Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Besessenheit



“Jangan harap kamu akan bahagia terus bersama Reihan, aku terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan. Reihan adalah obsesiku dari 12 tahun yang lalu hingga sekarang” monolog Alina dalam hati. Alina memang terkenal memiliki obsesi yang tinggi, ia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Ponsel Meira berdering dan mendapatkan WhatsApp dari nomor yang tak dikenal “Hai Meira, nyawa putri kesayanganmu Mecca ada ditanganku hahahaa” Miera kaget mendapatkan pesan tersebut dan mencoba membalasnya.


“Nyawa manusia itu Allah yang mengatur bukan kamu”


“Gak usah bawa-bawa Tuhan deh Meira, yang penting nyawa putrimu Mecca ada dalam genggamanku”


“Siapa kamu?? Jangan pernah sakiti putriku” membalas pesan tersebut dengan rasa campur aduk antara takut, sedih dan kesal.


“Kamu tidak perlu tau aku siapa, yang aku inginkan adalah nyawamu yang ditukar dengan putrimu”


“Astagfirullah, kurang ajar ya kamu. Kalau berani datang sendiri, gak usah mengancam Mecca segala” balasku lagi.


“Hahaha, aku ingin kamu datang sendiri dan jangan libatkan suamimu kalau tidak taruhannya adalah nyawa putrimu”


“Oke berikan alamatmu” balasku.


“Lebih baik sebelum aku pergi, aku minta bantuan sama Olivia tuh yang neror juga ga akan tau”


“Liv, gue butuh bantuan lu dong. Please cepetan ke rumah gue sekarang”


“Ada apa Ra, ada masalah? Gue berangkat sekarang” Olivia cepat-cepat pergi menuju rumah sahabatnya, ia khawatir terjadi apa-apa dengan Meira. Tak lama hanya sekitar 20 menitan Olivia sudah nyampe.


“Assalamualaikum Ra” sambil mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam Liv, buruan sini” sambil menarik tangan sahabatnya.


“Ada apa Ra, sepertinya lu panik baget”


“Ya nih Liv, coba liat deh pesan dari nomor ini” sambil menunjukkan hp.


“Astagfirullah ya Allah, ini siapa sih kok tega bener. Seinget gue lu ga punya masalah dengan orang. Kasus ini harus dilaporan sama pihak yang berwajib Ra” sambil menenangkan sahabatnya.


“Tapi Liv, dia minta gue dateng sendirian dan jangan sampai kasih tau Mas Reihan” sambil mengehela napas.


“Mending kita ke sekolah Mecca dulu, pastikan ia ada disana atau dimana”


“Ya udah kita berangkat sekarang Liv” mereka masuk ke mobil dan berangkat ke sekolah Mecca. Setelah sampai Meira kaget kalau putrinya sudah pulang dan ada yang menjemputnya. Meira mencoba menelpon ibu mertuanya, siapa tau beliau yang menjemput Mecca.


“Assalamualaiku Ma, ada Mecca?”


“Waalaikumsalam Ra, Mecca ga ada disini”


“Meira kira mama yang jemput dan sengaja mengajak Mecca jalan-jalan. Ya sudah Ma, Assalmualikum” Meira semakin panik, ternyata ancaman tadi bener adanya.


“Ra yang tenang, inget lu lagi hamil. Lebih baik kita ketempat orang yang menyekap Mecca” sambil menepuk pundak sahabatnya.


“Astagfirullah ya Allah, Liv tolong kasih tau Mas Reihan ya. Soalnya kalau gue yang ngasih tau, takut tuh penculik udah nyadap nomor telpon gue”


“Dengan senang hati Ra, yang tenang jangan panik ya” betapa beruntungnya ia memiliki sahabat seperti Olivia, selalu ada dalam kondisi apapun.


“Waalaikumsalam Liv, ada apa dengan Mecca?” balasku


“Ada yang menculik Mecca dan sebagai gantinya ia ingin nyawa Meira. Sekarang aku dan Meira berangkat menuju tempat tersebut, nanti Mas Rei menyusul dan inget tidak boleh lapor polisi Mas”


“Terimaksih Liv, tolong jaga Meira ya” balasku sambil bergegas menuju parkiran mobil, Reihan panik dengan keselamatan putri dan istrinya “Ya Allah, aku mohon lindungi anak dan istriku” monolog Reihan


Meira dan Olivia sampai ketempat tujuan, Meira terkejut karena putrinya sedang disejak disebuah gudang. Sedangkan Olivia berdiam diri diluar gudang untuk berjaga-jaga


“Akhirnya kamu datang juga Meira” ujar Alina


“Alina apa yang kamu lakukan sama putriku, lepaskan dia”


“Aku akan melepaskan dia, asal kamu menyerahkan nyawamu” tak lama kemudian Reihan datang.


“Stop Ra, biar Mas yang selesaikan masalah ini” Reihan mencegah istrinya untuk menyerahkan diri.


“Astagfirullah, ternyata kamu jahat ya Lin. Apa salah mereka padamu?” tanyaku.


“Masalahnya aku gak suka liat kebahagian kamu, kamu bahagia denga orang lain bukan denganku. Aku mencintaimu Rei sejak dibangku kuliah dan kamu gak pernah peka dengan perasaanku”


“Itu bukan cinta Lin, tapi obsesi sepertinya kamu sudah gila”


“Hahaha aku memang sudah gila, gila karena mencintaimu Rei” balas Alina sambil tertawa


“Lepaskan putriku, kamu memang keterlaluan ya Lin”


“Kamu yang keterlaluan Rei, selama 12 tahun aku mencintaimu dan kamu tak pernah meliriku sama sekali. Aku ingin nyawa Meira sebagai gantinya” Alina meninggikan intonasi suaranya.


“Lebih baik aku yang mati dari pada aku harus menyerahkan Meira kepadamu”


“Aku ingin kamu hidup dengaku Rei, biarkan anak dan istrimu yang mati”


“Lepaskan putriku, kalau tidak aku akan berbuat nekat dengan membunuhmu” amarah Reihan sudah memuncak


“Lakukan saja jika kamu berani Rei” terdapat 2 orang pria yang menjaga putrinya dengan ketat, ia harus berkelahi terlebih dahulu untuk bisa melepaskan putrinya


“Aku terpaksa menggunakan cara kekerasan” sambil berkelahi dengan 2 orang tersebut dan akhirnya ia berhasil membebaskan putrinya, sedangkan Alina buru-buru kabur dari gudang tersebut.


“Mecca sayang tidak apa-apakan?” tanyaku.


“Mecca tidak apa-apa pa”


“Alhamdulillah” Meira berjalan ke arah suami dan putrinya dan langsung memeluk mereka


“Maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian, semoga kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali. Sekali lagi maafkan papa ya sayang, karena aku nyawa kalian dalam bahaya”


“Sudahlah Mas, kita pulang saja. Liv, makasih ya lu sudah mau ngebantu gue”


“Anytime Ra, kita ini bukan sekedar sahabat tapi sudah seperti saudara” Meira dan Olivia berpelukan.