
Saatnya meeting bersama dr. Richad dimulai dan beberapa mahasiswa masuk ke dalam aula. Setelah menjelaskan apa saja yang harus disiapkan untuk menghadapi koas state radioterapi. Bagi Meira dan Oliva ini adalah tahap terakhir untuk masa sekolah kedokteran mereka sebelum disumpah dan mungkin melanjut ke tahap PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis), kecerdasan mereka tak usah diragukan lagi dan itu terbukti dengan mereka berhasil menyelesaikan studinya lebih awal dibandingkan teman-teman seangkatannya.
“Raa, tak terasa ya ini state radioterapi menjadi akhir koas kita sebelum di sumpah menjadi dokter yang sesungguhnya” ucap cewe bersuara cempreng itu.
“Yaa bener Liv, Alhamdulillah sumpah ga percaya kita bakalan selesai secepat itu. Ngomong-ngomong kamu mau lanjut program PPSD apa S2 aja?” tanya sang sahabat.
“Sepertinya menikah dulu deh Raa hahahaha” ledek Olivia
“Idihh serius Olivia Diandra Wijaya , jangan becanda dehh” nada kesal Meira.
“Hahaha serius amat sih Ra, seperti PPSD dulu tapi gimana rezekinya aja. Kalau kamu gimana Ra?” dengan wajah yang penuh penasaran.
“Sepertinya PPSD dehh Liv” Meira memang belum memberi tahu sahabtanya itu kalau ia sudah menikah, tapi ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu. Mungkin nanti setelah koas berakhir ia berniat memberi tahukan semuanya.
Meeting telah usai, Meira gelisih karena Reihan dan Aleesha bersama kembali walaupun sebatas urusan kerjaan. Ia berniat untuk menyusul kepersidangan dan berniat mengajak makan siang diluar, kemudian ia berangkat diantara oleh supir yang terbiasa menjemput Mecca dari sekolah.
Reihan dan Aleesha bergegas ke pengadilan untuk sidang masalah tander perusahan, Aleesha meras dicurangi oleh rival tander dengan melontarkan segala fitnah bahwa perusahaan Aleesha tak becus dan tak sanggup melaksakan proyek tersebut. Mereka mulai masuk ke ruang sidang dan disana percekcokan dimulai, dari pihak Aleesha dan sang rival engga ada yang mau mengalah satu sama lain. Setelah terjadi perdebatan yang hebat maka hakim siap untuk memberikan hasil sidangnya.
“Hakim meninjau, menimbang dan memutuskan bahwa tander di memangkan oleh perusahaan saudari Aleesha Diandra Ranadirja” Ucap hakim ketua.
“Alhamdulillah” balas Aleesha. Secara refleks Aleesha dan Reihan berpelukan dengan dekapan yang begitu intens, sontak Meira melihat dekapan mereka membuatnya hanya bisa terpelongo atas apa yang ia lihat.
“Raa, ini gak seperti apa yang kamu liat. Tunggu aku jangan pergi” sambil menarik tangan Meira.
“Lepasin tangan aku” Meira mulain menaikan intonasi suaranya.
“Kita pulang aja Raa, selesaikan di rumah” Bujuk Reihan.
“Tak usah menjelaskan apa-apa, yang aku liat itu sudah menggambarkan semuanya” Nyerocos tak henti-hentinya.
“Kamu salah paham Ra, kita bicarakan baik-baik ya. Tahan dulu emosi mu” pinta Reihan.
“Okey” padahal ia masih dongkol dengan apa yang ia lihat tadi, rasa yang begitu sesak didada.
"Seenaknya saja memeluk perempuan yang bukan mahromnya, inget dosa Mas" sambung Meira.
"Iya Ra, Mas tau kok itu dosa" Reihan hanya bisa pasrah apa yang Meira katanya memang benar.
Sebagai seorang istri memang harus selalu mengingatkan suaminya jika berbuat salah, terkadang sebagai manusia kita berbuat salah ada yang menyadari kesalahan tersebut ada juga menganggapnya biasa saja. Terkadang kesalahan sepele jika dibiarkan akan menjadi batu krikil yang menghalangi langkah kita, maka dari itu harus tetap saling mengingatkan satu sama lain.