Destiny (The Wonders Of Allah SWT)

Destiny (The Wonders Of Allah SWT)
After Crash



Pagi ini Reihan sudah sadar tapi kondisi ini berbeda dengan Meira yang malah mengalami koma akibat kecelakaan yang mereka alami. Reihan beserta Sarah dan Holand sepakat membawa Meira ke Surabaya. Saat Reihan sadar yang ia ingatlah istrinya, ia takut kehilangan wanita yang telah memberikan segala kebahagian untuknya


"Raaaa, kamu dimana sayang" teriak Reihan membuat Olivia dan mertunya kaget.


"Alhamdulillah, nak Reihan sudah sadar" ucap Sarah.


"Ma, Meira dimana?" tanya Reihan.


"Meira ada di rungan sebelah" balas Sarah pada mantunya itu


"Antar Reihan kesana ya ma" ucap Reihan


Olivia, Sarah dan Holand membawa Reihan ke ruangan Meira. Mereka sengaja tidak memberi tau kondisi Meira sekarang, biar nanti saja mereka jelaskan jika sudah melihat semuanya


"Ra, bangun Raaaa" ucap Reihan sambil memegang tangan istrinya


"Maaf Reihan, akibat benturan yang hebat dikepalanya Meira mengalami koma" gumam Olivia pada Reihan.


"Jangan bohong Liv, ga mungkin. Dia bakalan sadarkan?" Reihan tak percaya apa yang telah menimpa istrinya


"Pasrahakan semuanya pada Allah nak Reihan, kita berusaha dan berdo'a saja" jawab wanita paruh baya yang berusaha menenangkan menantunya tersebut.


"Kita akan memindahkan Meira ke tempat ayah bekerja. Kita berangkat sekarang" ucap dr. Holand pada menantu dan istrinya


..................


 


Mereka semua telah bergegas untuk pulang, Reihan menaiki mobil ambulan yang membawa Meira sedangkan mertunya membawa mobil pribadi. Reihan hanya bisa melamun dengan ekspresi wajah yang dingin seperti kutub utara "Andai saja sebelum kejadian aku bisa mengindari dari kecelakaan tersebut, mungkin semua tidak akan terjadi" batin Reihan


 


"Ra, maafin Mas ya. Udah bikin kamu kaya gini. Apa yang harus Mas katakan sama anak-anak Ra" monolog Reihan


Tak lama ia mengambil iphone dalam saku celananya dan menelpon mama untuk melihat kondisi anak-anaknya "Assalamualaiku ma, Mecca sama Rizmi mana?" tanya Reihan pada Afifa


 


"Waalaikumsalam nak, kamu tak apa-apa?" tanya balik Afifa pada putra sulungnya


"Ihh mama malah balik tanya, Alhamdulillah Reihan tak apa-apa ma tapi Meira koma ma. Mana anak-anakku ma"


"Alhamdulillah. Rizmi lagi makan disuapin mbo yu, Mecca ada baru pulang sekolah"


"Aku ingin bicara dengan Mecca ma, tolong berikan hp nya"


"Mba Mecca sini, papa mau bicara" ucap sang nenek pada cucunya sambil memberikan hpnya


"Assalamualaikum Pa, gimana kabar Papa Mama?" tanya Mecca


"Waalaikumsalam Mba, Papa sehat kok Mama juga" balas Reihan yang terpaksa harus berbohong untuk saat ini mengenai kondisi Meira


"Papa mama cepat pulang ya, Mecca sama Rizmi sudah kangen" gumam Mecca


"Iya nak, ini papa sama mama lagi dijalan kok" ucap Reihan


"Hati-hati ya pa ma, I love you mom and dad"


"I love you too" ucap Reihan pada putrinya dan Mecca mengembalikan hp tersebut pada nenek tercinta.


"Hati-hati le, nanti kabari mama kalau sudah sampai. Assalamualaikum"


"Iya Ma, Waalaikumsalam"


..................


Tak perlu waktu lama, mereka sudah sampai di Rumah Sakit Harapan Bangsa. Meira segara dibawa menuju ruangan yang telah disiapakan untuknya. Maklum saja ya guys, Meira putri bungsu kepala rumah sakit tersebut sekaligus putri CEO dari keluarga Alexssander. Dapat kalian bayangkanlah fasilitas seperti apa yang Meira dapatkan, Holand adalah anak tertua dari keluarga Alexssander yang menguasi pasar bisnis se Asia bahkan mereka melebarkan bisnisnya ke Eropa.


Reihan tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa berdo'a agar istrinya segera sadar. Cukup sekali saja ia merasakan kehilangan, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu cinta terhadap ibu yang telah melahirkan putrinya tersebut. Apa lagi sekarang ia sangat mencintai Meira, tak akan sanggup jika kehilangan perempuan tersebut dan lebih baik ia yang pergi. Tiba-tiba Reihan kaget ada suara khas yang memanggilnya, siapalagi kalau putri dan putra kesayangannya


 


"Anak-anak Papa, sini" Reihan memeluk mereka secara bersamaan


"Mama mana pa?" tanya Mecca


"Mama ada di dalam sayang, kalian dateng sama siapa?" tanya Reihan


"Sama nenek pa diantar supir kok, kakek ga bisa kesini karena ada rapat penting" gumam Mecca


"Ya udah kita masuk yuk" Reihan membawa anak-anaknya masuk ke ruangan rawat inap Meira


Ruang rawat inap yang Meira tempati seperti ruangan khusus keluarga Alexssander, terdapat 2 kamar khusus untuk beristirahat bagi siapa aja yang menjenguk serta dilengkapi ruang tamu yang megah dengan gaya interior klasik. Siapapun yang melihatnya akan takjub, seperti kamar pribadi tak ada bau khas rumah sakit.


"Pa kenapa mama gak bangun-bangun?" tanya Mecca


"Mama sedang istirahat sayang dan tak bisa ditentukan kapan akan bangun" jawab Reihan


"Mecca ga mau kehilangan Mama Pa" gumam Mecca, sedangkan sikecil Rizmi hanya bisa terdiam melihat mama nya seperti itu


"Huss ah, ga boleh bicara seperti itu Mba. Istigfar Mba, ucapan adalah do'a"


"Iya Pa, maafin aku. Hanya aku takut kehilangan mama" Mecca memeluk papanya


"Bukan kamu saja yang takut kehilangan mama nak, apalagi papa tak bisa dijelaskan dengan kata-kata" batin Reihan


Tak lama kemudian orang tua Reihan dan Meira datang serta di ikuti kedatangan Mas Dewa dan Mas Devan, mereka berdua adalah kakak Meira. Mas Dewa adalah cucu laki-laki tetua dalam keluarga Alexssander. Kedua kakaknya hanya bisa pasrah melihat sibungsu yang tengah berbaring di rumah sakit, kemudian dr. Holand berbicara dengan istrinya


 


"Ma, sepertinya kasus ini harus ayah bereskan deh"


"Tak usah lah yah, mungkin supir truknya sudah meninggal" gumam Sarah pada suaminya


"Iya kalau udah meninggal, kalau masih hidup gimana coba ma"


"Sudah pa ikhlaskan saja, yang terpenting Meira harus segera sadar"


"Ga bisa gitu Ma, dia belum tau berusuan dengan siapa. Inget Ma, dia menyebabkan putri kita seperti ini" tegas dr. Holand


"Terserah Ayah saja" Sarah hanya bisa pasrah dengan keinginan suaminya


"Inget ma, kita ini keluarga Alexssander. Ketika ada yang membahayakan salah satu anggota keluarga, kita akan betindak tegas"


"Mah, yah jangan berdebat dong" ucap Reihan


"Biarin aja Rei, mereka memang sering berdebat seperti itu kalau urusan Meira" gumam Devan anak kedua dr. Holand


Tiba-tiba ponsel Reihan bunyi, ternyata ada telpon dari kantor. Usaha Reihan semakin berkembang, tak hanya properti tapi merambah ke dunia kuliner dan wisata. Reihan memang pandai mengelola bisnis, ia belajar dari papanya. Yang lebih membanggakan lagi ia sukses tanpa bantuan orang tua, ia berusaha membangun usaha ini semenjak lulus kuliah


 


"Assalamualikum Mas Rei" gumam Bayu yang tak lain adalah adiknya Reihan


"Waalaikumsalam Bay, ada apa?" tanya Reihan


"Posisi Mas Rei, dimana?" tanya balik Bayu


"Di rumah sakit Bay" jawab Reihan


"Ada beberapa berkas penting yang harus ditandatangan oleh direktur utama perusahaan Mas" gumam Bayu


"Ya sudah bawa ke sini, sekalian jengukin Mbamu Bay"


"Okey Mas, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"