Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Disappointed



Dengan kejadian yang telah ia lakukan kepada Meira tak sama sekali membuat ia menyesal, karena ia telah berhasil mencuri ciuman pertama sang istri. Sebagai pria normal ia selalu berusah menahan diri agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh, karena ia tak mau meminta hak sebagai seorang suami sebelum ia sendiri tahu bagaimana mana perasaan Meira terhadapnya. Baginya ia sudah berbuat sangat egois dengan cara memaksa gadis untuk menikah disertai sedikit ancaman, ia tak ingin dicap sebagai pria brengsek yang tak tau mengenai agama.


Hari ini Meira pergi ke kampus untuk memberikan berkas yang sudah diminta oleh dr. Richad dan setelahnya tiba dikampus ada yang memanggilnya yang tak lain itu suara khas Vina “Raa, lu cari dr. Richad di ruangannya”


“Oke, makasih ya Vin”


Meira berjalan begitu cepat menuju ruangan dr. Richad dan sampailah ia diruangan dengan napas yang tak beraturan


“Maaf dr. Ricahad memanggil saya?” tanya Meira dengan sopan


“Ya saya menunggu kamu untuk menyerahkan berkas yang saya minta kemarin” sambil mempersilahkan Meira duduk sejenak.


“Maaf dok, ini dokumen yang dr. Richad minta. Kebetulan sudah saya selesaikan”


“Baiklah Meira, terimakasih. Selama kamu koas di state radioterapi, saya akan menjadikan kamu sebagai asisten pendamping” tak kala seketika Meira begitu terkejut.


Siapa sih yang tak ingin menajdi asisten pendamping dr. Richad yang begitu sangat digandrungi oleh para mahsiswi kedokteran, bagainya ini kesempatan langka yang tak mungkin ia sia-siakan begitu saja. Tiba-tiba dr. Richad meminta Meira segera bergegas membawa semua dokumen tersebut ke rumah sakit “Meira cepat bawa berkas tersebut ke rumah sakit dan kamu harus ikut dengan saya sekarang”


“Tapi dok...” sebelum Meira menyeleskan pembicaraan dr. Richad malah menarik tangan Meira karena kalau tidak begitu pasti ia akan menolak untuk ikut dengannya


“Ayo Meira, anggap saja ini sebagai latihan sebelum nanti kamu menjadi asisten pendamping saya”. Meira dan dr. Richad tiba di rumah sakit, sementara ia menuju ruang pasien sedangkan Meira memberikan dokumen yang ia bawa kepada pimpinan kepala rumah sakit yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


“Assalamualaikum Ayah, Meira kangen” dr. Holand kaget melihat kedatangan putri bungsunya itu


“Waalaikumsalam Meira putri kesayangan ayah” akhirnya ia bisa merasakan pelukan hangat sang ayah.


“Ada apa kamu dateng kesini nak?” tanya dr. Holand yang enggan melepaskan putrinya yang sedang ia peluk


“Ayah lepaskan aku dulu, aku kesulitan berbicara kalau ayah terus peluk seperti ini”


“Aku datang ke sini untuk menyerahkan dokumen untuk masa koasku dan kebetulan aku menjadi asisten pendamping dr. Richad selama bertugas di radioterapi” ucap Meira sambil bermanja ria tak kala setiap ia rindu terhadap ayahnya.


“Baiklah putriku, simpan saja dokumen itu dilemari kerja ayah. Kamu ini memang beruntung ya dapat dipilih sebagai asisten pendamping dr. Richad” sambil memandang kagum atas apa yang putrinya raih.


“Mungkin semua ini karena prestasi kamu memang bagus sayang” ayah memang selalu memuji atas segala jerih payah Meira, kadang ia merasa bahwa apa yang peroleh biasa aja tak terlalu berprestasi.


Siang ini dr. Richad mengajaknya makan siang disebuah restoran korea yang menjadi makanan favorite Meira “Sebelum kita pulang lebih baik kita makan siang terlebih dahulu bagaimana?”


“Oke baik dok, sebari ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sebelum masa koas dimulai dok” terlihat jelas Meira sangat berantusias ketika bisa berdiskusi dengan dr. Richad, baginya ia bisa mendapatkan ilmu baru.


“Mau makan siang dimana kita?” tanya dr. Richad yang sebenarnya ia sendiri sudah memikirkan akan makan dimana “Terserah dokter saja”


“Baiklah kalau begitu kita restoran korea yang menjadi tempat favorite mu” Meira terkejut, karena dr. Richad tau tempat makanan favoritenya.


Tak butuh waktu yang lama untuk mencapai lokasi dituju hanya sekitar 15 menit saja sudah sampai. Mereka bergegas masuk dan memesan makanan favorite masing-masing. Menuju jam makan siang tempat ini selalu ramai dan kebanyakan yang berkunjung menggunakan seragam khas pegawai kantoran.


“Silahkan Mba Mas, ini makanan dan minumannya” suara pelayan yang sebari menyodorkan pesanan mereka. Ketika mereka makan tak banyak berbincang karena memang sedang menikmati hidangan yang tersajdi dihadapan mereka dan baru setelah mereka selesai makan perbincangan Meira lanjutkan untuk menanyakan beberapa hal yang menurutnya begitu penting sebelum melaksanakan koas.


“Dok, maaf boleh bertanya sesuatu tidak?” tanya Meira dengan sopan dan sedikit rasa malu “Ya silahkan saja” sembari melihat layar hp untuk melihat jadwal esok hari.


“Dok saya ingin bertanya mengenai pasien penderita kanker, apa semua jenis kanker bisa diterapi menggunakan sinar X-ray dan sebagainya?”


“Tegantung jenis radioterapi yang dipilih. Yang pertama radiasi eksternal bisa digunakan untuk semua jenis kanker untuk pasien rawat jalan, sedangkan radiasi internal akan ditanamkan tepat pada jaringan kanker seperti hal kanker yang beada dibagian kepala dan leher, thyroid, prostat, leher rahim, kandungan dan payudara. Yang ketiga adalah radiasi sistemik yang biasanya digunakan untuk mengobati kanker thyroid dan non-Hodgkins’s lymphona” jawab dr. Richad dengan penuh kesabaran dalam menjawab agar mudah dipahami oleh Meira.


“Terimaksih dok”


Saat ia ingin pergi meninggalkan tempat makan, ada suara ia dengar memang tak asing lagi baginya dan benar saja ia melihat Reihan dan Aleesha sedang makan siang disana. Serentak melihat pemandangan itu membuat hatinya tersayat-sayat merasakan pedih dan begitu sesak, bagaimana bisa seorang suami makan siang dengan perempuan lain. Sepercik kekecewaan nampak jelas diwajahnya, memang tak ada yang salah jika ia mulai menaruh rasa yang lebih terhadap Reihan, toh tak yang melarang untuk mencintai suaminya sendiri dan itu wajar.


Meira pun diantarakan pulang oleh dr. Richad ke rumah orang tuanya, ia tak tau bahwa Meira sudah menikah dan tak tingga di rumah orang tuanya. Setelah bertemu dengan mamanya ia berpamintan untuk pulang ke rumah.


“Mungkinkah aku sudah mulai membuka hati untuk Mas Reihan?” batinnya mulai bergejolak menerka-nerka apa yang ia rasakan saat ini


“Jangan karena cinta kamu menjadi gadis yang lemah” ujar dalam batinnya untuk menyemangit dirinya sendiri, tak terasa hingga tetesan air mata membasahi pipinya dan jantungnya mulai berdebar-debar seakan penyakit jantunganya kambuh kembali disertai keringat dingin pada telapk tangan dan kaki sebelum akhirnya ia pingsan.