
Entah mengapa kehadiran Aleesha membuat ia merasakan sedikit sesak didada, entah karena ia mulai merasakan rasa yang lebih kepada Reihan “Jangan semudah itu kamu menaruh rasa Meira dan ini rasanya suatu kebodohan” teriak dalam batinnya sebari menghela napas. Untuk menghilangkan penat lebih baik mandi saja, karena memang cuaca dan hati sedang begitu panas. Sebelum mandi ia terlebih dahulu melihat kearah kamar Mecca dan syukurnya ia sedang tidur begitu lelap sehingga Meira langsung bergegas mandi sebelum nanti ia menyiapkan makan malam.
Lebih baik berendam di water bath untuk menghilangan segala penat yang ada dipikirannya. Meira masih meraba-raba sebanarnya ada hubungan apa diantara Reihan dan Aleesha karena dimatanya sikap Reihan begitu asik jika ia sedang bersama Aleesha selayaknya sepasang kekasih yang begitu nyaman setip ia bercerita, memikirkannya saja membuat merasakan sesak didada. Memang tak ada salahnya ia memiliki rasa yang lebih terhadap Reihan toh ia suaminya yang sah dimata hukum negara dan agama. Setalah selesai mandi ia segera bergegas ke dapur untuk memasak, ketika ia ada di rumah memang hampir semua kegiatan rumah ia kerjakan sendiri tidak dibantu oleh asisten rumah tangga. Terkadang asisten rumah tangga hanya membantu sebagian saja, sedangkan urusan masak ia harus turun tangan sendiri.
Tak terasa sore telah tiba dan Mecca telah terbangun dari tidurnya “Mamaaaa” teriakan Mecca yang khas dan sebari ia berlari menghampiri Meira.
“Apa sayang sampai teriak-teriak seperti itu” sambil merentangkan kedua tangan yang tak sabar ingin segera memeluk putri kecilnya itu.
“Mecca ingin sedikit cerita saja, ada kejadian yang seru sekali” ia begitu bersemangat untuk cerita, tapi Meira menyuruh putrinya itu mandi terlebih dahulu “Sebelum Mecca bercerita, lebih baik mandi dulu habis itu baru ceita sama Mama ya”
“Baik Ma, Mecca mandi dulu tapi ditemani oleh mba yu ya ma”
“Bentar Mama panggil mba yu dulu” sambil bergegas ke halama belakang rumah
“Mba yu maaf, tolong temani Mecca mandi”
“Ngeh bu” jawab mba yu sambil bergegas ke kamar Mecca.
Sebaiknya aku siapkan perlengkapan dokumen untuk esok diserhakan pada dr. Richad sebari menunggu Mecca beres mandi habis itu baru kita makan malem bareng. Makan malam tiba, tapi makan malam kali ini membuat ia tak begitu senang karena harus melihat Aleesha makan bersama dan yang tersaji selama makan malam hanya ada keheningan diantara mereka, tak terkecuali Mecca yang selalu ingin disuapi ketia ia makan. Makan malam telah usai dan Meira segera bergegas ke kamar Mecca untuk menceritakan dongeng pengantar tidur sebelum ia tidur selalu menceritan kegiatan yang ia lakukan disetiap harinya.
“Mama tau ga teman aku yang bernama Delon tadi ia ke sekolah membawa adek kembarnya itu loh, sangat menggemaskan” semenjak Meira menjadi ibunya memang tampak terlihat jelas bahwa Mecca begitu senang dan tak sabar ingin memperkenalkan Meira sebagai ibunya ke pada temen-temannya.
“Jadi seorang kaka itu tidak enak loh, harus selalu menjaga adiknya dengan siaga”
“Aku siap kok jadi kaka yang baik Ma” sebari ia mengacungkan 2 jarinya
“Biar aku ga kesepian Ma” mendengar perkataan putrinya begitu terharu.
Setelah Mecca tertidur lelap ia masih mendengar suara tawa canda yang berasal dari ruang kerja Reihan yang semakin membuat ia makin merasakan sesak didada yang hampir membuatnya sulit mengatur napas, lebih baik ia kembali ke kamar dari pada harus melihat pemandangan yang tak menyenangkan. Tak lama kemudian Aleesha pulang dan Reihan bergegas menuju kamarnya untuk mandi sebelum terlalu malam, setibanya Reihan di kamar ia melihat Medira sedang sibuk dengan buku yang begitu tebal khas anak kedokteran dan ia berinisiatif untuk menyapa terlebih dahulu.
“Ra, kamu sedang sibuk ya hingga dari tadi tak pernah bersua semenjak pulang dari kampus” seperti biasa dengan nada yang datar
“Yaa memang seperti yang Mas Rei lihat” sambil mata tetap mengarah pada buku yang Meira pegang.
“Ga sopan berbicara tanpa melihat mata orang tersebut” ketus Reihan, kemudian ia berpikir sejenak apa mungkin karena ada Aleesha.
“Cemburu hmm” ucapan yang terlontar dari mulut Reihan
“Siapa juga yang cemburu” ketus Meira sembari memalingkan mukanya dari Reihan.
Kemudian Reihan menutup buku yang sedang Meira baca dan memegang tangannya. “Apa-apan kamu mas, seenaknya saja menutup buku yang sedang aku baca” sambil memperlihatkan muka yang begitu bete.
“Itu akibat dari sikap kamu yang tidak sopan diajak berbicara malah asik membaca buku” ia mulai mendekat kehadapan Meira bahkan sangat dekat hanya berjaka 2 cm saja, tapi Meira terus berusaha memalingkan mukanya. Genggaman tangan Reihan begitu kuat sehingga berhasil membalikan badan Meira ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan Mas, lepaskan tangan ku” dengan intonasi yang sedikit keras.
““Tidak akan aku lepaskan” bahkan sampai tak sadar sudah melebih batas dan seketika malah mencium bibir mungil Meira dan Meira mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Reihan tapi ia sendiri tak bisa berkutik.
Setelah itu Reihan cepat pergi ke kamar mandi karena ia takut melakukan hal yang lebih terhadap Meira “Kalem Reihan, tahan jangan melakukan tindakan yang bodoh lagi kau” aku tak ingin dicap sebagai pria brengsek yang hanya melampiaskan nafsu belaka, jelas-jelas tidak ada kesiapan dalam diri Meira. Dengan kejadian ini detak jantung Meira berdebar begitu kencang dan mulai sulit bernapas “Ya Allah apa yang ia lakukan, ia telah mencuri ciuman pertamaku”