Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Jealous 2



Setelah 2 hari terakhir ia sibuk dengan segala ujian yang membuatnya sedikit stress, kini ia bisa bernapas dengan lega walau hanya sementara karena hasil ujian UKDI akan keluar sekitar 1 bulan mendatang. Hari ini Reihan menjemput Meira di kampus, mereka bergegas untuk makan siang bersama disekitaran kantor Reihan “Ra, mau makan apa?” tanya Reihan.


“Makan nasi bebek gimana Mas?” tanya balik.


“Boleh juga tuh, lagian udah lama gak makan nasi bebek nih. Perutmu makin kelihatan buncit, semoga kalian sehat terus” balasku sambil mengelus perut Meira.


“Aamiin ya Allah, semoga dilancarkan sampai wakunya lahiran. Ayo kita berangkat Mas”


“Ayo Ra” sambil berjalan menuju arah parkiran kampus.


Dering hp Reihan berbunyi nyatanya ada WhatsApp dari Irfan “Rei, lu dimana? Masih inget sama Alina ga? Temen kita waktu kuliah”


“Lgi di jalan, mau makan siang nih sama Meira. Ya inget, emang kenapa?” balesku dan Irfan cepat sekali merespon mungkin karena ada hal penting “Ini si Alina minta no lu, katanya ada kasus yang harus dibereskan Rei”


“Ya udah lu kasih aja”


“kalau bisa hari ini pengen ketemuan, nanti gue temenin si Alina deh buat ketemuan sama lu”


“Ya udah sekalian aja kita makan siang bareng, nanti gue share lokasinya”


“Okey Rei”


“Ra gimana tadi ujiannya? Lancarkan?” tangan Reihan enggan diam, karena selalu mengelus perut sang istri “Alhamdulillah lancar ga lancar sih, jawab yang bisanya aja” membalas sambil memberikan seulas senyum.


“Alhamdulillah semoga hasilnya bagus, Selamat ya kemarin menjadi dokter muda dengan nilai OSCE yang memuaskan. Kamu memang cerdas sayang” sambil mengacungkan jempolnya


“Aamiin, ahh Mas bisa aja deh. Aku hanya melakukan yang terbaik dan ini juga tak lepas dari do’a keluarga besar termasuk do’a spesial dari kamu juga mungkin Mas” menunduk, karena ia malu dipuji oleh suaminya.


“Kamunya aja emang cerdas Ra, Mas akan selalu mendukung apa yang kamu kerjakan”


“Matur suwun Mas”


“Sami-sami Ra, ayo kita turun” mereka turun dan jalan perlahan menuju rumah makan bebek yang cukup terkenal seantero Surabaya bahkan Jawa Timur.


Mereka pesan 4 porsi nasi bebek dan Meira kaget kenapa suaminya memesan makanan sebanyak itu “Mas, kenapa banyak banget pesenan makanan?”


“Ini nanti Irfan sama Alin mau ketemu sama Mas, jadi sekalian aja makan siang bareng” jawabku.


“Hahaha kirain buat kamu semua Mas”


“Astagfirullah Ra hahaha, makan itu ga boleh berlebihan. Yang bener aja ini buat Mas sendiri”


“Mas, sepertinya mereka datang”


“Ehh ya, Fan Alina sini” sambil melambaikan tangan.


“Lin, kenalin ini Meira istriku” sambil berjabat tangan antara kedua perempuan tersebut “Meira” sautku


“Alina” jawab Alina dengan ramah


“Kita makan dulu yuk, baru nanti kita bicarakan masalahmu Lin” saut Reihan


Selama mereka makan ada pemandangan yang enak bua Meira, dimana Alina diam-diam selalu memperhatikan Reihan “Apa mungkin Alina memiliki perasaan pada Mas Reihan?” monolog Meira, sebagai seorang istri ia jelas tak suka jika suaminya ada yg diam-diam memperhatikan.


..................


Flashback


Reihan memang pria idaman untuk dijadikan pasangan hidup, hanya saja selama kuliah ia engga memilik pacar, sikapnya yang selalu cuek dan dingin terhadap perempuan sehingga ia tak pernah menyadari bahwa Alina sudah menyukainya pada saat pertama kuliah. Alina mencintai Reihan sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, inilah yang menyebabkan Alina belum menikah karena hatinya engga lepas dari bayang-bayang Reihan.


Flashback Off


“Rei, maaf ini berkasnya” sambil menyodorkan berkas penting yang Alina pegang.


“Kasus ini agak rumit juga ya, mungkin aku memerlukan bantuan Irfan untuk menyelesaikannya” jawabku.


“Oke Rei tak apa” wajah Alina menjadi muram, karena yang ia harapkan tidak sesuai. Tentu ini alesan Alina saja agar bisa dekat dengan Reihan


“Fan, bantuin kasusnya Alina dong. Ini sih ke ahlian lu” saut Reihan pada sahabatnya.


“Okey, gue bantu sebisanya aja ya”


“Makasih ya Rei” Secara sengaja Alina memeluk Reihan, tapi Reihan tidak merespon pelukan tersebut. Tentu Alina sengaja melakukan ini agar terjadi kesalah pahaman antara Reihan dan Meira.


Meira kaget dengan apa yang dilakukan Alina pada Reihan, sehingga pergi menuju parkiran mobil, sontak Reihan pun mengejar istrinya tersebut sedangkan Irfan dan Alina pun ikut keluar menyusul mereka.


“Raa, stop jangan lari” Saut Reihan sambil mengejar Meira.


“Aku ingin pulang Mas, biarkan aku pulang naik taksi aja. Mas selesaikan saja urusan dengan Alina” rasanya ingin menagis tapi Meira mencoba menahannya


“Tunggu Ra, jangan pulang sendiri. Apa yang kamu liat tak sama dengan apa yang kamu pikirkan. Kita bicarakan dimobil, jadi please jangan marah” pinta Reihan sambil menggenggam tangan Meira.


“Lin, Fan gue pulang duluan ya. Assalamualaikum”


Melihat pemandangan ini jelas membuat Alina bisa tertawa “Akhirnya stategi yang aku terapkan berhasil, terjadi salah paham diantara mereka” monolong Alina dalam hati.


“Ra”


“Hmm” sambil memalingkan pandangannya.


“Kamu cemburu?” tanyaku.


“Udah tau nanya segala, apa mas sadar selama tadi kita makan Alina diam-diam memperhatikanmu mencuri-curi pandangan” dengan nada kesal.


“Tapi Mas tidak memperhatikannya”


“Sepertinya Alina punya rasa sama Mas, dilihat dari cara dia memandangimu. Sebagai seorang peremuan aku bisa merasakannya Mas, kamu aja yang tak pernah peka” ujarku.


“Tapi hatiku udah mentok dikamu Ra, aku ga minta yang lain karena kamu sudah memberikan semuanya. Apalagi kamu sekarang lagi mengandung anakku, kalian dan Mecca adalah harta berhargaku”


“Tapi aku takut Alina merusak kebahagian kita”


“Kuncinya ada dikita Ra, saling percaya”


“Aku percaya sama kamu Mas, tapi aku takut Alina berbuat dekat dengan segala cara untuk menghancurkanku”


“Aku akan menjaga kalian semua” sambil mengecup kening istrinya.