Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
34



Setelah melakukan perjalan selama 20 hari di negera orang, kini mereka bisa kembali mengerjakan aktivitasnya. Meira mulai melakukan aktvitasnya sebagai dokter dan disibukan dengan rencana kuliah lagi, serta Reihan kembali memimpin perusahaan Ismail group yang selama hampir 2 tahun ini dikendalikan oleh sang adik.


Sebagai seorang pembisnis, keluarga adalah kelemahannya. Maka dari itu Reihan memberikan perlindungan yang ketat untuk keluarga kecilnya, hampir setiap weekend ia melatih anak-anaknya untuk menguasi ilmu bela diri. Mecca memang tertarik akan dunia bela diri, tanpa perintah papanya pun ia melakukan aktvitas tersebut di sekolahnya.


Meira kembali melanjutkan kuliahnya, kali ini ia mengambil Pendidikan Spesialis Anak unutk menunjang sepak terjangnya sebagai dokter. PPSD Sp.A ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sekitar 8 semester atau kurang lebih 4 tahu. Tapi bagi Meira, ia menargetkan kurang dari 8 semester. Entahlah ia akan sanggu atau tidak, tapi yang jelas ia akan menyelesaikan dengan baik dan ia tak pernah menyesal atas apa yang menjadi pilihan hidupnya. Meira memang sangat menyukai anak-anak, tak heran ia mengambil Spesialis Anak.


Pekan ini akan ada pertandingan karate antar sekolah dasar tingkat kota, Reihan hampir saja lupa akan jadwal pertandingan putrinya


 


“Mau kemana Ra?” tanya Reiha yang menatap istrinya sedang merapihkan pakaian.


“Lah Mas lupa?” tanya balik Meira.


“Emangnya ada apa?” tanya Reihan yang mengerut dahinya.


“Benar udah tua ya kamu Mas hahaha....sampe lupa anaknya mau ikut lomba” Meira tak bisa menahan tawanya, Reihan mendadak jadi pelupa.


Plakkk, Reihan memukul pundak istrinya “Berani baget ngatain Mas ini tua Ra”


“Aduh sakit Mas hahaha..Ayo siap-siap, nanti Mecca marah kalau Papanya ga dateng” Meira dan Reihan pergi ke Gor DBL Arena.


Selama menyaksikan pertandingan putrinya, ia berdecak kagum dengan kemampuan kareta yang dimiliki putrinya. Mecca yang semenjak lahir sampai berusia 5 tahun besar tanpa ada sosok ibu, tapi kini telah berubah semenjak kehadiran Meira dalam hidupku dan putrinya. Mecca yang lugu, cantik dan ramah tapi kini sekarang menjadi sosok tegas dalam arena pertandingan sehingga membuat paralawan ketakutan karena Mecca tidak hanya menguasi karate saja, tapi pencak silat dan teakwondo.


 


Dalam pertandingan karate se kota Surabaya ini, tidak hanya anak Meira yang ikut bertanding tapi para keponakannya anak dari Kak Dewa dan Bang Devan pun ikut serta. Kebahagian tersendiri ia bisa berkumpul dengan kedua kakak tampannya tersebut, para orang tua murid kagum akan ketampanan kedua kakak Meira sehingga pada saat mereka memasuki Gor malah mencuri perhatian penonton


“Kak liat deh, masa para emak-emak ngeliatin kita sih” gumam Devan.


“Resiko orang ganteng Van hahaha....” tawa Dewa yang kegirangan.


“Kak Dewaaa, Bang Devaaann...sini” teriak Meira pada mereka.


“Dek, kok kamu ada disini sih?” tanya Dewa.


“Lah kan, Mecca juga tanding kali Kak” jawab Meira.


“Kata Sesil si Mecca jago karate juga” gumam Devan pada adik tercintanya.


“Maybe, aku belum pernah liat sih sehebat apa putriku..Sesil ikut juga Bang?” tanya Meira pada Devan.


“Yoii Ra”


“Kita liat siapa yang paling hebat diantara Sasa, Sesil dan Mecca” gumam Dewa


Dalam kelurga besar Alexssander memang mengajar semua keturunan mereka untuk berlatih ilmu bela diri, baik laki-laki ataupun perempuan hanya saja tidak semua mengikuti lomba, tergantung dari anaknya sendiri. Mereka sangat menikmati nonton pertandingan anak mereka, tak terasa Sesil vs Mecca dibabak semi final sedangkan Sasa vs Astri.


“Rei, kita liat siapa yang paling jago. Anakmu atau anakku” gumam Devan.


“Hahaha...iya Bang” tawa Reihan.


“Sasa putriku pasti akan ke final” gumam Dewa pada Reihan dan Devan.


Sesil dan Mecca berhasil mengeluarkan semua kemampuan yang mereka milik, sama-sama kewalahan saat bertanding tetapi Mecca memiliki gerakan yang cukup gesit dan mudah menebak sasaran dari lawan. Meira yang melihat kagum atas kemampuan putri dan keponakannya tersebut, jadi teringat masa sekolah dasar dulu ia tidak sehebat mereka dalam hal ilmu bela diri. Mecca berhasil mengalahkan Sesil dan melaju ke babak final.


“Sorry Bang, anak gue menang hahaha...” tawa Reihan.


“Hahaha...anak lu emang berbakat Rei” Devan memang mengakui kehebatan Mecca.


“Mecca vs Sasa di fina” gumam Dewa.


“Hahaha ya Kak, kita liat ya” balas Reihan.


Babak final dimulai, mempertemukan anatar Mecca vs Sasa. Bagi para orang tua, mereka adalah pemenangnya entah itu juara atau tidak. Yang terpenting anak-anak bisa menjaga diri ketika ada bahaya dan bisa menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk menolong sesama. Kekuatan Mecca dan Sasa sama-sama berimbang, mereka telah mengeluarkan semua jurus yang dikuasainya namun belum ada sang juara. Penonton yang menyaksikan pertarungan mereka dibuat kajub dengan kemampuan yang dimiliki Mecca dan Sasa, mereka sama-sama gesit dari serangan lawan dan dapat membaca gerakan lawan ke arah mana.


“Gila Rei, Kak anak kalian hebat baget” gumam Devan.


“Turunan gue itu Van hahaha” ucap Dewa bangga.


“Selain di sekolah, Mecca gue latih juga di rumah Bang” saut Reihan.


Mecca teringat gerakan yang papanya berikan waktu itu dan akhirnya ia dapat menggunci pergerakan Sasa sehingga dengan mudah Mecca menjatuhkan Sasa, pertandingan dimenangkan oleh Mecca.


“Luar biasa Ra, putri cantik lu berhasil mengalahkan anak kaka dan abang” gumam Dewa.


“Hahaha ya dong Kak” tertawa Meira dengan bangga.


“Selamat Mecca, keponakanku tercinta” ucap Devan.


“Makasih Om, Kak Sasa dan Kak Sesil juga pada hebat kok” balas Mecca.


“Selamat ya Dek..” ucap Sasa dan Sesil berbarengan.


“Makasih Kak, kalian juga luar biasa membuatku kewalahan” gumam Mecca.


“Selamat ya...Kalian membuat keluarga Alexssander bangga” ucap Dewa