Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Wish-uda



Sumpah dokter dan wisuda mengakhiri perjalanan Meira sebagai mahasiswi, kini menjadi awal baru untuk kehidupan yang bangun. Ketika rekan-rekan sejawat mencari kerja bahkan ada yang membuka praktek di rumah tak apa semua sudah ditakdirkan sesuai dengan rencana Allah. Kini ia lebih menikmati dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan, menikmati perannya sebagai seorang istri dan ibu. Kini waktu yang ia miliki sepenuhnya bisa diberikan untuk keluarga kecilnya. Tapi tak menutup dikemudian hari ia akan kembali berkuliah. Untung saja Reihan memang tak pernah melarang ia untuk berkarir, asal semua dapat diseleraskan dengan baik.


Menikah muda memang tak pernah terpikirkan oleh Meira, tapi ia juga bersyukur karena ini jalan terbaik ya Allah kasih. Justru dengan menikah membuat Meira jauh lebih baik dari sebelumnya. Mengerti akan makna hidup yang sesungguhnya, yang tadinya tidak menutup aurat kini ia menutup auratnya. Perkara nikah muda tak segampang yang dibayangkan tapi semua itu sudah Allah atur dengan baik, tak ada penyesalan di dalamnya. Dari dulu memang tak ingin berpacaran, justru karena sikap istiqamah yang dilakukannya membuat jodoh datang dengan sendirinya dalam waktu yang tepat. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam, tumben baget lu dateng sini Liv” Meira merasa heran pada sahabatnya itu.


“Kangen aja sih, pengen curhat juga gue Ra. Assalamualaikum ponakan onty, sehat-sehat ya. Jenis kelaminnya perempuan apa laki Ra?” suat Olivia sambil mengelus perut buncit sahabatnya.


“Iya udah tinggal curhat aja kali Liv, kata dr. Sinta sih laki” jawab Meira.


“Dilema gue Ra, nyokap nyuruh gue nikah. Kalau ga ada calon mau dijodohin, kaya jaman siti nurbaya aja” dengan raut wajah yang masam.


“Dilema dr. Olivia Diandra Wijaya yang sekarang adalah soal jodoh hahaha” ledek Meira


“Serius Ra, mana nyokap inget umur juga. Inget Liv umur kamu tahun ini 23, apa semua orang tua kaya gtu ya? khawatir akan jodoh anaknya?”


“Iya lu 22, tapi udah berkeluarga dan bisa dibilang suami lu itu perfect idaman para wanita. Soal cinta sih gue nyerah, bukan ahlinya. Pacaran aja kagak pernah”


“Coba aja nurut kata nyokap lu, siapa tau jodohkan. Kalau ga sesuai ya kan bisa lu tolak"


“Setelah wisuda terbitlah wish-uda mau ngapain. Ga ada salahnya gue coba deh. Gue juga ada niatan buat hijrah sih, perlahan tapi pasti pengen pakai jilbab” tutur Olivia


“MasyaAllah Liv, gue dukung lu 10000%. Jadi wish-uda lu ini Liv?”


“Engga juga sih Ra, dari dulu pengen pake jilbab cuman gue kadang ga pedean. Takut nambah dosa buat bokap juga sih, lu pernah denger hadits ini kan Ra? “Selangkah anak perempuan keluar rumah tanpa jilbab, maka ia mengantarkan ayahnya melangkah ke neraka”


“Pernah denger kok Liv, Alhamdulillah kalau gitu gue juga seneng dengernya”


“Thanks Ra, udah mau dengerin keluh kesah gue. Gue pamit dulu, Assalamualaikum” sambil menuju ke arah pintu keluar


“Anytime Liv, Waalaikumsalam”