Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Le Plus Grand Succes



3 bulan kemudian.....


Setelah masalah dengan Alina selesai dan urusan kuliah pun telah usai kini saatnya Meira berfokus menghadapi persalinan yang semakin dekat. Kini usia kandungan Meira sudah memasuki 36 minggu dan ia sudah berada di rumah sakit. 3 bulan sebelum melahirkan Meira telah melaksanakan sumpah dokter dan wisuda, rasanya apa yang telah ia perjuang tidak sia-sia.


Saat ini ada rasa sakit yang tak biasa ia rasakan, ya tentu saja Meira sedang mengalami kontraksi sebagai tanda ia akan segara melahirkan. Reihan sudah menyiapkan semua keperluan Meira, kini saatnya ia membawa istri tercintanya ke rumah sakit. Prediksi kelahiran tak sesuai dengan apa yang dokter prediksikan, kelahiran adalah suatu rahasia Allah maka kendali semuanya akan ada pada Sang Pemilik Takdir.


Meira terus berdzikir sambil menahan rasa sakit kontraksi yang luar biasa, kini ia sedang dihadapkan pada perjuangan yang lebih hebat. Miera mencoba berbaring, setelah ia mondar-mandir karena merasa tidak nyaman akibat kontraksi yang terus menerjangnya. Yang awal frekuensinya tidak terlalu sering, menjadi lebih sering dan teratur.


Meira mengusap perutnya diikuti dengan bibirnya yang meringis seolah menadakan betapa sakit yang ia rasakan saat ini. Reihan berusaha untuk bersikap tenang dihadapan istrinya, ia engga membuat Meira khawatir. Ini bukan kali pertama Reihan menemani orang melahirkan, dulu ketika almarhum istrinya melahirkan Mecca ia tidak terlalu begitu deg-degan. Reihan sunggu tak tega melihat wajah pias istrinya yang merintih kesakitan, ia mengecup kening istrinya.


“Ra, yang kuat ya sayang. Terus berdzikir, sebentar lagi kita bertemu dengan anak kita”


“Sakit, Mas...”


“Optimis Ra, kamu pasti bisa” sambil mengelus-elus perut.


“Aku takut Mas, bagaimana jika harus dilakukan operasi. Rasanya napasku juga semakin sesak Mas”


“InsyaAllah Allah memberikan jalan yang terbaik, optimis bukaanya semakin bertambah”


“Sakit, Mas Sakit....”


“Sabar sayang, kamu pasti bisaa” Reihan terus menenangkan Meira.


“Astagfirullah ya Allah, berikanlah hamba kelancaran”


“Mas, sepertinya ada cairan yang keluar. Tolong panggilkan dr. Sinta”


“Iya Ra...” Reihan keluar dan memanggil dr. Sinta.


Setelah dr. Sinta memeriksa, ternyat bukaan jalan lahir sudah sempurna dan siap untuk keluar. Meira mengikuti aba-aba sesuai yang diintruksikan oleh dr. Sinta.


“Ayo Ra, kepala bayinya udah keliatan. Tarik napas lagi..” ucap dr. Sinta memberi aba-aba padaku.


“Ya Allah, aduh sakit Mas...dede ayo bantu Mama, kita berjuang bersama” desah Meira dengan sakit yang tak dapat dijelaskan.


“Kamu bisa Ra, Allah akan ganti dengan segala kebaikanNya untuk setiap sakit yang kamu rasakan”


“Sedikit lagi Ra, tarik napas lagi” intruksi dari dr. Sinta


“Huh...huh...”


“Alhamdulillah, selamat ya bayi kalian laki-laki” sambil menggendong bayi dalam dekapannya.


“Alhmdulillah, terimakasih ya Allah. Makasih Ra atas perjuangannya, I love you” ucap Reihan sambil mencium kening Meira, ia bergegas untuk mengadzani anak mereka.


Kebahagian terpancar dari dr. Sinta, meski ia telah banyak membantu orang untuk melahirkan tapi setiap ia berhasil ada rasa bahagia yang tak bisa digambarkan.


Menjadi dokter adalah capaian yang harapakan sejak kecil, tapi untuk sekarang capaian yang terbesarnya dalam hidupnya adalah menjadi seorang ibu “Alhamdulillah..Thanks you to Allah SWT for everything in my life....Being a mother is my greatest achievement as a woman”