
"Guru, benarkah kau orangnya? Benarkah kau bisa menyelamatkan Putra Mahkota satu kali lagi? Benarkah kau mengetahui caranya? Lalu, bisakah kau membantuku?"
Yi Ze memacu kudanya melebihi kecepatan umum. Dia sudah menemukan setidaknya satu jalan keluar untuk penyakit Putra Mahkota. Mungkin saat musim berganti, Putra Mahkota tidak perlu lagi merasa kepanasan. Dia cukup tersiksa melihat sahabat masa kecilnya itu menderita karena tubuhnya sendiri.
Masih berjarak puluhan kilometer, Yi Ze dipaksa turun dari kudanya. Wanita lembut sepertinya tidak bisa melihat yang lemah ditindas yang kuat. Seorang pria miskin sepertinya baru saja diusir keluar dari sebuah rumah besar.
Yi Ze menghentikan kudanya, bertanya apakah pria itu baik-baik saja, "Tuan, apakah kau baik-baik saja?"
Tuan itu tersenyum, berdiri saat Yi Ze hendak membantunya berdiri. Usianya mungkin sebaya dengan Feng Shui. Pria itu tidak terlihat seperti orang yang benar-benar miskin.
"Tuan, apakah kau warga kota ini?" Yi Ze mengubah pertanyaannya saat pria itu tidak menjawab.
"Aku datang dari Yongzhou. Nona, bisakah kau membantuku?" pria itu bertanya pada Yi Ze .
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Tuan?" Yi Ze tersenyum ramah, tentu saja dia akan membantu orang yang membutuhkan bantuannya.
"Bisakah, kau memberikan kuda itu padaku?"
Yi Ze terdiam. Kuda ini penting untuknya, dia tidak akan menyelesaikan perjalanan dengan cepat jika dia memberikan kuda ini pada tuan yang meminta bantuannya.
"Tuan, apa yang akan kau lakukan dengan kudaku?" Yi Ze bertanya lagi sebelum memberikannya.
"Aku membutuhkan uang, Nona. Jika kau meminjamkan aku uang, aku tidak membutuhkan kudamu lagi," jawab Si Pria.
"Aku tidak bisa memberikan kudaku. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Ibukota, jika kau mengambil kudaku, akan lama sekali bagiku untuk tiba di Ibukota," Yi Ze memberikan alasan yang jelas padanya.
Tuan itu menunduk, "Kalau begitu, Nona tidak perlu mengkhawatirkanku. Perjalananmu sangat panjang, aku bisa mencari cara lain untuk bisa pulang ke Yongzhou," tuan itu tersenyum, hendak pergi meninggalkan Yi Ze , "Semoga perjalananmu lancar, Nona."
"Eh, Tuan! Tunggu sebentar!" Yi Ze menghentikannya. Tuan itu menoleh.
"Sekarang sudah larut, aku memutuskan untuk beristirahat di kota ini. Bisakah kau menemaniku minum teh sebentar?"
Yi Ze mencari kedai teh terdekat, dan menemukan penginapan murah yang memungkinkan untuknya beristirahat. Tuan itu benar-benar menemaninya minum teh.
"Tuan, namamu siapa?" Yi Ze bertanya.
Pelayan menghidangkan teko berisi teh hijau dan dua cangkir kecil.
"Qin Dong."
"Yi Ze," Yi Ze juga menyebut namanya.
"Senang sekali bertemu wanita baik seperti Nona Yi," Qin Dong tersenyum, menyeruput teh dalam cangkir.
Yi Ze tiba-tiba mengeluarkan kantong berisi kepingan uang, "Tuan, aku tidak punya keping emas. Juga tidak punya uang banyak. Tapi satu kantong ini cukup untuk sewa penginapan dan makan selama sebulan. Jika kau menggunakannya selama perjalanan pulang, kau tidak akan kelaparan," Yi Ze menyerahkan kantong berisi penuh uang perunggu.
"Nona, kau baik hati sekali," Qin Dong menatap Yi Ze dengan penuh terima kasih.
"Tuan, jika aku boleh mengetahuinya, kenapa Tuan bisa berada jauh sekali dari Yongzhou? Kota ini hanya berjarak puluhan kilometer saja dari Kota Yu di Wilayah Selatan," Yi Ze mengeluarkan rasa penasarannya.
Qin Dong menunduk sedikit, "Sebenarnya, aku sedikit menyesal mendatangi kota ini. Niat hati ingin melamar, tapi calon wanita yang kulamar tidak bisa menerimanya," jawabnya dengan jujur.
"Kenapa?"
"Keluarganya membatasi calon suami untuknya, harus kaya, harus bisa melindungi putri mereka, harus memberikan mahar yang banyak. Sedangkan aku tidak memenuhi kualifikasi seperti itu. Aku hanya menyiapkan dua tael emas sebagai mahar, dan mengandalkan cinta untuk melamarnya," jawab Qin Dong, "Nona. Aku sangat malu menceritakan betapa buruknya diriku. Tapi karena kau telah membantuku begitu besar, aku tidak akan sungkan menjawab pertanyaan apapun darimu."
Yi Ze terdiam, baru-baru ini seseorang dari keluarga terpandang juga melamarnya, tapi dia tidak yakin dengan hatinya, juga dengan hati orang itu. Dia takut apa yang menimpa Qin Dong juga menimpanya jika dia menerima lamaran Pangeran.
"Nona, apa kau baik-baik saja?"
Yi Ze berkedip, lalu menggeleng, "Tidak apa-apa. Sekarang sudah larut. Pilihlah kamar untuk menginap, malam ini aku membayar biaya bermalammu. Simpan pemberianku dengan baik, supaya kau tidak kelaparan," Yi Ze berdiri, kamarnya berada di lantai dua.
"Nona." Panggilan Qin Dong menghentikan langkahnya.
"Terima kasih atas bantuan besarmu, kelak, aku pasti akan membalas kebaikanmu." Qin Dong tersenyum dan menunduk hormat.
"Jika benar-benar ingin membalas kebaikanku, kita harus bertemu kembali."
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze melanjutkan perjalanannya tanpa menemui Qin Dong terlebih dahulu. Dia harus segera sampai di Beizhou , bahkan ketika tiba, dia harus sibuk membujuk Raja agar mengizinkannya agar membawa Putra Mahkota keluar mencari gurunya.
Sekarang, jaraknya tidak lagi jauh, sudah memasuki gerbang Kota Hai'an. Pukul dua siang, dia memasuki Kota Beizhou . Lalu berhasil memasuki istana pada pukul tiga sore.
Berita kepulangan Yi Ze yang tidak sesuai jadwal itu berhasil membuat gempar seluruh istana. Saat mendengarnya, Ratu Xiulin berspekulasi sendiri tentang tujuan kedatangan Yi Ze itu.
Ketika Pangeran mendengarnya, dia langsung berlari keluar dari kediamannya, hendak menyambut Yi Ze di depan sana. Tapi niatnya terurungkan melihat kakaknya datang terlebih dahulu.
Dia melihat dengan matanya saat Putra Mahkota tiba-tiba memeluk Yi Ze yang baru turun dari kuda. Lebih menyakitkan lagi, Yi Ze membalas pelukan itu. Bahkan tersenyum lebar saat menatapnya.
"Yang Mulia. Aku kedinginan, begitu memelukmu, aku langsung berkeringat kegerahan," Yi Ze terkekeh.
"Aku mengirimkan surat padamu beberapa waktu lalu, apakah kalian kau menerimanya?" Putra Mahkota bertanya.
Yi Ze mengangguk, "Aku membuangnya sebelum kubaca," ucapnya tidak peduli.
Putra Mahkota tampak terkejut dengan jawaban singkat Yi Ze , "Setelah mengataiku, kau bahkan tidak peduli sama sekali," dia bersungut-sungut.
Yi Ze tersenyum geli, "Aku pulang karena kiriman surat itu, Yang Mulia. Izinkan aku menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu, kau bisa menungguku di kediamanmu saja."
Yi Ze langsung menemui Raja begitu tiba di istana. Tampaknya Raja sudah mendengar berita kepulangannya, begitu masuk, Yi Ze disambut dengan baik oleh Raja.
"Tampaknya kau tidak terlalu menyukai militer, benarkah? Kupikir kau bahkan kembali sebelum sampai. Apa alasanmu sampai menunda titah dariku?" Raja bertanya tanpa mengurangi ketegasannya.
Yi Ze berlutut di depan Raja, "Yang Mulia. Mohon maafkan kesalahan Yi Ze. Yi Ze memang belum tiba di Wilayah Militer Selatan. Saat di tengah jalan, bawahanku memberitahu tentang seorang tabib hebat di daerah Shanjiao. Karena aku berasal dari sana, seharusnya tidak sulit mencari keberadaan tabib hebat misterius itu. Yang kudengar, dia bisa menyembuhkan penyakit apapun dan menawar racun jenis apapun. Aku ingin mencobanya, Yang Mulia. Membawa Putra Mahkota ke Shanjiao."
Raja terdiam lama sekali, menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara, "Pertama kali, putraku selamat karena bantuanmu dari Shanjiao. Kupikir kau mengenal tabib hebat itu? Siapakah dia?"
Yi Ze menunduk ketika tahu Raja menyadari kebohongannya, "Maafkan Yi Ze yang sudah berbohong, Yang Mulia. Tabib hebat itu, aku berpikir dia adalah guruku yang menyembunyikan identitasnya," Yi Ze menjawab lebih jujur.
"Tampaknya, Shanjiao memiliki sesuatu yang berharga di sepanjang wilayah yang kukuasai," Yang Mulia Raja tertawa, "Orang tua itu menyebalkan," Raha belum memutuskan untuk memberikan izin.
"Menjawab, Yang Mulia. Shanjiao berada di kaki gunung, warganya berprofesi sebagai peternak dan peracik obat karena lokasi desa yang memungkinkan pekerjaan itu. Aku telah menemui banyak tabib di sepanjang kota yang kulewati, beberapa berasal dari Lembah Chi, beberapa juga dari Shanjiao. Guruku adalah Mantan Jenderal Besar Pasukan Selatan, kupikir dia punya cara rahasia yang bisa menyembuhkan racun tanpa memerlukan obat penawar. Harap Yang Mulia mempercayaiku untuk membawa Putra Mahkota ke Shahuang. Aku memiliki tempat tinggal yang menyenangkan di sana, tidak akan mengalami kesulitan," Yi Ze menunduk lagi.
"Lalu bisakah aku mengajukan sebuah syarat?" Yang Mulia Raja berdiri dari duduknya, menghampiri Yi Ze yang masih berlutut di depan tempatnya duduk.
Yang Mulia Raja membantunya berdiri, "Kau akan membawa lima belas orang pasukanmu untuk mengawal perjalanan ini, kau harus melaporkan setiap perhentian rombonganmu ke istana. Jika ada sesuatu yang membahayakan nyawa putraku, kau harus segera membawanya kembali jika memungkinkan. Jika tidak, kirim surat untuk meminta bala bantuan," Raja menyebutkan syaratnya.
Yi Ze mengangguk dengan senang hati, "Yi Ze pasti memenuhi persyaratan yang diberikan Yang Mulia Raja."
"Aku melakukan ini untuk keselamatan putraku. Karena aku memercayaimu, jangan pulang ke istana sebelum kesehatan putraku pulih kembali," Raja menepuk pundak Yi Ze .
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze memasuki Shuiquan. Matanya langsung tertuju pada Putra Mahkota yang duduk di halaman sambil minum teh. Ada Ji Xue dan Qing Yang di belakangnya.
Senyumnya terbit begitu tipis, dia senang melihat teman masa kecilnya akan segera sembuh. Semoga saja ini bukan hanya spekulasinya sendiri saja.
"Yang Mulia," Yi Ze memanggil, berjalan mendekati mereka. Putra Mahkota langsung berdiri begitu mendengar suara Yi Ze.
Yi Ze menahan pundaknya agar kembali duduk saja, "Aku ingin bicara denganmu," ucapnya pelan pada Putra Mahkota.
Ji Xue dan Qing Yang langsung pergi saat mendengar ucapan Yi Ze. Percakapan itu, mereka tentu tidak berani mendengarnya.
"Katakan, kau mau bicara apa?" Putra Mahkota membiarkan Yi Ze duduk di depannya.
"Aku sudah memikirkan solusi untuk penyakitmu," Yi Ze berterus terang tanpa hambatan, "Aku ingin membawamu ke kampung halamanku. Guruku akan membantumu. Membawamu menemuinya, aku yakin bisa menyembuhkan penyakitmu," jelasnya secara singkat.
Yi Ze mengangguk, " Lebih tepatnya, masuk wilayah Gunung Shahuang. Kau harus mewujudkan keinginanku ini, Yang Mulia. Raja sudah mengizinkan."
Putra Mahkota tersenyum, "Sejauh ini, memang tidak bisa disembuhkan. Ini adalah racun legenda di Lembah Chi. Puluhan generasi mereka saja tidak bisa menemukan penawarnya. Bagaimana mungkin kau dengan mudah mengetahui bahwa gurumu bisa menawarnya? Bahkan jika memang benar bisa, kau yakin dia mau melakukannya?" ucapan itu terdengar sangat tidak meyakinkan.
Yi Ze bergeser dari kursinya, berlutut di depan Putra Mahkota, "Kumohon, Yang Mulia. Turuti saja keinginanku, aku bisa mewujudkan keinginanmu untuk sembuh. Aku sangat yakin."
Putra Mahkota tersenyum, "Baiklah. Aku akan mengikuti apapun yang kau katakan. Sebelum itu, istirahatlah dulu selama beberapa hari, jika mengikuti kebiasaanmu, aku yakin kau tidak tidur dan makan dengan teratur selama perjalanan pulang kembali ke istana."
Yi Ze menggeleng, "Kita harus segera berangkat sebelum pergantian musim terjadi," tolaknya.
"Kalau begitu terserah padamu saja, aku tidak mau pergi sebelum melihatmu beristirahat," Putra Mahkota bersikeras membuat Yi Ze beristirahat.
Yi Ze mendengus, lalu pergi dari kediaman Putra Mahkota. Putra Mahkota meminta Ji Xue untuk mengikuti Yi Ze dan memastikan apakah Yi Ze beristirahat dengan baik atau tidak.
Rupanya, Pangeran telah menunggunya di kediamannya, Yi Ze menghentikan langkahnya, pria itu menatapnya penuh kerinduan. Senyumnya tampak cerah bersemangat.
"Pangeran, apa yang kau lakukan di depan kediamanku?" Yi Ze mendekat, bertanya.
Di dalam sana, Shujin dan A-Yin mengintip dengan senyum jahil, "Rupanya ada orang yang sudah menyambut kedatangan kakak kita," mereka saling berbisik dan tertawa.
Pangeran melihat apa yang Yi Ze pakai di kepalanya, wajahnya menjadi lebih cerah lagi, "Yi Ze, apa yang kau pakai di kepalamu?" Pangeran sengaja bertanya lagi untuk memastikan apakah itu adalah pemberiannya atau bukan.
"Ini tusuk rambut," Yi Ze menjawab pendek.
Pangeran terkekeh, "Apakah itu pemberianku waktu itu?"
Yi Ze mengangguk, "Ini memang pemberianmu."
"Lalu, apakah kau sudah memiliki jawabannya?" Pangeran bertanya semakin bersemangat.
Yi Ze menatapnya lebih intens, dalam hatinya, pria ini memang begitu baik. Tempatnya dengan tempat Putra Mahkota berbeda di dalam hatinya. Dia menjaga dan melindungi Putra Mahkota karena sadar dengan tugasnya. Tapi untuk Pangeran, tidak ada alasan untuk melakukan hal yang sama, dia memandangnya sebagai seorang teman dekat yang sangat perhatian, seperti saat mencari penawar racun Putra Mahkota, Pangeran membantunya menangkap pelakunya. Tentu saja dia sangat menghormati pertemanan ini.
Namun, jika ditanya tentang perasaan, dia tidak ingin melabuhkannya pada siapapun. Dia menyukai pangeran, ingin menerima permintaan ini dengan senyum tak terkira. Tapi kesadarannya tentang derajat yang berbeda harus membuatnya mampu menahan dan menghilangkan perasaan ini. Yi Ze tidak ingin merusak masa depan yang sudah dia rancang dengan sangat baik karena kegagalan dalam cinta anak muda.
"Yi Ze, apa yang kau pikirkan?" Pangeran bertanya, melambaikan tangannya di depan wajah Yi Ze yang melamun.
"Pangeran, jika aku hanya memelukmu, apa kau bisa mengerti maksud pernyataanku?" tanya Yi Ze .
Pangeran terdiam, tidak menyangka Yi Ze akan menanyakan hal itu padanya. Tiba-tiba Yi Ze segera saja memeluknya tanpa persetujuan apapun.
"Yi Ze, jika kau seperti ini, apa artinya kau..."
"Aku menyukaimu, Yang Mulia," Yi Ze mengutarakan maksud hatinya.
Senyum Pangeran langsung terbit begitu cerah bagaimana matahari pagi di kaki gunung, "Kau benar-benar..."
"Jika aku menyukaimu, apakah benar-benar harus menerima lamaranmu?" Yi Ze tersenyum dan mendongak menatapnya.
"Pangeran, aku tidak tahu kalau hanya dengan menyukai kita bisa hidup saling bergantung di masa depan. Yang aku tahu, perasaan suka bisa tumbuh saat dua belah pihak berteman baik dan saling memercayai. Saat seseorang memelihara anjing, orang itu menyukai peliharaannya, menganggapnya keluarga, memercayainya. Tidak mesti ditunjukkan dengan pernikahan," jelas Yi Ze , "Yang Mulia, perasaan sukaku ini, untuk menunjukkan bahwa kau adalah sahabat yang paling kupercayai dan kuhormati. Jika kau memberiku hadiah, tidak mungkin aku membuangnya, kan? Harus dipakai untuk menghormati si pemberi hadiah. Soal perasaan, aku hanya seorang anak yatim piatu yang diasuh secara kasar di tengah gunung, tidak pantas menjadi istri seorang pangeran muda yang berbakat, kelak, kau akan menemukan wanita baik hati yang setara dengan derajatmu saat ini. Aku bahkan bisa menjaminnya, calon istrimu itu, sudah pasti jauh lebih cantik dariku, benar?" Yi Ze terkekeh saat mengatakannya.
"Kau bercanda, Yi Ze?" Pangeran menatapnya lebih serius.
Yi Ze menghela napas pelan, "Aku mengatakannya begitu serius, tidak mungkin hanya candaan. Maafkan aku. Kau tahu sendiri, hidup denganmu bukan menjamin diriku bahagia. Akan ada begitu banyak wanita di Beizhou yang akan menindasku karena berani menikahi pria pujaan mereka," Yi Ze tersenyum, menepuk pundak Pangeran, "Yang Mulia. Sebenarnya aku tidak pernah berencana untuk menikah. Karena aku sudah mencintai sesuatu," dia tersenyum.
"Sesuatu apa itu?" Pangeran bertanya penasaran, "Tidak mungkin aku lebih baik dari sesuatu itu, kan? Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini, Yi Ze . Sesuatu yang kau cintai, aku tidak mungkin tidak lebih baik darinya."
Yi Ze tertawa kecil, "Tentu saja, aku lebih mencintai sesuatu itu dari pada siapapun. Tidak ada yang bisa mengalahkan posisinya di dalam hatiku," Yi Ze mengangguk-angguk senang dengan pemikirannya.
"Sesuatu apa itu?" Pangeran mengulangi pertanyaannya dengan ekspresi yang sudah tidak sabar lagi.
"Bakat." Yi Ze tersenyum puas saat menjawabnya.
Bahkan Sang Pemberi Pertanyaan terdiam tidak mengerti, "Bukankah kau bilang mencintai sesuatu?"
"Heiyo, sesuatu itu adalah bakatku sendiri. Aku tidak berniat menikah karena sudah mencintai bakatku. Aku berbakat di bidang militer, maka aku akan menikahi bakatku sendiri, dan setia padanya di medan perang," Yi Ze tersenyum lebih lebar.
Pangeran mendengus, "Kupikir kau mencintai orang lain," gumamnya pelan.
"Pangeran, kau bukan tidak memahami perkataanku, kan? Sesuatu itu artinya benda, atau sebuah perkataan. Sedangkan orang lain, itu namanya seseorang, berbeda sekali. Kau pasti mengerti, kan?" Yi Ze menimpuk lengannya dengan sendok.
"Yi Ze, karena kau sudah menolakku, kau anggap saja aku tidak pernah mengatakan perasaanku yang sebenarnya," Pangeran memalingkan wajah.
"Pangeran, kau tak perlu marah. Aku menolakmu bukan karena apapun, hanya tidak ingin merusak hubungan baik kita saat ini, kupikir, menjadi sahabat lebih baik dari hubungan suami istri. Kita tidak boleh merusak pertemanan kita hanya karena perasaan saling suka. Kelak, jika kau menemui masalah, jangan sungkan untuk mencariku, aku pasti selalu membantumu."
Percakapan ini berakhir baik-baik saja. Yi Ze bahkan sempat mengajak Pangeran untuk minum teh sejenak di kamarnya, mereka benar-benar berbincang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Pangeran tidak membencinya, juga tidak memaksa Yi Ze menjadi istrinya. Tapi dia masih ingin berusaha lagi, caranya berusaha kali ini mungkin lebih kotor dari sebelumnya. Pangeran tidak berniat menyakiti siapapun, tapi perasaan itu sudah menjadi obsesi, orang sepertinya, akan melakukan apapun untuk mendapatkan perempuannya lagi.
⚔️⚔️⚔️
Malam itu juga, Pangeran menemui ibunya di Harem. Permaisuri Xiulin sedang bersantai sambil menata diri di depan cermin di dalam kamarnya.
Melihat putranya datang, orang pertama di hati Raja itu berbalik, "Putraku datang mengunjungi ibunya."
"Yu'er minta maaf akhir-akhir ini jarang mengunjungi Ibu, semoga Ibu selalu diberkahi umur panjang," Pangeran membungkuk pada ibunya.
Barulah Ratu membawanya duduk bersamanya, bertanya hal apa yang membuat Pangeran mengunjungi kediamannya yang sepi ini.
"Ibu, baru saja aku melamar seseorang, tapi dia sudah menolakku duluan," Pangeran menumpahkan keluh kesah dalam hatinya.
Xiulin terkejut hingga matanya membulat, "Haish! Kau ini main-main atau bagaimana? Mempermalukan keluarga kerajaan saja!" Ratu Xiulin menghela napas kesal, entah bagaimana putra tersayangnya ini bisa begitu bodoh. Bahkan sekarang tengah menatap wajah ibunya dengan ekspresi polos itu, seakan benar-benar tidak mengerti.
Xiulin menahan amarahnya, "Putraku, kau dengarkan aku dulu. Melamar itu bukan sesuatu untuk main-main. Selain hanya mengajak menikah anak gadis entah punya siapa, kau harus memahami etiketnya terlebih dahulu. Seperti mengenalkan gadis itu pada orang tuamu, lalu meminta restu, mengirim surat lamaran pada orang tua gadis itu, memberi mahar juga. Dalam urusan jodoh, campur tangan orang tua selalu penting. Kau bahkan tidak mengenalkan gadismu pada Yang Mulia Raja. Bagaimana dia bisa menyetujuinya? Kau ini dungu atau bagaimana?" matanya berputar kesal.
Pangeran Kedua menggaruk tengkuknya dengan wajah lugu, "Ibu, aku tidak yakin bisa mendapat persetujuan Yang Mulia Raja," Pangeran nyengir lebar.
Ratu meletakkan tangannya di dahi, "Kalau sudah tahu seperti itu, jangan berani melamarnya lagi, cari gadis yang memungkinkan Raja untuk merestui keputusan besarmu."
"Tapi aku sudah menyukainya sejak sebelas lalu," Jung Yeon menunduk lesu, menyesal dengan perkataannya, bagaimana seyakin itu kalau Raja tidak akan merestuinya? Bukankah Raja menyukai Yi Ze juga?
"Astaga, putraku ternyata sudah lama sekali mulai menyukai gadis. Kau katakan padaku, gadis bangsawan mana yang kau sukai hingga selama ini? Bagaimana dia bisa menolakmu begitu saja? Aku akan membantumu meminta izin pada Yang Mulia Raja. Katakan, siapa gadis yang kau sukai? Dari keluarga mana?"
Pangeran tersenyum senang sekali, "Dia tinggal di Kediaman Qingchu, Ibu. Pertama kali bertemu dengannya saat aku masih suka berburu di Shanjiao. Kini, dia tinggal dekat sekali denganku."
Xiulin langsung kehilangan ekspresi cerahnya, "Maksudmu, gadis liar yang tinggal di gunung itu?" nada bicaranya bahkan langsung meninggi.
Senyum Pangeran terlipat, "Ibu, apa kau langsung tidak menyetujuinya?"
"Kau ini! Yang benar saja, kita dari keluarga kerajaan, bagaimana bisa menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya?" Xiulin tampak marah.
Pangeran menunduk, "Ibu, aku benar-benar sangat menyukainya."
Xiulin terdiam sebentar, memikirkan apa yang akan terjadi besok jika gadis liar itu dinikahi putranya. Selama ini, langkahnya selalu gagal karena gadis liar itu, jika putranya menikah, minimal, gadis itu semakin mudah dia kendalikan.
"Baiklah, ibu menyetujuinya, secepatnya akan Ibu bahas dengan ayahmu. Kau pulanglah, beristirahat."
"Ibu, Yi Ze seperti disandera oleh Kakak, jika ingin memilikinya, harus memisahkannya dari Kakak terlebih dahulu."
Ratu Xiulin tersenyum, "Tenang saja, Putraku. Sekarang dia sedang bersama kakakmu menuju Shanjiao, begitu pulang, hatinya akan menjadi milikmu."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung