
1 Bulan Kemudian
Tak kerasa masa koas di state radioterapi akan segara berakhir, sudah saatnya ia menyusun laporan hasil koas dan siap-siap menghadapi ujian pasca koas agar bisa segara disumpah sebagai dokter dan yang tak kalah penting adalah wisuda. Ini akan menjadi awal perjalananku menjadi dokter yang sesungguhnya, aku harus bisa berguna untuk semua orang yang membutuhkan tenagaku termasuk keluarga kecilku. Selama ia koas Mecca menjadi sulit diatur kala ia harus jaga malam, terkadang membuat Meira merintis rasa bersalah sering mengabaikan putrinya itu, tapi semua itu harus ia lewati tak mungkin ia mundur dari cita-cita yang sudah diimpikan sejak kecil.
“Ra, Alhamdulillah ya besok hari terakhir koas kita selesai dan kita siap-siap untuk menghadapi ujian lain agar bisa segara disumpah dan wisuda” Cerocosan sahabatnya itu.
“Ya bener nih Liv, Alhamdulillah step by step telah dilalui”
“Tapi kenapa lu bengong Ra?” Olivia heran melihat sahabatnya itu melamun dan entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Ini Liv gue mau cerita ada satu rahasia yang gue sembunyiin dari lu, tapi nanti aja pas hari terkahir koas deh” Meira ingin sekali menceritakan bahwa ia sudah menikah dan memiliki anak, ia sudah tak ingin menyembunyikan statusnya itu.
“Okey deh, gue tunggu ya cerita lu Ra” dengan wajah yang begitu heran dan Olivia tak habis pikir ada rahasia apa yang sahabatnya sembunyikan.
..................
Reihan berniat untuk menjemput Meira dan dari tadi ditelpon tidak diangkat sama sekali yang ada hanya suara operator, tentu saja itu membuatnya kesal sekaligus khawatir “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi” setelah ia menunggu hampir 30 menit, lebih baik ia bergegas pulang ke rumah dan kemungkinan Meira sudah pulang.
Setibanya di rumah ia mencium aroma makanan yang membuat perutnya tak bisa menolak, karena ada rawon dan lalapan yang sudah di hidangkan “Siapa yang masak makanan ini, apa mungkin Meira” tanya Reihan dalam hati. Tiba-tiba sang taun putri menghampiri papanya “Papaaaa....”
“Apa tuan putri, Mama sudah pulang?”
“Sudah Pa, ada dikamar dan ini semua masakan Mama loh”
“Oke deh, kalau gitu papa makan dulu ya” sambil mengambil piring dan gelas. Setelah selesai makan Reihan bergegas ke kamarnya untuk menemui Meira.
Reihan melihat sosok istrinya tersebut sedang menandang sesuatu dari balkon kamar mereka dengan tatapan yang begitu kosong dan jelas ini membuat ia khawatir “Raaa” saut Reihan, tapi Meira engga menjawab panggilan suaminya itu. “Raaa kok ga jawab sih, kamu kenapa?” tanya Reihan sekali lagi. Tapi sekali lagi Meira enggan memberikan respon
“Ada yang salah denganku Ra?” tanya Reihan sekali lagi sambil memegan tangan istirnya.
“Egois” Jawab Meira sambil melemparkan obat pencegah kehamilan yang selama ini ia cari.
“Aku minta maaf Ra” bujuk Reihan.
“Egois kamu Mas, tinggalkan aku sendirian” dengan mimik wajah yang menyeramkan.
“Kamu boleh tampar aku, tapi jangan cuekin aku Ra”
“Plakkkk” tangan Meira melayang kepipi kanan suaminya, sontak Reihan terkejut tak pernah menyangkan hal ini akan terjadi dan ia keluar dari kamar sedangkan Meira menutup dan mengkuncinya dari dalam.
Meira merasa heran apa yang suaminya lakukan sampe Reihan bisa bertindak seegois ini tanpa memikirkan perasaannya. Ia memang sengaja menunda untuk memiliki anak sampai ia selesai koas bahkan kalau bisa sampe ia disumpah menjadi dokter dan wisuda, jelas ia memiliki alasan karena menjadi dokter ini membutuhkan ekstra tenaga, waktu dan biasanya tingkat stress akan meningkat sehingga ketika ia hamil pasti akan mempengerahui segala aktivitas yang padet dan enggan membahayakan ia dan sang calon bayinya.
..............
Flashback
Reihan memang pria egois dan itu tak bisa dipungkiri lagi, selain egois ia juga keras kepala dan si pencemburu. Baginya ikatan pernikahan saja tidak cukup untuk menghalangi pria diluar sana yang selalu memandangnya, Meira memang seperti malaikat yang bisa membuat pria disana tersihir mesti ia tak pernah merasa bahwa dirinya sempurna. Bahkan Meira selalu saja tak percaya diri dan selalu merendah, padahal orang lain senang membericakannya. Alangkah beruntungnya laki-laki yang berhasil mendapataknya, ia begitu sempurna dimata pria dan hampir semua pria menginingkan wanita yang seperti itu. Hingga Reihan berpikir untuk menyembunyikan pil pencegah kehamilan, dengan cara Meira mengandung anaknya mungkin pria diluaran sana tidak akan mengganggung istirnya. Sepicik itu pikiran Reihan, tapi memang begitu adanya.
................
“Malang baget nasibku ya Allah, diusir dari kamar dan suruh tidur di sofa” monolog Reihan dalam hati, ya walaupun sebenarnya ia mengaku salah dengan tindakan yang dilakukannya padahal mereka sepakat untuk menunda untuk memiliki anak.
“Raa, please buka pintunya. Maafin aku” Reihan tetap berusaha untuk membujuk istrinya walau tak ada respon sama sekali. Reihan memang tak punya alasan untuk membela diri, karena ia memang bersalah “Raa, kumohon buka pintunya” masih mencoba tapi tetap tidak ada respon.
“Apa aku keterlaluan ya menyuruhnya tidur diluar? Aah biarkan saja toh ini salah dia sendiri, aku hanya sedikit memberikan pelajaran. Apa aku dosa telah menamparnya? Toh dia sendiri yang menyuruh ku untuk menamparnya” monolog Meira dalam hati yang masih bergemulut dengan egonya.
Confession
Pukul 05.00 subuh Meira sudah berpakaian rapi, tapi ia malah bergegas ke dapur untuk memperispakan sarapan, ia melihat selimut dan guling tergeletak di sofa mungkin Reihan semalam tidur di sofa. Ia hanya membuat salad dan sandwich untuk sarapan, tal banyak waktu yang ia miliki. Sebentar lagi pukul 05.30 ia harus bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit “Lebih baik aku pergi diantar supir saja, tak usah diantar Mas Reihan” ucap ia dalam hati.
Reihan tak pernah menyerah untuk membujukku “Raa ayo, aku antar kamu sekarang”
Reihan mencoba mencairkan suasan akibat percekcokan semalam “Ga usah Mas, aku diantar sopir aja. Ya sudah aku berangkat dulu Mas, Assalamualikum” lagi-lagi nemolak karena egonya, tapi ia tetap berlaku sopan terhadap suaminya tak ada maksud apa-apa hanya ingin sedikit memberikan pelajaran.
Waktu berjalan dengan cepat tak terasa hari sudah siang, Meira dan Olivia bergegas untuk makan siang terlebih dahulu sebelum nanti ada acara penutupan untuk koas state radioterapi dan ia ingin jujur kepada sahabatnya itu kalau ia telah menikah.
“Ra, mau makan dimana nih?” tanya sang sahabat.
“Mending kita makan di cafe sebrang rumah sakit saja Liv, katanya sih lagi hist gitu” ujar Meira.
“Okey lah, gue sih ngikut aja deh. Urusan kuliner sih lu emang jago” mereka berjalan menuju cafe tersebut. Setelah sampai, mereka memilih beberapa menu makanan di cafe tersebut dan pilihan mereka jatuh pad steak tander loin dan untuk minumannya air mineral saja, karena mereka tidak terlalu suka dengan minuman manis.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba Meira ingin menceritakan suatu hal kepada sahabatnya itu “Liv, gue mau ngomong sesuatu dong sama lu” saut Meira
“Ya udah sih Ra, ngomong aja apa susahnya” bales Olivia.
“Tapi gimana ya Liv, harus dari mana gue mulai ceritanya” Meira sedikit gugup untuk menjelaskannya.
“Terserah lu aja Ra, mulai dari mana gue siap dengerin kok” balas Olivia sambil nemepuk bahun sahabatnya itu.
“Sebenernya ada satu rahasia yang gue sembunyiin dari lu, kalau gue udah nikah....”
“Stop Ra, serius lu? Jangan bercanda dong” dengan raut wajah yang tak percaya.
“Gue serius Liv, maka dari itu gue mau cerita sama lu”
“Sumpah gue ga percaya Ra, ya udah cerita aja” Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya ia tak percaya dengan apa yang barusan sahabatnya katakan.
“Jadi gini ceritanya Liv, gue nikah sama dia karena situasi yang gak menguntungkan. Niat buat nolong orang malah berakhir dipelaminan deh”
“Sumpah Ra, lu gila hahaha. Jadi nikah terpaksa gitu?” tanya balik Olivia.
“Ya awalnya gitu sih, tapi sekarang engga. Gue juga udah punya anak, tapi tenang itu anak dari suami gue” jelas Meira
“Sumpah ya emang gila, lu nikah sama duda 1 anak pula Ra”
“Ya begitulah Liv, tapi Alhamdulillah ga nyesel sih karena gue bahagia” dengan senyuman manis khas Meira.
“Alhamdulillah kalau gitu, gue seneng dengernya” perbincangan mereka terhenti karena menu yang mereka pesan sudah tiba. Waktu istirahat telah usai, mereka bergegas kembali ke rumah sakit.
Penutupan koas state radioterapi pun telah tiba, seleruh dokter muda yang bertugas tengah bersiap-siap menuju aula yang di miliki rumah sakit harapan bangsa “Alhamdulillah ya Liv, masa koas kita berakhir juga dan kita selalu barengan dah kaya sodara aja Liv”
“Alhamdulillah ya Ra, bersyukur baget punya sahabat kaya lu. Kita dah kaya sodara karena sama-sama ga punya sodara perempuan di rumah” maklum saja Meira sibungsu dan kedua kakaknya laki-laki sedangkan Olivia anak tengah serta adek dan kakaknya laki-laki juga.
“Meira, terimakasih ya atas bantuannya sudah mau jadi asisten pendamping” saut dr. Richad
“Sama-sama dok, terimakasih juga atas bimbingannya” balas Meira sambil memberikan seulas senyum dibibirnya.
“Anytime Ra, kalau butuh apa-apa jangan sungka ya”
"Alhamdulillah koas state radioterapi telah usai dan ini menandakan bahwa masa koas kalian sebagai dokter muda telah selesai. Terimakasih atas kerjasamanya, semoga ujian nanti kalian berhasil. Siapkan diri kalian untuk meghadapi ujian OSCE, UKDI dan laporan selama kalian koas dari state ahli dalam sampe radioterapi. Sekian sambutan dari saya, mohon maaf jika ada kekurangan selama membimbing kalian. May God given the best for you guys and good luck. Wasalamualailkum wr.wb” penutupaan dr. Richad resmi menandakan koas state radioterapi telah selesai. Hari ini Meira pulang dijemput oleh supir, ia engga dijemput oleh suaminya. Ia masih mempertahakankan egonya.