
Sudah hampir sebulan Meira koma, belum ada tanda-tanda ia akan sadar. Sarah semakin kurus semenjak putri bungsungnya koma, bahkan kulit tebal yang melindungi pipi tak dapat dilihat lagi. Selama Meira koma, Reihan dan Sarah selalu menjaganya. Reihan hanya bisa menatap dengan pilu istrinya, tak banyak kata yang bisa ia ucapkan walau terkadang batinnya selalu menyalahkan diri sendiri.
"Jika saja kita ke Malang waktu itu mungkin semua ini tidak akan terjadi, aku menyesal" batin Reihan
Penyesalan tinggalah penyesalan, tak bisa memutar waktu atas apa yang telah terjadi. Hanya bisa bersabar dan ikhlas menerima apa yang telah ditetapkanNya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Reihan harap siang ini ada kemajuan signifikat terhadap kondisi istrinya dan kalau bisa Meira akan segera sadar. Reihan yang sedang melamun ditepi jendela dibuat kaget oleh ibu mertuanya "Reihaaannnnn" teriak Sarah pada menantunya yang sedang melamun
"Astagfirullah Ma, kenapa Ma? Bikin kaget Reihan aja" gumam kesal Reihan
"Cepet panggilakn dokter, tadi jari Meira gerak"
"Serius Ma?" tanya balik Reihan
"Serius Rei, cepetan panggil dr. Sony"
"Kenpa ga pencet tombol ini aja sih ma"
"Mama lupa, biar cepet juga ya harus dipanggil juga" gumam Sarah dan Reihan mulai jalan menelusuri lorong rumah sakit untuk keruangan dr. Sony
Reihan dan dr. Sony sudah sampai di ruangan Meira, sedangkan Sarah menjelaskan apa yang tadi ia lihat. Putrinya sudah memberikan respon walau hanya berupa gerakan tangan saja, dr. Sony segera memeriksa Meira. Meira memang wanita tangguh, ia tetap masih bisa bertahan dan memiliki semangat hidup.
"Kita tunggu nanti sore, mudah-mudah pasien bisa segera sadar" ucap dr. Sony
"Baik dok, terimakasih"
Cuaca sore hari masih terlihat begitu terik disambut dengan suara angin yang menyejukkan serta semilir udara menyentuh kulit membuat badan terasa hangat. Seketika lamunan Reihan buyar akibat mendengar suara yang memanggilnya
"Mas Reiii.....awas truk" teriak Meira yang kini sudah sadar dari komanya
"Alhamdulillah, kamu sadar juga Ra" ucap syukur Reihan sambil memeluk tubuh istri yang amat ia cintai.
"Takut Mas, hiks...hiks...hiks. Aku pikir kamu udah pergi meninggalkan kita Mas" Meira teringat kembali kecelakaan itu.
"Ga usah takut Ra, Mas ga akan meninggalkanmu"
"Mas, kok kakiku mati rasa gak bisa digerakan"
"Mas Dewa, maaf tolong panggilakan dr. Sony" pinta Reihan pada kaka iparnya tersebut
"Siaaaaap" ucap Dewa dengan senyum bahagia, karena sibungsu sudah sadar.
Dokter Sony datang dan memeriksa Meira, tenyataan dugaan dr. Sony benar bahwa Meira mengalami kelumpuhan tapi kelumpuhan yang dialaminya hanya sementara. Sebenarnya tanpa dr. Sony jelaskan, Meira sudah paham dengan kondisinya hanya saja ia ingin mendapatkan penjelasan lebih detail lagi dari pada harus menduga-duga hal tersebut.
"Akibat benturan yang cukup keras mengenai otak kecil dan sumsum tulang, mengakibatkan gerak motorik melemah dan bagian kaki mengalami kelumpuha. Hanya saja ini bersifat sementara, jika sering mengikuti terapi maka akan kembali normal. Jangan menyerah!!!" penjelasan dan semanga dari dr. Sony tentu menambah harapan baru untuk Meira, walau dalam hatinya ia tetap sedih karena ia juga manusia biasa.
..................
Flashback
Dibalik wajahnya yang cantik, cerdas, mandiri dan ramah tak pernah ada yang tau bahwa Meira tipe yang hiperaktiv dan jago bela diri. Bahkan selama ia bersekolah menyembunyikan identitasnya sebagai generasi Alexssander, bukan tanpa sebab ia melakukan hal tersebut. Meira tidak ingin membuat jarak dengan teman-temannya dan ingin seperti rakyat biasa. Holand beserta Alexssander yang lain memang sengaja membekali putra-putri mereka dengan ilmu bela diri, mengingat bahaya bisa mengancam keluarga mereka kapan saja. Jika mengingat masa putih abu, jelas semua orang akan segan menjaili bahkan berbuat jahat kepada Meira karena ia merupakan juara nasional karate.
Meira sekolah di Internasional School Surabaya, bisa dibayangkan kumpulan anak-anak orang kaya yang bersekolah disana. Sebenarnya ia malas bersekolah ditempat yang seperti itu, dari SMP-SMA lingkungan sekolahnya hanya itu-itu saja.
Flashback off
"Ya Allah, hamba tidak bisa sehiperaktiv dulu. Walau ini hanya sementara, tapi hamba harapan Engkau memberikanku kekuatan untuk menjalani semua ini. Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku" batin Meira.
Reihan yang melihat Meira sedari tadi tak bisa membaca pikiran yang ada dibenak istrinya, yang ada hanya keheningan diantara mereka. Untuk menghilangkan keheningan Reihan mulai bersuara "Raaa, kenapa?"
"Tak apa Mas" jawab Meira dengan wajah datar
"Please Ra, liat Mas. Tatapan matamu gak bisa bohong"
"Pergi Mas, tinggalkan aku sendiri!!" nada kecewa nampak jelas dari cara bicara Meira, tapi Reihan enggan pergi meninggalkan istrinya.
"Mas gak akan pergi Ra" Reihan memeluk tubuh istrinya, tanpa sadar air mata mengalir dipipi Meira
"Mas.." Meira mengehela napas sejenak
"Takut Mas, kalau aku ga bisa jalan lagi gimana Mas" mata Meira terlihat begitu sendu
"Sutt..ga boleh ngomong gitu, kita berjuang bersama" gumam Reihan
"Tapi Mas, aku akan merepotkanmu"
"Jangan gitu Ra, Mas ga merasa direpotkan. Suka duka kita hadapi bersama, kamu percaya sama Mas kan?" tanya Reihan
"Iya Mas, aku percaya. Rindu Mecca sama Rizmi Mas"
"Sebentar lagi mereka kesini" tak perlu waktu lama, terdengar suara anak-anak mereka
"Mamaaaa Papaaaaaa" teriak Mecca
"Ya Allah Mba, ga usah teriak juga" gumam Reihan
"Iih Papa, kangen Mama tau" ucap kesal Mecca
"Ya udah sini dong, peluk Mama" gumam Meira, sedangkan Reihan memangku sitampan Rizmi dan duduk diranjag mamanya. Sungguh pemandangan yang indah di sore ini, berkumpul dengan keluarga kecil dimana kebahagian itu kita yang buat bukan apa kata mereka diluar sana.