
Tiga hari sejak hari di mana dia berpisah dengan Yi Ze, Xiao Yuan diam-diam memberanikan diri mencoba menyentuh pedang. Dia ingin menghilangkan pikiran masa lalunya jauh-jauh, dia hanya ingin maju satu langkah dari dirinya yang sekarang.
Sekarang dia berpikir, kehadiran Yi Ze yang menyelamatkan nyawanya membuatnya sedikit menyadari betapa pentingnya bisa menjaga diri.
"Yang Mulia, makan siangmu sudah tiba," Ji Xue memasuki kamar bersama Qing Yang.
Xiao Yuan memperhatikan lauk yang tersedia di atas nampan itu. Kemudian menatap Qing Yang yang membawanya. Wajah Qing Yang jelas jadi panik, takutnya Xiao Yuan akan memarahinya karena suatu kesalahan.
Tapi Ji Xue segera berlutut, bersedia menerima hukuman jika dia memang melakukan kesalahan. Lalu jika tidak?
"Mohon Yang Mulia memaafkan Ji Xue dan Qing Yang. Mungkinkah kami telah melakukan kesalahan?" Ji Xue sangat yakin tidak ada masalah dengan masakannya hari ini. Entah kenapa wajah Xiao Yuan terlihat kesal dan tidak senang.
"Siapa yang membuatkan lauk seperti ini?" Xiao Yuan bertanya dingin sebelum menyuruh Ji Xue berdiri.
"Kami memasaknya sendiri, Yang Mulia." Qing Yang menggantikan Ji Xue menjawabnya.
Xiao Yuan mendengus, "Kalian makan saja sendiri. Aku sudah bosan!"
Ji Xue dan Qing Yang saling tatap, "Mohon Yang Mulia memaafkan Ji Xue dan Qing Yang. Lauk seperti apa yang diinginkan Yang Mulia?"
Xiao Yuan diam sebentar, dia melirik garpu yang menancap di sebelah bantal tempatnya tidur, "Aku ingin lauk dengan banyak bawang yang biasanya dimasak oleh wanita itu."
⚔️⚔️⚔️
Sementara di Balai Lanhua, kediaman Tuan Putri, Yi Ze terlihat sedang bermain-main dengan Putri Lanhua dan Pangeran Kedua. Bermain catur. Tidak memikirkan Xiao Yuan sama sekali. Berbeda dengan Xiao Yuan yang terlihat tengah merindukannya.
"Lihatlah, Pangeran. Bidakmu sudah hampir habis. Bagaimana kau akan menang?" Yi Ze berlagak sombong.
Xiao Lanhua tertawa sambil bertepuk tangan, "Selama ini aku selalu kalah jika bermain bersama Kakak. Tapi begitu dia bertemu ahli yang sesungguhnya, permainannya sungguh bukan apa-apa."
"Diam kau! Kita bermain sekali lagi," Pangeran merampas semua bidak Yi Ze, lalu menyerahkan bidaknya pada Yi Ze, "Kita bertukar saja. Aku mau warna putih, mungkin karena bidakku hitam, keberuntunganku jadi tidak terlihat karena terlalu gelap."
Yi Ze terkekeh, dia menerimanya. Mulai bermain lagi, tapi kedatangan Ji Xue dan Qing Yang membuatnya urung.
"Ji Xue dan Qing Yang memberi salam kepada Pangeran Kedua dan Tuan Putri Ketiga."
"Kenapa kalian di sini?" tanya Yi Ze.
"Putra Mahkota tidak mau makan, Nona. Dia bilang, dia hanya makan masakanmu saja. Kami tidak tahu harus melakukan apa selain memintamu memasak." Ji Xue mengadukan kejadian di Shuiquan pada Yi Ze.
Yi Ze berdecak, "Anak ini. Tidak bisa sekali melihatku bersenang-senang sebentar," dia meletakkan bidaknya, kemudian mengikuti Ji Xue dan Qing Yang ke dapur.
Tapi Pangeran menarik tangannya, "Kau tidak lihat? Yi Ze sedang bermain bersamaku. Kalian tidak boleh mengganggunya, siapapun tidak boleh mengganggunya!" dia bersikeras tidak mengizinkan Yi Ze pergi ke dapur.
Ji Xue dan Qing Yang menunduk, "Kami tidak berani!"
Yi Ze melepaskan pegangan tangan Pangeran, "Sebentar saja. Memasak tidak membutuhkan waktu berjam-jam, masih banyak waktu yang bisa kita habiskan untuk bermain catur, kau bermainlah dulu bersama Lanhua. Aku akan segera kembali."
Pangeran tidak bisa lagi menghentikannya, membiarkan Yi Ze pergi. Kemudian Tuan Putri menenangkan kakaknya.
"Kenapa Kakak begitu tidak senang?"
Pangeran meliriknya kesal, tidak mau mengatakannya sekarang. Perlahan, semua orang pasti akan tahu.
⚔️⚔️⚔️
Di Harem, tempat tinggal Permaisuri Xiulin, bawahannya melaporkan lagi padanya, "Hari ini Yi Ze datang ke dapur untuk memasak makan siang Putra Mahkota. Katanya, Putra Mahkota tidak ingin makan selain makanan yang dimasak oleh Yi Ze ini."
Xiulin tersenyum, "Akan semakin mudah bagiku untuk menyingkirkan Xiao Yuan. Kita akan menggunakan gadis itu untuk membunuh Xiao Yuan. Menggunakan cara seperti dulu, tidak akan meninggalkan jejak apapun kalau aku adalah dalang di balik semuanya. Besok aku akan membuat surat untuk orangku di luar istana. Kau cari tahu, racun apa yang bisa membunuh orang dalam sekali lahap. Kita akan bertindak secepat mungkin."
⚔️⚔️⚔️
Saat bersama, Pangeran memberanikan diri bertanya, "Jika dilihat dari keseharianmu ini, sepertinya kau pengertian sekali pada kakakku. Apa kau mungkin menyukainya?"
Yi Ze tersenyum sebelum menjawabnya, "Membuat makanan untuknya memang tugasku sejak aku datang ke sini. Aku bahkan terkadang memasak lauk untuk para pelayan juga, karena mereka semua menyukainya, aku suka rela memasak untuk mereka, tidak hanya Putra Mahkota. Tapi jika kamu memaksa bertanya seperti itu, aku akan menjawab karena aku ingin menjadi guru seperti guruku, memperlakukan murid layaknya keluarga sendiri. Aku selalu melihatnya seperti kesepian."
Tapi saat Pangeran meminta perlakuan yang sama, "Lalu, bisakah kau memperlakukanku seperti itu juga?"
Yi Ze menolaknya, "Kau memiliki banyak hal yang bisa kamu andalkan, kamu memiliki banyak orang di sekitarmu yang menyayangimu, banyak orang yang rela melakukan hal yang lebih besar dari hanya sekadar memasak. Dibanding mereka, aku tidak ada apa-apanya."
Lalu Pangeran bertanya lagi, "Apa aku tidak terlihat seperti orang yang kesepian di matamu? Atau kamu yang tidak mau memandangku seperti itu?"
Yi Ze menjawab, "Karena kau tidak pernah kesepian, Ada adik sebaik Tuan Putri, ibu yang memperhatikanmu, bawahan yang setia, itu sudah cukup untuk mengisi kekosongan itu. Kau suka berkelana dan mengenal banyak orang di luar sana, beberapa dari mereka mungkin berharap selalu berhubungan baik denganmu. Contohnya, aku."
Pangeran terdiam, tapi hatinya jauh merasa lebih tenang. Kalimat itu tidak hanya menghiburnya, tapi juga meyakinkannya kalau Yi Ze memang tidak menyukai kakaknya, juga meyakinkannya kalau Yi Ze ingin lebih dekat lagi dengannya.
"Sudah larut, kau istirahatlah."
⚔️⚔️⚔️
Malam itu, Yi Ze berjalan di daratan luas, sejauh mata memandang, dia tidak melihat apapun, hanya memandang kabut tebal, dia berjalan menuju segala arah, tidak menemukan apapun selain rerumputan luas yang tertutup kabut, udara dingin menyergap tulang, Yi Ze memeluk tubuhnya dengan erat.
"Lin Yuehai, kau di sana?" suara itu bergema.
Yi Ze memutar tubuhnya ke belakang.
"Yuehai, aku di sini, kau tidak merindukanku?" suara itu muncul lagi.
Yi Ze menarik rambutnya dengan kasar, tubuhnya limbung bersamaan dengan teriakannya yang frustasi. Kakinya lemah tak bisa berjalan lagi, dia tidak tahu bagaimana keluar dari tempat aneh ini.
"Yuehai, ini ibu, Nak."
Yi Ze menggertakkan giginya, berusaha berdiri lagi, tapi tubuhnya terjatuh lagi, suara-suara itu tak henti-hentinya memenuhi udara, meresap ke telinganya, berkumpul di pikiran, tampak sulit dihadapi.
Yi Ze tersentak, kemudian membuka mata. Mimpi itu tampak sangat nyata.
Besok paginya, dia meminta tolong kepada pelayan di Qingchu, meminta mereka untuk menyampaikan kabar ke Shuiquan, Yi Ze hari ini tidak datang ke istana karena sebuah urusan mendadak.
Setelah terbangun dari mimpi itu, dia teringat cerita Xiao Yuan tentang gadis kecil yang berteman dengannya saat kecil, gadis itu bernama Yuehai.
Yi Ze yakin mimpinya ini berkaitan dengan gadis yang sedang dicari Xiao Yuan ini. Di mimpi itu, suara yang pertama kali dia dengar adalah suara seorang anak laki-laki, disusul suara wanita dewasa yang tidak dia kenali juga.
Tujuan utamanya adalah Kota Hai'an. Mengingat dirinya pernah tinggal di sana, Yi Ze ingin tahu di mana rumahnya dulu.
Yi Ze mendatangi rumah yang seminggu lalu didatangi Putra Mahkota. Rumah itu ada di ujung kota, sebuah desa kecil yang dihuni 100 kepala keluarga. Butir salju turun dari langit, membuat bulu kuduknya berdiri, Yi Ze tidak memakai pakaian hangat hari ini.
Tujuannya adalah rumah kepala desa, bertanya apakah ada kepala keluarga bernama Yi Huan yang tinggal di desa ini sekitar 19 tahun yang lalu.
"Tidak pernah ada kepala keluarga bernama Yi Huan di desa ini, Anak Muda. Sebelum atau sesudah 19 tahun lalu. Tidak pernah ada."
Yi Ze terdiam membeku, "Apakah semua cerita itu bohong?"
⚔️⚔️⚔️
Bersambung