Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Kehilangan Pengakuan



Satu tahun mengasingkan diri, rupanya Lin Tao tidak kembali ke Kota Hai'an. Dia memilih singgah di Desa Shanjiao yang terletak di kaki gunung.


Dia membangun sendiri rumah untuk tempat dia tinggal. Dia tidak berbaur dengan para tetangganya. Namanya berubah menjadi Yi Huan. Putrinya bukan lagi Lin Yuehai, berubah nama menjadi Yi Ze.


Berbulan-bulan menetap, seorang wanita mendekatinya. Dia bernama Ah In. Ah In merawat Yi Ze dengan baik saat Yi Huan pergi bekerja, hal itu membuat Yi Huan berpikir kalau Yi Ze mungkin membutuhkan sosok seorang ibu. Tapi tidak memiliki niat untuk menikahi Ah In.


"Putrimu butuh seorang ibu, Yi Huan," Ah In justru mengatakannya secara gamblang di depan Yi Huan.


"Aku bisa menjadi ibu dan ayah untuknya."


Ah In menghela napas, "Kamu tidak bisa seperti itu. Anak perempuan pasti membutuhkan sosok perempuan yang bisa memahami dirinya lebih dari seorang ayah."


Yi Huan tidak menjawab.


"Aku mencintaimu, Yi Huan. Nikahi aku. Aku akan menjadi ibu yang baik untuk Yi Ze."


⚔️⚔️⚔️


BUK!


Yi Shujin tersentak pelan. Bukan karena sakit, tapi terkejut. Matanya menatap Yi Ze, sang kakak yang selalu menatapnya dengan kebencian.


Yi Shujin menyudahi latihannya. Melempar busur dan anak panahnya. Tubuh gadis berusia delapan tahun itu mendekati kakaknya. Wajahnya sinis dan tidak bersahabat.


"Kau cari mati, ya?"


Yi Ze melambaikan tangan. "Aku masih belum ingin mati, sebelum mengalahkanmu lebih dahulu," Yi Ze menyorot tajam Shujin dengan matanya.


"Hah! Mengangkat pedang pun kau belum bisa! Usiamu lebih tua dariku tapi aku lebih ahli dalam apapun dari pada kamu! Tidak ada perempuan di dunia persilatan selemah dirimu, Kak!" Shujin meraih pedangnya, bersiap hendak menyerang kakaknya yang masih terdiam.


"Pedangmu kecil dan tidak tajam, suatu hari, aku pasti bisa melampaui kemampuanmu!" Yi Ze yang usianya dua tahun lebih tua dari Shujin memilih untuk mengalah. Namun Shujin tidak berniat melepaskan Yi Ze.


Tangan Yi Ze refleks melempar apapun yang berada di dekatnya. Termasuk gelas, dan kendi berisi air. Tapi Shujin mudah saja menghindarinya.


Kakinya lincah bergerak menghindar ke kiri-kanan, berlari membalas dengan tendangan kuat yang sukses menumbangkan Yi Ze begitu mudah.


Lengan Yi Ze terluka. Darah keluar dari lukanya, perlahan mulai menetes. Tapi Yi Shujin tidak peduli, memasang kuda-kuda, bersiap melesatkan satu anak panah ke tubuh kakaknya yang lemah.


"Apa yang kau lakukan!" Ah In. Ibu mereka berseru marah mendengar perkelahian kedua putrinya yang tak pernah akur.


Shujin menunduk karena takut ibunya akan memarahinya, atau lebih buruk lagi memukuli wajahnya hingga merah-merah.


Tapi langkah kaki Ah In berhenti di depan Yi Ze yang masih tersungkur di tanah. Tangan Ah In menyeretnya kasar, memaksanya agar berdiri. Lantas dengan ringan telapak tangan yang kasar karena pekerjaan berat itu menamparnya tak kalah keras.


Yi Ze kembali tersungkur ke tanah. Kali ini lebih sakit dari biasanya. Di belakang Ah In, Shujin terkekeh kecil, melirik wajah Yi Ze yang menyedihkan.


Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal karena sakit keras. Sejak saat itu, Ah In tidak lagi menyembunyikan sifat busuknya. Dengan terang-terangan mengatakan kalau dia muak mendengar nama Yi Ze atau pun Yi Huan. Dia juga muak melihat wajah mereka.


"Aku memang tidak bisa menyukaimu, Yi Ze. Kamu selalu menyusahkan aku, kamu perempuan tapi kamu sangat lemah, tidak seperti adikmu yang unggul dari segala sisi. Kenapa suka sekali membuat masalah? Jika tidak menyukainya, kenapa tidak pergi saja dari sini?" Ah In menghela napan kesal.


"Ibu, kau tidak boleh terlalu keras padanya," Shujin melirik Yi Ze sekali lagi, memasang wajah sedih di depan ibunya, lalu berpura-pura membantu Yi Ze berdiri. Meski Yi Ze menepisnya.


"Apa kamu terluka, Shu'er?" Ah In merangkul pundak Shujin, lalu memeriksa seluruh tubuhnya, lantas menemukan goresan kecil bekas perkelahian kemarin, "Ah, kamu terluka lagi, sini biar Ibu obati lukamu," Ah In mengunci pintu dari dalam setelah membawa Shujin masuk.


Sementara Yi Ze menangis tersedu, menahan sakit dari lukanya yang berdarah. Lihatlah, bahkan Ah In melihat luka itu, tapi tidak pernah menanyakan keadaannya meski sekali.


Yi Ze berusaha berdiri meski kakinya gemetar, tubuhnya menghadap rumah mereka, menyeka air mata yang tidak berhenti keluar, memantapkan hati untuk berteriak.


"Apa aku ini bukan putrimu juga, Ibu? Apakah aku berbeda dari Shujin? Seberapa besar perbedaan itu sehingga membuatku diperlakukan begitu berbeda, Ibu?" 


Tangis Yi Ze semakin menjadi-jadi, tangannya bergerak mengetuk pintu begitu tenang, "Ibu, tolong bukakan pintunya untukku."


Tidak ada sahutan dari dalam, padahal Yi Ze mendengar Shujin sedang tertawa renyah dengan ibunya, sambil memamerkan pelajaran memanah barunya kepada Ibu.


"Biarkan aku membawa beberapa barang sebelum pergi, Ibu." Yi Ze berkata sekali lagi. Kemudian kakinya membawanya menjauh dari rumah itu.


"Kau mau ke mana!?" Shujin berseru.


Yi Ze berbalik, kemudian tersenyum kecil, "Terima kasih, Adik!" dia tertawa renyah sambil berlari hendak masuk ke rumah.


Shujin tiba-tiba melempar barang-barang milik Yi Ze yang sudah dikumpulkan di dalam kain. "Pergilah! Kalau bisa, tak perlu kembali! Hahaha!!!" Shujin tertawa kencang, kemudian melambaikan tangan ke arah Yi Ze, "Semoga kau segera menemukan tempat tujuan! Dan jangan mati di serang hewan buas! Kau tidak memiliki keahlian dalam bertarung, malang sekali dirimu, Kak." Shujin menggelengkan kepala.


Yi Ze menyeka air matanya, kemudian memantapkan hati untuk meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Beberapa warga desa yang melihatnya bertanya ke mana ia akan pergi. Beberapa lagi menanyakan lukanya.


Saat Yi Ze menjawab, "Aku pergi untuk belajar bela diri, Paman."


Maka orang-orang yang bertanya akan tertawa terbahak-bahak, kemudian melanjutkan aktivitas mereka tanpa bertanya apapun lagi pada Yi Ze.


Selama ini, Yi Ze selalu diremehkan warga desa itu, dianggap gadis kecil yang bahkan tidak bisa melakukan apapun. Dianggap sampah padahal tidak mengotori lingkungan mereka.


Di Shanjiao, setiap anak yang sudah berusia tujuh tahun akan memilih sebuah akademi bela diri besar di sekitar Daerah Selatan. Ah In memasukkan Shujin ke Sekte Shaolin untuk berlatih bela diri. Setiap anak sudah memiliki pelajaran bela dirinya masing-masing sejak usia tujuh tahun, hak itu diberikan agar kelak ketika besar, anak-anak itu bisa melindungi desa kecil mereka ketika terjadi peperangan antar kerajaan.


Shanjiao adalah daerah yang rentan dijajah karena Pasukan Selatan mendirikan kamp mereka terlalu jauh dari kawasan ini, warga desa harus mendidik anak-anak mereka agar menjadi pendekar hebat, dengan memasukkan mereka ke beberapa sekte-sekte bela diri tertentu, hanya Yi Ze yang belum mengerti apapun tentang melindungi diri.


"Yi'er!" seorang wanita tua menyerukan namanya.


Yi Ze menoleh. Kemudian tersenyum saat melihatnya melambaikan tangan.


Namanya adalah Lai Yi, wanita paruh baya yang selalu menatapnya dengan penuh kehangatan. Lai Yi adalah satu-satunya warga desa yang senang akan kedatangannya. Putri Lai Yi meninggal saat baru dilahirkan, kebaikan Yi Ze membuatnya nyaman dan menganggapnya seperti cucunya sendiri.


Keseharian Yi Ze adalah membersihkan kandang kambing Nyonya Lai Yi, mencabuti rumput di tepi hutan, lalu memberi makan kambing-kambing itu, Yi Ze senang membantu Lai Yi, karena hanya Lai Yi yang menyukainya.


Yi Ze menunduk memberi salam, kemudian menanyakan apa yang bisa dia bantu. Dia menghabiskan satu hari terakhir di Shanjiao untuk membantu Lai Yi terakhir kalinya.


Saat semua pekerjaan selesai, Lai Yi menyuruhnya untuk makan malam. Yi Ze diam saja, tidak menyentuh makanannya sama sekali. Lai Yi sampai bingung kenapa hari ini Yi Ze terlihat murung dan tidak bersemangat.


"Kau baik-baik saja, Yi'er?" Lai Yi menatap wajahnya lebih baik.


Yi Ze tersenyum, "Aku baik-baik saja, Bibi," padahal dalam hatinya, dia selalu menjerit kesakitan.


Lai Yi menghela napas, "Apa makanannya terlihat buruk?" mungkin maksudnya adalah, "Setiap hari kamu selalu memakan dengan lahap makanan yang kubuatkan, hari ini kenapa tidak disentuh sama sekali?"


Yi Ze menyiapkan hati untuk berpamitan dengan Lai Yi. Senyumnya merekah bagai bunga di musim semi. "Aku ingin berpamitan, Bibi."


Wajah cemerlang Lai Yi langsung padam, tangannya kelu sampai harus meletakkan sendok yang sedang dipegang.


"Yi'er mau pergi ke mana?" nada bicaranya terdengar tidak senang, "Apakah Yi'er tidak tahan lagi tinggal di rumah itu? Kalau begitu, tidak perlu pergi, tinggallah bersama wanita kesepian ini di sini. Kau tahu, betapa aku menyayangimu lebih dari siapapun yang pernah kusayangi."


"Jika aku mengatakan ini, apa Bibi Lai Yi akan mengizinkanku pergi?" Yi Ze bertanya terlebih dahulu sebelum mengutarakan maksudnya.


"Apa itu?"


"Aku ingin punya guru bela diri, Bibi."


"Kenapa kau menginginkannya?"


"Yang ibuku butuhkan adalah putri yang kuat, yang bisa melindunginya dari bahaya. Bukan putri yang hanya menghabiskan waktunya dengan menolong orang-orang tersesat di hutan. Bukan putri yang menghabiskan waktunya untuk menyiangi rumput dan membersihkan kandang kambing. Meski kau membutuhkan putri seperti itu dan aku menyanggupinya, tapi aku bukan putrimu, aku punya keluarga yang aku ingin mereka mengakuiku sebagai bagian dari keluarganya. Aku ingin ibuku bangga dan menganggapku sebagai putrinya seperti yang dia lakukan pada Shujin. Dia menyayanginya karena Shujin mampu melindunginya dengan kemampuannya." Tekad Yi Ze sudah bulat.


Lai Yi tidak berkata apapun lagi. Dia bergerak memeluk putri tersayangnya itu, tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya pergi.


"Meski begitu, bermalamlah dahulu di rumahku, lalu pergilah pagi-pagi sebelum matahari terbit. Pergi larut malam seperti ini hanya akan membuatmu disantap serigala hidup-hidup. Tidurlah yang nyenyak, besok akan kusiapkan bekal semampuku."


Yi Ze tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Bibi."


⚔️⚔️⚔️


_bersambung_