
Meira sedang menikmati hari-hari sebagai seorang ibu, mulai dari memandikan sampai memberikan ASI secara full untuk putranya yang diberi nama Muhammad Al-khawarizmi Ismail. Ia masih tak menyangkan bahwa ia dianugerahkan oleh Allah yang tak semua perempuan bisa merasakannya dari mengandung dan melahirkan. Ia bersyukur diberikan seorang suami yang siap membantu kapan saja, ia memiliki tongkat untuk berdiri dengan tegak dan siap menghadapi tantangan yang akan datang. Tak peduli dunia ini menjahuinya asal Reihan selalu berada disampingnya dan ia tak mengingikan hal yang lain.
Semenjak kelahiran adiknya, Mecca sangat bahagia dan enggan bersikap manja seperti dulu. Hidup Mecca terasa lengkap dengan kehadiran sang adik yang begitu tampan, wajahnya seperti Meira tapi sorot mata tajamnya seperti Reihan.
“Ma, adik sangat tampan ya” suat Mecca pada sang mama.
“Ya Mba Mecca, Mba juga cantik jadi adik juga tampan karena dia laki-laki sayang” jawabku sambil mengelus rambut Mecca.
“Adik mirip baget sama Mama ya”
“Mba Mecca mirip Papa, adik mirip Mama. Kalian berdua adalah anak Mama, Mama akan selalu ada untuk kalian”
“I love you mom, you’re great mom for us” Ucap Mecca Tulus pada ibu sambungnya itu.
“Thank you Mba Mecca and I love you more” balasku pada putri sulungku.
Meira sangat bersyukur atas harta yang paling berharga dalam hidupnya, keluarga adalah harta tak ternilai yang tak bisa diganti dengan apapun. Mecca bukan hanya sekedar putri sambung baginya, ia teramat menyayangi putri cantiknya itu. Tak ada kasih sayang yang berbeda diantara kedua anaknya, semua sama mendapatkan kasih sayangnya. Jika ia Flashback ke awal pertemuan dengan Mecca membawa takdir yang tak terduga, sampai kecelakaan yaang dialaminya menuntuku menjadikan sebagai ibunya. Ibarat kata inilah sengsara membawa nikmat, bagaimana tidak ia mengalami kepanikan atas kecelakaan Mecca tapi disatu sisi Allah mempertemukan dengan jodohnya meski awalnya merasa tak senang bahkan ingin marah dengan takdir yang ada. Tapi ia harus menyikapi dengan dewasa, berdamai dengan takdir Allah pada akhirnya itulah yang terbaik baginya. Dalam setiap kejadian akan selalu ada hikmah dibalik semua itu, Allah akan memberikan yang sesuai kita butuhkan melainkan bukan sesuatu yang kita inginkan.
Meira dan Reihan sangat bahagia, kini keluarga mereka telah lengkap. Ada anak yang harus mereka jaga, rawat, dan didik sesuai dengan ajaran Islam. Agar kelak menjadi anak yang berguna dan menyejukkan untuk kedua orang tuanya.
“So you have said if for so many time” balasku.
“So are you bored of hearning it?” tanya Reihan.
“I never get bored of hearning it” balasku lagi.
“And I won’t be tired of saying it again and over again” mereka berpelukan dengan penuh cinta yang tak akan pudar karena Allah SWT.
Reihan mencintai wanita yang ada dihadapannya kemarin, kini dan nanti. Untuk membangun cinta tidak cukup sehari, seminggu, sebulan atau setahun. Maka dari itu ia membutukan Meira untuk membangun cinta sepanjang hidupnya dan ia berharap akan kembali bersatu di jannahNya.
“I love you Meira Sabrina Alexssander”
“I love you too Reihan Ismail”
-Menikah dengan orang yang kita cintai adalah sesuatu hal yang menyenangkan dan bahagia, tapi mencintai dengan orang yang telah menikah dengan kita disitulah letaknya iman (HR)-