
10 Tahun Kemudian
Author POV
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, sudah hampir 28 tahun Meira nenemani Reihan dalam segala hal. Usia mereka sudah tak muda lagi, apalagi mereka sudah menjadi kakek dan nenek. Waktu terus berjalan ke depan, tak pernah bisa terulang kembali. Meski usia Meira mendekati 49 tahun serta Reihan 58 tetap saja mereka bugar dan sehat, ini semua karena kebiasaan mereka menata pola hidup sehat dimasa mudanya.
Mecca sudah menikah 8 tahun lalu dan memiliki 2 orang anak. Sementara Rizmi masih betah dengan status singlenya, bahkan perusahaan Ismail Group dipegang sepenuhnya oleh Rizmi serta ia juga mendirikan Rizmi Corporation yang berfokus dalam bidang pendidikan. Sementara sibungsu Syila yang baru saja berulang tahun ke 22 sudah memiliki calon suami yang tak lain berasal dari keluarga Dirgantara, kemungkinan sibungsu akan melangkahi sang kaka Rizmi.
Rasanya Meira ingin pensiun dini saja dari jabatan direktur rumah sakit, tapi Mecca masih enggan mengemban amanah tersebut. Mecca lebih senang menjadi dokter biasa untuk saat ini, putri sulung Reihan tesebut terkenal sebagai dokter spesialis bedah. Jika kalian bertanya, Mecca menikah dengan siapa? sudah dapat dipastikan Mecca menikah dengan Andre, Alhamdulillah Gusti Allah memberikan apa yang hambaNya butuhkan.
"Eyang utii" panggil Amira Jasmine Alexssander yang merupakan anak kedua Mecca, masih berumur 3 tahun.
"Apa sayang, sini sama Eyang" pinta Meira pada cucunya tersebut. Kebetulan hari ini kediaman Meira dan Reihan sedang ramai dengan kedatangan Mecca dan Rizmi, semenjak mereka mandiri memang tinggal Syila lah yang tinggal bersama Meira dan Reihan.
"Jajas mau makan buah Eyang" rengekny, entalah kenapa panggilan Jajas baikan Mecca dan Andre pun tak mengerti.
"Ayo ikut Eyang ke dapur, nanti Jajas bisa pilih buah apa saja" ajak Meira dan mereka berjalan menuju dapur.
Di ujung ruang makan Reihan memanggil istrinya "Meira, Raaa" panggilnya. Karena tak ada jawaban dari Meira, maka Reihan mencoba mencari ke dapur.
"Pantesan kamu disini Ra, Jajas lagi ngapain ikut Eyang Uti ke dapur" ucap Reihan sambil mencium pipi tembem Jasmine.
"Iih Eyang Akung gitu aja terus, Jajas pengen buah" ucapnya yang sebel karena pipinya selalu jadi sasaran.
"Ya udah kita ke ruanga tengah sekarang, sekalian bawa buah aja" pinta Reihan dan disetujui oleh Meira.
Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Gusti Allah berikan kepada ku dan keluargaku. Nikmati sehat di usia yang hampir menginjak kepala 6, memang sebuah kenikmatan yang tak ternilai. 5 tahun lalu menjadi duka terdalam bagiku dan Meira, karena baik Papa dan Ayah meninggal di tahun yang sama. Kematian memang tak pernah tau kapan datang menghampiri kita, tapi kita harus memperispkan dengan baik melalui amalan-amalan apa yang akan dibawa.
"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati (Q.S. Ali-Imran : 185)"
"Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannuya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati (Q.S. Luqman : 34)"
Kini kami sedang berada di ruangan tenagah, aku melihat Meira tengah asik berinteraksi dengan Jasmine dan Sayyid. Aku melihatnya begitu bahagia, kedua cucuku tumbuh dengan sehat dan cerdas. Sayyid berusia 7 tahun sudah duduk di kelas dua sekolah dasar, sementara Jasmine baru masuk ke sekolah kelompok bermain.
"Uncle, Jajas mau es cream" pinta Jasmine pada Rizmi.
"Siap princess, nanti Uncle bawa dulu ya" jawab Rizmi. Jika aku melihat kelakuan Rizmi ini sedikit mengingatkanku dulu, ia akan berlalu sinis dan dingin jika diluar apalagi terhadap kaum hawa yang terkadang tertarik hanya karena ketampanan dan harta kekayaan putraku saja.
"Ra, terimakasih untuk semuanya. Entah apa yang terjadi jika takdir 28 tahun lalu kita tak bertemu akibat insiden Mecca. I love you Ra" ucap Reihan tulus
"Mah, makasih udah mau jadi Mamanya Mecca dan mendidikku menjadi seperti ini" ucap Mecca tak kalah harunya dengan Reihan.
"Aduh Mama jadi terharu gini ya Mba, Mba anak yg sholehah dan kebangaan Mama Papa begitupun dengan Rizmi dan Syila, kalian harta terbaik Mama Papa. I love you more Mas Reihan"
Tamat
Terimkasih sudah membaca cerita kisah takdir Meira dan Reihan
Mohon Maaf lahir batin untuk semua reads