Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
33



Setelah sadar dari koma yang membuat semua orang khawatir, kini sudah hampir 1 bulan menjalani terapi. Walau memang belum ada kemajuan bukan berarti tidak ada harapan untuk kembali berjalan, terkadang ujian yang Allah berikan sesuai dengan kadar keimanan hambaNya. Sabar memang tak ada batasnya, tapi Meira bukanlah manusia munafik ia hanya manusia biasa yang terkadang membuatnya lelah.


“Ya Allah ampuni segala dosaku, orangtuaku, suamiku dan anak-anakku. Aku hanya manusia biasa, yang memiliki rasa lelah dengan semua yang aku hadapi sekarang dan berikan aku keikhlasan dan kekuatan untuk nemerima segala takdirMu” batin Meira


Reihan tak pernah absen untuk menemani Meira terapi, sesibuk apapun kalau udah urusan Meira pasti akan ia tinggalkan kegiatan yang lain. Setelah terapi kondisi Meira tak secerah terapi sebelumnya dan tak banyak berbicara


“Kenapa Ra?” tanya Reihan


“Hmmm”


“Jawab Raaaaaa” Reihan mulai geram.


“Aku lelah dengan semua ini, lebih baik akhiri terapinya”


“Kamu menyerah Ra?”


“Iya, lebih baik aku pergi dan Mas bisa cari istri yang sempurna”


“Omonganmu ngelantur baget Ra. Kita pulang aja” gumam Reihan sambil mendorong kursi roda.


“Maaf aku Mas, bukan aku egois. Tapi aku sudah menyusahkan mu dan tak bisa melaksanakanku kewajibanku sebagai ibu dan istri” batin Meira.


“Ucapanmu membuatku terluka Ra, dengan mudahnya kamu ingin pergi. Egoismu memang tinggi ya Ra, sudah tak ada arti aku dimatamu? Aku tak butuh pendamping yang sempurna, hanya ingin pendamping yang terbaik. Allah telah mengirimkanmu yang terbaik untukku, maaf jika aku terlalu mencintaimu istriku” batin Reihan


..................


Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah jika kita tak bisa berbuat apa-apa untuk orang lain, terlebih lagi untuk keluarga kecil. Meira bukan berputus asa, hanya saja ia lelah dan semangat memang harus dipupuk. Ia rasa terapi yang telah dilakukan tak ada perkembangan yang berarti, tentu ia paham betul bahwa proses itu tidak mudah. Reihan sengaja memindahkan kamar mereka menjadi dibawah, agar tidak menyulitkan Meira untuk menaiki tangga.


“Mau kemana Ra?” tanya Reihan


“Kamar mandi” jawab Meira


“Mas bantu ya”


“Ga usah Mas, biarkan aku terbiasa menggerakan kakiku” Meira bangkit dari kursi roda dan mencoba berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Reihan hanya bisa memgawasi dari jauh jika nanti Meira membutuhkan bantuan. Belum juga sampai, Meira sudah terjatuh.


“Sini Ra, Mas bantu” Reihan mengulurkan tangannya.


“Ga usah Massssss” tolak Meira, ia mencoba berdiri dan berhasil.


Suatu kemajuan yang lumayan, ia bisa sampai ke kamar mandi tanpa bantuan Reihan. Tapi tak lama kemudian ia malah tergelincir pada akhirnya jatuh dan jidatnya terbentur ke water bath sehingga membuat Reihan terkejut


“Braaak” mendegar suara tersebut Reihan segara bergegas ke kamar mandi.


“Astagfirullah Ra, bangun sayang” Reihan menggendong tubuh istrinya dan darah bercucuran di jidat Meira.


“Bagun Raaaaaa” teriak Reihan dengan raut wajah cemas.


“Jangan bikin Mas khawatir dong, bangun Raaaaa please bangun dong” Reihan segera membersihkan luka yang ada dijidatnya, tapi Meira belum sadar juga. Reihan sudah mencoba membangunkan dengan segala cara, tapi mata istrinya tetap engga membuka mata. Sudah hampir 2 jam sejak kejadian tadi akhirnya Meira sadar.


..................


Sudah hampir 6 bulan Meira menjalani terapi, walau belum bisa berjalan seperti semulu tapi sudah mengelami kemajuan yang pesat. Meira bersyukur karena memiliki keluarga yang begitu menyayanginya, kalau bukan karena keluarga ia tak akan bisa sekuat sekarang. Tak ada lagi kata menyerah dalam kamus hidupnya, tongkat utama yang membuat ia dapat berdiri tegak lagi ialah Reihan. Tak peduli dunia akan menjauhinya seperti apa, yang terpenting Reihan selalu ada disampingnya.


Ketika kita lelah itu adalah hal yang wajar, tapi jika kita menyerah itu adalah kebodohan dalam hidup. Entahlah kata-kat itu memang tepat untuk menghadapi segala rintangan dalam hidup dan Meira sadar akan itu. Terlampau dangkal jika ia berpikir masalahnya jauh lebih menyedihkan dibanding orang lain, padahal ia sendiri yang dangkal dalam bersyukur kepada Allah SWT. Reihan menjadi orang yang selalu mengingatkan ia untuk bersyukur dengan segala kondisi yang ada, disetiap musibah akan selalu ada rencana indah dari Sang Maha Kuasa. Apa guna kita memiliki pasangan namun tidak saling menompang satu sama lain dalam menghadapi hidup, kira-kira itulah yang selalu Reihan ingat. Celotehan si kecil Rizmi selalu menjadi tawa bagi keluarga kecil mereka.


“Mamammmm ma” gumam Rizmi.


“Rizmi sayang, lapar ya nak” balas Meira


“Iya Ma, lapey” jawab Rizmi.


“Kasian anak Mama laper, bentar ya sayang” ucap Meira sambil mengelur kepala putranya


“Sini nak, Mama udah bawa makanannya”


“Izmi maunya Mama cuapin ya” sambil membuka mulutnya.


“Mba, gimana hasil rapotnya?” tanya Meira.


“Alhamdulillah Ma, bagus tak ada yang jelek” sambil menyodorkan rapot kepada Meira.


“MasyaAllah, anak Mama emang pinter. Nilainya pada bagus semua” Meira memberikan putrinya pujian


“Ya bener Ma, Mba Mecca pinter. Padahal dulu Papa biasa aja ga sepintar Mba” cela Reihan.


“Mba mau hadiah apa dari Mama?” tanya Meira.


“Mama sembuh saja udah cukup buat aku” jawab Mecca. Mendengar jawaban Mecca membuat Meira terharu, ia sungguh tak menyangka bahawa putri sambungnya begitu mencintai dirinya.


“Kalau Mama sembuh kita jalan-jalan ke luar negeri” ucap Reihan.


“Serius ya Pa, jangan bohong” gumam Mecca.


“Papa Serius, Mba Mecca bisa pilih mau pergi ke negara mana saja” balas Reihan.


“Ke Turki, Jerman, Inggris, Perancis. Tapi aku pengen umroh bersama Pa”


“Boleh Mba, boleh baget dan Papa setuju kalau kita pergi umroh” jawab Reihan


Mendengar permintaa Mecca yang ini pergi umroh bersama membuat Meira tambah bersemangat menjalani terapi. Ia ingin segara pulih dan dapat berjalan kembali seperti dulu dan ia juga ingin kembali memberikan pelayanan kesehatan secara gratis. Semenjak ia menjadi dokter memang memfokuskan diri untuk memberikan pengobatan gratis bagi masyarajat yang kurang mampu dan untuk fasilitas memang sudah Reihan berikan dengan membuat klinik yang memiliki fasilitas terbaik.


..................


 


Sudah hampir mau setahun Meira menjalankan terapi, suatu proses yang cukup lama tapi Allah yang Maha Baik telah memberikan kesembuhan unutknya. Usaha memang tak akan mengkhianati hasil, hidup selalu berproses untuk selalu belajar setiap detik, menit, jam, hari dan seterus sampai nyawa tak lagi bersarang dalam tubuh setiap insan. Meira hanya bisa berucap syukur kepada Sang Maha Kuasa atas segala kebaikan yang telah dilimpahkan untuknya.


Seperti janji yang telah Reihan buat untuk putrinya, jika sang mama telah sembuh maka akan melaksanakan umroh bersama, tentunya tak lupa membawa sitampan Rizmi. Ia pun tak lupa mengadakan syukuran atas kesembuhan istrinya dengan menyantuni anak yatim dan kaum duafa.


Perjalanan umroh dan pergi ke beberapa negara menghabiskan waktu sekitar 20 hari, Reihan beserta keluarga kecilnya memang sengaja ingin bisa berlibur bersama sebelum Meira kembali untuk melanjutkan kuliah PPSD sesuai yang telah Meira rencanakan sebelumnya dan Reihan tak pernah melarang istrinya untuk berkuliah lagi. PPSD yang akan Meira ambil Sp.A (Spesialis Anak)


 


“Raaa, jadi kuliah lagi ga?” tanya Reihan.


“Jadi Mas, kenapa?” balik tanya Meira.


“Gapapa Ra, hanya memastikan saja dan Mas akan mempersiapkan biayanya” gumam Reihan.


“Ga usah Mas, soal biaya biar nanti pake beasiswa aja” jelas Meira.


“Beasiswa mulu Ra, lupa ya kamu ini istrinya Reihan Ismail seorang CEO yang memiliki beberapa perusahaan” gumam Reihan sambil mencubit pipi istrinya penuh kegemasan.


“Iya Mas hahahaha....gapapa kali pake beasiswa juga” tawa Meira.


“Dasar keras kepala hahahaha...entah terlalu cerdas kamu Ra” ejek Reihan.


“Bukan cerdas Mas, aku hanya diberi kemampuan saja unutk bisa mendapatkan beasiswa” jelas Meira.


“Ngeles aja Ra hahaha...ya gimana baiknya saja, Mas cuman bisa mendukung dan mendo’akan saja”


“Dukungan dan do’a Mas, sangat berharga unutuku”


“Mamaaaa Papaaaaaa” teriak Mecca dan Rizmi.


“Ada apa sayang, kok teriak-teriak gitu sih”


“Ayo jalan-jalan, pengen liat menara effiel di malam hari” ucap Mecca.


“Lets go, sekalian cari wafel dan ice cream” balas Reihan .


Suasana malam yang menyenangkan diikuti dengan cuaca yang cerah serta indahnya langit akibat cahaya bulan dan bintang serta hembusan angin yang sejuk menambah kehangatan dan keindah kota Paris tersebut. Datang ke kota Paris tentu bukan untuk pertama kali bagi Reihan dan Meira, hanya saja suasana sekarang berbeda. Kala libur kuliah Meira pernah kesini, nampaknya memang tak ada yang berubah dari kota tersebut hanya saja tambah istimewa baginya.