Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Bunga Kelopak Panjang



Yi Ze selesai mengobati tabib kerajaan yang terluka parah, dia meyakinkan Pangeran Kedua Xiao Yuchen kalau tabib kerajaan baik-baik saja. Kini tabib itu masih beristirahat, Yi Ze sibuk memasak sesuatu untuk mengisi perut para tamunya. Tanpa menyadari siapa sebenarnya tamu-tamu itu.


Pangeran Kedua menatapnya tiada henti, wajah Yi Ze terlihat tidak asing di kepalanya. Kemampuan memasak Yi Ze tidak berbeda seperti 11 tahun lalu. Saat mereka bertemu secara tidak sengaja di Hutan Shahuang.


Cara Yi Ze menumbuk rempah-rempah sama persis seperti wanita yang dia lihat waktu itu. Pangeran Kedua mendekat.


"Apa aku perlu melakukan sesuatu?" tanya Pangeran kepada Yi Ze.


Yi Ze hanya menatapnya sejenak, kemudian menggeleng, "Kau hanya bisa merepotkan saja."


Meski dikatai seperti itu, Pangeran Kedua tidak menyerah. Dia berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa dia lakukan untuk mencuri perhatian gadis ini.


"Omong-omong, siapa namamu?" Pangeran Kedua bertanya lagi.


Yi Ze tidak menoleh, tidak pula menjawab.


"Jika kebetulan kita bertemu lagi, aku bisa mengundangmu ke rumahku. Akan kubuatkan jamuan besar sebagai hadiah ucapan terima kasih karena kau telah menolong kami hari ini." Pangeran Kedua tetap berusaha.


"Apakah namaku memang sepenting itu?" Yi Ze menghentikan aktivitasnya. Menatap Pangeran Kedua malas.


Sementara Pangeran Kedua terkesiap, matanya menatap bola mata Yi Ze begitu dalam. Kalimat itu persis seperti yang pernah dia dengar 11 tahun lalu. Bahkan tatapan mata Yi Ze saat ini sama seperti tatapan mata yang dia lihat di waktu yang sama.


"Lagi pula aku tidak pernah mengharapkan imbalan setiap kali menolong seseorang." Yi Ze melanjutkan kalimatnya.


Suara batuk tabib mengalihkan perhatian mereka berdua. Yi Ze segera menuangkan air herba hangat ke dalam gelas. Pangeran Kedua membantunya untuk duduk.


Mata tabib kerajaan mengerjap, melihat pangerannya duduk dihadapannya dengan raut khawatir. Dia berkata pelan, "Pangeran Kedua ... "


Yi Ze menatapnya terkejut.


⚔️⚔️⚔️


Beberapa saat setelah tabib sadar, Yi Ze mengajak para tamunya untuk sarapan. Meski masih tidak percaya kalau dua orang ini adalah utusan Raja untuk mencari obat penawar Putra Mahkota. Dan pemuda tampan itu adalah Pangeran Kedua? Yi Ze tidak memercayainya.


"Apa kau tinggal di sini, Nak?" tabib itu bertanya sopan pada Yi Ze.


Yi Ze balas mengangguk sopan, "Aku tinggal bersama pamanku di gubuk tua ini."


"Ke mana pamanmu pergi? Kami mungkin perlu bertanya beberapa hal padanya." Pangeran Kedua menambahkan.


Yi Ze menggeleng, "Aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi, dia selalu pergi setiap malam bulan purnama, untuk bermeditasi di tempat sunyi. Dia akan pulang sebentar lagi. Jika tidak pulang setelah jam sepuluh berlalu, itu artinya lokasinya lebih jauh dari bulan kemarin," Yi Ze menjelaskan.


Pangeran Kedua mengangguk-angguk, "Itu artinya lokasinya selalu berbeda setiap bulannya?"


Yi Ze tidak menjawab, matanya tertuju fokus ke wajah Pangeran Kedua. Lantas dengan suara kecil dia bertanya, "Tapi ... Apa kau benar-benar Pangeran Kedua, Xiao Yuchen?"


Pangeran Kedua tertawa pelan. Dalam hatinya, "Akhirnya wanita ini memiliki rasa takut ketika berhadapan denganku. Kau ingat, kan? Pemburu tidak pernah melepas buruannya."


"Aku adalah Xiao Yuchen , Pangeran Kedua Beizhou . Adik tersayang Putra Mahkota Xiao Yuan, dan Kakak tercinta Tuan Putri Ketiga Xiao Lanhua. Apakah kurang lengkap?" Pangeran Kedua melipat kedua lengannya di depan dada, tersenyum lebar.


Yi Ze menggaruk alis kanannya, nyengir kuda. Kemudian menyadari kesalahannya, "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak menyadarinya," dia berlutut di depan Pangeran Kedua.


"Bangunlah. Kau merusak selera makanku," dengan santai Pangeran Kedua menyuap nasinya.


Yi Ze meliriknya kesal, dia baru tahu rasanya diabaikan memang sangat menyebalkan.


"Yi'er! Kemarilah! Kau harus membantuku mengangkut semua kayu ini!" terdengar seruan dari jauh.


Yi Ze bergegas pergi sambil berseru, "Paman Yuhang sudah pulang!"


"Kudengar Master Yuhang tidak memiliki keluarga. Bagaimana gadis menyebalkan itu ... tunggu, dia murid tunggal Master Yuhang yang terkenal itu?" Pangeran Kedua menghentikan makannya dan melongok keluar.


Sekitar lima menit, Yi Ze berjalan bersisian dengan Yuhang sambil menggendong banyak sekali kayu bakar. Di depan rumah, tabib kerajaan dan Pangeran Kedua berdiri menyambut Yuhang.


"Lihat, Paman. Siapa yang bertamu ke rumah kita." Yi Ze menatap Yuhang.


Tapi sepertinya Yuhang lebih terkejut dari yang Yi Ze bayangkan. Yuhang sampai menjatuhkan kayu yang dia bawa, tubuhnya seperti membeku, matanya tak berkedip menatap kedua tamunya.


Anehnya, tatapan yang sama juga dapat dilihat jelas dari wajah tabib kerajaan. Yi Ze menatap heran, sementara Pangeran Kedua sibuk bertanya-tanya, "Dia sungguhan Master Yuhang?"


"Astaga! Teman lama!" tabib itu berlari mendekati Yuhang, jatuh terduduk di depannya. Tangisnya meletus, tubuhnya bergerak memeluk erat Master Yuhang. Sambil terus berseru-seru, "Teman lama! Teman lama! Akhirnya aku bertemu lagi denganmu!"


"Zhang Ping, lepaskan dulu pelukanmu, aku tidak bisa bernapas!" Yuhang terbatuk-batuk, tabib bernama Zhang Ping itu segera melepas pelukannya, "Ayoyo ... Teman Lama, bagaimana kau jadi sekurus ini, astaga, kasihan sekali ...."


Memerlukan waktu bagi Geum-bi untuk memahami apa yang terjadi, dia ikut tersenyum saat pamannya bertemu teman lama yang sepertinya sangat merindukannya.


"Kami sedang dalam perjalanan untuk mencari obat penawar Putra Mahkota. Tapi kakiku cedera di tengah jalan. Aku tidak bisa menemani Pangeran untuk melanjutkan perjalanan ini," ucap Zhang Ping. Wajahnya tampak menyesal, "Untungnya, gadis cantik keponakanmu menyelamatkanku dengan kemampuan mengobatinya yang cukup baik. Aku sampai lupa berterima kasih padanya. Terima kasih, Nak, kau baik sekali." Zhang Ping mengatupkan telapak tangannya di depan.


"Hal biasa," Yi Ze melambaikan tangan tidak peduli.


"Yi'er akan menemanimu mencari tumbuhan itu, Yang Mulia," Yuhang menawarkan bantuan, "Keponakanku ini sudah mengenal wilayah hutan di gunung ini lebih dari sebelas tahun. Dia akan menjagamu sampai tumbuhan itu ditemukan."


Pangeran Kedua mengangguk, "Aku setuju. Kudengar hanya ada satu tanaman saja yang tumbuh di hutan ini setiap tahunnya, di manakah itu?" tanya Pangeran Kedua.


Yuhang mengangguk, "Putra Mahkota beruntung sekali, dia dipastikan bisa sembuh karena tumbuhan itu akan mudah ditemukan di tengah musim dingin seperti sekarang," Yuhang beralih menatap Yi Ze, "Pergilah bersama Pangeran Kedua menuju gua di bagian utara hutan. Jika kau membawanya mendaki tebing air terjun, kalian akan sampai dalam waktu satu hari, mencarinya tidak akan mudah, kau perlu mencari suhu yang lebih dingin dari suhu disekitarnya, di situ kau akan menemukan bunga berukuran sebesar kuku ibu jari dengan kelopak yang panjang, bunga itulah yang harus kau ambil. Semoga kau bisa menemukannya dalam waktu singkat," Yuhang menjelaskan sejelas-jelasnya.


Yi Ze mengangguk, "Sebenarnya aku malas, apalagi kau berani menyebut namaku di depan laki-laki bodoh yang sombong itu," gumamnya pelan.


"Aku bisa mendengarmu, jika orang lain mendengarnya juga, mungkin mereka memintaku untuk memenggal kepalamu, kau mau?" Pangeran Kedua berbisik di telinganya sambil tersenyum jahil.


⚔️⚔️⚔️


Mereka meninggalkan rumah saat matahari tepat berada di atas kepala. Yi Ze berhenti di air terjun untuk mengambil banyak persediaan air minum.


"Ini akan menjadi perjalanan yang sulit. Karena tujuan kita adalah puncak gunung, kita perlu mempersiapkan diri untuk mendatangi badai salju di atas sana untuk mendapatkan bunganya," jelas Yi Ze sebelum Pangeran Kedua bertanya.


Pangeran Kedua mengangguk, mengambil air sebanyak-banyaknya, menyimpannya di dalam tabung panjang. Mereka hanya membawa bekal untuk makan malam, Yi Ze bilang akan mengurus sisanya saat di perjalanan. Kebanyakan barang bawaan bisa menghambat perjalanan mereka.


Yi Ze bersiap hendak memanjat tebing tinggi di samping air terjun, tapi Pangeran Kedua terlihat tidak yakin. Hanya memperhatikan Yi Ze yang sibuk memeriksa batuan mana yang aman dipijak.


"Pangeran, kenapa belum bergerak?" Yi Ze berseru melihat Pangeran hanya memperhatikannya dari dekat air terjun.


"Aku tidak yakin jalur yang kau pilih aman," Pangeran menjawab.


Jawaban polos itu membuat Yi Ze tertawa, "Jalur ini tidak terjal dan curam. Bahkan anak usia lima tahun pasti bisa memanjatnya, yang penting jangan terlalu dekat dengan air terjun, batuannya licin karena basah. Apa kau takut terjatuh?" Yi Ze terkekeh lagi.


Pangeran Kedua mendekat dengan wajah kesal, "Aku hanya khawatir padamu, kau kan wanita, bagaimana jika kau jatuh? Tubuhmu lemah dan aku tidak mungkin menggendongmu sampai ke atas sana."


"Tak perlu banyak bicara, cepat naik atau kau yang akan kugendong!" Yi Ze berseru kesal, bagaimana mungkin Pangeran mengkhawatirkan itu sekarang?


Setelah ikut memanjat, mereka berhenti di salah satu ceruk untuk beristirahat dan mengeluarkan perbekalan. Matahari akan tenggelam, tidak ada bulan dan bintang karena tertutup awan gelap, memaksakan diri memanjat dalam gelap tidak akan menguntungkan. Yi Ze bilang, dari pada membahayakan diri sendiri, lebih baik beristirahat hingga matahari kembali terbit.


Pangeran membuat api unggun, mereka mulai mengisi perut mereka lagi. Suasana hening karena tidak satu pun dari mereka yang mendahului percakapan.


Pedang itu milik Master Yuhang, ada ukiran rumit yang tidak dia mengerti artinya di sarung pedang itu. Yi Ze kembali teringat sapaan hangat Tabib Zhang Ping kepada gurunya.


Tabib itu terduduk di depan Yuhang sambil berseru, "Teman Lama!"


Dalam benaknya, Yi Ze bertanya-tanya siapa sebenarnya Yuhang. Dan kenapa dia bisa berteman begitu dekat dengan tabib dari kerajaan. Yi Ze tiba-tiba teringat Bibi Lai Yi pernah mengatakan kalau Yuhang pernah menjadi orang kepercayaan Raja. Mungkin sejak itulah dia berteman dengan Zhang Ping si Tabib Kerajaan.


"Apa yang kau pikiran, Wanita?" Pangeran yang sedari tadi diam menatap Yi Ze yang tak bergerak dari tempatnya.


"Aku punya nama." Yi Ze menjawab acuh.


"Kau tidak pernah mau menyebut namamu," Pangeran membalasnya.


Yi Ze menatapnya kesal, dia mungkin tidak bisa bersikap sopan di depan seorang Pangeran karena perlakuannya sendiri.


"Apakah kau tetap tidak mau menyebutkan namamu? Apakah harus dirahasiakan?" Pangeran mengulangi pertanyaan yang sama sejak kemarin.


Yi Ze menghela napas, "Kau sudah mendengarnya dari pamanku, kan? Namaku Yi Ze."


Pangeran tersenyum puas, "Tapi kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama."


"Apa lagi?" Yi Ze melirik kesal.


"Apa yang kau pikirkan, Yi Ze?" Pangeran menatapnya lebih baik.


Yi Ze terdiam.


"Ini seperti aku yang tidak pernah menyebutkan namaku padamu, Pangeran," Yi Ze menunduk, "Hanya karena aku tidak pernah bertanya sebelas tahun terakhir, pamanku tidak pernah menyebutkan namanya, dan membiarkanku menyebutnya dengan nama Yuhang."


Pangeran mulai berpikir, "Dia itu ... sebenarnya bukan pamanmu, kan? Yang kutahu Master Yuhang tidak memiliki keluarga sejak terkenal di dunia persilatan."


"Master Yuhang menyelamatkanku sebelas tahun lalu, kemudian aku tinggal bersamanya, menganggapnya pamanku, laku dia menganggapku seperti keponakannya. Dia membagi ilmu bela dirinya denganku. Aku tidak tahu siapa namanya, kudengar nama itu dia dapatkan dari orang-orang dunia persilatan yang menganggapnya master hebat. Aku tidak tahu dari mana asalnya, kenapa dia hanya tinggal di gunung sekian lamanya dan bagaimana masa lalunya," Yi Ze mencurahkan keluh kesahnya, "Aku semakin bingung setelah bertemu kalian. Tabib Zhang Ping terlihat sangat dekat dengan pamanku. Apakah pamanku pernah menjadi seseorang yang penting di istanamu?"


Pangeran terdiam, dia juga memikirkan itu sejak tadi. Jika Yuhang pernah tinggal di istana, Pangeran mungkin tahu dan mengingatnya jika dia mengingat masa kecilnya. Maka Yuhang pun mungkin mengenalnya. Karena pernah tinggal di lingkungan yang sama dengannya.


"Tapi bisa saja mereka teman lama bukan dari istana, kan? Tabib Zhang Ping sebelumnya juga pernah menjadi orang dunia persilatan. Sangat tidak mungkin Master Yuhang yang hebat pernah menjadi orang istana tapi aku tidak mengetahuinya sama sekali. Asal kau tahu, aku yang paling berpengaruh di istanaku." Pangeran menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring, itu sangat sombong dan mengejek!


"Hei, untuk apa kau pikirkan?" Pangeran menyikut lengan Yi Ze, terkekeh kecil, "Kita harus tidur supaya energi kita kembali terkumpul. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya? Badai salju di atas sana tidak mudah dikalahkan dengan tubuh yang lemah," Pangeran mendekat ke api unggun, "Tidurlah lebih dulu, aku yang akan berjaga pertama kali. Aku akan membangunkanmu pukul dua belas malam nanti."


Yi Ze menatapnya dalam, "Kau terdengar seperti orang yang sudah senior berada di gunung."


"Hei, aku juga punya guru bela diri. Dia tinggal di Gunung Judou. Saat mengunjunginya, aku diminta berjaga malam hari saat guruku sedang kultivasi tertutup," Pangeran menyiapkan tempat untuk Yi Ze tidur, "Kau berhentilah bertanya. Tidurlah."


Yi Ze mengangguk, dia tidur dengan cepat karena merasa lelah. Besok paginya, Yi Ze membangunkan Pangeran, matahari belum terbit. Itu memberikan waktu untuk mengisi perut walau hanya sesuap.


Matahari kian menanjak, semakin tinggi semakin tidak tampak, awan gelap kembali muncul, diikuti kesiur angin yang membawa hawa dingin.


Mereka tiba di puncak tepat setelah badai salju pergi. Hawa dingin terasa sampai ke tulang. Air perbekalan mereka membeku, berjalan menuju gua membutuhkan waktu paling cepat empat jam.


Yi Ze berbalik menatap Pangeran. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran. Tapi sebaliknya, Pangeran tampak sangat antusias, tidak menyadari kalau mereka tidak punya makanan tersisa untuk satu hari ke depan.


Yi Ze mengagumi keberanian Pangeran. Meski dirinya sering melalui jalur ini setiap kali mencari tumbuhan herbal, tapi Yuhang selalu melarangnya saat musim dingin tiba. Selain karena badai salju yang bisa datang kapan pun, juga karena medan yang berbahaya bisa lebih berbahaya saat salju turun.


Mereka saling berpegangan tangan sambil meraba batuan terjal yang tertutup salju, meraba jalan mana yang aman dilewati.


Mereka merangkak menuju gua itu, telapak tangan mereka dingin, seperti membeku. Tapi mereka tidak menyerah sampai di situ. Tumbuhan itu lebih penting dari pada nyawa mereka.


"Kita harus segera mencarinya sebelum badai kembali datang, Yi Ze!" Pangeran berseru.


Mereka mulai berpencar, Yi Ze menyebutkan ciri-ciri tumbuhan itu, "Ukurannya sebesar ibu jari dengan kelopak yang panjang, yang perlu dicari adalah bunganya. Bunga berwarna biru yang sedingin salju itulah obatnya. Tapi jika hanya mencabut bunganya, bunga itu akan menjadi racun, bukan obat, harus dari akar tumbuhannya."


Pangeran mengangguk, mencari tumbuhan itu. Terus berkeliling di sekitar gua. Menepi, menengah, menuju ke bawah pohon, menyingkirkan banyak salju, tapi tidak mudah menemukannya.


"Aku menemukannya!" Yi Ze berseru.


⚔️⚔️⚔️


Mereka bergegas turun dari tebing, tanpa istirahat sama sekali, mereka langsung pulang menuju rumah, tak berhenti berjalan satu hari penuh, karena nyawa Putra Mahkota lebih penting dari istirahat beberapa menit.


Tiba di rumah, Yi Ze meminta Pangeran untuk segera pulang dan memberikan obat penawar itu kepada Putra Mahkota.


Tapi Yuhang menggeleng, seperti tahu kekecewaan Yi Ze padanya, Yuhang memintanya untuk menemani Pangeran ke istana. Dan meracik obat itu supaya tidak terjadi kesalahan. Yuhang bilang belum ada tabib istana yang pernah mencari bunga ini sebelumnya. Karena Yi Ze mendapatkan didikan langsung darinya, dan mengetahui banyak obat-obatan, lebih baik Yi Ze sendiri yang meraciknya. Zhang Ping menyetujui saran itu.


"Ikutlah bersama mereka ke istana, Yi Ze. Di sana, kau akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang tak pernah kau tanyakan padaku. Semuanya berhubungan dengan masa lalu yang tak kau ketahui itu," Yuhang menepuk pundak Yi Ze.


Rupanya, Yuhang tidak ingin membohongi Yi Ze terlalu lama. Sudah saatnya Yi Ze mengetahui kebenarannya, tapi dia terlalu takut untuk mengakuinya sendiri. Dia ingin Yi Ze berjuang untuk mengetahui kebenaran yang terkubur itu. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengirim Yi Ze ke istana dan membiarkannya mengetahui semuanya.


Yi Ze memikirkan ucapan itu semalaman. Dia harus memikirkannya, dan memutuskan apakah akan ikut atau tidak, apakah akan menuruti perintah gurunya atau menentangnya.


Selama ini dia selalu menjadi murid teladan, yang mampu diandalkan dan dipercaya. Tapi hal ini berbeda dengan hal yang terjadi sebelumnya.


Tapi setelah memikirkannya cukup lama, Yi Ze jadi mengerti. Hal yang disembunyikan Yuhang berhubungan dengan anak dan istrinya yang dibunuh secara kejam, dan dia akan menemukan jawabannya jika dia datang ke istana. Yi Ze sama sekali tidak mengerti bukan itu tujuan Yuhang yang sebenarnya.


Yi Ze memasuki kamar Yuhang. Berniat untuk mengangguki perintah gurunya. Kakinya berlutut di depan Yuhang yang duduk dengan sebuah kotak kayu yang kuno di tangannya.


"Paman, aku sudah memutuskannya," Yi Ze tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tahu kau tidak akan menentangnya," Yuhang membuka kotak di tangannya. Di dalamnya ada sebuah kalung emas yang sangat indah. Kalung itu seperti saling berkaitan, tapi tidak ada kalung lain di dalam kotak, "Kalung ini, seperti sebuah kotak yang terkunci," Yuhang mengeluarkan kalung itu.


Yi Ze terus memperhatikan tanpa menanyakan apapun. Kalung itu. Dia tidak pernah melihatnya.


"Jika ingin membuka kotak, kau harus menemukan kuncinya," Yuhang menyerahkan kalung itu kepada Yi Ze.


"Di mana aku bisa menemukan kuncinya, Paman? Apakah membuka kotak itu penting? Ada apa di dalamnya jika begitu penting?" Yi Ze memberikan pertanyaan beruntun.


"Tinggallah di istana, muridku. Setelah memahami apa yang mereka sembunyikan, kunci itu akan datang dengan sendirinya kepadamu. Sudah saatnya kamu mengetahui semua rahasia di masa lalu. Masa lalu yang menjelaskan bahwa aku dan kamu pernah saling berkaitan. Jika kamu bertanya, istana itulah jawabannya," Yuhang menepuk pundak Yi Ze.


"Tinggal di istana?"


Yuhang tersenyum, "Jika Yang Mulia Raja menawarkan tael emas sebagai imbalan karena telah menyelamatkan nyawa putranya, tolaklah imbalan itu dengan lembut, lalu mintalah jabatan tertinggi di militer sebagai gantinya."


Yi Ze menatap Yuhang yang terdengar sangat yakin dengan ucapannya, "Lalu bagaimana dengan Paman? Aku tidak bisa meninggalkan Paman sendirian di sini," Yuhang menggeleng, "Jawaban itu tidaklah penting dari pada keselamatan Paman."


Yuhang menggeleng, "Yi'er. Ini adalah perintah terakhirku untukmu. Aku akan kembali hidup seorang diri di gunung ini. Kau berhak menentukan ke mana arah hidupmu menuju masa depan yang cerah. Mengikutiku semasa hidupmu tidak akan menguntungkan sama sekali, Yi'er. Sebaiknya manfaatkan kemampuanmu dengan baik. Mengabdilah pada negaramu."


"Paman, apakah benar hanya untuk mengabdi kepada negara? Bukan demi Xie Yun dan Bibi Liling? Kau memintaku untuk menemukan jawaban, apakah itu tentang keluargamu? Memintaku menjabat di militer negara, apakah itu juga demi keluargamu?" Yi Ze terus menanyakannya pada Yuhang.


Yuhang menggeleng, "Itu demi dirimu sendiri, Yi'er. Paman hanya membantumu mewujudkannya lebih mungkin. Termasuk jawaban yang kumaksud itu. Semuanya untukmu."


⚔️⚔️⚔️


Bersambung