
Selama perjalanan menuju rumah hanya ada keheningan diantara mereka, terlebih Meira hanya menatap jalanan selama ia pulang. Ia tak habis pikir apa yang tadi dilihatnya Reihan merangkul dan mendekap Aleesha.
"Kenapa rasa sakit di dada makin menjadi-jadi, apakah aku sudah bener-benar jatuh cinta sama mas Rei? Monolog Meira dalam hati, jangan sampai aku jatuh terlalu dalam yang nantinya akan membuat tak terhingga.
"Raaa, kita selesiakan salam paham yang terjadi. Please jangan diam aja, aku butuh respon mu" Reihan menghela napas sejenak.
"Hmm" egoku memang tinggi, sampai detik ini engga berbicara banyak.
"Kita bicarakan di kamar, tunggu Mecca tidur dulu" saut Reihan.
"Raaa"
"Hmm"
"Ketus amat jawabnya" sambil menarik pingga Meira hingga duduk dipangkuannya "Turunkan Mas Rei" lagi-lagi posisi Meira tak menguntungkan ia tak bisa bergerak.
"Aku ga akan turunin kamu sebelum dengerin penjelasan aku" cerocos Reihan.
"Sadar ga sih apa yang Mas Rei lakukan tadi siang membuat aku terluka?" tanya Meira sambil menahan agar air mata tak jatuh dipipinya.
"Aku sadar Ra, maka dari itu aku akan menjelaskannya. Maafin aku ya" yang sedari tadi memandang Meira penuh amarah.
"Tadi aku refleks memeluk Aleesha, tak ada maksud apa-apa hanya untuk memberikan selamat bahwa kasus tandernya telah beres dan berhasil digengam oleh perusahan milik Aleesha. Lagian diantara kami tidak pernah terjadi apa-apa, Aleesha hanya akan tetap menjadi sahabatku tak bisa lebih"
"Tapi Mas Rei pernah mencintai Aleesha kan?" masih ada keraguan dalam hati Meira
Reiha menghela napas sejenak "Itu dulu Raa, ketika aku memeluk Aleesha sudah tak ada lgi jantung berdebar seperti dulu"
"Yakin?" ia masih ragu atas apa yang Reihan bicarakan.
"Yakin Raa, karena rasa itu telah tergantikan oleh mu. Setiap didekat mu detak jantungku tak terkendali" Sambil memegang tangan Meira dan mengarahkan ke dada kiri.
"Sudahlah Ra, sekali lagi aku minta maaf ya. I love you Meira"
Meira hanya bisa terdiam mendegar kata-kata I love you, padahal jawaban itu yang selama ia tunggu. Apakah Reihan mencintainya atau tidak, itu yang selalu ada dibenaknya. Tidak ada alasan lagi untuk Meira menyerahkan diri seutuhnya kepada Reihan, karena apa yang Reihan rasakan ia merasakannya juga.
"Kita shalat Isya dulu yuk" pinta Reihan
"Ya Mas" bergegas mengambil air wudhu. Setelah shalat isya, ia ingin bersamalan kepada Reiha tapi ia menolak "Shalat Sunnah 2 rakaat dulu ya Ra" baru setelah itu Reihan menerima salam Meira dan mencium keningnya dengan penuh kehangatan yang membuat jantunya berdebar begitu dahsyat.
"Raa, tau ga kenapa aku tak pernah berani menyentuh mu?" sambil memandang sang istri dengan penuh cinta
"Karena Mas Rei gak cinta sama aku" jawab singkat Meira, entah kenapa kata-kata itu yang ada dipikirannya.
"Bukan itu Ra, aku tak akan menyentumu tanpa ada izin dari mu. Aku tak ingin melibatkan mu lebih jauh lagi kehidupanku. Raa, mugkin aku bukan lelaki baik dan tidak sesuai harapanmu yang dapat membuatmu bahagia, mungkin aku lelaki yang menyebalkan karena telah memaksamu menikah denganku, mungkin aku lelaki yang egois dan keras kepala yang pernah kamu temui..." Reihan menghela napas sejanak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Tapi aku tak pernah ada niatan untuk meminta maaf padamu atas apa yang telah aku lakuka, karena aku sama sekali tak pernah menyesal memaksamu menikah dengan ku. Kamu perempuan baik-baik Ra, aku tak ingin memaksamu melakukan hal itu untuk memenuhi egoku sebagai seorang pria. Setidaknya aku sudah bersabar untuk tidak menyentuhmu meski ini berat karena aku pria normal"
"Maaf Mas Rei, cukup berbicaranya" tanpa sadar air mata mulai berjatuhan
"Sekali lagi aku minta maaf, aku akan bertindak egois dengan menagih hakku sebagai seorang suami pada istri" Reihan kembali mencium kening Meira.
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira jabaltaha 'alahi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaiakan yang Engkau berikan kepadanya dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau beriakan kepadanya)" Reihan melafalakn do'a tepat dikeningnya dan seketika Meira menangis.
"Menangislah Ra, jika itu membuatmu tenang. Tapi maaf, aku tidak akan menarik ucapanku mengambil hakku sebagai seorang suami kepadamu Ra. Kita niatkan semua untuk beribadah, memberi nafkah batin untukmu dan memberikan dirimu sebagai kewajibanmu. Kamu hanya perlu mengikhlaskan semuanya, menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuk orang yang berhak mendapatkannya yaitu suamimu" ucapan yang Reihan katakan berhasil menenangkan tangisan Meira, tangisan yang terjadi adalah tangisan bahagia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata hanya hati yang bisa memahaminya.
-Kini meraka telah menyempurnakan pernikahannya, Allah telah menunggu mereka untuk menjemputnya sesuai dengan Allah yang ridho-