
Masa koaspun dimulai kembali , ia harus berangkat lebih awal sekitar jam 05.30 diman sebelum berangkat ia harus menyiapkan keperluan suami dan anaknya.
“Mas Rei, bisa antar aku sekarang tidak? Kalau tidak aku diantar supir saja” kebetulan rumah sakit yang menjadi tempat koas tak begitu jauh dari rumah hanya membutuhkan 15 menit saja
“Ehh jangan Ra, biar aku antar saja. Sudah kubilang panggil aku “Mas” jangan ada Rei nya Ra” pinta Reihan
“Baik Mas, ayo kita berangkat” sambil menarik tangan suaminya
“Oke Ra, sehabis itu aku kembali lagi ke rumah dan bersiap-siap untuk ke kantor”
“Keperluan Mas dan Mecca sudah aku siapkan, untuk sarapan juga sudah aku masakan” jelas Meira.
“Okey, makasih Ra” balas Reihan
“Tak usah seperti itu Mas, itu sudah menjadi tugasku”
Selama perjalanan menuju rumah sakit tak henti-hentinya Reihan memandangi wajah istrinya itu, setelah menyempurnaka pernikahan mereka. Kini Meira telah menjadi wanita seutuhnya milik Reihan, meski masih ada beberapa krikil yang masih menghadang mereka tapi semua itu akan semakin memperkuat cinta mereka.
Sebenarnya dalam lubuk hati Reihan ia tak ingin Meira sibuk dengan tugasnya sebagai dokter muda. Mungkin aku egois, tapi aku tak ingin menghentikan cita-citanya yang sudah ia impikan sejak kecil, lebih baik aku selalu memberikan semangat. Reihan memang tak pernah melarang istrinya untuk berpendidikan tinggi bahkan ia menyuruh untuk berpendidikan tinggi karena potensi kecerdasan ia akan menurun pada sang anak kelak dan mungkin Reiha akan mengerahkan istrinya menjadi dosen saja.
“Mas terimakasih sudah mengantarku, Assalamualaikum” pamit Meira sambil menenteng jas putih yang belum sempat dipakainya.
“Tunggu sebentar Ra, Semangat koasnya semoga lancar. Pulang jam berapa? Nanti aku jemput ya”
“Ga usah dijemput Mas, nanti aku pulang sendiri aja” saut Meira sambil tersenyum.
“Aku ga suka penolakan Ra, jangan keras kepala deh” sikap tegasnya memang tak pernah luntur.
“Ya Mas, nanti aku kabari ya”
“Assalamualaikum” pamit Meira sekali lagi
“Waalaikumsalam” Reihan memberikan kecupan dikening istrinya itu. Meira merasa mendapatkan suntikan semangat dari suami dan anaknya.
Hari ini dr. Richad membagi para koas menjadi 5 kelompok yang masing-masing kelompoknya terdiri dari 5 orang. Meira satu kelompok dengan Olivia, Ayla, Zidan, Rendra dan termasuk ia sendiri, sedangkan Ayla, Zidan dan Rendra adalah kaka kelas mereka sehingga tidak pernah berinteraksi sama sekali semoga saja bisa bekerja sama dengan baik.
..................
Tiba-tiba siang ini Reihan ingin mengajak Meira makan siang dan sekaligus nemenui sahabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit harapan bangsa dan kebetulan Meira koas ditempat itu. Reihan menelpon sahabatnya itu “Assalamualaikum Irfan, masih di rumah sakit ga? Tanya pada sahabatnya.
“Waalaikumsalam Rei, ya nihh gue masih di rumah sakit” jawab Irfan.
“Ya udah deh gue kesana ya Fan”
“Okey, gue tungga ya Rei” Irfan adalah sahabat Reihan semasa mereka kuliah di fakultas hukum, watak Irfan bertolak belakang dengan Reihan tapi mereka tak bisa dipisahkan sudah seperti saudara.
“Waalaikumsalam Rei, akhirnya lu datang juga hahaha” tawa renyah Ifan
“Ya pasti gue datenglah, lagian keluarga lu di Bandung ga akan ada yang ngurus lu disini"
“Emang deh lu paling paham gue. Rei kenapa lu ga bilang-bilang udah nikah lagi?” sambil mengangkat kedua alisnya.
“Lah lu tau dari mana Fan?” tanya Reihan dengan penuh keheranan.
“Udah dehh cerita aja, kagak usah banyak alesan. Tega bener gue kagak diundang, sahabat macem apa si lu” Irfan memang cerewet dan blak-blakan sudah tak usah heran lagi
“Ya deh gue ceritain, jadi gini ceritanya......” tentu saja Reihan tak menjelaskan alesan menikah Meira karena Mecca.
“Oh jadi istri muda lu dokter muda yang lagi koas di sini?” tanya sahabanya dengan muka yang tidak percaya.
“Ihh kalau ngomong dijaga Fan, istri muda segala seolah-olah gue punya istri lebih dari satu aja” dengan nada sebel.
“Ya dehh sorry, tapi kasian juga tuh perempuan mau nikah sama lu yang banyak kurangnya hahaha” candaan Irfan memang tak pernah berubah.
“Dari pada lu, udah kepala 3 masih ada jomblo. Gini nih punya sahabat jomblo, kalau gitu gue mau nemui istri dulu” ledek Reihan sambil pergi meninggalkan kamar sahabatnya itu.
Reihan bergegas menemui Meira yang berada di bagaian radioterapi dan kebetulan ini jam istirahat, tapi ketika ia menghampiri Meira terdapat pandangan yang tak sedap dihadapannya ada seorang dr. muda tapi terlihat jauh lebih tua dari Meira yang memberikan segelas minimuman segar. Hatinya terasa sakit, rasanya ingin memukul pria itu. Reihan coba menahan amarahnya, ia tak ingin membuat kerusuhan di rumah sakit.
“Raa...” Meira terkejut karena kedatangan suaminya “Eeh Mas, lagi ngapain ke sini?”
“ Sini Raa...” pinta Reihan dengan muka yang tak bisa Meira tebak, Reihan terus berjalan sambil menggenggam tangan istrinya itu. Ternyata Reiha membawanya ke balkon rumah sakit, disana hanya ada mereka serta semesta melalui semeliwir angin yang begitu menyejukan.
“Ngapain sih Mas, sampe dibawa kebalkon segala” nada kesal Meira.
“Aku gak suka liat laki-laki tadi Ra” raut wajah cemberut.
“Ohh itu dr. Richad Mas. Beliau dosen ku, jangan salah paham dulu”
“Jadi namanya dr. Richad toh, tapi aku ga suka tatapan dia ke kamu”
“Ciee ada yang cemburu nihh hahaha” Meira tertawa begitu lepas.
“Aku memang cemburu, toh kamu istriku Ra” sorot mata tajam Reihan mengarah kepada Meira, hingga mata mereka saling bertabrakan.
“Tenang Mas, aku tak punya hubungan apa-apa sama dr. Richad. Lagian suruh siapa maksa aku nikah sama kamu, hingga harus disembunyikan sampe sekarang Mas”
“Jadi kamu nyesel nih nikah sama aku Ra?” Sorot mata Reihan semakin tajam.
“Aku akan menyesal jika waktu itu kabur dan gak jadi nikah sama kamu. Pesona duda 1 anak tak buruk juga hahaha” tawa Meira begitu renyah sedangkan Reihan hanya dapat menatap istrinya dengan intens, bagi Meira tatapan itu sudah tak menyeramkan malah menggemaskan.
“Sudahlah kita makan siang saja, aku lapar nih”
“Ya udah, sebelum waktu istirahatku habis Mas”