
Di istana, Xiulin sedang menghadap Raja. Dia mempertanyakan tentang nasib putranya di masa depan, "Yang Mulia, Yu'er sudah memasuki usia pernikahan. Apakah kau tidak berpikir untuk cepat-cepat menikahkannya dengan seseorang?"
"Tapi Yuan belum menikah," Raja menggeleng pelan, sejenak wajahnya terlihat seperti mengkhawatirkan Xiao Yuan yang jauh darinya.
"Apa kau hanya memedulikan Yuan, Yang Mulia?" pertanyaan Ratu sedikit mengintimidasi Raja, tatapannya sudah tidak senang sejak memasuki kamar Raja, "Kau tidak pernah membiarkan putra keduamu hidup seperti posisi yang dimilikinya. Apakah seorang pangeran tidak bisa mendapatkan rasa peduli dari ayahnya? Aku hanya memintamu menikahkan Yuchen, tapi kau selalu mengungkit Yuan."
Raja tersenyum, "Bukan seperti itu maksudku, Ratuku. Bukan aku membedakan anak-anakku, hanya saja, apa kata dunia jika Pangeran lebih dulu menikah daripada kakaknya?"
"Apakah itu benar-benar berpengaruh? Seharusnya tidak, kau saja yang berpikir berlebihan, selalu mendahulukan reputasi dari pada keluarga sendiri," Xiulin memalingkan wajahnya.
Raja bergeser mendekat, lalu merangkul Xiulin, "Lalu, apakah Ratu sudah memiliki kandidat yang tepat untuk dinikahkan dengan Yuchen?" ia bertanya pelan.
Xiulin menatap Raja dengan penuh kasih sayang, "Aku tahu kau selalu peduli dengan putraku, kan?" senyumnya mengembang, "Belakangan ini, Yuchen sering bercerita tentang gadis yang menjadi jenderal selatan itu," Ratu semakin tersenyum lebar, dia menceritakan bagaimana Pangeran Kedua mencintai Yi Ze, dan berharap segera mendapat restu dari ayahnya.
"Tapi, Ratuku, gadis itu bukan dari keluarga bangsawan. Kau tidak keberatan jika putra kita menikah dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya?" Raja tidak salah karena memperhatikan reputasi keluarga mereka jika menikahkan Pangeran Kedua dengan Yi Ze.
Xiulin menggeleng, "Yang Mulia, bukankah dulu, Hua Jin juga seperti Yi Ze? Dia tidak memiliki keluarga, kau membawanya ke istana awalnya hanya karena kasihan, lalu kau meminta ayahmu agar menikahkan kalian, bukan? Aku yang awalnya sudah dijodohkan denganmu, terpaksa hanya menjadi selir saat itu, kau tahu rasa sakit itu masih ada hingga sekarang. Apa kau tidak bisa membiarkan Yu'er bahagia dengan wanita pilihannya saja?"
Kalimat panjang Ratu yang mengingat masa lalunya dengan Hua Jin membuat Raja terdiam cukup lama. Dia tidak berpikir kalau Yi Ze tidak bisa disatukan dengan keluarga kerajaan, karena awalnya, dia mendekatkan Yi Ze kepada Xiao Yuan agar bisa menjadi teman hidup yang layak, mereka terlihat saling melengkapi.
"Yi Ze itu pengawal pribadi Putra Mahkota, Ratuku. Putra Mahkota berutang nyawa padanya. Dan dia adalah guru sekaligus pelindung Putra Mahkota, mereka telah bersama setiap harinya. Apakah tidak—"
"Putra Mahkota tidak berhak memutuskan apa yang harus dilakukan pada Yi Ze, bahkan jika mereka telah bersama setiap hari, bukan berarti putraku tidak bisa menikahi gadis itu, mereka hanya saling berlatih bersama saja, tidak ada hubungan spesial, tapi putraku berbeda," Ratu berani memotong ucapan Raja, kalimatnya pedas dan nadanya mulai meninggi.
Raja terdiam dan tidak menjawab untuk waktu yang lama, dia menatap ratunya yang mulai berkaca-kaca. Hal yang tidak pernah mau dia lihat adalah tangisan perempuan. Entah apakah dia mampu menghindari percakapan dengan ratunya ini, Raja sedikit dilema.
"Kita bicarakan lagi setelah Yuan pulang, ya?"
Ratu terkekeh, "Kau tetap saja mendahulukan Yuan, meski tidak tahu dia selamat atau sudah mati," celetuknya.
Raja menoleh, matanya membulat terkejut, "LANCANG!" serunya dengan kemarahan, dia berdiri karena rasa marah yang berapi-api itu, "Bagaimana mungkin permaisuri negara ini mengatakan hal sekasar itu pada penerus tahta? Jika kau bukan istriku, aku mungkin sudah memenggal kepalamu!"
Xiulin benar-benar menitikkan air matanya, dia tidak berdiri, masih duduk dengan kepala menunduk, "Kenapa tidak kau penggal saja, Yang Mulia? Aku terlalu lelah menunggumu peduli padaku dan anak-anakku. Bisakah kau sedikit saja peduli pada putra keduamu? Meski Yuan penting, Yuchen juga masih putramu. Kau selalu memanjakan putramu yang lemah dan sakit-sakitan itu, memberinya banyak kemewahan, pengawal berbakat, dan sejumlah guru yang hebat. Tapi dengan uang sebanyak itu, kapan dia pernah memiliki pencapaiannya sendiri? Kau bahkan sadar dan tahu betul dia tidak mampu meneruskan tahtamu, tapi kau tetap melakukannya semata-mata karena dia putra yang dilahirkan ratu yang sah. Sebagai ibu, sebagai ratumu, aku tidak baik-baik saja melihat putraku yang memiliki banyak pencapaian terus diabaikan oleh ayahandanya. Bagaimana jika dia memiliki pandangan buruk terhadapmu, Yang Mulia? Setidaknya biarkan dia menikahi gadis yang dia cintai seumur hidupnya. Putraku tidak membutuhkan apapun darimu selain itu, dia hanya ingin mengabdi pada negara yang kau teruskan pada Si Lemah ini bersama wanita yang dia inginkan, itu saja!"
⚔️⚔️⚔️
Kalimat Xiulin pagi itu terus berputar di kepala Yang Mulia Raja. Raja menyesali kalimat kasar yang keluar dari mulutnya di hadapan permaisurinya. Dia menyadari kalau permaisurinya itu telah begitu sabar puluhan tahun dengan sikapnya yang terlalu mengabaikan keluarga.
Karena janjinya terhadap Hua Jin, Raja harus tetap meneruskan tahtanya pada Yuan, bukan berarti dia tidak bisa memberikan apa-apa pada putra keduanya yang gemilang prestasi. Selama ini Yuchen selalu menolak hadiah apapun yang dia berikan setiap kali pulang dari medan perang membawa kemenangan. Sudah saatnya Yuchen menerima satu hadiah yang pantas darinya.
Seorang kasim yang berjaga di depan pintu memberi tahu Raja kalau ada sepucuk surat dikirim untuknya. Kasim itu mengatakan kalau surat ini dari daerah selatan, Raja memerintahkan untuk menerbangkan kembali merpati pos itu.
"Salam, Yang Mulia Raja. Yi Ze melaporkan kalau Putra Mahkota dan rombongannya sudah dalam perjalanan pulang, akan tiba besok malam, penyakit Putra Mahkota sudah dibersihkan, dia sehat dan tidak akan sakit lagi."
Raja meminta kasimnya untuk mengumumkan gelaran perjamuan untuk menyambut kepulangan Putra Mahkota dan mensyukuri kabar gembira ini. Juga mengumumkan perjodohan antara Xiao Yuchen dan Yi Ze.
Karena sudah memutuskannya, Raja bergegas menemui ratunya di kediaman permaisuri. Dia menjemputnya, meminta Ratu untuk tidur di kamarnya malam ini.
"Yang Mulia, tahukah kamu? Ini adalah pertama kalinya setelah sepuluh tahun aku tidur di kamarmu lagi," Ratu memeluk Raja dengan manja.
"Ratuku, aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi. Aku terbawa emosi karena mengkhawatirkan kesehatan Yuan. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, Yuan dan Yi Ze sebentar lagi akan pulang. Besok, aku akan membuat perjamuan besar untuk menyambutnya, sekaligus mengumumkan pertunangan Yuchen dan Yi Ze," Raja menjelaskannya pada Ratu.
Ratu melepaskan pelukannya, menatap Raja dengan lembut, "Aku minta maaf karena sudah lancang padamu, kalimat burukku tentang Yuan tidak pernah serius. Meski dia bukan anak kandungku, aku tetap menyayanginya karena dia putramu."
Raja mengangguk sambil kembali memeluk ratunya, "Aku sudah merindukan hubungan kita."
Xiulin diam dengan pikiran yang bercabang-cabang, "Bagaimana dia bisa selamat?"
⚔️⚔️⚔️
Dua belas kilometer lagi memasuki gerbang ibukota, Yi Ze meminta rombongannya untuk beristirahat sejenak. Mereka berhenti di sebuah penginapan.
Yi Ze memesan makanan untuk rombongannya, dia hanya duduk diam termenung setelah membayar makanan yang dia pesan.
"Kau tak makan?" Xiao Yuan bertanya sambil mengunyah.
"Aku masih kenyang," Yi Ze menopang dagu dengan tangannya, "Tuan Muda, menurutmu, siapa di istana yang paling membencimu?"
Xiao Yuan terdiam sejenak, dia berpikir siapa yang pantas dicurigai atas tindakan lancang itu.
"Kalau aku boleh berpendapat, semua orang di istana bisa saja dicurigai. Karena, tidak ada yang menyukainya. Tuan Muda terlalu menjengkelkan, wajar saja jika mereka ingin membunuhnya," Jingmi menceletuk.
Xiao Yuan menimpuknya dengan sendok, "Bercandamu terlalu berani, Jingmi," ucapnya sambil mengunyah.
Yi Ze terkekeh, "Tapi perkataannya mungkin benar, sejauh ini, tidak ada orang istana yang pernah mengobrol dengan Tuan Muda selain orang-orang yang tinggal di Shuiquan, bukan?"
Tawa Jingmi meledak, Yi Ze ikut tertawa. Xiao Yuan mencibir tidak jelas, mengatakan kalau Yi Ze harus dipenggal karena candaannya yang kelewat kalem itu.
"Orang yang sama sekali tidak pernah kuajak bicara hanya satu," Xiao Yuan menghentikan tawa keduanya, menciptakan hening, hanya tersisa suara sumpit beradu dengan mangkuk.
"Siapa itu?" Yi Ze menatap antusias, Jingmi juga ikut menghentikan makannya.
"Ibu," jawab Xiao Yuan.
Semua orang di meja itu terdiam, kenapa Xiao Yuan tidak pernah berbicara dengan Ratu? Itu patut dipertanyakan. Putra mana yang tidak membutuhkan sosok ibu? Itu juga patut dipertanyakan.
"Percakapanku dengannya, hanya permainan saja. Dia mengunjungiku ketika aku tidak bisa memberinya salam, dia memberiku hadiah ketika aku tidak bisa menerima hadiah. Aku tidak pernah berkesempatan, atau menawarkan diri untuk menjadi teman mengobrolnya. Toh, dia bukan ibu kandungku. Yang kubutuhkan bukan dia, tapi ibuku yang sudah mati," Xiao Yuan santai menyendok nasi di mangkuknya.
Yi Ze dan Jingmi saling tatap, itu wajar jika terjadi padanya. Dia juga membutuhkan ibu, tapi bukan ibu yang itu. Itu bukan ibunya, bukan ibu yang dia butuhkan.
"Setelah pulang, kita harus menyelidiki ini, Tuan Muda. Kita harus mencari orang istana mana yang memiliki tulisan seperti ini," Yi Ze membuka gulungan surat kecil yang dia ambil dari pembunuh kemarin malam.
"Ayahku mungkin akan mengadakan perjamuan besar, orang-orang istana pasti tidak akan berada di kediamannya dan berkumpul di Aula Besar. Kita bisa memakai kesempatan itu untuk memeriksa setiap kamar. Jingmi, tugasmu adalah mengatakan pada Raja jika dia mencari kami," Xiao Yuan menoleh kepada Jingmi, mengetuk kepalanya dengan sendok lagi.
Jingmi meringis, "Apa yang harus kukatakan, Tuan Muda?"
Xiao Yuan melotot, "Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tahu?"
Jingmi terkekeh, "Kalimatku masih saja salah," gumamnya.
⚔️⚔️⚔️
Malamnya, rombongan itu akhirnya tiba di istana, perjamuan yang dibuat Raja sudah dihadiri banyak orang. Yi Ze dan Xiao Yuan memasuki Aula Besar.
Saat makan malam berlangsung, Xiulin mendekatinya, "Putraku, aku senang kau kembali dengan selamat. Aku mendoakanmu agar selalu sehat di masa depan," senyumnya tak ketinggalan.
Xiao Yuan tersenyum, "Yuan senang, kali ini Ibu mengobrol dengan jelas di hadapan Yuan, tidak hanya menitipkan hadiah saat aku tidak ada, tidak hanya memberi salam saat aku tidak bisa menjawabnya, terima kasih, Ibu."
Xiulin terdiam, kemudian kembali ke tempat duduknya. Di keramaian itu, tidak ada yang menyadari kalau Yi Ze dan Xiao Yuan raib dari tempat perjamuan besar. Jingmi di sana bersama Qing Yang dan yang lainnya. Mereka membicarakan tentang Ji Xue yang sebentar lagi akan kembali bekerja.
Yi Ze berjalan mengendap meninggalkan aula besar. Memasuki kediaman wanita istana, memeriksa satu persatu kamar, menyamakan setiap tulisan dengan gulungan kecil di genggamannya.
Namun, belasan menit berkeliling, tidak ada tulisan cocok yang mereka dapat meski sudah mengelilingi setiap kediaman di dalam istana.
"Kediaman mana yang belum kita periksa?" Xiao Yuan bertanya, mereka telah memeriksa semua kamar. Karena Xiao Yuan tidak memasuki Harem, dia bertanya pada Yi Ze apakah melewatkan sesuatu atau tidak.
"Ada beberapa pelayan wanita di depan kamar Permaisuri, aku tidak bisa menyelinap ke sana. Lagipula, mungkinkah tulisan Permaisuri sama seperti tulisan di gulungan ini?" Yi Ze bertanya.
Xiao Yuan berpikir sejenak, "Aku tidak bisa menjawabnya. Tapi kenapa Permaisuri menempatkan orang untuk menjaga kamarnya di saat kediaman lain kosong?"
Hal itu jelas perlu dipertanyakan, Yi Ze mengangguk, tapi kemudian menggeleng lagi, "Kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk menuduh Permaisuri, lagipula, dia seorang Istri Raja kita tidak bisa menuduhnya begitu saja."
Di Aula Besar, Raja akan mengeluarkan dekret lisan. Para pejabat antusias menantikannya, sementara Jingmi sedang cemas karena Yi Ze dan Xiao Yuan tak kunjung kembali ke perjamuan.
"Putra keduaku, Pangeran Xiao Yuchen sudah memasuki usia pernikahan. Aku memutuskan untuk menikahkannya lebih dulu dari Putra Mahkota Xiao Yuan. Karena Xiao Yuan mungkin masih harus sibuk dengan pelajarannya, kelak, dia pasti akan menemukan sendiri ratu yang bisa mendukung setiap keputusannya. Hari ini, aku ingin menjodohkan Yi Ze dengan putra keduaku, Xiao Yuchen," dekret itu akhirnya keluar, "Aku memerintahkan, agar Yi Ze menerima perjodohan ini, dan menjadi menantuku dari Pangeran Xiao Yuchen."
Para pejabat mulai berbisik-bisik, banyak yang berspekulasi bahwa dekret itu dikeluarkan semata-mata kemauan Pangeran saja. Bahkan banyak yang menganggap kalau dekret itu sangat tidak menghargai Xiao Yuan yang sudah ditemani Yi Ze selama hampir berbulan-bulan..
Satu pejabat mengacungkan tangan, "Yang Mulia, perjamuan ini dibuka untuk menyambut Putra Mahkota, apakah bisa tetap dilakukan jika yang terlibat tidak ada di tempat? Kulihat, Jenderal Besar Yi juga ikut bersamanya keluar, apakah dekret itu tetap berlaku meski kejadiannya seperti itu?"
Ratu berdiri, "Lancang!" sambil menunjuk pejabat itu dengan telunjuknya.
Jingmi terkesiap melihat Ratu yang menunjuk seseorang dengan telunjuknya, "Dekret ini dikeluarkan untuk Yi Ze dan putraku, bukan untuk Putra Mahkota, ini tidak ada hubungannya dengan Putra Mahkota!"
"Mohon maafkan kelancanganku, Yang Mulia. Tapi, Putra Mahkota juga sama saja putramu, jika kau hanya menyebutkannya seperti itu, dia juga bisa terlibat," pejabat itu meneruskan kalimatnya tanpa takut hukuman.
Saat Ratu hendak menjawab, Raja mengangkat tangannya, keduanya hanya bisa menunduk merasa bersalah, "Jingmi, kau berada satu meja dengan tuan mudamu, katakan apakah kau tahu ke mana tuan mudamu pergi?" Raja bertanya dengan lembut.
"Izin menjawab, Yang Mulia. Mungkin Tuan Muda kelelahan karena perjalanan pulang, Nona Yi hanya mengantarnya ke kediaman saja. Sebentar lagi akan kembali," Jingmi menjawab seadanya saja.
Raja tersenyum karena Jingmi menjawab dengan lugas, "Putraku kelelahan dan gurunya mengantarnya ke kamar. Itu hanya bentuk kesetiaan seorang guru kepada muridnya saja, tentang pertunangan Pangeran dan Yi Ze, sudah tidak bisa dibatalkan!" matanya menyorot para pejabat yang seperti tidak terima itu.
"Tetap saja, urusan seperti itu bukanlah permainan. Setidaknya Jenderal Yi Ze harus mengetahuinya," ada satu pejabat lagi yang mengutarakan keberatannya.
Raja menatap Jingmi lagi, karena mengerti, Jingmi membungkuk dan berbalik hendak menyusul Yi Ze ke Shuiquan. Namun belum sempat melangkah, Yi Ze sudah memasuki Aula Besar lebih dulu.
"Maaf, Yang Mulia. Aku pergi terlalu lama, muridku kelelahan, aku membuatkan air hangat untuknya sebentar," Yi Ze menunduk. Dia tidak seperti mengkhawatirkan pertunangan tiba-tiba itu.
"Lihatlah, hubungan mereka sudah sedekat itu."
"Pasti tidak sesederhana membuat air hangat."
"Nyawa Putra Mahkota sudah menjadi miliknya."
"Kenapa Raja tidak menikahkannya dengan Putra Mahkota saja?"
Bisikan-bisikan itu terus terdengar. Tapi Yi Ze tampak mengabaikannya, matanya tidak menatap Pangeran sama sekali. Hal itu membuat Raja merasa Yi Ze seperti keberatan dengan dekret yang dia keluarkan.
"Malam ini, aku menginginkan pernikahan yang layak antara Pangeran Xiao Yuchen dan Jenderal Yi Ze, harus dilaksakan secepatnya. Jenderal, mungkinkah kau keberatan, jika aku memintamu menikah dengan putra keduaku?" Raja mengulang perintahnya, bertanya pada Yi Ze tentang kesediaannya.
Yi Ze terdiam sebentar. Jingmi menatapnya sambil menelan ludah. Pangeran berharap Yi Ze akan menatapnya meski sedetik saja. Ratu tampak tegang karena takut semua rencananya gagal.
"Tentu saja, Yang Mulia. Yi Ze tidak pernah keberatan atas apa pun yang diperintahkan Yang Mulia. Meski ingin menolak pertunangan ini, tapi apakah aku bisa melawan dekretmu?" Yi Ze menautkan tangannya ke depan, membungkuk sedikit, kemudian matanya melirik Pangeran sebelum akhirnya berjalan keluar dari Aula Besar.
Jika perlu diceritakan, Yi Ze jelas terkejut, baru memasuki istana, dia dikejutkan dengan dekret pertunangan yang tidak dia ketahui asal-usulnya. Tapi dia bisa menebak, menolak Pangeran hari itu, sama saja menambah masalah baginya.
Dia merasa ada sesuatu di balik pertunangan ini, jika menolak, dia tidak akan tahu. Jika menerimanya, setidaknya dia bisa memastikan sesuatu, Pangeran tidak main-main dengan perasaannya.
"Yi Ze!" Pangeran berlari menghampirinya.
Yi Ze menoleh, Pangeran langsung memeluknya tanpa aba-aba, "Terima kasih, Yi Ze. Kau akhirnya menerima lamaranku, aku memenuhi yang kau minta, restu dari orang tuaku, kita sudah mendapatkannya. Bukankah kita tidak perlu menunggu lagi?" Pangeran tersenyum sambil menatapnya penuh harap.
"Tapi, Yang Mulia. Perasaanku sudah berubah sejak kau melamarku hari itu. Aku tidak ingin menikah denganmu, juga tidak ingin hidup bahagia bersamamu," Yi Ze bergumam dalam hati.
"Yi Ze, kenapa kau tidak menjawabku?" Pangeran bertanya memastikan saat Yi Ze tidak menunjukkan ekspresi apapun sejak pulang dari Gunung Shahuang.
"Yang Mulia, bukankah tindakanmu ini terlalu memaksa?" Yi Ze bertanya untuk pertama kalinya.
Pertanyaan pendek itu membuat Pangeran kebingungan, "Apa yang kau maksud, Yi Ze?"
"Kau egois. Kau memaksa keadaan untuk berpihak padamu, memaksa ayahmu menyetujui apa yang ingin kau penuhi, juga memaksaku menikah dengan orang yang tidak ingin kunikahi," jelas Yi Ze, wajahnya datar dan tampak sangat tidak tenang.
"Yi Ze, bukankah kau mengatakan padaku kalau kau menyukaiku juga? Kenapa malam ini kau mengatakan tidak ingin menikah denganku?" pertanyaan Pangeran sudah terdengar putus asa. Matanya berubah menjadi sayu dan tidak bersemangat.
"Aku bukan wanita yang baik, Yang Mulia. Hatiku mudah berubah-ubah, aku menyukaimu hanya karena rasa kagum, tidak berlaku dijadikan alasan bagiku untuk menerima perasaanmu," Yi Ze melangkahkan kakinya ke samping, menghindari Pangeran yang terus berdiri di depannya.
"Kau berkata tidak bisa melawan dekret, bukan? Kenapa begitu keluar, kalimatmu berbeda dengan sebelumnya?"
"Kalau begitu aku bertanya satu hal lagi padamu, kau gunakan apa untuk meyakinkan Raja kalau kamu begitu ingin menikah denganku?" Yi Ze berbalik menanyakan hal lain yang lebih penting.
Pangeran tersenyum, "Aku tidak melakukan apapun, Yi Ze. Ini semua terjadi karena ibuku begitu menyukaimu, dia ingin kamu bisa menikah dengan putra yang sangat disayanginya ini," dia berjalan mendekati Yi Ze lagi.
Mendengar itu, Yi Ze semakin merasa ada sesuatu tentang pertunangan tiba-tiba mereka. Dia benar-benar tidak bisa menolak sekarang, supaya dia tahu kenapa dan sejak kapan Ratu mulai mengawasinya, dan bahkan menyukainya.
Pangeran sempat memberikan sesuatu pada Yi Ze, "Kupikir kau tidak memercayai sesuatu," lalu menyerahkan kertas tebal berisi sebuah laporan.
"Apa ini?"
"Ini adalah permintaan yang ditulis ibuku agar ayahku mau membuat dekret pertunangan kita," Pangeran menyerahkannya, "Bacalah sendiri, supaya kau memercayaiku."
Yi Ze membacanya, dan seketika merasa tidak asing dengan tulisan itu. Di mana dia pernah melihatnya?
⚔️⚔️⚔️
Bersambung