Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Kebenaran



Lima menit berlalu, pedang Yi Ze bertengger di pundak Yuhang, wajah Yi Ze terlihat marah, tidak menurunkan pedang itu meski Yuhang sudah berkali-kali memanggil namanya.


"Hei, Nak! Sudahlah, kakek tua ini mana bisa menyamai ilmumu sekarang. Kau turunkan dulu pedangmu, ajak tamu kita masuk," Yuhang menjepit pedang Yi Ze dengan kedua jarinya.


"Urusan kita belum selesai, Guru," Yi Ze berkata lantang, menatap Yuhang dengan tajam.


Pedangnya bergerak menyerang lagi, di belakangnya, Putra Mahkota berseru menyuruh Yi Ze berhenti menyerang, tapi tidak dihiraukan.


Puncaknya, mereka berdiri saling berhadapan tak jauh dari air terjun. Melihatnya sekarang, masih sama indahnya dengan beberapa tahun yang lalu. Tapi suasana hati Yi Ze yang sekarang sedang tidak ingin menikmati keindahan air terjun itu.


"Beginikah sikapmu setelah mengembara jauh di luar?" Yuhang menatapnya serius, dia sadar Yi Ze tidak sedang bercanda.


"Kau yang lebih dulu main-main denganku," Yi Ze menatapnya tanpa celah. Sedangkan Yuhang hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dia mungkin sudah menebak apa yang Yi Ze pikirkan sekarang.


"Sebenarnya kau siapa? Sejak awal bertemu denganmu, kau sama sekali tidak pernah menyebutkan nama aslimu di depanku," Yi Ze menanyakan alasan terpentingnya.


"Aku lebih suka kau memanggilku seperti itu, setidaknya tidak ada rasa bersalah lain dalam hatiku ketika kau tidak mengetahui nama asliku."


Yi Ze berdecih, "Kau terlalu banyak membohongiku, Jenderal Besar," ucapnya penuh intimidasi, "Seberapa banyak kau mengetahui tentang ibu kandungku?"


Yuhang tampak terkejut, muridnya ini sudah dewasa, bahkan sudah mengetahuinya sebelum dia sempat memberitahu sendiri.


"Kau tentu sudah berkunjung ke Toko Obat Zhuihuan di Kota Hai'an, kan?" Yuhang bertanya, Yi Ze tidak menjawab.


"Tentu saja kau sudah bertemu Tuan Song di sana. Dia pasti memberitahumu semua yang perlu kau ketahui begitu dia menyadari siapa dirimu sebenarnya," Yuhang tersenyum kecil, "Kau sudah dewasa, Yi'er. Bagaimanapun, kau harus tahu hal yang berhak kamu ketahui, kau bisa menyimpannya di hatimu, atau menenggelamkannya di dalam kepalamu. Kamu adalah Lin Yuehai, satu-satunya putri Xuan Lu dan Menteri Pengadilan Lin Tao. Keluargamu hancur karena tuduhan tak terbukti kepada ibumu. Kau harus menjalani pelarian selama bertahun-tahun bersama ayahmu, hingga dia mengubah identitas demi kelangsungan hidupmu. Bahkan setelah identitasmu berubah, kau tetap tidak memiliki kebebasan hidup. Beberapa orang di sekitarmu memang ditakdirkan untuk melindungimu, Yi'er," Yuhang menjelaskannya sambil membelakangi Yi Ze, sebenarnya, dia belum bisa menjelaskan secara keseluruhan. Tapi Yi Ze bukan lagi anak kecil yang bisa dia atur sesuka hati, Yi Ze yang sekarang memiliki aturannya sendiri.


"Takdir seperti apa yang Jenderal maksud?" Yi Ze bertanya dengan nada dingin. Bahkan dia mengubah panggilannya pada pria tua yang mengajarinya selama bertahun-tahun itu.


Yuhang tersenyum, dia memakluminya, "Xuan Lu adalah sahabat kepercayaan Ratu Yang Lama. Semua penduduk Kota Hai'an nyaris tidak ada yang memercayai dekret pemenggalan itu. Atasan Xuan Lu bahkan mengundurkan diri dari posisi Kepala Kepala demi mengikuti kamu ke tempat pengasingan, Yi Ze. Dia menyayangimu sejak kau masih sering berkunjung ke istana dulu. Dia adalah Lai Yi pemilik peternakan kambing yang kau kenal di pedesaan kecil itu," jelasnya pelan, dan tetap membelakangi Yi Ze.


Yi Ze membuka mulut karena terlalu terkejut, "Yang kau maksud ... "


"Lai Yi tiba di Shanjiao beberapa lebih awal dariku. Aku bertemu dengannya di rumah sederhananya, berkata kalau kau dan ayahmu akan menetap di sini setelah pengasingan selesai. Dan tebakan itu benar, Lai Yi menyarankan agar aku menunggumu di puncak gunung ini. Dia punya rencana besar untuk masa depanmu, setelah mengetahui ini, aku harap kau akan berterima kasih padanya," kini, Yuhang berbalik, menatap Yi Ze yang sudah mengeluarkan air mata.


Suasana menjadi hening sejenak, Yi Ze mendongak, menatap Yuhang yang menunggunya berbicara lebih dulu.


"Lalu, apa hubunganmu dengan kematian ibuku?" Yi Ze bertanya, tatapannya lebih tajam dari sebelumnya.


Yuhang terdiam cukup lama. Dalam hatinya, dia bisa memberitahu semua rahasia masa lalu itu pada Yi Ze, tapi tidak dengan fakta kalau dia yang menyebabkan Xuan Lu dipenggal. Dia belum siap melakukannya, dia tidak mau mengambil konsekuensi tinggi, misalnya seperti Yi Ze tidak mau mengenalnya lagi.


Yi Ze mendesaknya untuk menjawab, dia masih terdiam memikirkan jawaban yang masuk akal. Tidak mungkin berbohong, tidak mungkin juga mengatakan kebenarannya.


Tangannya mengeluarkan sesuatu, itu sebuah tali pengikat rambut, "Ibumu memakai ini saat kepalanya diletakkan di atas kayu bundar itu. Aku memungutnya saat jasadnya hendak dibakar. Aku juga menemukan kalung ibumu, aku sudah memberikannya padamu sebelumnya, bukan?"


Yi Ze mengeluarkan kalung emas itu, "Setelah mengetahuinya, aku membawanya ke mana pun,"


"Aku langsung mengundurkan diri dari jabatanku setelah menemukan kalung itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menemukanmu, dan mencarikan jalan keluar untuk membersihkan nama keluargamu dari pengkhianatan yang tidak pernah kalian lakukan. Karena aku tahu, bukan Xuan Lu yang membunuh Ratu Yang Lama. Aku yakin, pembunuh itu berkaitan dengan pembunuh anak dan istriku,"  Yuhang menyerahkan tali pengikat rambut lusuh itu pada Yi Ze.


"Jadi, itukah sebabnya kau memintaku ke istana untuk jawaban atas kematian istri dan anakmu? Alasan sebenarnya adalah membuatku tahu siapa diriku?"


Yuhang terdiam, karena terdiam, Yi Ze tahu tebakannya benar, "Alangkah baiknya aku tidak pernah mengetahui tentang itu, Jenderal. Meski hidupku tidak pernah menyenangkan, lebih terlihat menyedihkan setelah mengetahui semua kebenarannya. Aku tidak mengharapkan apapun," ucapnya pelan.


"Kau harus membersihkan namamu, kau harus melakukannya, demi ibu dan ayahmu. Kau harus membuat orang-orang istana itu tahu, kalau keluargamu tidak pernah melakukan pengkhianatan sama sekali," Yuhang menyentuh pundaknya, tersenyum menyemangati.


"Jenderal Besar, aku beruntung bertemu denganmu. Kau peduli pada keluargaku. Karena utang budi ini, tentu aku harus membantumu membalaskan dendam Bibi Liling dan Xie Yun," Yi Ze menyingkirkan tangan itu dari bahunya.


"Bisakah tidak perlu secanggung ini?" Yuhang mengalihkan pembicaraannya.


Yi Ze menatapnya bingung.


"Apakah kita sejauh ini? Panggilan seperti itu membuat hubungan guru dan murid kita menjadi terdengar tidak mungkin."


Yi Ze menatapnya lebih bingung, dia tidak mengerti, "Apa yang kau maksud?"


"Panggil saja Paman Xie Xuan, atau tetap panggil Paman Yuhang. Aku bukan jenderal lagi, panggilan itu tidak cocok untukku, apalagi kau yang mengucapkannya," Yuhang berjalan kembali ke rumahnya yang tua itu.


"Paman," panggilan Yi Ze menghentikan langkahnya lagi.


Yuhang tersenyum puas, berbalik, "Kau butuh apa lagi?"


"Paman, di mana ibuku di makamkan?"


Senyum itu memudar, Yuhang mendongak menatap rimbunnya pohon, sebenarnya dia hanya menahan air matanya agar tidak terjatuh dan dilihat Yi Ze.


"Sebelum membahas itu, bisakah kita pulang dulu? Tamumu menunggu terlalu lama. Bukankah kau membawanya ke sini untuk menyembuhkan penyakitnya?"


⚔️⚔️⚔️


Bersambung