
Sampai hari ini Meira masih cuek dan enggan berbicara denga suaminya dan sepertinya Reihan juga tak bisa banyak berbuat, hanya bisa melihat sosok lain dari Meira ketika ia sedanga kecewa dan marah. Seperti biasa ia tetap melaksanakan tugas dengan baik, menyaipakan makan malam
“Mamaaaa” taun putri memanggil
“Ada apa sayang?” balas Meira
“Mama, aku pengen nanti malam mama bantuin aku ngerjain PR ya” rasanya baru kali ini Mecca meminta bantuan untuk membuat PR
“Baiklah tuan putri, nanti mama bantu” makan malam telah usai dan Reihan mencoba mencairkan suasana, mungkin kali ini Meira bisa diajak bicara.
“Raa, maafkan aku ya. Aku memang egois dan tak pernah mengerti perasaanmu” terlihat jelas raut wajah Reihan begitu masam dan tak bersemangat makan malam
“Kita bahas ini setelah nanti aku beres membantu Mecca mengerjakan PR ya Mas” amarah Meira sudah sedikit mencair, ia juga tak tega lama-lama memusuhi suaminya itu. Lagian tak pantas seorang istri terus menerus memarahi suaminnya.
“Okey Ra, kita bicarakan semuanya baik-baik ya” Reihan bisa tersenyum lega
Reihan dan Meira bergegas keruang tengah, setelah Meira menyelesaikan tugas Mecca dan Mecca sudah tertidur lelap. Ia merasa bersalah karena telah bersikap keterlauan terhadap Reihan “Mas, maafkan aku ya. Aku hanya memberikanmu sedikit pelajaran saja, entah ini pantas atau tidak perilaku seorang istri yang sudah berani menampar suaminya”
“Kamu ga salah Ra, aku yang terlalu egois dan tak mengerti perasaanmu” sambil memegang tangan Meira
“Ya sudah Mas, kita lupakan saja kejadian ini. Masa koasku telah selesai tapi ujian seperi OSCE,UKDI dan hasil laporan selama koas baru akan dimulai sekitar 1 bulan lagi” ia menjelaskan dengan detail kepada Reihan.
“Alhamdulillah kalau gitu Ra, semoga ujian selanjutnya bisa ditempuh dengan baik. Aku akan selalu mendukungmu” kecupan manis dikening Meira
“Mas, maaf aku ke kamar mandi dulu ya. Tunggu dikamar aja, nanti aku naik ke atas” Reihan mengangutkan kepalanya dan ia bergegas ke kamar.
Rasanya kok ga enak pinggang ya, apa mungkin aku kurang minum air kali ya” Meira bergegas ke dapur dan mengambil air, sebab ia tau kalau kurang minum sering seperti ini. Ia bergegas menuju kamar dan bersiap-siap untuk beristirahat, rasanya hari ini lelah sekali dan ia ingin buru-buru istirahat. Karena tergesa-gesa menuju kamar ia terpeleset di depan kamar Mecca
“brakkk” suara apaan tuh, Reihan bergegas keluar dari kamar
“Astagfirullah Ra, kenapa bisa jatuh gini sih. Aku bantu berdiri” sambil menyodorkan tangannya.
“Awww, perutku sakit Mas susah berdiri ini” Reihan membantunya berdiri.
“Astagfirullah Ra, ada darah yang mengalir disela paha kamu” raut wajah yang terkejut.
“Mungkin ini darah haid Mas, aku belum haid bulan ini dan perutku kram juga” apa yang dipikirkan Meira tak sejalan dengan pemikiran Reihan.
“Ga usah Mas, aku hanya jatuh biasa aja. Ga usah berlebihan” Reihan enggan merespon Meira, ia akan tetap pergi ke rumah sakit.
“Ra, apa setiap haid perutmu sakit?” tanya Reihan “Suka sakit kok, hanya saja tidak separah ini Mas. Mungkin ini paling sakit” sambil menahan rasa sakit.
“Aku khawatir Ra, apalagi tadi kamu habis jatuh dan aku harus segara memastikannya” ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan kosong sehingga aman kalau membawa mobil dengan keceptan tinggi.
“Maaasss” sambil memegang tangan suaminya dan tangan satunya lgi mengelus perut dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Reihan mulai mengurangi kecepatan dan menjalankannya dengan normal.
Ketika tiba dirumah sakit, wajah Meira begitu pucat dan sulit untuk berjalan karena rasa sakit yang begitu hebat. Reihan menggendongnya dan membawa keruangan putih khas rumah sakit, disana ada dr. Sinta Rahayu., M.Sc., Sp.OG yang sedang berjaga di IGD. Reihan menjelaskan apa yang telah terjadi pada dr. Sinta dan ia mulai memeriksa Meira dibagian perut dan mengoleskan cream ke perutnya untuk di USG takut ada hal yang serius “Selamat ya Pak, istri anda hamil dan untung saja anda membawanya tepat waktu” ucap dr.Sinta pada Reihan
“Serius dok? jangan bercanda” dengan raut wajah yang terkejut.
“Serius Pak, masa saya bercanda. Kandungan sudah berusia 2 minggu” lugas dr. Sinta pada Reihan
“Tapi kenapa perut istri saya merasakan sakit yang luar biasa dok?” tanya Reihan sekali lagi
“Akibat terjatuh tadi dan di semester awal kehamilan ini memang rawan sehingga harus dijaga baik-baik” penjelsan dr.Sinta
“Okey dok, terimakasih” sambil bergegas keluar.
“Kamu kenapa Ra?” tanya Reihan yang sedari tadi Meira hanya diam saja enggan merespon.
“Aku ingin pulang Mas” saut dengan nada yang datar, hingga membuat Reihan cemas karena ia tak tau apa yang dipikirkan istirnya itu.
Sesampainya di rumah Meira masih enggan berbicara, karena ia masih kaget dengan apa yang terjadi “Aku tak merasakan kejala kehamilan yang pada umumnya terjadi” pikir Meira dalam hati. Jika saja Reihan tidak membawanya ke rumah sakit ia tak akan pernah tau hal itu .
“Ra, kamu ga senang dengan kehamilan ini?” tanya Reihan dengan wajah yang cemas, karena ia tau apa yang telah diperbuatnya dengan menyembunyikan pil pencegah kehamilan.
“Plakkkk” lagi-lagi Meira menampar suaminya dan Reihan hanya bisa terdiam
“Aku hanya takut Mas, karena akibat kecerobanku hampir saja tadi kita kehilangan bayi kita” tak terasa air matapun jatuh dipipinya
“Kamu tidak usah takut Ra, aku akan menjaga kalian. Lebih baik kita tidur saja” sambil menarik tubuh Meira untuk tidur dalam dekapannya.