Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Yi Shujin



Yi Ze meminta pada Jingmi untuk menjaga Putra Mahkota dengan baik. Dia harus menemui Shujin sekarang, bertanya bagaimana Shujin bisa bersama kelompok penjahat itu dan membunuh Kepala Sekte Duan.


Kini berita itu sudah menyebar ke seluruh sudut dunia persilatan, para master hebat pasti akan mencari siapa yang sudah membunuh informan terbaik di dunia persilatan.


Tiba di Kediaman, Yi Ze disuguhi pemandangan yang sungguh tidak ingin dia lihat setelah pulang dari istana dengan membawa rasa lelah.


Terlihat dengan jelas halaman kediamannya yang sangat berantakan, lantas dua gadis yang satunya berusia 17 tahun yang satu lagi berusia sekitar 10 tahun sedang berebut sebuah kantong uang.


"Ini uangku!"


"Kau pelit sekali tidak membiarkanku pinjam sedikit!"


"Kau pinjamnya banyak, bukan sedikit!"


"Berikan, Bocah tengil!"


Mereka berdebat dan bertengkar seperti kakak beradik yang merebutkan suatu barang yang diberikan ibu mereka. Membuat seisi rumah berantakan karena keributan itu.


"Shu'er! A-Yin!" Yi Ze berseru marah, "Bisakah berhenti berebut? Aku lelah dan baru ingin beristirahat dengan tenang di kediamanku, kenapa kalian mengacau dan tidak duduk tenang di kamar kalian masing-masing?" Yi Ze menatap tajam A-Yin, gadis kecil itu merasa takut begitu ditatap tajam oleh Yi Ze, lantas bergegas hendak merapikan kekacauan yang dia perbuat sambil terus meminta maaf. Yi Ze mengatakan padanya untuk tidak perlu capek-capek merapikannya, dia segera menyuruh pelayan untuk membersihkan kekacauan itu, tapi A-Yin memaksa ingin membantu.


Yi Ze menyuruh Shujin untuk datang ke kamarnya, dia ingin mengatakan sesuatu yang penting dengannya.


"Shu'er, aku senang kau masih hidup. Tapi kenapa kamu bisa bersama mereka?"


Shujin mulai bercerita, "Kakak, aku dulu begitu ceroboh dan sangat sombong. Aku membunuh banyak orang dan menyiksa mereka. Sekelompok penjahat yang kubunuh rekannya merencanakan balas dendam terhadapku. Mereka membunuh Ibu, lalu nyaris membunuhku juga. Jika saja saat itu aku tidak berusaha menyelamatkan diri, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu hari ini. Kakak, aku memang melakukan kesalahan. Aku berjanji pada penjahat itu untuk berdiri di belakang mereka dan menjadi salah satu dari mereka, tapi aku melakukan itu agar aku bisa tetap hidup. Aku mencarimu selama empat tahun terakhir, Kak. Tapi aku tidak menemukanmu barang sekali. Tak kusangka akhirnya bertemu denganmu di kota yang besar ini. Kakak, setelah tinggal bersamamu, aku berjanji tidak akan melakukan kejahatan apapun lagi. Hidupku sudah sangat tersiksa berada di luar sana. Merasakan seperti apa rasanya ditindas dan dijahati orang-orang."


Yi Ze tersenyum mendengar Shujin meceritakan semuanya padanya, "Yang sudah berlalu kita lupakan saja. Yang penting sekarang kita berkumpul lagi." Yi Ze senang bertemu lagi dengan Shujin. Meski dirinya sekarang sudah mengetahui kalau Shujin bukan adik kandungnya, Yi Ze tetap akan menganggap Shujin adiknya karena hanya Shujin satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.


"Semoga kita benar-benar selalu bersama sejak hari ini, Shu'er."


⚔️⚔️⚔️


Tiga hari penuh, Yi Ze tidak melepaskan pandangannya dari Putra Mahkota. Setiap pagi dan sore membersihkan tubuh Putra Mahkota dengan air dingin, lalu memberinya obat pereda panas.


Tiga hari penuh Putra Mahkota tertidur, Yi Ze hampir putus asa menantinya bangun. Panas di tubuhnya semakin hari berangsur hilang. Yi Ze terkadang mengajaknya bicara.


"Aku tidak tahu, setelah bangun, apakah aku masih bisa mengajarimu atau tidak. Tubuhmu semakin tidak mampu menjadi seorang pendekar perang."


"Meski begitu, tidak apa-apa. Kau tetap bisa menjadi raja yang baik kelak, raja yang baik tidak harus berada di medan perang bersama para prajurit. Kelak, kau pasti bisa melewatinya."


"Aku kan sudah berjanji, akan mencarikan solusi apapun untuk masalahmu ini. Aku yang memasukkannya, aku juga yang bertanggung jawab mengeluarkannya. Sebelum hari itu datang, bisakah kau menunggunya?"


Yi Ze tertidur karena kelelahan menjaga Putra Mahkota setiap hari, belum lagi, dia tidak pernah tidur sejak tiga hari sebelum pulang ke istana. Dia mengabaikan kesehatannya demi menyelamatkan nyawa Putra Mahkota.


Tiga hari ini, entah hanya berapa kali dia mengisi perutnya. Yi Ze tidak pernah menyadari bahwa tubuhnya juga perlu istirahat. Saat berada di kediaman, A-Yin sempat menawarinya roti panggang, tapi Yi Ze menolak dan meminta A-Yin saja yabg memakannya, Shujin juga sempat menyuruhnya istirahat sebentar sebelum kembali ke istana, Yi Ze menolak karena merasa tidak bisa tidur karena Putra Mahkota sedang kritis.


Saat itu, Yi Ze sempat menceritakan pekerjaannya pada Shujin sebelum kembali ke istana, "Aku sekarang menjadi guru bela diri Putra Mahkota. Raja menghadiahkan kediaman ini dan satu kamar di kediaman pelayan. Apakah kau ingin bekerja di istana juga? Kudengar mereka sedang merekrut pelayan baru untuk Kediaman Shuiquan. Kau tertarik?" Tapi Shujin menolaknya, berkata kalau dia tidak ingin menjadi pelayan di kerajaan, apalagi pelayan baru, dia tidak ingin ditindas lagi, Yi Ze tersenyum dan menghargai kemauan Shujin.


Putra Mahkota membuka matanya, hal yang dia lihat pertama kali hanyalah kegelapan. Lalu matanya menangkap sosok wanita yang tertidur di sebelahnya. Senyum Putra Mahkota terlihat tipis.


Dia senang, orang yang pertama dia lihat setelah bangun adalah orang yang dia tunggu sekian lama. Putra Mahkota merasa kegerahan, lalu menyadari bahwa Yi Ze begitu berkeringat di sebelahnya.


Ranjang tidur Putra Mahkota dibasahi keringatnya sendiri. Putra Mahkota baru menyadari bahwa tubuhnya sangat panas, "Kenapa kau masih berada di sini meski tahu udaranya sangat panas?" Putra Mahkota bertanya dalam hati.


Yi Ze terbangun begitu merasakan pergerakan kecil Putra Mahkota. Bergegas berdiri, "Kau sudah bangun? Bagaimana? Apakah ada yang sakit? Atau kau masih merasa panas?"


Putra Mahkota terkekeh, berusaha duduk, "Aku sudah bangun sejak satu jam yang lalu. Tapi tidak bisa melakukan apapun karena kau tertidur di sebelahku," tangannya bergerak menyentuh rambut Yi Ze yang lepek.


"Apa kau tidak pernah mandi? Rambutmu lepek sekali."


Yi Ze bersungut-sungut, "Aku selalu mandi, tapi di dalam kamar ini panas sekali, meski di luar sana salju turun begitu lebat."


Putra Mahkota menoleh ke samping, semua jendela terbuka lebar, memang turun salju yang begitu lebat, tapi tubuhnya terasa panas membara.


"Kau mau keluar?" Yi Ze bertanya.


"Kau tidak mau keluar?" Putra Mahkota balik bertanya.


"Kalau keluar, nanti aku mati kedinginan."


"Kalau tidak keluar, aku bisa mati kepanasan."


Yi Ze terdiam, lalu bergegas menuntun Putra Mahkota keluar dari kamar. Begitu keluar, angin malam yang dingin seperti menusuk tulang, meski baru saja berkeringat, Yi Ze langsung menggigil kedinginan.


"Sejuk sekali," Putra Mahkota memejamkan mata, berusaha menikmati udara dingin di sekitarnya. Yi Ze tersenyum senang melihatnya.


"Suhu badanmu lebih baik dari sebelumnya, aku berpikir mungkin akan menghilang beberapa hari kemudian. Kau masih harus istirahat untuk menghilangkan demam tinggimu ini," Yi Ze menyilangkan kedua lengan di depan dada. Benar-benar dingin.


Putra Mahkota memeluknya dari samping, "Jika kedinginan, tubuhku bisa membantu menghangatkannya."


Yi Ze terkekeh, "Tidak perlu, berdekatan denganmu, tidak ada bedanya dengan tidur di tengah gurun pasir di siang hari," Yi Ze berjalan meninggalkan Shuiquan, "Aku akan menyiapkan makan malam sebentar, kau pasti lapar sekali."


"Yi Ze!"


Yi Ze menoleh, Putra Mahkota tersenyum lebar, "Aku merindukanmu."


Yi Ze balas tersenyum, lalu berlari memeluknya, "Aku juga."


⚔️⚔️⚔️


Besoknya Yi Ze melapor pada Yang Mulia Raja, racun itu sudah mulai jinak, tertidur untuk sementara. Mungkin tidak akan bangun kecuali Putra Mahkota menariknya untuk bangun.


Raja meminta Yi Ze untuk menjaga Putra Mahkota dengan baik, "Soal tugasmu menjadi guru bela diri putraku, sudah kulepaskan. Sekarang tergantung Xiao Yuan sendiri, apakah dia masih ingin berlatih atau tidak, kau juga bisa memutuskannya kelak. Yang penting sekarang, jangan biarkan dia terlalu lelah, terus menjaga aturan yang ditetapkan agar dia baik-baik saja."


Yi Ze mengangguk, "Yi Ze pasti menjaga Putra Mahkota dengan baik. Soal berlatih, Putra Mahkota bersikeras ingin melanjutkannya. Dia mengatakan ingin melepaskan masa lalunya, Yi Ze sebagai guru, harus membantunya."


Raja tersenyum, melambaikan tangannya ke arah kasim, kasim itu mendekati Raja sambil membawa kotak perak berharga.


Raja membuka kotak itu, meminta Yi Ze mendekatinya di atas tahta, Yi Ze melangkah maju tanpa mengurangi tata kramanya.


"Ini adalah Pelat Militer Pasukan Selatan, Pelat Harimau. Aku ingin mengangkatmu menjadi Jenderal Besar Pasukan Selatan," Raja menunjukkan isi kotak pada Yi Ze, Yi Ze menahan napasnya, pelat itu sangat mewah dan terlihat gagah, cocok dengan namanya, terbuat dari emas, berbentuk wajah harimau. Yi Ze menerimanya dengan tangan gemetar.


"Menjadi Jenderal Besar Pasukan Selatan, tugasmu tidak hanya memimpin ratusan ribu pasukan selatan, tapi juga mengemban misi penting Kepala Militer Pasukan Kerajaan. Aku berharap kau bisa memimpin Militer Negara dengan baik," Raja menatap Yi Ze penuh harap.


Para peserta Rapat Pengadilan Istana memberi hormat pada Yi Ze.


"Kami Para Menteri memberi salam kepada Jenderal Besar Pasukan Selatan yang baru!"


Yi Ze tersenyum senang, memegang pelat itu dengan baik. Kali ini, hidupnya di istana bukan untuk main-main lagi. Dia harus bisa menjadi pemimpin yang baik, dan adil.


Dia juga sudah memiliki kewajiban untuk selalu menghadiri semua rapat istana. Yi Ze lebih sibuk dari sekadar menjadi guru bertarung Putra Mahkota saja.


Minggu depan, dia diminta untuk melihat langsung Pasukan Selatan di kamp militer mereka. Ada prajurit senior yang akan membantu Yi Ze menjalankan tugasnya.


"Sebenarnya aku tidak selemah yang kau lihat. Aku ini, meski tidak berani melakukannya, aku menguasai banyak teknik bertarung," Putra Mahkota mengatakannya sambil menguap, tangannya menjulur keluar jendela, menyambut butiran salju yang turun.


"Baiklah, tapi sebelum mulai latihan, kau harus berani melihat pedang terlebih dahulu," Yi Ze menarik lengan Putra Mahkota, menyuruhnya duduk.


Penampilan Putra Mahkota sekarang, terbalik dengan penampilan kebanyakan orang di tengah hujan salju ini. Yi Ze bahkan memakai syal yang begitu tebal, tapi Putra Mahkota hanya memakai setelan biasa tanpa jubah berlapis.


Yi Ze menatapnya serius, "Yang Mulia. Jangan menyimpannya sendiri. Kau tidak bisa melepaskannya, karena tidak membiarkan ia pergi," Yi Ze berbicara dengan wajah lembut, berharap Putra Mahkota akan menceritakannya dengan mudah, meski tidak mudah.


"Masa lalu itu, bukan untuk disimpan di dalam hati. Tapi untuk dilewati. Kau tidak pernah berani melewatinya, makanya hatimu terus merasa sakit meski berusaha melupakannya. Sebenarnya itu hanya bohong saja," Yi Ze melanjutkan.


"Apakah begitu?" Putra Mahkota bertanya, nada bicaranya sedikit menggoda.


"Apa lagi ini?" Yi Ze memutar bola mata kesal.


"Maka biarkan aku menceritakannya sedikit," Putra Mahkota menatap wajah Yi Ze lebih baik.


Yang dia ceritakan ini, tidak terlalu detail. Ingatan saat berusia lima tahun berbeda dengan ingatan saat dewasa, Putra Mahkota bilang hanya mengingat beberapa kejadian penting saja.


"Ibuku bersahabat baik dengan Bibi Xuan, bahkan sejak kecil. Begitu masing-masing dari mereka menikah, lalu punya anak, Bibi Xuan sering sekali membawa putrinya ke istana, mengatakan kalau Putra Mahkota mungkin kesepian dan membutuhkan teman. Padahal jelas sekali aku memiliki dua adik, Pangeran Kedua yang saat itu berusia kurang dari empat tahun, juga Tuan Putri Lanhua yang berusia enam bulan lebih muda dari putrinya."


"Tapi, yang dikatakan Bibi Xuan benar. Aku tidak pernah berhubungan baik dengan adik keduaku. Nyaris setiap bertemu selalu bertengkar. Aku lebih suka bermain bersama Yuehai dari pada adik-adikku sendiri."


Wajah Putra Mahkota tersenyum lembut begitu menyebut nama itu, terlihat sekali bahwa dia merindukan gadis yang sudah tidak bisa ditemuinya sekarang.


"Suatu waktu, ibuku dan Bibi Xuan membeli dua pasang kalung. Ibuku memakaikan satu kalung pada Yuehai, Bibi Xuan memakaikannya padaku. Ibuku memakaikan kalung pada Bibi Xuan, begitu juga sebaliknya," Putra Mahkota mengeluarkan kalung perak yang bersembunyi di balik kerah bajunya. Yi Ze ingin menangis saat tahu kalau Putra Mahkota masih memakainya.


"Jika masih dipakai, bukankah terasa kekecilan?" Yi Ze bertanya.


"Tidak terlalu, yang jelas, rasanya tidak seperti memakai kalung anjing," Putra Mahkota terkekeh kecil.


Yi Ze nyaris tertawa keras mendengarnya. Bagaimanapun, dia juga masih memakainya.


"Beberapa bulan setelahnya, ibuku meninggal," Putra Mahkota menghentikan kalimatnya, Yi Ze melihat tangannya mulai gemetar, tubuhnya berkeringat, wajahnya mulai pias. Ingatan itu menyerangnya lagi, Yi Ze memeluknya dari samping, mencoba menenangkan.


"Orang-orang bilang, Bibi Xuan yang membunuhnya," Putra Mahkota menangis, memegangi kepalanya yang mulai sakit, "Tapi, aku tidak pernah memercayainya. Begitu Bibi Xuan menerima hukuman, aku semakin tidak bisa mempercayainya. Aku ditemani Jingmi mendatangi rumah Yuehai dan Paman Lin Tao. Tapi mereka sudah pergi, aku tidak tahu ke mana mereka pergi. Jingmi bilang, aku tidak boleh mencarinya, karena seharusnya, keluarga pengkhianat ikut dihukum bersama pengkhianatan itu. Yang kulihat, Yuehai dan ayahnya tidak pernah masuk ke istana sejak dekret pengejaran dikeluarkan, jadi mereka tidak pernah menerima hukuman itu. Sebab itulah aku yakin Yuehai masih hidup, hanya saja aku tidak mampu mencarinya, berharap dia bisa segera kutemukan," Putra Mahkota mendongak, tersenyum penuh kerinduan.


"Aku juga yakin, Bibi Xuan tidak akan pernah melakukan hal semacam itu kepada siapapun, apalagi sahabatnya sendiri," Yi Ze ikut tersenyum, menahan tangisnya sedikit. Kini, dia tahu siapa nama ibunya.


Putra Mahkota menatapnya, "Kau percaya padaku, Yi Ze?"


Yi Ze mengangguk, "Tentu saja," tangannya menggamit lengan Putra Mahkota, berjalan sambil menarik lengannya.


"Eh, mau ke mana?" Putra Mahkota berjalan mengikutinya.


"Antarkan aku keluar. Apa kau tidak bosan berminggu-minggu hanya berdiam diri di kamar? Kudengar ada lomba memanah di lapangan Ibukota. Pasti ada banyak penjual makanan enak," Yi Ze tertawa sambil berlarian.


"Kita harus meminta izin kepada Raja-"


"Tidak perlu," Yi Ze melambaikan tangan, "Jangankan Pelat Perunggu, aku bahkan memegang Pelat Harimau sekarang," dia tertawa, membuat Putra Mahkota terdiam.


Mereka menonton perlombaan memanah di lapangan besar, para peserta sudah mulai memanah. Yi Ze menyipitkan mata melihat salah satu peserta itu.


"Dia seperti Shu'er?" gumamnya pelan.


Putra Mahkota menatap Yi Ze yang sepertinya tertarik, "Kau mau ikut juga?"


Yi Ze menggeleng, terus melihat ke arah peserta perempuan yang berada di barisan tengah. Peserta itu menembakkan banyak sekali anak panah, tapi nyaris semuanya tepat sasaran, beberapa merobek anak panah yang sudah mendarat di tengah sasaran.


"Itu benar-benar Shu'er!" Yi Ze berseru.


"Shu'er siapa?" Putra Mahkota menatapnya heran.


Peserta itu unggul dibanding yang lain, hingga babak final, dia berhasil meraih kemenangan. Dan dihadiahi 100 tael emas. Yi Ze segera menyeretnya ke tepi lapangan.


"Shu'er! Kau sedang apa?" Yi Ze berbisik hendak memarahinya, "Kau sekarang buronan orang persilatan, jika muncul di Beizhou dengan begitu mencolok, kau akan dalam masalah," omelannya tidak berhenti.


Shujin sibuk menghitung uangnya, "Biarkan saja. Mereka tidak punya bukti aku benar-benar melakukannya. Lagi pula, kau tidak memberiku uang jajan, aku terpaksa mencari penghasilan sendiri. Kau tidak mengizinkanku berbuat jahat lagi, kan? Jadi aku mengikuti perlombaan ini, kebetulan hadiahnya tidak main-main." Shujin nyengir lebar, "Lihatlah, aku punya banyak uang."


Putra Mahkota tertawa, "Kau siapa berani meminta uang jajan padanya?" tangannya mendorong bahu Shujin.


Melihat itu, Shujin merasa kesal, dia memasang kuda-kuda untuk memukul Xiao Yuan balik. Tapi Yi Ze mengatakan untuk tidak berbuat kasar lagi.


"Ini adikku, Yi Shujin, Yang Mulia." Yi Ze mengenalkan Shujin pada Putra Mahkota, "Kau panggil saja dia Tuan Muda Xiao. Pulanglah, kau tidak boleh berkeliaran!" Yi Ze menyuruh Shujin untuk segera pulang.


Putra Mahkota bertanya-tanya dari mana Yi Ze memungut seorang adik yang begitu kurang ajar. Yi Ze bilang dia bahkan memungut dua adik dalam satu hari.


Setelah perlombaan memanah, Pusat Ibukota semakin terlihat ramai, Yi Ze bahkan tidak bisa melihat pusat keramaiannya. Dia berhenti di tengah jalan, melihat-lihat penjual aksesoris. Sementara Putra Mahkota hanya memperhatikannya saja.


"Tali pengikat rambutku sudah usang," Yi Ze bergumam, menghentikan langkahnya di depan penjual aksesoris rambut. Putra Mahkota ikut melihat-lihat, "Kau juga tertarik dengan hal semacam ini?"


Yi Ze bersungut-sungut, "Tali rambut memang penting."


Putra Mahkota melihat-lihat lagi, lalu menggeleng, "Aku bisa memberikan tali rambut yang lebih mahal dari semua yang ada di sini. Kita pulang saja, akan kusuruh Ji Xue untuk menyiapkannya," Putra Mahkota menarik tangan Yi Ze pergi.


Tapi Yi Ze menolak, tidak mau bergerak, dia memaksa ingin beli di toko kecil ini. Lagipula, bukan urusan Putra Mahkota tentang Yi Ze yang mau membeli tali pengikat rambut, bukan?


"Tuan Muda, yang diinginkan seorang gadis bukanlah pengikat rambut yang mahal, melainkan seberapa romantis si pemberi ikat rambut itu. Jika ingin menarik perhatiannya, kau hanya perlu membeli satu yang dia inginkan, lalu memakaikannya di kepalanya. Bukankah begitu, Nona?" penjual aksesoris rambut itu tersenyum, menatap Yi Ze yang malu-malu.


Putra Mahkota menatapnya dengan tatapan menghindar, "Lagipula siapa yang mau membelikanmu ikat rambut," gumamnya pelan.


"Memangnya aku memintamu untuk membelikannya?" Yi Ze justru berseru marah, lalu mengambil tali rambut berwarna merah, "Aku ingin membeli ini, berapa harganya?"


Nyonya Penjual tersenyum ramah, "Pilihanmu bagus sekali, warna merah cocok untuk gadis sepertimu yang pemberani, terlihat dari bentuk wajahmu yang tegas. Aku menghargainya tiga keping emas karena aku menyulamnya dengan detail yang sangat terlihat."


Saat Yi Ze hendak membayar, Putra Mahkota lebih dulu memberikan satu ikat uang perak, "Ambillah, anggap saja kau beruntung karena wanita ini membeli di tokomu," Putra Mahkota merebut tali merah yang Yi Ze pilih.


"Kau memang cocok sekali memakai warna merah ini," Putra Mahkota merapikan rambut Yi Ze, matanya tak sengaja melihat ke arah telinga Yi Ze. Ada tanda lahir berupa lubang kecil di atas daun telinga kiri Yi Ze. Putra Mahkota merasa begitu familiar dengan tanda lahir itu.


Dia batal memasangkan pengikat rambut kepada Yi Ze, matanya kini menyorot ke arah telinga kiri Yi Ze dengan begitu antusias.


"Yi Ze, tanda lahir apa di telingamu ini?" dia memutuskan bertanya.


Yi Ze tersenyum, "Ini adalah tanda lahir yang sama seperti yang pernah kamu lihat saat usiaku dua tahun," jawabnya.


Putra Mahkota terdiam seribu bahasa. Matanya berbinar kebahagiaan, namun raut wajahnya sulit diartikan. Putra Mahkota menatap Yi Ze dengan tidak biasa, membiarkan butiran salju hinggap di pundaknya, tubuhnya yang hangat membuat butir salju itu mencair lebih cepat.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung