
Siang ini, Pangeran Kedua keluar dari istana secara diam-diam. Dia berjalan di jalanan sepi, lorong-lorong sempit ini sepi sepanjang hari. Ternyata, ada dua orang berpakaian nelayan yang sedang menunggunya. Dua orang itu menyerahkan sebuah botol kecil, juga gulungan surat.
"Tampaknya dia mengirim kalian ke sini setelah membaca surat dariku." Pangeran bergumam kecil.
Surat itu berisi, "Pukul dua siang nanti, kirim orangmu untuk memberikan racun paling mematikan yang kau miliki. Aku 8ngin menjalankan sebuah misi yang besar. -Yuchen"
⚔️⚔️⚔️
"Tentu saja, tentu saja sangat tahu. Pelaku pengkhianatan itu adalah warga Hai'an. Salah satu orang yang sering datang ke toko obatku. Juga seseorang yang paling mengenalku secara dekat. Sering kali dia menitipkan putrinya pada istriku yang tidak bisa memiliki anak. Tapi, apa yang ingin kau ketahui dari peristiwa tidak menyenangkan ini?"
"Aku, ingin tahu ke mana keluarganya pergi selama ini," Yi Ze melihat sebuah rumah yang terlihat sebagian dindingnya dari ujung jalan di kejauhan sana. Itu adalah rumah yang membuat Putra Mahkota keluar dari istana diam-diam.
"Bukan keluarga. Hanya sepasang ayah dan anak. Tidak bisa dikatakan keluarga. Mereka mengasingkan diri ke tempat terjauh dari istana, saat itu, seharusnya peraturan pemerintah adalah memenggal seluruh anggota keluarga pengkhianat tanpa sisa satu pun. Tapi Raja Wangwei memilih membiarkan sepasang ayah dan anak itu tetap hidup, dengan syarat tidak boleh kembali ke Ibukota Beizhou lagi. Juga tidak boleh kembali ke rumahnya lagi. Mereka diperintahkan meninggalkan Ibukota sejauh mungkin.
"Meski begitu, bertahan hidup setelah dituduh melakukan pengkhianatan tidaklah mudah. Sepasang ayah dan anak itu tentu saja harus menyamar selama hidup agar terhindar dari cemoohan warga sekitarnya," jawab Tuan Song.
"Apa kau tahu mereka tinggal di mana sekarang?"
"Tunggu."
Tuan Song seperti sedang mengingat sesuatu, "Aku rasa sudah ada yang pernah menanyakan hal ini padaku lama sekali."
Yi Ze mengernyit, "Pertanyaanmu ini, sudah pernah ditanyakan oleh orang lain, tapi aku tidak mengingatnya. Siapa, ya?"
Yi Ze diam, membiarkan Tuan Song mencoba mengingatnya lagi.
"Ah! Seorang Jenderal Besar Pasukan Selatan! Jenderal besar Xie Xuan!"
Deg!
Yi Ze seketika teringat gurunya, yang tidak pernah dia ketahui namanya. Yi Ze mulai memikirkan hal yang tidak pernah dipikirkannya selama ini. Dengan suara bergetar, dia bertanya lagi, "Di tahun itu, selain sepasang ayah dan anak ini, apakah ada sepasang ayah dan anak lain yang meninggalkan kota?"
Tuan Song menggeleng mantap, "Tidak ada yang meninggalkan kota selain mereka. Baik itu sepasang kakek nenek, atau sepasang guru dan murid, tidak ada yang meninggalkan kota selama tahun itu. Aku ingat sekali, karena aku selalu mencatat pendatang baru dan orang yang meninggalkan kota setiap tahunnya. Pemerintah kota akan meminta salinannya setiap tahun. Jadi, aku sangat mengingatnya, memang tidak ada."
Suara Yi Ze tercekat. Dia tidak tahu harus bagaimana. Apakah mimpinya itu benar-benar nyata? Ataukah sebuah ingatan yang hilang? Yi Ze tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Ternyata, jawaban yang diminta Yuhang ini sangat berkaitan dengannya, juga berkaitan dengan hal yang membuat ibunya tidak pernah menyayanginya. Yi Ze diam-diam menantikan jawaban ini segera datang.
"Apakah kau masih mengingat, ke mana Jenderal Besar itu pergi?" Yi Ze masih melanjutkan pertanyaannya.
"Nona, dengan uangmu ini, kau hanya bisa mengajukan tiga pertanyaan saja. Jika ingin bertanya lagi, kau harus menambah jumlah uang ini," Tuan Song menolak menjawabnya sebelum Yi Ze mengeluarkan kantong uang lain.
Yi Ze melemparkan sekantong uang lagi.
"Saat itu, Jenderal Besar juga baru saja kehilangan istri dan anaknya. Dia sepertinya yakin kalau pembunuhan Permaisuri tidak berhubungan dengan Xuan Lu sama sekali. Dan bukan pengkhianatan seperti yang dikatakan orang-orang. Melainkan pelaku aslinya berhubungan dengan pembunuh anak dan istrinya. Dia pergi untuk mencari tahu tentang hal itu, tapi tak kunjung kembali hingga saat ini."
Yi Ze berdiri dari duduknya, "Terima kasih."
Lalu meninggalkan toko obat itu tanpa basa-basi lagi.
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze memasuki istana pukul tujuh malam. Beberapa langkah memasuki gerbang istana, Yi Ze dikejutkan dengan banyaknya pelayan yang berlarian ke sana kemari. Beberapa membawa nampan berisi air panas dan selembar kain. Arah mereka berlawanan antara dapur obat dan Shuiquan.
Tunggu.
Apa?!
Shuiquan?
"Ji Xue, apa yang terjadi?"
"Putra Mahkota, Putra Mahkota sakit lagi! Sekarang tubuhnya dingin sekali, menggigil hebat, kami kepayahan mengeluarkan air dingin dan membawa masuk air panas," Ji Xue berbicara tanpa menghentikan langkah sedikitpun.
Yi Ze berlari panik memasuki Shuiquan, kamar Putra Mahkota ramai sekali. Ada Yang Mulia Raja di sana, yang wajahnya sangat cemas menanti putranya terbangun.
Di luar kamar, ada Pangeran dan Tuan Putri Lanhua yang juga khawatir dengan keadaan di dalam.
Begitu menerobos masuk, semua orang di dalam menatap Yi Ze yang terlihat kesulitan bernapas karena berlari. Ada Tabib Zhang Ping dan dua muridnya yang sedang memeriksa, serta membasuh tubuh Putra Mahkota dengan kain yang dicelup air panas.
"Bisakah aku memeriksanya?" Yi Ze bertanya dengan napas putus-putus.
Tabib Zhang Ping menyingkir dari depan ranjang setelah melihat Yang Mulia Raja mengangguk. Kini, semua orang memperhatikan Yi Ze yang sedang memeriksa denyut nadi Putra Mahkota.
Yang dirasakannya saat menyentuh tangan Putra Mahkota adalah dingin yang begitu tajam. Yi Ze mengeluarkan botol obat yang selalu dia bawa ke mana-mana.
"Putra Mahkota terkena penyakit dingin. Ini adalah obat yang sama seperti yang telah menyelamatkan Putra Mahkota hari itu, Yang Mulia. Meski gejalanya berbeda, obat ini mampu mengusir hawa dingin yang bersarang di tubuhnya saat ini, juga mengurangi rasa sakit yang berlebih. Tapi hanya bertahan selama tiga hari. Selama itu, aku akan mencari obat yang bisa membuatnya sembuh total. Bisakah, Yang Mulia berbicara denganku sebentar?" Yi Ze menyerahkan obat itu pada tabib Zhang Ping. Lalu mengikuti langkah Raja keluar dari Shuiquan.
Tiba di Lusenrin, Yang Mulia Raja bertanya tentang ke mana Yi Ze pergi seharian ini, "Apa yang kamu lakukan selama itu di luar istana?"
Yi Ze mengangguk, "Belakangan ini, Yi Ze mengkhawatirkan guru Yi Ze yang tinggal sendirian di gunung, Yi Ze menghabiskan waktu sepanjang hari untuk mencari merpati pos, baru menemukannya saat siang hari di Kota Hai'an," jawabnya sopan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Yi Ze menelan ludah, "Ini tentang Putra Mahkota, Yang Mulia."
Wajah Raja langsung berubah menjadi kembali tidak tenang, "Kenapa dengan putraku?"
"Sakitnya kali, bukan penyakit bawaan seperti kemarin. Tapi, dia diracuni seseorang," Yi Ze menjawab seadanya, "Penyakit yang kemarin itu, aku yakin sudah tidak tersisa apapun lagi, Putra Mahkota sudah sangat sehat setelah aku mengobatinya. Tapi sakitnya ini, jelas adalah gejala keracunan."
Yang Mulia Raja terdiam membeku, dia panik setengah mati, hampir berteriak-teriak siapa yang berani lancang meracuni seorang pewaris tahta.
Tapi Yi Ze menenangkannya, bilang hal ini tidak boleh diketahui siapapun, atau malah akan memengaruhi seluruh penghuni istana, atau bahkan seluruh Beizhou.
Yi Ze berjanji akan menyelidiki semuanya hingga tuntas, dia berjanji akan mencari penawar racun itu, membuat Putra Mahkota terbangun kembali tanpa cacat apapun.
"Aku akan mencari pelakunya sekaligus mencari obat penawar ke mana pun asal bisa didatangi manusia. Beri aku waktu tiga hari, Yang Mulia. Jika aku tidak kembali setelah tiga hari, dan Putra Mahkota celaka karena aku datang tidak tepat waktu, maka Yang Mulia boleh memenggalku. Aku berjanji." Yi Ze bersujud di depan Yang Mulia.
Raja memintanya berdiri, "Jika itu yang kau inginkan, maka segeralah berangkat, tiga hari adalah waktu yang sangat singkat. Lebih bersyukur lagi jika kau datang sebelum tiga hari, maka lebih bagus bagi putraku. Pergilah, Nak. Aku memercayakan nyawa putraku padamu sekarang," Raja tersenyum teguh.
Yi Ze mengangguk, bergegas pergi lagi. Sebelum meninggalkan istana lagi, dia mendatangi kamar Putra Mahkota terlebih dahulu.
Pertama kali, dia perlu tahu racun jenis apa yang bersarang di tubuh Putra Mahkota ini. Di mana mencarinya, petunjuk pertama adalah tubuh Putra Mahkota sendiri.
Yi Ze menusukkan jarum ke lengan Xiao Yuan. Lalu menjilat darah yang menempel di jarum ini.
Yi Ze langsung terbatuk, hawa dingin menghinggapi tubuhnya, dia langsung meludah sebelum racun itu ikut memasuki tubuhnya juga.
"Racun ini, berasal dari lautan lepas."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung