Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
37



Reihan membawa Meira ke rumah sakit terdekat, ia sangat khawatir melihat kondisi sang istri dalam keadaan tidak sadarkan diri untung saja jantung Meira masih berdetak walau detakannya semakin melemah. Dokter membawa Meira ke ruangan IGD dan meminta Reihan untuk menyetuji akan dilaksanakan operasi sekarang.


“Dok, tolong selamatkan istri dan anak saya” pinta Reihan.


“Baik Pak, saya akan melakukan operasi sekarang juga” jawab dr. Azka


“Lebih baik aku pergi ke masjid untuk meminta pertolongan Allah, Dialah yang menggengam segala kehidupan dan kematian untuk umatNya. Takdir apa yang akan terjadi, semua masih menjadi misteri” batin Reihan.


Dewa dan Devan telah sampai di rumah sakit, mereka segera mencari keadaan Reihan namun Reihan tak menampakkan hidung batangnya “Ga mungkin kalau mereka ga ada disini, kata suster tadi ada pasien korban kejahatan. Mungkin Reihan lagi dimasjid” batin Dewa dan ia berjalan menulusuri koridor rumah sakit untuk menuju masjid tersebut, memang benar disana ada Reihan.


Dewa pun memanggil Reihan “Reihaann...” seketika Reihan membalikan badannya dan mendekati sumber suara yang memanggil namanya “Seperti suara Kak Dewa” batin Reihan.


“Iya Kak...” jawab Reihan pada kakak iparnya


“Sudahku duga, kamu pasti ada disini Rei. Ayo kita kembali ke tempat operasi” pinta Dewa


Reihan tak banyak bersuara, ia hanya bisa membisu dan berdzikir dalam hati agar proses operasi berjalan dengan baik. Suasana menjadi canggu dianatara mereka, sedangkan Dewa dan Devan penasaran mengapa si mafia kelas C ingin menghancurkan hidup Reihan.


“Lebih baik nanti saja kita tanya soal si Roger Kak” bisik Devan


“Okey Van, kalau suasana sudah membaik baru kita tanya” balas Dewa


Reihan mulai membuka obrolan bersama kedua kakak istrinya “Bang, Kak. Ayah sama Mama sudah dikasih tau?” tanya Reihan dengan wajah sendu.


“Sudah Rei, hanya Ayah saja yang sedang dijalan menuju kesini” jawab Dewa dengan tatap penuh iba dan ia paham akan perasaan adik iparnya tersebut.


Devan berusaha menenangkan Reihan “Sudah Rei, pasrahkan semuanya pada yang menggenggam takdir. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdo’a”


Kata-kata maaf terlontar dari mulut Reihan pada kedua kakak iparnya tersebut “Iya Bang makasih. Reihan minta maaf sama kalian, telah lalai menjaga Meira. Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali” tak sadar air mata mulai berjatuhan, padahal ia sudah berusaha untuk tidak bersedih.


Operasi sudah berlangsung hampir 2 jam namun tak kunjung selesai dan seorang suster keluar dengan membawa berjenis kelami perempuan dalam inkubator “Saudara bapak Reihan, silahkan dilihat bayinya dan untuk kondisi istri anda masih menjalakan operasinya” ucap suster pada Reihan.


Reihan menatap putri kecilnya dengan haru, harus dilahirkan 2 bulan lebih awal akibat insiden yang dialami ibunya. Sambil mengumandangkan adzan ditelinga putrinya sampai ia tak sadar mengeluarkan air mata “Alhamdulillah, makasih ya Allah karena telah menyelamatkan anakku. Kamu anak yang kuat nak” batin Reihan.


Tak lama kemudian dr. Holand telah tiba di rumah sakit tersebut, sontak seleuruh suster dan dokter yang berjaga pada hari ini memberikan hormat kepada beliau dan segara menuju ruang tunggu operasi.


“Reihan, sini kau” pinta Holand dengan tatapaan mata tajamnya. Reihan mulai mendekati ayah mertuanya tersebut tanpa ada bantahan apapun.


“Plakkk....” Holand menampar pipi menantnya tersebut.


“Kak, sesuai dugaan. Ayah pasti marah” bisik Devan dan Dewa pun setuju dengan pernyataan ini.


“Aku memang pantas mendapatkan kemarahan dari Ayah, aku telah lalai dalam menjaga putrinya” batin Reihan. Tak ada perlawanan yang ia berikan kepada ayah mertuanya tersebut, terserah Holand akan menyiksan Reihan seperti apa. Ia hanya membiarkan Holand meluapkan amarahnya “Jelaskan, ada masalah apa kamu dengan si Roger” ucap Holand.


Reihan menarik napas untuk menetralkan suasana hatinya dan mulai menjelaskan semuanya “Sekali lagi maafkan Reihan yah, telah lalai menjaga Meira. Ini semua akibat Reihan menolak kerjasama yang ditawarkan oleh Roger, Roger memaksa Reihan untuk menguasi dunia dengan cara yang salah dan tidak sesuai dengan ajaran islam” jelas Reihan.


Setelah mendapat penjelasan dari menantunya tersebut, Holand merasa bangga pada Reihan karena berhasil menolak ajakan Roger karena selalu berpegang terhadap Al-qur’an dan Hadits “Sialan kau Roger, sudah berani melukai putriku. Tunggu saja, kau akan terusir dari negara ini” batin Holand.


Operasi yang dilakukan Meira telah selesai, ia sudah bisa dibawa ke ruang rawat biasa. Meira belum sadar akibat bius total yang dilakukan pada saat operasi, Reihan serta yang lainnya masuk ke dalam ruangan Meira. Mereka menatap Meira dengan wajah yang begitu sendu, kenapa kejadian seperti ini bisa meninpa Meira “Ya Allah dek, kasian baget kamu” batin Devan.


“Adek kesayangan Kaka, sungguh malang nasibmu dek” batin Dewa.


“Putri cantik Ayah, kenapa hal buruk bisa meninpa kamu nak” batin Holand.


“Raaa..maafkan Mas ya, karena Mas kamu menderita sayang. Kamu dan anak-anak adalah kelemahan sekaligus kekuatanku” batin Reihan.