
Rasa lelah yang Reihan sembunyikan di depan keluarga Meira sudah tak dapat ditahan lagi, kini ia bisa berbaring mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Tanpa ia sadari mulai tertidur dengan lelap, Reihan bisa beristirahat setelah melaksanakan shalat subuh. Reihan hanya bisa tidur sekitar 4 jam saja, baginya 4 jam sudah cukup untuk menghilangkan semua lelah yang ada. Ia melihat ke arah ranjang tempat Meira berbaring “Masih belum sadar juga kamu Ra, Mas tinggal dulu ke kantin ya” batin Reihan dan segera berjalan menulusuri koridor rumah sakit menuju kantin.
Reihan mengaktifkan ponselnya, dari semalam ia memang sengaja mematikan ponselnya dan ada telpon dari Mecca putri sulungnya “Assalamualaikum Mba” ucap Reihan.
“Waalaikumsalam Pa, Papa Mama lagi dimana? Kok ga ada di rumah” tanya Mecca dengan nada yang sendu, bahwa ia sangat khawatir pada orang tuanya.
Reihan membuat napas sedikit kasar “Ga usah khawatir Mba, Papa sama Mama lagi di rumah sakit. Mba lagi istirahat?” tanya Reihan.
Mecca akhirnya bisa bernapas dengan lega mendengar jawaban papanya tersebut “Iya Pa lagi istirahat, di rumah sakit tempat kakek Holand?” tanya balik Mecca
“Bukan Mba, nanti Papa kasih tau alamatnya” jawab Reihan yang sekarang jauh lebih baik dari pada semalam.
“Okey Pa, nanti Mecca sama Rizmi nyusul setelah pulang sekolah. Kalau gitu Mecca tutup dulu telponnya. Asslamualaikum” pamit Mecca.
“Waalaikumsalam Mba” balas Reihan. Ia melanjutkan aktivitas sarapannya, hanya secangkir susu dan sepotong roti yang ia makana. Mood makannya tidak terlalu baik, sehingga hanya makan agar tidak terlalu lapar “Semua ini gara-gara Roger, kau hampir saja membunuh istri dan anakku. Allah tak akan membiarkan orang sepertimu hidup dengan tenang, kau akan terusir dari negeri ini” batin Reihan.
Entah kenapa sampai saat ini Meira belum sadar juga, segitu hebatnya efek obat bius total terhadap tubuh istrinya. Mengenai medis memang terlalu dangkal bagi Reihan, tapi urusan makanan dan gaya hidup sehat memang selalu ia terapkan pada saat remaja. Reihan duduk dikursi dekat ranjang tempat Meira berbaring, tangan kanannya memegang tangan istrinya sedangkan tangan kiri mengelus puncak kepala Meira “Ra, bangun dong. Maafin Mas ya, udah bikin kamu celaka. Jangan pernah tinggalkan Mas dan anak-anak ya” batin Reihan terus memberikan kecupan pada puncak kepala istrinya tersebut.
Tak lama setelah Reihan memberikan kecupan pada puncak kepala istrinya, Meira mulai berusaha membuka matanya yang masih kabut untuk melihat disekitarnya dengan suara yang masih sendu “Mas hiks...hiks..” itulah yang terucap dari bibir Meira.
“Sutt, sudah Ra. Jangan banyak bergerak, bekas operasimu masih belum kering” ucap Reihan sambil mencium tangan Meira secara lembut.
Meira sadar kini perutnya sudah datar dan ia memang tak ingat apa yang telah terjadi selain mengingat sosok brengsek Roger “Maass, aku takut. Mana anak kita?” tanya Meira sambil memegang perut.
Reihan membungkam mulut istrinya dengan jarinya “Sutt, ga usah takut Ra. Maafin Mas udah membuat kamu dan anak kita dalam bahaya. Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan kalian, anak kita ada di inkubator Ra” jelas Reihan untuk menenangkan istrinya.
“Aku takut dia akan membunuhmu Mas hikss..hikss..hikss..” air mata Meira sudah tak bisa tertahan lagi, ia membayangkan jika si Roger akan membunuh suaminya dan tak bisa dibayangkan jika hal tersebut terjadi.
“Sudahlah, jangan mendengarkan omongan si Roger. Kehidupan dan kematian itu miliki Allah SWT, tak ada satu manusiapun yang bisa merenggut kematian orang lain jika belum takdirnya untuk meninggal Ra” Reihan merangkul tubuh Meira kebidang dadanya.
Entah sejak kapan aroma tubuh mint suaminya menjadi aroma favorite bagi Meira, menghirup aroma mint dalam pelukan membuatnya merasakan kehangatan “Mas, aku pengen liat anak kita dong” pinta Meira.
Setelah menelurusi lorong yang memiliki khas rumah sakit, akhirnya mereka sampai ke ruangan bayi. Disana ada beberapa bayi, tapi hanya putri kecil Meira yang berada di dalam inkubtor. Meira melihat putri kecilnya dengan sendu “Ya Allah nak, kamu kecil sekali. Maafkan Mama yang tak bisa menjagamu” batin Meira.
“Siapa namanya Mas?” tanya Meira yang masih menatap putri kecilnya tersebut.
“Medina Arsyila Ismail, panggilanya Syila” balas Reihan.
“Nama yang indah Mas, aku suka nama itu” ucap Meira sambil memperlihat senyum bahagia, ia masih tak percaya bahwa Allah masih menyelamatkan mereka dari insiden kejam si Roger. Kalau diperhatikan Syila ini memiliki wajah perpaduan antara Reihan dan Meira, Mata coklat yang dimilikinya mirip dengan mata suaminya yang selalu membuat ia luluh. Hidung macung mungil, bibir tipis seperti dirinya serta warna kulit putih seperti bule.
Siang ini mereka mendapatkan kehadiran dari kedua anak mereka serta orang tua Reihan yang sedang berjalan menuju ruang rawat Meira “Assalamualaikum” ucap mereka.
“Walaikumsalam” balas Reihan dan Meira secara bersamaan.
“Mamaaa....” teriak Mecca dan Rizmi
“Sini nak” ucap Meira.
Reihan tak mungkin menceritakan musibah yang menimba Meira kepada kedua anaknya, ia tak ingin mereka khawatir dan merasa terancam keselamatannya. Sementara orang tua Reihan tau apa yang sebenarnya terjadi pada menantu mereka “Rei, sini” pinta Abrisman Ismail pada putra sulungnya tersebut.
Reihan menghampiri papanya tanpa ada bantahan sama sekali “Iya Pa, ada apa?” tanya Reihan yang sudah ia dugan pasti akan menanyakan permasalah dengan Roger
Reihan dan Abrisman keluar dari ruangan rawat Meira, agar bisa berbicara secara leluasa tanpa harus diketahui oleh anak-anaknya “Rei, kenapa bisa seperti ini? Jelaskan pada papa” pinta Abrisman.
Reihan menghela napas sejenak “Iya Pa, Reihan akan jelaskan semuanya. Ini akibat dari Reihan menolak kerjasama denga Roger Pa...” Reihan menarik napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelasannya “Roger mengajak Reihan untuk menguasi dunia dengan cara kejam tidak sesuai dengan syariat agama islam” jelas Reihan pada pria paruh baya tersebut.
“Dasar si brengsek Roger!!!” wajah kesal Abrisman yang tak bisa disembunyikannya
“Sudahlah Pa, jangan dibahas lagi. Mungkin memang takdir ini yang harus Reihan dan Meira lewati Pa” ucap Reihan.