Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Darah Kering



Yi Ze masih berada di air terjun itu hingga larut malam karena tak kunjung mendapat ikan. Dia sudah sangat menggunakan kesabarannya untuk menunggu seekor ikan datang memakan umpan yang dia sediakan.


Wadah yang dibawanya masih kosong. Matanya mulai diserang kantuk, tapi dia tetap duduk di sana menunggu umpannya dimakan ikan.


Yuhang memperhatikannya dari belakang, tatapannya menyiratkan kerinduan mendalam yang kini sudah tumpah ke mana-mana.


"Melihat gelagatmu saja sudah cukup untuk membuatku mengenalimu, Yuehai. Ke mana saja kamu selama ini? Tahukah kamu, jika semua yang kau tahu tentang keluargamu itu palsu." Yuhang bergumam dalam hati.


Setelah bertemu Lai Yi, Yuhang mengetahui semua hal dilalui Yi Ze hingga tiba di rumahnya. Sungguh hidup yang berat bagi seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun.


"Setelah Lin Tao meninggal, istrinya mulai melupakan janji yang dia buat dengan Lin Tao. Bahwa dia tidak akan menelantarkan putri tirinya. Tapi seiring waktu berjalan, Yuehai memang hanya gadis asing yang merepotkan baginya. Tapi gadis itu sangat baik dan pandai menjaga perasaan. Dia mendatangimu karena tidak tahu harus ke mana selagi ibunya menelantarkannya. Dia ingin melangkah melewati adiknya yang cukup berbakat di sebagian bidang. Ajari dia menjadi wanita yang kuat, Jenderal Xie Xuan. Selebihnya, aku menyerahkan semuanya kepadamu."


Permintaan Lai Yi membuatnya ingin merawat Yi Ze seperti putrinya sendiri. Tekad Yi Ze selalu bulat dan kuat. Dia akan menyerap pelajaran lebih cepat dari kebanyakan gadis.


Yuhang berjalan mendekatinya, "Berapa banyak yang sudah kau dapat?"


Yi Ze menggeleng, "Ikannya memang banyak, tapi mereka cerdik sekali, selalu bisa menghindari umpanku."


Yuhang terkekeh, "Maka kau harus mencari cara yang lebih efektif," dia menghunus pedangnya. Menancapkannya ke dalam sungai ke sana-kemari. Pedang itu menusuk lima ekor ikan sekaligus. Yi Ze berdecak kagum, tepuk tangannya terdengar lantang karena suasana mulai senyap.


"Ayo kita makan."


Yi Ze tersenyum senang, sepertinya sikap Yuhang mulai berubah perlahan-lahan. Dia bahkan tidak menyuruh Yi Ze membersihkan rumah atau memasakkan ikannya.


"Duduklah, jangan lakukan apapun sebelum ikannya matang," perintah dari Yuhang diangguki Yi Ze dengan senyuman lebar.


Besoknya, Yi Ze diajak berburu ke hutan, meski hanya bertugas menggendong binatang buruan, Yuhang diam-diam mengajarinya bagaimana cara memanah yang benar. Dia sengaja mengarahkan anak panahnya di depan Yi Ze menghadap ke samping, supaya gadis itu dapat melihat aksinya lebih jelas.


Yuhang juga mengajarinya cara menentukan waktu dengan membaca langit malam dan gerakan matahari. Berbulan-bulan, kegiatan mereka hanya seperti itu-itu saja. Tapi semakin hari, Yi Ze semakin lihai berlari di antara semak-semak, bergerak tanpa suara, melempar batu dengan sasaran yang tepat, berburu banyak binatang, juga mengumpulkan banyak obat-obatan herbal.


Tanpa sadar, dia mulai menguasai teknik dasar berpedang. Yuhang tidak pernah mengajarinya secara langsung, tapi Yi Ze selalu memperhatikan latihan-latihan yang dilakukan Yuhang setiap pagi buta.


Perlahan, dia mulai memiliki pola tersendiri. Dia akan bangun pukul empat, memperhatikan latihan Yuhang diam-diam, menyiapkan sarapan, pergi ke air terjun membawa banyak kendi, lalu pergi ke hutan hingga matahari nyaris tenggelam. Selama itu, dia akan mengulangi gerakan yang dia lihat dari latihan Yuhang tadi pagi. Mengangkat batang kayu, mengayunkannya, dan menebaskannya ke udara. Lantas dia selalu pulang membawa buruan besar.


Seiring pola tersebut, dia mulai bisa berburu dengan tongkat kayu yang dia anggap sebagai pedang. Yuhang tidak pernah mengetahui apa yang Yi Ze lakukan di hutan hingga langit menjingga.


⚔️⚔️⚔️


Tujuh tahun berlalu, Yi Ze menjadi kuat berkat latihan yang dilakukannya sendiri. Kini, dia ingin secara resmi meminta Yuhang untuk menjadi guru bela dirinya.


"Paman, apa kau tidak pernah menikah?"


Bertahun-tahun tinggal bersama, Yi Ze baru menanyakan hal itu. Sesuatu yang selalu Yuhang hindari setiap berbicara dengan siapapun.


Tapi dia tidak berniat menyembunyikannya dari Yi Ze yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Aku sempat menikah. Sekitar tujuh belas tahun lalu. Kami hidup bahagia, memiliki seorang putra. Tapi kebahagiaan itu sirna begitu saja."


Yi Ze terdiam.


"Sekelompok orang membunuh istri dan anakku."


Yi Ze nampak terkejut, "Apakah Paman pernah mencari mereka? Dan membalas dendam?"


Yuhang tersenyum, kini senyuman itu mulai dihiasi keriput. Meski tubuhnya masih sama segarnya seperti tujuh tahun lalu, "Aku mencarinya, dan membalaskan dendamku padanya."


Yi Ze tersenyum puas, "Itu memang harus dilakukan. Orang bilang, mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa pun harus diganti dengan nyawa."


"Menurutmu begitu?" Yuhang bertanya.


Yi Ze mengangguk mantap, "Tentu saja! Siapa yang tidak tahu hukum alam semacam itu?"


"Kau menganggapnya sebagai hukum alam?" Yuhang kembali bertanya.


Kini Yi Ze mulai ragu, "Eh, aku kurang mengerti. Tapi sepertinya begitu," tangannya bergerak menggaruk tengkuk.


Yuhang tertawa, "Itu artinya, jika ternyata ibumu yang membunuh ayahmu, haruskah kau membunuhnya juga, seperti dia membunuh ayahmu?"


Yi Ze terdiam, bingung menjawab bagaimana.


"Jawablah, itu teorimu sendiri."


"Maksudmu, apakah yang membunuh istri dan anakmu adalah orang terdekatmu sendiri?" Yi Ze menyimpulkannya.


Kini Yuhang yang terdiam. Pertanyaan Yi Ze memang benar. Dia hanya bisa tersenyum tanpa menjawab satu kata pun.


"Maafkan aku, Paman. Aku tidak menjaga perasaanmu dengan bertanya hal yang tidak seharusnya kutanyakan." Yi Ze menunduk malu.


Yuhang menepuk pundaknya. "Bukan seperti itu. Hanya saja, orang tak bersalah menjadi korban aksi balas dendamku."


"Mau bertarung denganku?" 


"Eh?" Yi Ze terkejut.


"Aku tahu selama ini kau diam-diam melihat latihanku. Maka seharusnya kau sudah bisa melakukannya bukan? Tidak mungkin kau hanya memerhatikan tanpa mencobanya sama sekali," Yuhang melemparkan pedang kayu ke arahnya.


"Jika kau bisa menjatuhkan pedangku, aku mengangkat kamu menjadi murid tunggalku secara resmi," Yuhang mengangkat pedang kayunya.


Yi Ze tersenyum senang. Bersiap memasang kuda-kuda. Yuhang menyerang lebih dulu, dari sisi kanan, Yi Ze menangkisnya dengan mudah. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat meski harus belajar secara otodidak.


Yi Ze hanya sibuk menahan serangan saja, selama lebih dari tiga puluh menit, Yi Ze belum menyerang dari sisi manapun.


Begitu serangan Yuhang mulai merenggang, Yi Ze memulai serangan yang sesungguhnya. Pertama kali, serangannya luput. Kedua kali, serangannya masih ditangkis. Ketiga kali, Yi Ze berhasil memasuki pertahanan Yuhang. Meski pedangnya belum jatuh, tapi serangan Yi Ze perlahan mulai semakin kuat, berlawanan dengan Yuhang yang semakin lambat, meski masih akurat seperti menit pertama pertarungan.


Yi Ze menangkis lagi. Pukulan pedang Yuhang masih lebih kuat darinya. Tapi gerakan yang tak lagi cepat memberikan celah besar untuknya menyerang habis-habisan.


Lima puluh menit bertarung, satu tendangan kaki berhasil mengalihkan perhatian Yuhang. Lantas segera memukulkan tongkat kayunya ke tongkat kayu milik Yuhang. Tak sampai terlempar. Tapi itu sungguh duel luar biasa. Yi Ze bahkan tidak terjatuh walau sekali. Dia benar-benar berbakat melakukannya.


Akhirnya, pedang kayu itu jatuh terlempar dari tangan Yuhang. Yi Ze tersenyum puas.


Yuhang memberikan tepuk tangan meriah untuk muridnya yang hebat meski dia tidak pernah mengajarinya secara langsung.


"Kau hebat, Yi'er!"


Wajah Yi Ze bersemu merah mendengar pujian dari Sang Guru. Dia berterima kasih tanpa henti selama beberapa kali.


"Duduklah. Aku akan memberikan sesuatu padamu."


Yuhang mengambil pedang miliknya. Kemudian hendak menyerahkannya kepada Yi Ze, "Kau sekarang muridku, Yi'er. Sejak pertama kau datang kepadaku, kau juga sudah menjadi muridku. Bahkan hingga kapanpun, kau akan tetap menjadi muridku."


Yi Ze tersenyum, "Akhirnya! Aku senang sekali, Guru." Yi Ze memegangi pedang barunya. Berat, tapi dia bisa mengendalikannya.


"Panggil aku seperti biasanya saja. Sungguh canggung memiliki panggilan baru dari seseorang yang sudah lama mengenalku," Yuhang tertawa.


"Terima kasih, Paman," Yi Ze tersenyum lebar.


"Pergilah ke desamu, temui keluargamu, mereka pasti merindukan gadis kecil yang pernah mereka usir dahulu kala," Yuhang memerintahkannya kepada Yi Ze.


Yi Ze hendak menolak. Tapi ini perintah pertama dari Master Yuhang setelah menjadi muridnya secara resmi. Yi Ze mengangguk.


"Kembalilah kepada mereka, hidup bersama mereka. Jadilah anak yang selalu berbakti kepada orang tua. Pergilah." Yuhang menepuk pundak Yi Ze.


"Tapi Paman, aku baru saja menjadi muridmu, aku baru satu kali menerima pelajaran langsung darimu." Yi Ze menolak.


Yuhang terkekeh, "Kau tahu alasanku selalu latihan setiap pagi?"


Yi Ze menggeleng.


"Aku sedang melatihmu."


"Melatihku?"


"Aku sudah melatihmu sejak pertama kali kau tinggal di rumah kayu tua ini. Itu artinya, kau sudah menerima pelajaran dariku selama tujuh tahun. Itu sudah cukup, Yi'er. Kau sangat berbakat hingga tak lagi memerlukan seorang Guru." Jelas Yuhang.


Yi Ze tidak berkata apa-apa lagi. Ekspresinya mengatakan kalau dia tidak ingin meninggalkan Yuhang sendirian di hutan ini. Dia sudah tujuh tahun lebih tinggal di rumah kayu tua itu, memancing, berburu, dan memasaknya untuk Yuhang. Apakah Yuhang benar-benar berpikir Yi Ze bisa meninggalkannya sendirian lagi?


"Yi'er, aku sudah puluhan tahun tinggal di sini. Tak perlu mengkhawatirkanku. Kau bisa berkunjung kapanpun, bertarung bersamaku, berburu bersamaku, tapi sekarang pulanglah dahulu." Yuhang terkekeh.


⚔️⚔️⚔️


Setelah tujuh tahun, akhirnya Yi'er pulang ke Shanjiao. Dia berhenti di rumah Lai Yi. Tapi wanita itu tidak ada di rumah, Yi Ze memeriksa kandang kambing. Rupanya mereka hidup dengan baik bahkan tanpa Yi Ze. Yi Ze senang Lai Yi baik-baik saja.


Yi Ze segera berjalan menuju rumahnya. Tapi sebuah keganjilan menghilangkan antusiasnya, digantikan perasaan takut yang mendidih dan sulit dikendalikan.


Bau busuk memenuhi indra penciuman Yi Ze. Kakinya berhenti berjalan, mendadak kaku setelah melihat betapa buruk kondisi rumahnya begitu ditinggalkannya pergi.


Air mata mulai menggenangi pelupuknya, tumpah ruah membasahi pipi. Yi Ze memberanikan diri memeriksa ke dalam.


Debu menumpuk di bagian manapun di rumah itu, beberapa sisi sudah rusak. Atap yang runtuh, perabotan yang berantakan, dan bau yang sangat menyengat.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, Yi Ze melihat genangan darah yang sudah mengering di sebagian tempat. "A-apa ini?"


⚔️⚔️⚔️


_Bersambung_