Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
Cuaca



Cuaca Surabaya hari ini tak sama dengan suasana hatinya, cuaca yang engga membuat matahari terbit sedangkan hati Meira berbunga-bunga karena kejadian semalam yang Reihan lakukan memuatnya merasa dicintai. Cuaca memang tak mendukung masih saja murung pdahal sudah jam 06.30 tapi masih seperti jam 05.00 subuh. Seperti biasa Meira membangunkan taun putri untuk mandi, sementara Reihan mandi ia menyiapkan pakaian di atas kasur.


“Ra tolong pakaian dasi dong”


“Baik Mas Rei, sini dasinya kasih ke aku” sambil menyodorkan tangannya.


Mereka mulai bergegas untuk melakukan aktivitas masing-masing “Mas Rei bisa antara aku terlebih daluhu tidak sebelum mengantar Mecca?” tanya Meira dengan nada ragu, takut Reihan engga mengantarnya terlebih dahulu.


“Ga usah ragu gitu Ra, aku antara kamu dulu baru nanti Mecca. Aku inget kok kamu ada meeting jam 07.30”


“Terimakasih Mas Rei”


“Sama-sama, tak usah sungka ya Ra” tegas Reihan sambil mengelus pucuk kepala istrinya.


 


Sesampainya di gerbang kampus, Reihan baru inget hari ini ada sidang permasalahan tander nya Aleesha “Ra, aku hari ada sidang masalah tandernya Aleesha” lagi-lagi kenapa ia harus mendengar nama perempuan itu.


 


“Yaa Mas Rei tak apa” Meira hanya memberikan senyuman yang terpaksa.


“Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya Mas Rei, Assalamualikum” pamit Meira.


“Waalaikumsalam” sambil menghela napas panjang dan tak enak hati melihat muka Meira yang seketika menjadi mendung.


“Papa kenapa gelisah gitu” sampai Reihan lupa ia harus mengantarkan Mecca ke sekolah


“Gapapa kok sayang, Papa hanya tak enak badan”


“Ga ahh, lagian kerjaan Papa banyak banget untuk hari ini” Bantah Reihan hanya untuk mengalihkan perhatian putrinya.


Setelah mengantarkan Mecca, ia segera bergegas ke kantor terlebih dahulu sebelum berangkat ke persidangan Aleesha. Menangani masalah seperti ini bukan hal yang pertama, hanya saja ia sedang membantu sahabatnya yang membuatnya akan terjadi salah paham antara ia dan Meira.


"Entahlah, cuaca hari begitu mendung seperti suasana hatiku" batin Meira. Ia masuk ke dalam ruangan meeting membuatnya tidak terlalu bersemangat, tapi tetap harus ia lakukan agar memperlanjar perjalanannya menuju koas.


"Meiraaaa" teriakan Olivia membuatnya buyar dari lamunan.


"Dasar toa, kebiasaan deh manggil gue suka teriak-teriak" balas Meira.


"Buruan masuk ah, nanti telat nih" pinta Olivia


"Iya deh" pasrah Meira. Olivia hanya heran dengan tingkah sahabatnya yang begitu seperti awan mendung.


..................


Setelah meeting usai, ia berniat pergi untuk menemui Reihan yang sedang melakukan persidangan kasus tander perusahaan. Tak banyak waktu yang dibutuhkan, ia sudah sampai disana.


"Ya Allah kenapa hamba seperti ini, jujur hamba sedikit cemburu dengan kedekatan suami hamba dengan Aleesha, meski sudah dijelaskan tapi hamba takut ia berpaling dari hamba. Sekali lagi Maafkan hamba Ya Rabb" monolog Meira dalam batinnya.


Cinta bisa datang kapan saja, tanpa kita minta harus jatuh kepada siapa tapi yang jelas Allah tau apa yang hamabNya butuhkan. Ada pepatah yang mengakatan cinta datang karena terbiasa, mungkin hal yang ini sedang Meira alami.


 


-Sepertinya cuaca menentukan perasaan hati, tapi tak banyak yang sadar bahwa suasan hatilah yang mengatarkan cuaca seperti itu (HR) –