Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
36



Bisnis yang sukses membuat Reihan harus ekstrak protektif menjaga keluarganya, bisa saja para pembisnis jaringan hitam akan menghancurkan keluarganya. Bagi Reihan, keluarga merupakan kelemahannya, musuh bisa datang kapan saja mengancam nyawanya apalagi sekarang Meira sedang hamil menambah ke khawatiran Reihan. Tapi sebagai seorang muslim, ia serahkan keselamatan keluarganya kepada Allah SWT diiringi ikhtiar semakimal mungkin agar hal buruk tidak menimpa mereka.


Rencana hari ini Meira akan bertemu dengan sahabatnya yang bernama Olivia disalah satu Mall terbesar di Surabaya, kebetulan Olivia sedang pulang untuk menjenguk orang tuanya. Sudah hampir 4 tahun sahabatnya itu menetap di kota Malang karena kesibukan sebagai dokter dan mengikuti langkah kemana suaminya pergi. Mereka bertemu hanya untuk melepas rindu satu sama lain, yang jelas mereka sudah lama tidak bertemu semenjak insiden kecelakaan yang Meira dan Reihan alami beberapa tahun yang lalu.


“Assalamualaikum”


“Walalikumsalam Ra, lu dimana?” tanya Olivia


“Kalem Liv, bentar lagi gue turun dari mobil” jawab Meira.


“Gue tunggu lu di depan cafe coffe ya Ra”


“Sip dah” Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja, nonton dan makan.


“Raaaaaa, sini” teriak Olivia


“Sabar napa Liv, ga tau apa gue lagi hamil gini” rajuk Meira.


“Sini deh gue bantu hahaha” ejek Olivia.


“Sini buruan hahaha temenin gue belanja beli baju bayi”


“Siap nyonya Reihan Ismail hahaha, congrats Ra ciee Sp.A” goda Olivia yang mengerutkan dahinya.


“Ahh paling bisa ya lu ngegoda gue Liv”


Tak terasa sudah hampir setengah hari mereka menghabiskan waktu bersama dan saatnya mereka berpamitan, setidaknya mereka bisa kembali bertemu walau hanya sebentar saja dan mungkin memang tidak cukup.


Selama perjalanan menuju rumah, Meira tak sadar jika selama perjalanan pulang ada 2 motor dan 1 mobil mebgikutinya. Mereka berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah dan tak lupa dengan senjata api yang mereka pegang. Mereka mulai melancarkan askinya untuk menculik Meira sebagai tahanan agar Reihan mau memberikan apa yang mereka inginkan.


..................


Flashback


Bisnis yang Reihan jalankan, membuat para pembisnis lain yang tak suka ingin menghancurkannya. Terlebih lagi ada jaringan hitam dalam dunia perbisnisan yang ingin mengajak Reihan untuk bersukutu, tapi ia sudah menolak penawarannya. Penolakan yang Reihan lakukan membuat Roger seorang pembisnis dunia gelap alies mafia membuatnya murka dan menjalankan aksinya untuk menculik istri dari direktur utama Ismail Cop tersebut.


“Kau akan menyesal karena telah menolak permintaanku tuan Reihan Ismail yang sombong dan jangan salahkan aku jika istrimu menjadi tawananku” batin Roger.


Roger Abraham adalah satu jaringan mafia kelas C yang menguasi dunia hitam dalam pembisnisan, namanya terkenal diseluruh dunia. Terkadang ia melakukan beberapa penelitian yang aneh untuk menguasai dunia, ia memang serakah dan itu memang benar adanya. Para petinggi negara dan para pembisnis di Indonesia kebanyakan taklut dihadapan Roger sang gengster mafia, tapi tidak dengan keluarga Alexssander, Ismail, Danubrata, Handoyo, Danudrija, Dirgantara dan Abiyaksa. Perusahaan tersebut memang memiliki kekuasaan yang kuat, enggan melanggar aturan sesuai agama yang mereka anut. Walau beberapa kali Roger mengancam mereka tapi tetap saja tidak bisa ditaklukannya.


Flashback off


Anak buah Roger berhasil membawa Meira kesebuah markas yang mengerikan berisikan ular-ular yang masih memiliki bisa, kondisi Meira sekarang tidak sadarkan diri akibat biusan yang ia terima sedangkan sang supir ditembak agar tidak ada jejak saksi mata dari kejadian tersebut.


Reihan belum sadar jika Meira tidak ada di rumah mereka, ia pikir istrinya masih dalam perjalanan pulang. Reihan memang sengaja pulang lebih awal dibandingkan hari sebelumnya, ia tak ingin karena terlalu sibuk jadi mengabaikan istri dan anak-anaknya. Walaupun mereka tak pernah merasa diabaikan oleh Reihan, tapi tetap saja keluarga adalah segalanya.


Sinar surya semakin menghilang digantikan oleh cahaya rembulan, hembusan angin begitu kencang membuat suasan malam ini jauh lebih dingin. Reihan mulai khawatir karena istrinya belum pulang juga, ia sudah menghubungi ponselnya tapi tak ada jawaban apapun. Ia semakin cemas setelah menelpon Olivia, menurut sahabat istrinya itu kalau Meira sudah pulan dari jam 5 sore tapi sampai larut malam belum sampai ke rumah juga. Reihan merasa gagal karena ia lalai dalam mengawasi istrinya.


“Dasar **** lo Rei, bisa-bisanya gak mengawasi Meira dengan benar. Udah tau dia lagi hamil...” teriak batin Reihan. Setelah merasa tenang ia mencoba menghubungi Bang Devan untuk melacak keberadaan istrinya dan ia juga ingat telah menempelkan gps dalam mobil yang Meira pakai, terkadang dalam kepanikan memang tak bisa berpikir dengan baik.


“Assalamualaikum Bang”


“Waalaikumsalam Rei, ada apa?” tanya Devan.


“Meira ilang Bang, belum sampe rumah” jawab Reihan.


“Seriuss lu Rei!!” terik Devan terkejut dengan apa yang ia dengar


“Serius Bang...Reihan mohon, lacak keberadaan Meira dengan gps yang gue tempel dimobilnya” suara napas Reihan tidak teratur.


“Okey” ucap Devan, urusan yang berkaitan dengan teknologi, lacak melacak musuh, cycber dan sebagainya harus diakui bahwa Devan ahli dan dapat diandalkan.


Meira telah sadar, namun ia masih disekap dalam sebuah ruangan dengan beberapa ekor ular dan disana ada laki-laki tampan yang menghampirinya (Roger Abraham)


“Siapa kamu!!” teriak Meira.


“Hahahaha...kau tidak perlu siapa saya” suara tawa Roger dengan sinis.


“Kurang ajar kau!!lepaskan aku” Meira berusaha memberontak.


“Sebelum suamimu memberikan persetujuan untuk bersekutu denganku, saya tidak akan melepaskanmu” jelas Roger.


“Kau akan menyesal telah berurusan dengan seorang putri Alexssander dan istri dari Reihan Ismail, mereka tidak akan diam saja” ucap Meira dengan tatapan mata yang tajam.


Sampai saat ini Reihan belum berhasil menemukan keberadaan Meira, ia meminta bantuan Devan dan juga Wahyu yang berprofesi sebagai seorang polisi. Reihan berpikir sejenak dan ia teringat dengan perkataan Roger setelah menolaknya untuk bersekutu dengannya, kemungkinan besar Meira diculik oleh Roger. Tapi ia tidak ingin berburuk sangka sebelum melihat dengan mata kepala sendiri.


Tiba-tiba ada telpon dari Devan “Rei, gue udah menemukan posisi Meira dimana” ucap Devan.


“Okey Bang, kita berangkat dan Wahyu akan menyusul ke lokasi kita” ucap Reihan dan segera bergegas bertemu dengan Devan.


Selama penyekapan oleh Roger, Meira mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan padahal ia bisa saja melawan dengan menyerang mereka semua hanya saja kondisiya sedang mengandung “Kalau aku lagi ga hamil, mungkin aku bisa membuat kalian babak belur” batin Meira. Meira mencoba bertahan dari segala tindakan yang Roger berikan, kini badannya terasa sakit apalgi dibagian perut “Nak, kita harus bisa bertahan ya. Kamu harus ketemu Mama dan Papa” monolog Meira sambil mengelus perutnya.


Tawa Roger begitu puas, berhasil membalas dendam pada Reihan “Hai cantik, cukup tangguh juga ya kau hahahahaha....”


“Kau pikir mudah untuk membunuh kami hah!!” bentak Meira.


“Liat saja, membunuh kamu dan anak dalam kandungamu sangat mudah untukku” ucap Roger dengan nada sombongnya. Roger melalukan penyiksaan kembali kepada Meira, pada akhirnya Meira tak sadarkan diri akibat darah yang terus keluar dari perutnya.


Devan mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan begitu sepi. Ia tak ingin terjadi hal buruk menimpa adik kesayangannya tersebut, sementara Reihan sangat cemas memikirkan Meira yang sedang disekap dalam sebuah gudang tua. “Kalau benar ini perbuatan Roger Abraham, tak akan ada pengampunan untuk dirinya” batin Reihan.


..................


Devan dan Reihan telah menyusun strategi terbaik yang mereka bisa lakukan, mereka mulai mengendap-endap masuk ke dalam ruangan tersebut sedangkan Wahyu berjaga di luar dan melumpuhkan beberapa anak buah Roger. Bagi seorang anggota kepolisian seperti Wahyu, melumpuhkan mereka sangat mudah apalagi dilengkapi dengan ilmu bela diri yang memadai serta senjata api yang ia bawa.


Reihan berhasil menemukan Meira dalam keadaan yang mengenaskan, ada luka dibangian perut akibat tusukan benda tajam. Devan coba melawan Roger dengan segit sehingga saling melukai satu sama lain, namu hasilnya tetap nihil karena Roger berhasil melarikan diri dengan bantuan helikopter.


Tawa Roger begitu senang melihat kedatangan Reihan “Hahahaha...akhirnya kau datang juga Reihan. Inilah akibat yang kau dapatkan jika menolak permintaaku".


“Kurang ajar kau Roger, akan kubalas segala perbuatanmu” amarah Reihan sudah tak dapat dikendalikan


“Membunuhmu sangat mudah untukku, liat saja istri dan anak dalam kandungannya mungkin sudah tidak bernyawa” Roger menunjukkan tangan ke arah Meira


“Rei selamatkan Meira, urusan Roger biar gue yang tangani” ucap Devan.


“Makasih Bang” balas Reihan.


Reihan menatap Meira dengan sendu dan mencoba membangunkannya “Raaa, bangun dong Ra” tak ada jawaban dari Meira.


“Sayang, kamu harus bertahan jangan ninggalin Mas sama anak-anak” ucap Reihan sambil mengendong Meira menuju mobil.


Perdebatan pun terjadi anatara Roger dan Devan “Kau berani menyakiti adikku, maka akan berhadapan dengan seorang Alexssander” kata-kata ancaman keluar dari mulut Devan.


Roger hanya memperlihat wajah sinisnya kepada Devan “Hahaha Alexssander sang penguasa Asia dan Eropa tak akan membuatku gentar, liat saja sampai mana kalian akan bertahan” ucapan Roger dengan nada yang merendahkan.


Devan mulai melakukan aksinya menyerang Roger setelah mendengar ucapannya, perkelahian diantara keduanya pun terjadi begitu sengit bahkan sampai mengeluarkan senjata api. Hal ini sudah ia pikirkan dengan baik, sehingga melindungi tubuhnya dengan baju anti peluru. Devan menyalakan ponselnya dan menekan no 1 sebagai panggilan darurat yang terhubung langsung dengan Dewa. Dengan jumlah anak buah Roger yang terlalu banyak ia akan kesulitan untuk menghajar sang mafia kelas C tersebut.


Dewa melihat ponselnya dan terdapat suara darurat dari adiknya tersebut “Devan memerlukan bantuanku, akan ku kerahkan semua anak buahku berserta helikopter untuk menolongnya” batin Dewa. Ia berjalan menuju lorong bawah tanag yang dibuatnya yang berisikan senjata, alat elektronik, alat otomotif serta laboratorium untuk penelitian.


Suara pistol terdengar jelas pertarungan antara Devan dan Roger “Dor..dor..dor..” saling menembak dengan keahlian yang begitu memadai yang mereka miliki. Roger berhasil menghindar dan kabur mencari jalan keluar, mereka bertarung kembali di outdoor yang memiliki luas lahan leluasa dari pada di dalam gudang.


Bala bantuan Dewa datang untuk membantu sang adik, Dewa berhasil melumpuhkan semua anak buah Roger. Dewan dan Devan terus menyerang Roger, mengalahkan Roger memang sulit sekali tapi tidak mustahil jika mereka memiliki rencana yang matang. Seperti dugaan Roger berhasil lolos dengan menaiki helikopternya “Bye Alexssander bersaudara, sampai berjumpa lagi” ucap Roger melambaikan tangan dan melemparkan geranat ke arah Dewa dan Devan.


Dewa sadar jika Roger telah melemparkan geranat “Van, ayo kita harus menghindar dari sini sebelum ledakan terjadi” ucap Dewa dan tak lama kemudian terjadi ledakan dahsyat.


“Dorrr......” Alexssander bersuadara berhasil menghindar dari ledakan tersebut dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan adik mereka.