Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Kehangatan 2



Setibanya di rumah Meira berinisiatif untuk memasak nasi goreng sebelum Reihan berangkat bekerja, kebetulan Mecca sedang berada di rumah orang tua Reihan jadi ini moment yang pas untuk mereka saling mengenal lebih jauh lagi. Sulit jika ada Mecca karena ia tak akan bisa lepas dari Meira dan selalu memonopoli Meira yang harus selalu memanjakannya.


“Mas Rei, hari ini aku masak nasi goreng kesukaan mu ya” Reihan kaget karena Meira baru saja pulang dari rumah sakit


“Tidak usah Meira, kamu sebaiknya istirahat” pinta Reihan.


“Tidak apa-apa, hanya membuat makanan simple saja” bujuk Meira


“Dasar keras kepala” Reihan sedikit geram dengan sikap Meira yang tak pernah bisa diam.


Ruang makan adalah menjadi saksi bisu ketika 2 insan ini tak saling bersuara, tapi kali ini berbeda mereka mulai akrab dan tak sungkan satu sama lain “Mas Reih hari berangkat kerja ga?” tanya Meira


“Berangkat, hanya untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai koridornya masing-masing”


“Jadi kemungkinan besar jam 3.00 sore sudah pulang?”


“Iya jam segituan aku pulang dan paling lambat 3.30 lah, lagian aku ga tega ninggalin kamu lama-lama dalam kondisi seperti ini”


Reihan memang memiliki kendali atas kantor advokasi dan perusahan properti yang ia bangun dari 7 tahun silam, tapi pada dasarnya pekerjaan Reihan memang sebagai notaris, konsultan hukum, terkadang sebagai pengacara juga dan terlihat jelas dari gelar akademik yang ia punya Reihan Ismail, S.H., M.Kn.


Jam pulang sekolah Mecca tiba dan ia baru saja diantar sang nenek “Mamaaaa” teriakan khas Mecca ketika memanggil Meira.


“Apa sayang, Mama kangen loh sama Mecca”


“Mecca juga Ma” ia memang tak ingin lepas dari dekapan Meira


“Kalau begitu Mecca ganti baju dulu, setelah itu kita makan siang”


Meira bergegas ke dapur ia hanya membuat tumis sayur dan telor ceplok kesukaan Mecca. Mecca harus selalu makan sayur, apa lgi sayur yang berwarna hijau yang kaya akan kandungan zat besi, dimaana zat besi ini memiliki peranan penting dalam darah untuk membawa oksigen ke otak dan seluruh tubuh sehingga otak akan memiliki konsentrasi yang penuh ketika belajar. Meira memang memperhatikan tumbuh kembang Mecca sedini mungkin untuk menckupi asupan nutrisinya.


Mecca memang bukan anak yang terlahir dari rahimnya, tapi ia sangat menyangi Mecca dengan tulus layangkan ibu kandung bahkan ia sangat peduli terhadap masa depannya Mecca, maka dari itu selalu memperhatikan kebutuhannya. Kehangat yang terjadi diantara ibu dan anak ini memang berjalan secara alami tanpa di buat-buat, semua orang akan mengira bahwa Meira adalah ibu kandunganya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan Reihan sudah pulang.


“Assalamualaiku” sambil melepas jas dan dasi yang melekat dibadannya.


 


“Waalaikumsalam Mas Reih” saut Meira sembari menundukan kepala dan mencium tangan suaminya.


“Mecca sudah pulang? Kondisi kamu sudah baikkan belum?”


“Mecca sudah pulang dan sekarang lagi di kamar, Alhamdulillah sudah jauh lebih baik” seulas senyum nampak jelas dibibir Meira.


“Syukur Alhamdulillah, kalau begitu aku mandi dulu”


“Raa?” suat Reihan “Ngeh Mas Rei, ada apa?” jawab Meira.


“Shalat berjama’ah yuk, jangan lupa ajak Mecca” Untuk pertama kalinya Reihan mengajak Meira melaksanakan shalat magrib berjama’ah, eeehhh bukan berarti meraka tidak pernah melaksanakan ibadah hanya saja terbiasa mengerjakan masing-masing. Reihan selalu shalat magrib dan isya.


“Ayo kita makan, Mecca mau makan apa?” sambil bergegas ke ruang makan “Apa aja deh Ma, yang penting masakan Mama” ucap Mecca penuh dengan kemanjaan


“Okey tuan putri, Mama sudah memasak capcay spesial. Mari kita makan” Sambil menyodorkan piring untuk Mecca dan Reihan.


Setelah Meira menidurkan taun putri, saatnya ia beristirahat dan mulai bergegas ke kamar sedangkan Reihan masih sibuk diruang kerjanya dengan berkas-berkas yang berharga itu.


“Tring...tring..tring” Suara hp Meira dan dilayar nampak jelas bahwa yang menelpon adalah Olivia


“Assalamualaikum, Raa?” suara cempreng Olivia.


“Waalaikumsalam Liv, ada apa?” jawaban dari sahabatnya.


“Jangan lupa besok kita ada meeting buat bahas koas state radioterapi”


“Astagfirullah hampir aja gue lupa Liv, jam berapa?” tanya balik Meira


“Tuhhh kan kalau gak gue ingetin, lu bakalan lupa. Besok jam 07.30” Cerecos Olivia memang seperti ini.


“Okey deh, thanks ya udah ngingetin gue” Saut sahabatnya.


“Sama-sama Ra” perbincangan singkat pun berakhir.


“Habis nelpon siapa Ra?” Suara yang tiba-tiba membuyarkan ia dari lamunannya “Eeh sejak kapan Mas Rei ada disini?”


“Baru kok Ra, kenapa sampe bengong gtu sih emangnya siapa yang nelpon kamu?” Tanya Reihan dengan penuh penasaran.


“Eeeh ini Mas Rei, si Olivia sahabat di kampusku ngasih tau kalau besok ada meeting state radioterapi dan hampir saja aku lupa”


“Ya udah kalau gitu istirahat, lagian udah malam juga. Jangan lupa wudhu dulu sebelum tidur” Reihan memang mencoba membiasakan Meira untuk selalu wudhu sebelum tidur, itu juga berlaku untuk putrinya.


Meira tidur duluan dengan posisi membelangkai Reihan sedangkan Reihan hanya bisa memandang Meira dan mulai membalikkan badan Meira agar ada didekapannya “Kamu memang cantik bagaikan malaikat” monolog Reihan dalam hati sambil mencium kening dan mengusap rambut yang menghalangi muka sang istri.


“Ehh apa yang mas Rei lakukan?” Reihan terjekut karena malah membuat ia bangun.


“Engga Ra” sambil menarik pingga Meira agar tidur didekapan dadanya. Dekapan Reihan seketika membuat detak jantungnya tak beraturan ditambah lagi cuaca malam ini terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.


“Raa, kok suara jantungmu berdetak begitu cepat? Apa karena dingin?” Reihan menatapnya dengan aneh, sedangkan Meira sama sekali tak bersua hanya ada kegugupan yang terlihat dari wajahnya sebari menggigit bibir bawahnya. Tanpa permisi Reihan lagi-lagi nyosor mencium bibir Meira untuk menghilangkan kegugupannya, lebih parahnya ia mulai mencium kearah lehernya.


“Maaf Ra” hanya itu yang terucap dari mulutnya.


“Sekali lagi Maaf ya Ra”


“Lebih baik sekarang kita tidur saja”


“Please don’t stupid Reihan, jangan sampai lepas kendali” monolog dalam batinnya. Jelas bagainya tidur disamping Meira adalah cobaan yang terbesar karena harus menahan untuk tak menyentuhnya.