Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Apakah Aku Harus Marah?



Putra Mahkota mendongak, menatap betapa lebatnya hutan Shahuang. Beberapa bulan yang lalu, dia melewatinya bersama Yi Ze. Datang kembali ke sini, terasa sepi dan senyap.


"Jingmi, menurutmu, apakah aku benar-benar tidak boleh membencinya?" Putra Mahkota bergumam, mengarahkan kudanya agar berjalan lambat saja.


Jingmi menoleh, "Menurutku, kau terlalu perasa, Yang Mulia." Jawaban itu membuat Putra Mahkota mengerutkan dahi.


"Perasa seperti itu, ketika kau lebih memikirkan apa yang tengah kau lalui dari pada apa yang sudah mereka lalui. Kau tidak boleh berpikir hanya kau saja yang terluka karena masalah ini, Yang Mulia. Jenderal Xie Xuan juga mengalami hal yang sama, dia kehilangan keluarganya, dan dia menginginkan keadilan bagi keluarganya, tapi jalan yang dia lalui salah, itu wajar bagi orang yang baru saja ditinggal pergi orang tercinta. Mungkin juga dia tidak tahu kalau wanita yang dia bunuh bukanlah orang yang seharusnya dia bunuh. Itu di luar pemikirannya."


Putra Mahkota menghela napas, "Ya ... kau ada benarnya. Melihat Yi Ze seperti ini, jika tidak tahu penyebabnya adalah ibu tiriku, aku pasti akan berpikir untuk membalas dendam kepada Ayah yang sudah membuatnya seperti ini," dia menimpali, "Tapi tetap saja, aku ingin membencinya karena sudah membunuh ibuku," pungkasnya.


"Aku ingin meminta padamu untuk bersikap bijaksana, Yang Mulia. Jenderal Xie Xuan sudah menebus separuh dosanya dengan mengajari Yi Ze bela diri sejak kecil dan menjadi guru yang baik untuknya. Dia bahkan menuntun Yi Ze untuk mengetahui kebenaran itu meski tahu dirinya akan dibenci. Yang Mulia harus membantunya untuk menebus semua dosanya dengan mengakui kesalahan itu dan menyelamatkan Yi Ze dan ibunya. Tindakan ini juga akan mengungkap siapa penjahat sebenarnya. Mungkin itu akan meringankan hukuman yang diterima Jenderal Xie Xuan. Kota harus cepat sampai, Yang Mulia. Tunjukkan jalannya kita harus ke mana!" Feng Shui mempercepat laju kudanya, masuk ke dalam obrolan Jingmi dan Putra Mahkota.


⚔️⚔️⚔️


Berkuda ke atas gunung hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk tiba di puncak. Putra Mahkota mengikat kudanya di pohon tinggi depan rumah Jenderal Xie Xuan.


Feng Shui merasa tidak yakin kalau rumah terpencil di tengah hutan ini memiliki penghuni, Jingmi mengatakan kalau Xie Xuan memang tinggal di sini. Putra Mahkota mengetuk pintu untuk memastikan kalau Jenderal Xie Xuan masih tinggal di rumah ini.


"Bukankah ini aneh, Yang Mulia? Hutan ini begitu luas dan hanya ada satu rumah di dalamnya. Kau benar-benar berpikir ada orang yang tinggal di sini?" Feng Shui masih meragukannya.


"Jenderal Xie Xuan memang tinggal di sini. Aku ingat sekali pertama kali datang ke sini dia juga tidak ada di rumah pada awalnya. Jadi kita hanya perlu menunggunya pulang. Lagi pula, selain di rumah ini, kita mau bermalam di mana?" Putra Mahkota membuka pintu.


Ternyata isi rumah ini masih sama seperti sebelumnya. Barang-barang tertata rapi, bahan makanan dan obat-obatan berjejer di sebuah meja luas. Ada ranjang tidur juga, lemari kecil berisi pakaian, mereka berbaring di lantai, rumah ini sebenarnya luas, hanya saja tertutup barang-barang yang begitu banyak sehingga ruang kosong hanya bisa digunakan untuk tidur kurang dari lima orang.


"Berapa lama kita harus menunggu, Yang Mulia?" Feng Shui bertanya.


"Tidak tahu, yang paling penting adalah cukupkan saja dulu istirahatmu. Dan satu lagi, berhenti memanggilku dengan sebutan itu, kau tahu aku sudah bukan Putra Mahkota lagi, bodoh!" Putra Mahkota memiringkan tubuhnya.


Feng Shui tidak menjawab dan memilih untuk melihat-lihat rumah terpencil ini dengan sudut matanya, "Sepertinya memang ada yang tinggal di sini," gumamnya pelan.


Jingmi mulai mendengkur. Feng Shui menutup hidungnya, "Kau cepat sekali tertidur, Kawan."


⚔️⚔️⚔️


Karena tertidur, ketiga pemuda itu tidak menyadari jika hari sudah pagi. Begitu keluar, mereka mencium aroma masakan yang sangat lezat, membuat perut segera keroncongan.


"Feng Shui, kau masih berpikir tidak ada orang di rumah ini?" Jingmi menatap Yuhang yang duduk membelakanginya sambil mengipasi arang supaya tetap menyala.


Feng Shui menguap, "Baunya enak sekali," dia menghampiri Jenderal Xie Xuan yang sedang memanggang daging ayam, "Selamat pagi, Tuan. Bolehkah aku bergabung?" Feng Shui duduk di depan Yuhang tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Jingmi menyusulnuya.


Putra Mahkota menepuk dahi, "Kau pikir kita sedang bersantai?"


"Duduklah bersama, Yang Mulia. Dagingnya sudah matang," Yuhang memotong daging panggangnya, memberikan sepertiga untuk Jingmi dan Feng Shui, laki-laki itu langsung melahapnya hingga habis, "Benar-benar sangat enak, kau tidak mau makan, ya?" Feng Shui mengarahkan ibu jarinya ke Putra Mahkota.


Putra Mahkota menghampirinya, dan duduk bersama dengan mereka, Yuhang juga memberikan sepertiga lainnya untuk Putra Mahkota. Mereka menikmati daging panggang itu bersama-sama.


"Awalnya aku berpikir kalian hanya orang lewat yang butuh tempat beristirahat. Tapi sepertinya kalian memang sengaja ingin mengunjungiku. Bersama orang baru, bukan bersama muridku," Yuhang mengungkit tentang Yi Ze. Putra Mahkota langsung menoleh, dia mengangguk, "Kami memang sengaja mendatangimu, Master. Karena ada sesuatu yang harus kau selesaikan."


Mendengar itu, Yuhang langsung menatap Putra Mahkota, "Kau lebih baik dibanding saat pertama kali ke sini," dia berkomentar setelah menatap wajah Putra Mahkota lebih dari dua detik.


"Yi Ze melakukan itu, karena sesuatu yang telah dia ketahui?" Yuhang terdiam cukup lama, dagingnya belum habis, tapi dia sudah tidak melahapnya lagi.


"Aku tahu itu bukan salahmu, tapi bisakah kau berpikir dulu sebelum bertindak? Saat itu, jika kau mengaku di depan Yang Mulia Raja kalau yang membunuh ibuku adalah kamu, Xuan Lu tidak akan mati dan dituduh berkhianat. Dan jika kau menyelidiki dan memeriksa dulu apakah ibuku benar-benar membunuh keluargamu atau tidak, maka tidak akan ada kejadian semacam itu, aku bisa melihat ibuku hingga sekarang, Yi Ze bisa bersama ibunya hingga sekarang. Semua ini terjadi karena kau terlalu terburu-buru membuat kesimpulan. Pada akhirnya kau sendiri yang kebingungan," Putra Mahkota memberikan catatan kecil itu pada Yuhang, "Ini adalah salinan catatan rahasia yang dibuat pelayanku. Catatan ini milik pelayan Ratu yang bekerja di kediamanku, rupanya mereka sudah lama sekali memata-matai tempat tinggalku. Bermula dari merebut posisi ibuku, kini dia bermimpi merebut posisiku untuk diberikan kepada putranya. Kau baca sendiri sisanya. Ini membuktikan bahwa kau sudah salah membunuh orang!"


Yuhang diam membeku karena rasa bersalahnya. Dia menemukan kebenaran kalau bukan Hua Jin-lah yang sudah membunuh keluarganya, jika hari itu dia berpikir dulu, jebakan seperti ini tidak akan membuatnya tertipu.


"Kenapa, ternyata seperti ini?" Yuhang menggeleng tidak percaya, "Jelas-jelas, mereka mengatakan pelakunya adalah Permaisuri Lama. Bukankah begitu?"


"Jadi kau masih mengira ibuku yang membunuh keluargamu? Bahkan di depan putranya?" Putra Mahkota bertanya tegas, kalimatnya sedikit kasar dan bertenaga.


Yuhang menatap Putra Mahkota yang menahan air matanya setengah mati, tubuh itu bergetar karena perasaan sedih yang mendalam.


"Kau tahu, aku selalu menghindar saat ingatanku kembali menuju hari itu. Karena rasanya tidak seperti seseorang yang bisa hidup tenang setelah melihat kematian ibunya sendiri. Namun pada akhirnya, aku tetap harus menghadapinya. Bahkan pemuda sepertiku pun masih merasakan hancur saat mengingatnya kembali. Tapi kau seenaknya mengatakan di depanku, kalau ibukulah yang benar-benar membunuh keluargamu!" Putra Mahkota berseru parau, napasnya menderu, air matanya sudah tak terbendung lagi, "Sudah saatnya bagimu, untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kau lakukan. Aku tidak menganggapmu sebagai orang jahat, tapi kau tidak bisa terus berlari dan menghindar. Kau harus menghadapinya sebelum benar-benar terlambat."


Yuhang menjatuhkan tubuhnya di depan Putra Mahkota, bersujud di kakinya, Feng Shui langsung bangkit dari duduknya. Putra Mahkota ikut berdiri, dia memegang pundak Yuhang dan memintanya ikut berdiri, "Ayahku bilang, orang dewasa tidak boleh bersujud di depan anak kecil. Itu sebabnya dia melarang rakyatnya yang lebih tua untuk bersujud kepadanya. Berdirilah, bukan seperti itu caranya meminta maaf."


"Yang Mulia, aku bersedia mempertanggungjawabkan semuanya, aku akan mengakui semua kejahatanku di depan Yang Mulia Raja, bawa aku menemui Yi'er, Yang Mulia. Meski pada akhirnya dia akan membenciku," Yuhang menunduk dalam, dia menautkan tangannya di depan dada, "Aku mohon, Yang Mulia..."


"Aku pasti melakukannya."


Mereka langsung turun gunung setelah Yuhang memilih untuk sukarela dibawa pergi untuk menerima hukumannya. Saat tiba di Shanjiao, dia minta untuk berhenti sebentar di rumah Lai Yi.


Putra Mahkota heran kenapa Yuhang masih sempat berpamitan pada wanita tua itu, dia bertanya kenapa hubungan mereka dan Yi Ze sepertinya sangat dekat.


"Lai Yi ini, dulunya adalah kepala pelayan di istanamu, Yang Mulia," Lai Yi menjawab dengan aksen yang sangat halus, "Begitu mendengar ketidak adilan yang dialami Xuan Lu, aku menghabiskan waktuku untuk menyelidiki apakah Xuan Lu benar-benar membunuh Ratu, meskipun tidak menemukan apa-apa, aku selalu yakin dia tidak pernah melakukan itu. Yang bisa aku lakukan untuk menjaga pertemanan kami adalah dengan menjaga dan melindungi putrinya. Aku mengikuti mereka sejak kembali dari pengasingan. Awalnya aku merasa lega saat ayahnya menikah lagi, tapi begitu melihat betapa menderitanya dia setelah ayahnya pergi, aku membimbingnya secara langsung. Seperti sebuah takdir, aku mengirim Yi'er ke puncak Shahuang untuk belajar dengan Jenderal Besar. Mengetahui dia pensiun setelah kehilangan anak istrinya, aku mengizinkannya mengajari dan melindungi Yi'er hingga dewasa. Aku merasa lega karena pelajaran itu sangat berguna baginya."


Lewat cerita itu, Putra Mahkota tahu, bahwa Jenderal Xie Xuan pada awalnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lai Yi. Yang dilakukan Lai Yi adalah karena masih memercayai dan menghormati temannya, dia melakukannya secara tulus untuk melindungi Yi Ze.


Lai Yi tentu saja tidak tahu apa yang membuat Xuan Lu dituduh telah membunuh Ratu, apalagi mengira kalau pembunuh itu adalah orang yang dia percayai mengajari Yi Ze.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Wajah kalian begitu murung," Lai Yi menatap satu-persatu laki-laki di depannya.


Yuhang langsung bersujud di depan Lai Yi, membuat Lai Yi bingung apa yang sedang di lakukan pria tua itu, "Apa yang kau lakukan?"


"Aku merasa bersalah padamu, Lai Yi," Yuhang mengakui semua kejahatan yang dia lakukan pada Xuan Lu, juga perihal pembunuhannya pada Ratu Hua Jin, dia melakukan hal itu karena mengetahui Ratu Hua Jin sudah membunuh anak dan istrinya. Dia tidak mengira para pembunuh bayaran itu menipunya, Yuhang mengakui kesalahannya dan mengatakan kalau dirinya benar-benar menyesal.


Lai Yi terdiam tak berkomentar, dia menggeleng saat Yuhang memohon maaf padanya, "Bukan hakku untuk memaafkanmu, yang kau jahati bukan aku, tapi anak itu, kau harus bertanya padanya sebelum bertanya padaku."


Yuhang tertunduk malu, "Bagaimanapun, aku sudah terlalu mengecewakannya. Aku tidak memiliki muka untuk berhadapan dengannya."


"Kita harus segera kembali ke istana, Tuan Muda. Kita sudah kehabisan waktu dua hari, Nona Yi akan dieksekusi besok," Jingmi mengingatkan waktu mereka yang semakin sempit.


"Aku ikut bersama kalian," Lai Yi menyahut.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung