari luar. Reihan mengemudi dengan kecepatan normal, ia engga terburu-buru tentu saja ingin menikmati setiap moment saat berdua seperti ini
“Tunggu bentar Ra” Reihan membawa kain hitam untuk menutup mata istrinya
“Iih, apaan sih pake ditutup segala” gumam kesal Meira
“Jangan kesel gitu dong Ra”
“Gimana gak kesel, tiba-tiba nutup mataku”
“Sengaja, ini bagian dari kejutan yang sudah disiapkan”
“Sudah punya 2 anak, tapi masih ada kekanankan Mas” gumam Meira
“Tak apa, biar romantis tau Ra”
“Ya deh terserah” Meira hanya bisa pasrah atas perlakukan suaminya itu.
“Kejutan...” sambil membuka penutup mata
“MasyaAllah, niat baget sih Mas” wajah gembira yang tak bisa disembunyikan.
“Seneng ga? Ya dong harus niat lah Ra”
“Seneng baget, makasih Mas”
“Sama-sama sayang”
Kejuatan yang Reihan berikan memang tak sebarapa dengan pengorbanan Meira selama menjadi istri dan ibu, manusia memang diciptakan tidak ada yang sempurna. Dengan adanya pasanganlah akan saling menyempurnakan satu sama lain, wanita yang ada dihadapannya entah mengapa selalu sempurna dimata Reihan.
Meira sangat senang dengan kejuatan yang Reihan berikan, ia tak pernah meminta suatu hal yang akan menyusahkan suaminya. Hanya kejutan sederhana namun begitu berkesan, kamar hotel yang mereka tempati ada banyak bunga mawar merah dan satu kotak perhiasan yang berisikan cincin berkilauan dengan blue safir yang sangat antik. Reihan memasangnya di samping cincin pernikahan mereka yang tak terasa sudah menjalani pernikahan selama 2 tahun. Banyak suka dan duka itu jelas, ada pertengkaran kecil itu hal yang wajar justru itu lah yang menjadi bumbu-bumbu pernikahan kami.
Sikap mereka memang tak banyak kemiripan hanya saja Reihan dan Meira memilki hoby yang sama, doyan kuliner dan traveling. Selagi muda dulu Reihan memang sering menghabiskan waktunya untuk kuliner dan traveling tentu saja dengan sahabatnya, karena dulu ia berpikir jika sudah menikah kelak akan sulit melakukan hal tersebut karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
..................
“Ra mau kulineran ke mana nih?” tanya Reihan pada istrinya “Bakso bakar presiden sama angkiran yang ada nasi jagungnya mungkin Mas” gumam Meira pada suaminya “Boleh juga tuh, dah lama juga ga makan nasi jagung” Reihan menyejutui ide istrinya.
“Kita berangkat sekarang” mereka berjalan menuju parkiran hotel dan berangkat. Tak membutuhkan waktu lama, meski kota malang amat padat merayap untung saja penginapan mereka tak jauh dari tempat yang dituju.
“Sudah sampai Ra, ayo turun” pinta Reihan
Tak banyak berbincangan yang terjadi selama mereka disana, Reihan dan Meira sedang menikmati semua makanan yang tersaji di atas meja. Mereka memilih tempat outdoor dengan nuansa khas pinggir rel kereta api.
“Ra, rasa bakso bakarnya tak pernah berubah ya?” tanya Reihan.
“Iya Mas, sama seperti dulu kala. Justru sekarang makin ramai tempatnya” tutur Meira
“Mereka menjaga kualitas bakso tersebut, setiap hari tempat ini tak pernah sepi”
“Jangan terlalu banyak makan Mas, katanya mau makan nasi jagung” gumamku
“Tentu Ra, tenang saja. Ya sudah kita pergi alun-alun saja” mereka berjalan menuju parkiran mobil dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.
..................
Selama perjalanan Reihan ingin menanyakan sesuatu yang penting terhadap istrinya “Ra, boleh nanya sesuatu ga?” tanya Reihan “Boleh Mas” jawabku “Kamu ga ada niatan buat kuliah lagi atau buka klinik gitu Ra?”
“Jawab aja dulu Ra, ga usah heran gitu deh”
“Pengen, tapi...” belum juga selesai bicara sudah dipotong aja.
“Tapi, anak bla bla dan sebagainya” cela Reihan.
“Bukan itu juga kali Mas, masih pengen nikmati masa pertumbuhan Rizmi. Masa kanak-kanak tidak akan pernah terulang kembali Mas”
“Sama aja alesannya anak, Mas ga mau dianggap suami yang menghalangi istrinya untuk berkarir”
“Niatan ada, pengen ngambil spesialis anak dan untuk buka klinik juga pengen. Klinik tanpa harus dibayar dengan materi, aku ingin membuat pengobatan secara gratis” gumam penjelasan Meira.
“Apapun itu akan Mas dukung, urusan klinik biar nanti Mas yang buat saja”
“Serius Mas?” tanya Meira.
“Iya serius, kapan sih Mas becanda Ra” sambil mengelus pundak istrinya. Tak lama mereka sudah sampai di alun-alun Malang dan mencari angkiran yang menjajakan nasi jagung tersebut.
Mereka berjalan sambil mengelilingi alun-alun yang penuh dengan hiasan lambu-lambu yang indah, kota apel ini memang sudah menjadi candu bagi para wisatawan dan tak akan pernah bosan jika kembali kesini. Mereka menikmati nasi jagung berserta lauk yang sederhana hanya ikan patin, sambel dan berbagai jenis gorengan, justru kesederhanaan makanan inilah yang membuatnya istimewa, jika kalian tak percaya boleh dicobalah ya!!
Makin larut justru semakin rame, apalagi cuaca begitu mendukung. Hingga enggan meninggalkan tempat tersebut karena suasana malam yang indah bercahaya dari bulan dan bintang disertai angin yang begitu menyejukan. Meira dan Reihan harus segara beristirahat karena besok mereka harus segera pulang dan kembali kerutinitas seperti biasanya.
Musibah
Selama perjalan menuju hotel, jalanan memang begitu sepi. Entah orang-orang sudah sampai tempat beristirahat atau masih menikmati suasa malam kota apel tersebut. Reihan bukan tipe orang yang suka membawa kendaran dengan kecepatan yang tinggi, ya terkecuali kalau darurat itu saja. Kebetulan ia sedangn mengendari mobil sedan mercedes kesayangannya dan memang sengaja menggunakan mobil tersebut agar lebih romantis itulah yang ada dipikirannya. Sesekali ia melirik wajah istrinya tersebut, wajah yang tak akan pernah bosan ia pandangi sampai tua kelak bahkan sampai maut memisahkan kita.
“Fokus Mas, jangan liatin Meira terus” ucap Meira.
“Wajahmu itu terlalu menyejukan Ra, tenang saja Mas tetap fokus kok”
Tiba-tiba ada mobil truk dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi, Meira memperingati suaminya untuk menghindar agar tidak terjadi kecelakaan tapi ada mau dikata takdir berkata lain “Astagfirullah, Mas hati-hati itu mobil truk bawa mobilnya ga tau aturan” ucapn Meira sebelum terjadi kecelakaan, Reihan mencoba menghindar ke arah kiri dan hal itu belum sempat ia lakukan malah terlebih dahulu bertabrakan dengan truk tersebut.
Orang-orang yang melihat kejadian tersebut segara menolong mereka dan memanggilkan ambulan untuk korban. Reihan dan Meira menjadi korban dari kecelakaan dan kini mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri. Semua korban telah dibawa menuju Rumah Sakit terdekat dan segara dibawa ke ruangan IGD. Dokter jaga di IGD Rumah Sakit Lavalette ternyata dr. Olivia sahabat dari Meira, dengan kejadian ini Olivia sangat terkejut jika sahabat dan suaminya menjadi korban kecelakaan.
“Ayo, kalian cepetan bawa mereka ke dalam” suat Olivia.
“Ya baik dok” ucap para perawat.
“Ya Allah, sumpah ga nyangka kalau lu jadi korban tabrakan Ra” gumam Olivia.
“Lebih baik, aku segara menolong Meira dan suaminya, urusan memberi tau keluarga nanti saja kalau udah selesai ini” monolog Olivia, sambil menyiapkan peralatan medis.
Meira dan Reihan memang terluka cukup parah, hingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menangini mereka. Miera mengalami benturan yang sangat hebat dikepalanya, entah apa yang akan terjadi nanti setelah selesai operasi hanya Allah yang tau. Semua hari menjadi mesti untuk manusia, mereka tak tau takdir apa yang akan menimpa mereka hari ini, esok, lusa dan lainnya. Luka yang dialami oleh Reihan jauh lebih ringan dibandingkan istrinya, mungkin dalam hitungan 7-8 ia akan dasar. Setelah selesai melaukan operasi kini giliran Olivia menghubungi keluarga sahabatnya tersebut
“Assalamualaikum tante, ini Olivia. Maaf kalau aku menyampaikan kabar buruk, Meira dan Reihan mengalami kecelakaan di Malang” ucap Olivia pada wanita paruh baya itu.
“Waalaikumsalam, ya Allah apa yang terjadi sama mereka, di mana mereka sekarang Liv?” Sarah kaget mendengar kecelakaan yang menimpa putri dan mantunya.
“Rumah Sakit Lavalette tante” jawab Olivia.
“Makasih ya nak Olivia, tante dan keluarga akan segera kesana”
Sara pergi ke ruang tamu untuk memberikan kabar tersebut kepada suaminya. Setelah itu mereka pergi ke Malang, entah apa yang akan terjadi jika Mecca dan Rizmi melihat orang tuanya kecelakaan dan apalagi jika mereka pergi meninggalkannya. Sarah berusaha untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh tapi entalah ia sangat khawatir apa yang menimpa putri bungsu dan suaminya. Entah apa yang harus ia katakan pada 2 cucunya itu, mungkin kalau Mecca sudah besar bisa memahami hal itu sedangkan ini si kecil Rizmi tak akan paham dengan apa yang terjadi.
Tak lama dr. Holand beserta istrinya sudah sampai ke Rumah Sakit Lavalette, disana mereka melihat Olivia beserta suaminya. Semenjak Olivia menikah dengan Zidan memang memutuskan untuk tinggal di kota apel tersebut, yapss dr. Zidan yang kala itu satu kelompok waktu mereka koas.
“Olivia, bagaimana keadaan Meira dan Reihan” tanya wanita paruh baya tersebut.
“Oliv belum bisa memastikan tan, kondisi Reihan sebentar lagi akan sadar sedangkan Meira kemungkinan koma tan” jelas Olivia.
“Ya Allah, kenapa bisa begini” sambil menyenderkan tubuhnya kedinding rumah sakit.
“Kasus kecelakaan ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian kok tan, jadi tenang saja” gumam Zidan.
“Menurut saksi mata kejadian, mobil Reihan berusah menghindar ke arah kiri namu laju truk tersebut terlalu cepat jadi belum sempat menghindar tan” penjelasan Olivia pada wanita paruh baya tersebut.
Sedangkan dr. Holand pergi menemui kepala Rumah Sakit Lavalette yang tak lain adalah sahabatnya semasa kuliar dulu, ia ingin meminta bantuannya untuk segara memindahkan Reihan dan Meira ke Rumah Sakit Harapan Bangsa. Karena tak memungkinkan mereka dirawat di Malang sedangkan di Surabaya banyak yang harus diurus.
“Assalamualaikum” sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam, silahkan masuk” jawab dr. Hasbi sekaligus kaget dengan kedatangan sahabatnya itu.
“Bi, aku mau minta bantuanmu boleh?” tanya dr. Holand.
“Tentu boleh Holand, apa yang bisa aku bantu?” tanya balik dr. Hasbi
“Putri dan mantu kecelakaan, mereka dirawat disini. Tapi aku ingin mereka di rawat di tempatku bekerja, bisa kan?”
“Bisa, asal tunggu mereka sadar. Tapi jika tidak sadar sampai besok pagi, tak apa bisa kamu bawa dan urusan rujukan biar aku yang selesaikan” gumam dr. Hasbi
“Thanks you Bi, you’re the best friend”
“Sama-sama”