
Kesuksesaan Meira sebagai dokter membuatnya terlalu sibuk, tapi ia tak pernah mengabaikan tugas utamanya sebagai ibu dan istri. Reihan senang melihat kesuksesan yang diraih istrinya, ada kebanggan tersendiri bisa memiliki wanita seperti Meira. Kemesraan mereka tak pernah luntur oleh waktu, sudah terbilang tidak muda lagi bagi Reihan yang kini sudah memasuki usia 47 tahun sementara Meira 38 tahun. Anak-anak mereka suda tumbuh dewasa, apalagi si sulung Mecca sudah menjadi Dokter di Jerman dan sedang melanjutkan studinya disana.
"Ra, masak apa hari ini?" tanya Reihan sambil memeluk Meira dari belakang.
"Kebiasaan deh Mas, kalau lagi masak suka diganggu. Salad ada di kulkas, lagi bikin steak nih buat makan malam sekarang" ujar Meira.
"Mantap Ra, masakan kamu tuh ga pernah bikin kecewa. Selalu saja enak" goda Reihan.
"Gombal aja terus, udah sana jagan ganggu aku masak Mas" usir Meira.
"Iya deh, cepetan masaknya ya" ucap Reihan sambil meninggalkan Meira di dapur.
Jika kalian bertanya, kenapa kita tidak merubah nama panggilan masing-masing? Jawabannya simple, jika tidak sedang di depan anak-anak memang akan tetap memanggil seperti itu dan jika ada anak-anak sudah pasti panggilan orang tua pada umumnya. Tak terasa senja akan menghilang digantikan oleh malam yang panjang, sudah saatnya menyapa Sang Rabb dalam sholat. Aku sudah selesai memasak, kini saatnya kami melaksanakan kebutuhan utama dalam hidup kepada Sang Pencipta. Suami serta anak-anakku sudah menunggu di mushola, maka dari itu aku segera menghampiri mereka.
"Allahu Akbar...."
"Assalamualikum warahmatullah..." aku langsung mencium punggung suamiku, tak lupa Reihan pun mencium keningku. Inilah kebiasaan yang tak pernah berubah, dilanjutkan oleh kedua anakku.
"Papa so sweet baget sih" ledek Syila. Syila ini hampir sama kaya Mecca, cerewet. Tapi tidak dengan Rizmi, yg pendiam dan terkesan cuek bahkan dingin bagaikan beruang kutub.
"Iya dong, Papa itu paling ga bisa kalau ga sweet sama Mama kalian" ujar Reihan menanggapi komentar putri bungsunya itu.
"Udah ahh, ayo kita makan malam" pinta Meira.
"Hmm" lihatkan gimana jawaban Rizmi? hanya hmmm
"Hmm aja terus Mas, kesel deh punya kaka gitu amat" kesal Syila sambil berjalan menuju ruang makan.
Setelah acara makan malam selesai, mereka bersantai sejenak diruang tengah. Kebetulan juga besok weekend, tak lama kemudian Mecca menelpon sang mama tercinta.
Mecca Call's
"Assalamualikum Mah" salam Mecca pada perempuan yg sudah membesarkannya itu.
"Waalaikumsalam Mba, apa kabar sayang"
"Alhamdulillah sehat Mah, kabar Mama Papa adek-adek gimana?" tanyaku.
"Alhamdulillah sehat semua kok, kapan pulang? gimna tentang perjodohan itu Mba?" tanya Meira pada putri sulungnya itu.
"Emm gimana ya Mah, aku masih butuh waktu. Mungkin 2 tahun lagi aku baru pulang ke Indonesia" ujar Mecca.
"Shalat Istikharah Nak, Allah akan memberikan jawaban takdir yang terbaik untukmu. Mama tau perasaanmu padanya, meski kalian tak saling mengunggapkan"
"Mbaaa cepet pulang dong, Syila kangen nih" sambung Syila yang sedang duduk disamping Reihan.
"Iya dek, Mba juga kangen. Mah do'akan semuanya ya, entahlah Mah hati dan pikiran terkadang tak sejalan" keluh Mecca.
"Pasti Nak, kalau gitu udah dulu ya. Masih ada hal yg ingin Mama bicarakan sama Papamu, Assalamualikum" pamit Meira.
"Makasih Mah, Waalaikumsalam" Mecca pun mengakhiri telponnya dengan Meira, meski tak ada ikatan darah dengan dirinya. Tapi aliran kasih sayang begitu ia rasakan, bahkan tak pernah berubah setelah kelahiran kedua adiknya.