
Dokter yang menangani Meira tentu bukan dokter sembarang, selain ia dipantau oleh sang ayah juga. Setelah hampir 1 minggu ia koma masih belum ada tanda kemajuan yang singnifikan, membuat Reihan khawatir. Apalagi Sarah sebagai ibunya, hampir mogok makan dalam 4 hari terakhir. Melihat keadaan Sarah yang mogok makan membuat Holand beserta kedua anaknya bingung, apalagi para menantu Holand sudah berusaha membuat masakan yang istimewa agar Sarah ingin makan, tapi tetap tidak berhasil.
"Ma, ayo makanlah. Jangan kaya gini" ucap Devan
"Mama ga mau makan, adek kamu aja ga makan" gumam Sarah
"Mama ga kasian apa sama Meira, kalau tau mama mogok makan" ucap Dewa
"Nafsu makan mama hilang semenjak adek kalian koma" gumam Sarah dengan kesal.
"Sudahlah, biarkan saja mama kalian seperti ini dari pada pusing" gumam Holand dengan wajah kesal terhadap perilaku istrinya.
Reihan tak bisa berbuat banyak, melihat kondisi Meira yang sudah 1 minggu koma. Ia hanya bisa berpasrah diri kepada Allah, hampir setiap hari ia selalu melantunkan ayat suci Al-qur'an berharap ada keajaiban bahwa istrinya akan segara sadar. Dokter Sony yang menangani Meira pun masih bergelut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, tapi ia percaya masih ada secercik harapan hidup untuk Meira.
..................
Holan pergi meninggalkan ruangan putri bungsunya dan berjalan menuju ruangan dr. Sony, ia ingin memastikan bahwa keadaan putrinya itu masih baik dan kemungkinan besar masih ada harapan untuk bertahan hidup
"Permisi dr. Sony" sambil membuka pintu'
"Silahkan masuk dr. Holand" jawab dr. Sony
"Ada yang ingin saya bicarakan mengenai putriku" gumam Holand
"Baiklah" sambil mempersilhkan Holand duduk
"Bagaimana kondisi Meira?" tanya Holand
"Kondisinya masih belum cukup baik, tapi lumayan ada perkembangan"
"Kalau melih kondisi seperti ini, masih ada harapan untuk hidup" gumam Holand
"Iya, anda benar sekali. Tapi akibat benturan yang sangat hebat mengenai otak kecil dan sumsum tulangnya ada kemungkinan putri anda mengalami kelumpuhan, tapi ini masih dugaan saja" jelas dr. Sony
"Sudah dapat saya prediksi dari awal Son, hal buruk ini pasti akan terjadi" Holand menghela napas sejenak
"Ketika ia sadar, kita dapat memastikannya dengan jelas Land. Entah itu kelumpuhan sementara atau permanen"
"Saya akan segera memberi tau yang lain, terimakasi Son. Permisi" Holand keluar dari ruangan dr. Sony dan berjalan menuju ruangannya.
..................
Holand masuk ke dalam ruangannya dan segara membuat secangkir teh untuk menenangkan pikiran. Hal terburuk yang akan menimpa putri bungsunya sudah ia perkiran sejak awal, tapi kondisi ini belum bisa dipastikan sampai putrinya sadar. Tapi mau tidak mau harus disampaikan kepada anggota keluarga yang lain termasuk Reihan harus tau. Yang sedang ia pikirkan adalah jika Sarah tau kondisi putri bungsunya itu, pasti ia akan terkejut dan sekaligus pingsan. Sarah memang aneh bin ajaib, tapi Holand mencintai wanita itu dengan segenap jiawanya. Dibalik ke anehan Sarah, ia memang memilik tangan ajaib dalam desain pakaian. "Sudahlah lebih baik aku menemui mereka sekarang" monolog Holand.
Holand berjalan dengan cepat menuju ruang rawat putrinya, tapi sebelum ia memberi tau kondisi buruk mengenai putrinya, Holand akan berbicara dengan Reihan terlebih dahulu secara pribadi
"Rei, sini sebentar" saut Holand
"Kita bicara di ruang tamu saja Rei, jangan disini"
"Baik Yah" mereka bergegas menuju ruang tamu
"Ada yang ingin ayah tanyakan, boleh ga?" tanya Holand
"Silahkan saja, ayah mau nanya apa?" tanya balik Reihan
"Apa kamu akan menerima kondisi Meira yang sekarang?"
"Maksud ayah apa?" dengan raut wajah penuh keheranan
"Jawab saja dulu, jangan bantah"
"Iya Ayah, seburuk apapun itu Reihan akan menerima Meira apa adanya. Sumber kebahagiaku ada padanya Yah, tak peduli orang akan membicarakannya yang jelas Reihan akan selalu ada untuknya menjadi tongkat sumber kekuatannya untuk menghadapi dunia" jelas Reihan
"Bagus, Ayah pegan ucapanmu" Holand bisa tersenyum dengan lega, menantu yang ada dihadapannya ini sangat mencintai putrinya dengan tulus
..................
Holand dan Reihan berjalan menuju ranjang Meira yang sedang terbaring serta Sarah yang tengah duduk dipinggir setia mendampingi putrinya. Kelurga Holand sedang berkumpul dengan pormasi lengkap, kedua kaka Meira beserta istri-istrinya.
"Ayah akan bicara pada kalian semua mengenai kondisi Meira"
"Bagaimana kondisi Meira yah?" tanya Dewa putra sulung Holand
"Kondisi Meira ada perkembangan meski tidak singnifikan, tapi..." belum juga selesai berbicara sudah dipotong oleh Devan
"Tapi gimana yah?" tanya Devan
"Tapi kemungkinan terburuk adalah Meira akan mengalami kelumpuhan" Holand mengatakan hal tersebut dengan berat hati
"Ayah serius?" tanya Sarah
"Iya, Ma. Tapi ini masih dugaan sementara, harus menunggu Meira sadar dulu"
"Ya Allah...." belum selesai berbicara Sarah sudah pingsan dan ini sudah Holand perkiran
"Dewaaaaa, angkat mamamu dan bawa keruangan sebelah" teriak Holand dan Dewa segera mengangkat tubuh mamanya
"Inikah alasan ayah tadi memanggilku" ucap batin Reihan
"Seburuk apapun kondisimu, jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu sayang. Tanpamu sayap kehidupanku hilang Ra" monolog Reihan sambil mencium kening Meira.